Sunday, May 19, 2013

[Film] Star Trek: Into Darkness

I'm not such a fan of Star Trek, but when people are busy talking about how good the latest sequel of Star Trek is--especially when I knew that my beloved Benedict Cumberbatch was portraying the bad bad villain John Harrison--, I decided to watch it. Hell, there is no way I'm gonna miss to watch him!



oh, dear Ben, you make my nose bleeding <3


So, yesterday I watched the movie with my friend. And from the minute one it had captivated me. All the actions, the cool space ships, the fights, and of course, my one and only Benedict Cumberbatch, with his cool act, his cool voice, cool gestures, the way he looks, his sexy body... Oh, God. Can I just faint and he stand next to me ready to hold me and carry me? 




I know this is bias, but I think he was so good in portraying the ruthless John Harrison a.k.a Khan Noonien Singh.  Besides him, I think another strong character is Mr. Spock. I don't really like Captain Kirk, by the way. He's just reckless. You know, kinda person that loves to break the rules, always goes with gut, the flamboyant guy, it's just too much for me. Go and blame me for not saying good things about him. Well, as I said before, I'm not a fan of Star Trek, so I don't know much about him. Plus, this is the first Star Trek movie that I've watched. So, I don't have enough references about him, though. :P




So, to all of you who haven't watched this movie, please go and watch it either you're big fans of Star Trek or not. :D


Friday, May 17, 2013

Seminggu di Tempat Baru

Sudah satu minggu ini saya dipindahtugaskan ke tempat lain. Meski masih dalam perusahaan yang sama, antara kantor yang baru dengan kantor yang lama sangat terasa perbedaannya. Saya tidak bisa menulis dengan detil apa saja yang berbeda itu, tapi kalau boleh saya menyimpulkan dalam satu kata maka kata itu adalah: Alhamdulillah.

Di tempat yang baru saya jadi belajar banyak. Supervisi saya orangnya sangat baik dan saya juga belajar banyak dari beliau. Saya belajar dari ia bagaimana seharusnya bekerja dengan baik, saya mengamati caranya memimpin, dan saya mencoba untuk menyerap sebanyak mungkin ilmu yang beliau berikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Rekan-rekan kerja saya di tempat yang baru Alhamdulillah juga baik-baik. 

Saya yang biasanya paling malas kalau disuruh lembur atau pulang malam, sejak di tempat baru saya tidak merasa berkeberatan sama sekali untuk pulang malam. Tugas memang lebih banyak di sini, tapi saya dengan sepenuh hati mau mengerjakan itu semua tanpa perlu mengeluh. 

Teman-teman yang sudah kenal saya pasti tahu saya sering sekali mengeluh karena merasa pekerjaan saya sekarang tidak sesuai dengan minat saya. Beberapa kali--eh, sering ding--saya juga pernah menulis di sini perihal pekerjaan saya. Jujur saja, saya bahkan sempat punya pikiran untuk berhenti setelah kontrak kerja berakhir. Saya ingin mengejar mimpi saya. Tapi, ya itu tadi. Sejak di tempat yang baru saya memikirkan kembali rencana saya. Tidak ada salahnya kan saya terus bekerja di sini? Perihal mimpi saya, suatu saat nanti mudah-mudahan saya tetap bisa meraihnya. :)

Kesimpulannya adalah ternyata benar apa yang selalu saya dengar selama ini dari orang-orang. Bekerja itu tidak melulu soal gaji. Bekerja itu juga soal kenyamanan, ya lingkungan kerja, teman-teman, atasan, bawahan, semuanya. 

Thursday, May 9, 2013

Random #15

Random 1.

Saya sedang baca-baca Feedly dan saya merasa "saya banget" saat saya membaca tulisan ini. Saya sepakat dengan apa yang ditulis Mas Fajri bahwasanya "Twitter hanyalah sumber kebisingan."

Saya pun mulai merasa Twitter itu membosankan. Linimasa saya terlalu riuh. Berisik. Memang sih informasi di sana cepat sekali beredar, tapi kalau terlalu banyak informasi juga ya capek menyaringnya. Dulu sih saya mengira Twitter bisa membuat saya update dengan segala informasi berseliweran dari orang-orang yang saya ikuti kicauannya. Tapi, lama-kelamaan saya merasa... lelah.

Yah, mungkin ini tergantung dari siapa yang kita follow. Tapi, kita juga tidak bisa mengatur mereka mau menulis tweet apa, mau me-retweet akun siapa, jadi opsinya sekarang antara meng-unfollow, mute, deaktivasi akun Twitter, atau cukup menjauhkan diri dari Twitter. Sesekali kembali mengunjungi Twitter untuk melihat dunia Twitter sedang ada heboh apa, tak beberapa lama kemudian sign out.

Saya rasa saya akan memilih opsi yang terakhir. Sesekali saya akan sign in untuk menyampah di sana, kemudian pergi begitu saja. Mungkin saya akan kehilangan banyak informasi, gosip, berita, tapi yah ada baiknya untuk sekarang otak dibikin tenang dulu. Tidak usah diberikan informasi seliweran yang bikin lelah. Pilah-pilih informasi itu perlu. Pilih informasi apa yang memang kita ingin cari dan kita rasakan manfaatnya. Kasihan otak capek menyaring nanti kalau informasi yang masuk sudah terlampau banyak.

Halah, sok pintar sekali saya ini.

Random 2.

Sudah beberapa hari ini saya selalu memutar dua lagu yang sama. Di pagi hari ketika akan berangkat kerja, di siang hari ketika sedang istirahat, dan di malam hari ketika akan pergi tidur. Macam minum obat saja tiga kali sehari. Pagi, siang, dan malam. Yang sekali waktu putar bisa berkali-kali dalam sepuluh, dua puluh, tiga puluh menit mungkin. 

Mungkin saya sedang menye-menye makanya saya jadi ketagihan dua lagu ini. Mungkin juga karena lirik lagunya yang membuat saya sakit-sakit di ati gitu (baca: nyesek), bagikan menghunjam jantung *halah*, mungkin juga karena yah... Memang perlu ada alasan khusus untuk menyukai sebuah lagu? Tidak, kan? *halah lagi*

Penggemar: Memang lagu apa, Kim, yang sedang rajin kamu putar?

Lagu ini:



Dan ini:




Nah, selamat menikmati! Mari menggalau bersama saya. *dikeplak*

Monday, May 6, 2013

Berita Buruk. Lagi.

Hari Minggu kemarin, sekitar pukul 7 malam saya sampai rumah. Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah, saya menatap kosong ke luar mobil. Saat itu suasana menjelang maghrib, langit sudah mulai gelap, memang tidak banyak yang dapat dilihat. Namun, pandangan saya tetap kosong.

Saya mencoba mengingat-ingat masa kecil. Saya punya pengalaman berkesan apa ya sewaktu saya masih kecil? Ternyata susah juga ya mengingat kembali memori masa kecil. Ah, iya. Ada satu yang saya ingat betul. Waktu itu saya masih umur sekitar lima tahun. Masih TK lah. Saya sedang terbaring di rumah sakit karena tipes. Untuk menghibur saya yang sedang sakit, ayah saya membelikan saya majalah Bobo kemudian membacakan salah satu cerita di majalah Bobo. Saya lupa ceritanya apa. Yang saya ingat ayah saya mengeluh hurufnya terlalu kecil. Jadi, beliau tidak sampai habis membacakan ceritanya. :O

Ingatan saya kemudian melompat jauh dari saat saya TK ke 2-3 minggu yang lalu. Setting-nya sama di rumah sakit. Waktu itu terasa dada saya sesak. Ayah saya mengusap-usap kepala saya dan memijat-mijat kaki saya. Duh, saya jadi terharu. Mengingat kembali kejadian itu pun membuat saya sekarang ingin menitikkan air mata. Benar ya kata orang-orang. Mau kita sudah dewasa, punya anak, kita akan selalu dianggap anak kecil oleh orangtua kita. Saya sudah berumur segini, di saat sakit masih saja dimanjakan begitu. :c

Ayah saya yang sedang sakit saja masih sebegitu perhatiannya sama saya. Sementara saya? Terkutuklah kesibukan saya sekarang yang mengurangi waktu kebersamaan saya dengan ayah saya. Maka ketika saya tahu hasil CT scan ayah saya tidak begitu baik, saya merasa hancur. Hancur berkeping-keping. Air mata saya seperti tidak ada habis-habisnya. Dan saya tidak henti-hentinya menangis. Hanya membayangkan wajahnya saja sudah cukup untuk membuat saya meneteskan air mata. Rasanya saya ingin memeluk ayah saya kuat-kuat dan tidak pernah saya lepas. Seandainya saja hanya dengan memeluknya bisa membuatnya sehat dan membuat malaikat maut pergi menjauh, akan saya lakukan dengan sepenuh hati.

Setelah hasil PET scan yang buruk kemarin, kami sekeluarga dan Dr. Tan sepakat untuk menambah kemo Papa. Program baru pun dibuat. Enam kali kemoterapi direncanakan dan sesudahnya akan dilakukan CT scan. Pada kemo kelima, ayah saya mengeluh. Badannya mulai melemah. Dr. Tan paham dan memutuskan kemo cukup lima kali saja dan langsung menyuruh ayah saya untuk CT scan. 

Maka tanggal 2 Mei kemarin ayah saya, ditemani kakak saya, ibu saya, dan om beserta istrinya, melakukan CT scan. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk mengetahui hasilnya yang ternyata... yah, tidak sesuai harapan kami. Kemo lima kali yang diberikan itu ternyata tidak efektif. Sel-sel kanker di liver ayah saya bandel sekali. Dan sekarang kami sekeluarga hanya bisa pasrah.

Mendengar berita itu, saya hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Saat ini hidup saya terasa tidak ada semangat. Bingung. Kacau. Sebentar saja saya punya waktu luang untuk melamun, pasti saya langsung teringat ayah saya. Bagaimana nanti dengan ayah saya? Bagaimana nanti dengan kami sekeluarga? Dan air mata pun kembali menetes.

Sunday, April 28, 2013

[Song] Tiny Dancer

I was watching The Voice USA when I heard Caroline Glaser sang "Tiny Dancer" for her blind audition. When I first heard the song, I loved it immediately. You know, the feeling when you fall in love with a song just a second after you heard it? This was what I felt at that time.

So, the next day I checked on YouTube and I found out that "Tiny Dancer" was originally sung by Elton John. And, after listening Elton John's version, I still love it. I bought it on iTunes and I can't stop myself from playing it again and again. It's just a sweet and lovely song. Every time I listen to it, I put a big smile on my face and I hum following the song. No wonder Adam Levine said that it was one of his favorite songs. Oh, and I sooo definitely put this song on my favorite-songs list!

Here's the video clip of Elton John's "Tiny Dancer". Enjoy!


Friday, April 26, 2013

Random #14

Kata orang-orang tidak ada yang tidak berubah. Semuanya pasti berubah. Yang tidak berubah itu adalah perubahan itu sendiri. Halah, ribet banget bahasanya. Intinya ya itulah. Dan saya yang terlalu sering melamun ini jadi kepikiran bahwa saya sudah berubah. Berubah banyak selama enam bulan terakhir.

Masuk ke lingkungan baru, berkenalan dengan orang-orang baru, berteman dan bergaul dengan mereka, terjun ke dunia baru. Semua itu tidak bisa saya pungkiri membuat saya berubah. Saya menjadi orang yang lambat laun menjadi orang yang pragmatis dan simpel. Saya kepingin menjalani hidup dengan sederhana saja. Tidak mau muluk-muluk bermimpi yang membuat saya capek sendiri. Yang penting hidup saya tenang dan bahagia. Sudah. Segala sesuatunya tidak usah dibuat ribet. 

Dan itu membuat saya sedih. Saya sedih karena saya merasa saya kehilangan jati diri. Saya tidak bisa beraktualisasi diri. Eksistensi saya luruh. Menjadi samar-samar dan kabur. Mungkin tercampur baur dengan identitas kelompok di tempat saya sekarang berada. Saya pun mulai melupakan idealisme saya. Lingkungan dimana saya sekarang berada terlalu kuat menarik saya ke dalamnya dan membuat saya tidak dapat keluar dan menyelamatkan ke-aku-an saya. Saya terbawa suasana. Saya terbuai.

Aktualisasi diri? Eksistensi diri? Idealisme? Apa itu? Saya lupa. Sungguh, saya lupa. Hah, begitu dahsyat keadaan selama enam bulan terakhir ini sehingga mampu membuat saya melupakan itu semua. 

Kemarin pun saya mengeluh dengan seorang teman di BBM. Saya rindu dengan diri saya yang dulu. Saya yang ignoran, cuek, punya cita-cita, punya mimpi, punya idealisme. Saya yang independen. Saya yang selalu berusaha untuk berbuat baik. Now, I'm turning myself into a monster

Haruskah saya menyesali keadaan sekarang? Seharusnya tidak. Seharusnya saya malah banyak mengambil pelajaran dari situasi sekarang. Karena itu menambah pengalaman hidup saya. Dan, seharusnya situasi ini bisa membuat saya menjadi manusia kuat dan tidak cengeng. 

Thursday, April 25, 2013

Random #13

Sebelum teman-teman membaca tulisan ini sampai habis, saya ingatkan tulisan kali ini adalah topik yang sensitif. Jikalau teman-teman ketika membaca merasa berkeberatan dan tidak terima, silakan berhenti membaca tulisan ini dan pindah ke halaman web lain. Terima kasih.

Kenapa manusia percaya dengan Tuhan dan agama? Apa karena orangtua yang memberikan kita agama mereka? Kita ketika lahir tidak tahu apa itu agama, apa itu Tuhan, tetapi orangtua kita menempelkan atribut mereka ke diri kita. Kita pun beragama sama dengan orangtua kita. Selamanya mungkin kita tetap beragama sama, mungkin juga tidak.

Kembali lagi ke pertanyaan di awal. Kenapa manusia percaya dengan Tuhan dan agama? Apakah agar perbuatan kita selama di dunia tidak sia-sia karena ada akhirat? Kita berbuat baik di dunia berharap dibalas dengan surga di akhirat nanti. Kita berbuat jahat diganjar neraka oleh Tuhan. 

Seringkali saya berpikir kita beragama hanya mencari sebuah ketenangan. Maksud saya begini, "Hei, Man. Gue takut neraka, makanya gue berbuat baik ke orang-orang, ke hewan, ke ciptaan Tuhan lainnya. Biar gue dikasih izin Tuhan buat masuk surga." Seandainya semua manusia di muka bumi ini berpikiran sama, yaitu hanya ingin berbuat baik tentu bumi kita akan sejahtera, aman, dan sentosa. Itu utopia namanya. Nyatanya, tetap saja ada orang jahat. Kita tidak bisa menihilkan mereka, apalagi di lingkungan kita sehari-hari. Akan selalu ada orang yang jahat ke kita, iri ke kita, dan ingin menjatuhkan kita. Biasanya kalau sudah bertemu dengan orang-orang seperti itu, kita akan mendapat nasihat bijaksana seperti, "Kamu sabar ya. Dan tenang. Perbuatan dia pasti akan dibalas Tuhan."

Orang-orang yang jahat ke kita pasti akan mendapatkan balasannya dari Tuhan. Entah di dunia, entah di akhirat nanti. Ini yang saya maksud dengan beragama mencari sebuah ketenangan. Kita ingin melawan mereka yang sudah jahat ke kita, tetapi kita tidak punya kekuatan. Maka kita menyerahkan "pembalasan" kita kepada Tuhan. Kita berharap Tuhan membalaskan perbuatan mereka. Kita berharap Tuhan tidak tidur dan tidak menutup mata-Nya. Di sini Tuhan menjadi titik pusat. Tempat kita mengadu dan berkeluh kesah. Dulu, saya seperti itu. Sekarang bagaimana?

Sekarang, saya percaya karma. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Kita berbuat baik ke orang lain, itu adalah investasi kita. Suatu saat nanti perbuatan baik kita pasti akan dibalas lagi oleh orang lain. Kita berbuat jahat ke orang lain, itu juga investasi. Meski itu adalah investasi yang buruk. Karena suatu saat nanti, kita akan dijahati oleh orang lain. Ada aksi, ada reaksi. Sederhana. Saya ingin bilang di sini manusia menjadi titik pusatnya. Manusia menjadi subjek. Terlihat kan perbedaan dengan paragraf sebelumnya?

Saya tahu bisa saja teman-teman tidak setuju dengan pandangan saya. Tetapi, saya tidak mencari perdebatan di sini. Terserah kalian bagaimana cara kalian memandang agama dan Tuhan. Itu urusan teman-teman dan Tuhan. Dan apapun agama dan kepercayaan yang kalian anut, siapapun Tuhan yang kalian sembah, bagaimanapun pandangan spiritual kalian, saya hanya ingin mengajak teman-teman semua: Mari kita banyak-banyak berbuat baik kepada sesama. Agar bumi semakin damai. Namaste