Friday, February 29, 2008
Iris
And I'd give up forever to touch you
Cause I know that you feel me somehow
You're the closest to heaven that I'll ever be
And I don't want to go home right now
And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
Cause sooner or later it's over
I just don't want to miss you tonight
And I don't want the world to see me
Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am
And you can't fight the tears that ain't coming
Or the moment of truth in your lies
When everything seems like the movies
Yeah you bleed just to know your alive
And I don't want the world to see me
Cause I don't think that they'd understand
When everything's made to be broken
I just want you to know who I am
Belakangan gue lagi seneng ngedengerin lagu ini. Gue jadi suka nyanyi2 lagu ini disetiap kesempatan. Ya, ya, ya... Gue tau suara gue pales. Tapi ya gue sih cuek bebek aja. Selama gue merasa nyaman dan tidak mengganggu orang lain kenapa gue harus berhenti nyanyi? Tul gak?
Alasan gue suka sama lagu ini mungkin gue terpengaruh sama Avril Lavigne. Dia pernah bilang (yang intinya) dia pengen jadi seorang songwriter handal yang bisa bikin lagu sekeren Iris. Itu kan berarti Mbak Avril suka sama lagu ini. Dan gue jadi penasaran trus gue dengerin terus lagu ini dan gue sekarang jadi suka sama lagu ini...
Thursday, February 28, 2008
dan seperti biasa...
Lihat mood gue di sidebar ini (yang dipasang ketika entry ini dipublish)? Yup, gue lagi in love. Bukan dengan sahabatnya Mb Nun, bukan pula dengan si Abang. Tapi, dengan teman kuliah gue. *blush* (kalo si Edina baca postingan gue ini pasti dia jadi penasaran teman yang mana yang gue maksud. Hehehe,,,)
Dan seperti biasa… another tragic love story from me. Gue suka sama cowok yang gak suka sama gue. Gue suka sama cowok yang mungkin udah punya pacar, mungkin juga lagi pdkt, mungkin juga lagi deket sama cewek laen,… Gue suka sama cowok yang out of reach. Cukuplah gue jadi pemuja rahasia dia. Ah, ya… Sepertinya lelaki semacam itu memiliki magnet tersendiri bagi gue.
suka2 gue lah,,
Beberapa hari yang lalu gue blogwalking. Gue lupa blognya siapa pokoknya dia menulis yang intinya tentang postingan menyampah atau sejenisnya lah. Ehm,, gue jadi ingin sedikit berkomentar mengenai hal ini.
Menurut gue pribadi, seseorang bebas mau menulis apa aja di blognya. Mulai dari masalah moral, agama, norma sampe masalah amoral atau cabul. *hehe…* dan itu termasuk postingan sampah. Hak si penulis blog dunk? Lah itu blognya sendiri. Orang lain tidak bisa berkomentar banyak mengenai hal ini kan? Konten dari blog seseorang kan hak prerogatifnya si empunya blog. Btw, sebelumnya apa sih yang dimaksud dengan postingan sampah? Suer, gue gak ngerti.
Sekarang sih balik ke pembacanya aja. Dia suka blog itu atau tidak. Kalo suka ya dilanjutin aja bacanya. Kalo gak suka ya tinggal di-close aja toh windownya? Gitu aja kok repot. Toh, begitu banyak tema blog yang bertebaran di jagad raya internet ini. Kita tinggal milih aja. Mau blog bertemakan geologi, sejarah, bahasa Inggris, tinggal pilih… Blog yang isinya tentang agama juga banyak… Yang berpikir kritis juga banyak… atau mau puisi? Atau mau yang ringan-ringan seperti blog yang cerita pengalaman sehari-hari, curhatan, ocehan gak jelas? Oh… Kalo itu mah lengkap ada disini. Huehehe,,, Peace… Damai…!
Terus, ada juga yang bilang, “Blog dijadikan seperti diary online dimana blog menjadi tempat curhat. Seharusnya blog itu isinya tentang ini itu… Bla… bla… bla…” Lah ya terus kenapa toh kalo blognya dijadiin diary online? Sekali lagi, itu kan haknya si empunya blog mau nulis apa aja di blognya. Kalo emang gak suka dengan jenis blog seperti ini ya gak usah dibaca, Mas/Om/Mbak/Tante. Cari aja blog-blog lain yang sesuai dengan minat Anda. Kalo menemukan blog yang isinya curhatan langsung di-close aja. Gak usah senewen sendiri. Seperti blog saya ini. Blog saya ini isinya tentang pengalaman saya sehari-hari dan curhatan saya. Kalo Anda tidak suka dengan blog ini ya tidak usah dibaca. Langsung di-close aja windownya.
Bagi gue, gue menulis blog dari hati gue. Blog gue harus mencerminkan diri gue. Buat apa gue menulis tentang sesuatu hal yang tidak gue kuasai hanya untuk mengejar hits, popularitas, atau biar banyak yang mampir ke blog gue? Untuk apa gue menulis sesuai dengan permintaan pasar tapi gue gak menulisnya dari hati? Berasa munafik kan gue? So, inilah blog gue. Inilah tulisan gue. Inilah gue. Terserah pendapat kalian bagaimana. Mau menganggap blog gue ini sampah, postingan gak mutu, terserah deh. Ini blog gue so suka-suka gue dunk mau diisi apa aja.
untuk yang baru mulai
Siapa sih sekarang yang gak tau blog? Kelewatan banget deh kalo sampe gak tau. Kelamaan tinggal di hutan kali ya makanya gak tau blog? Well, blog sekarang kan mewabah banget tuh. Gak yang tua gak yang muda pasti pada punya blog. Mau cewek mau cowok pasti punya blog. Bahkan mungkin blog seperti barang yang wajib punya!
Lalu, apa aja sih isi blog itu? Kalo itu sih tergantung sama yang punya blog alias si blogger. Dia mau nulis tentang apa di blognya. Sesuatu yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan kah, pendidikan, agama, politik, hobi, atau hanya dijadikan sebagai tempat curhat (semacam diary online). Berhubung gue gak jago nulis hal-hal yang berbau serius gitu, so gue mengisi blog gue ini dengan tulisan-tulisan yang ringan aja. Kisah sehari-hari gue, segala macam jenis curhatan gue, kalo mau dikonsepkan sih mungkin blog gue ini “completely gue banget”.
Acapkali bagi mereka yang baru ingin menulis blog terbentur dengan pikiran-pikiran negatif yang justru mengendurkan semangat ngeblog mereka. Misalnya, tidak tahu harus menulis apa, gak ada ide, blog orang bagus-bagus, dan pikiran jahat lainnya. Gue juga dulu seperti itu sih. Gue sering minder sendiri pas baca blog orang yang isinya “berat” alias berbobot. Abis mampir dari blog orang dan gue melihat blog sendiri, gue ngerasa kebanting. Gak banget deh blog gue… Gue langsung mengotrak-atrik blog gue. Baca blognya si A yang isinya “berat”, gue jadi pengen nulis seperti itu. Padahal mah belum tentu gue menguasai materinya. Liat blognya si B yang tulisannya penuh dengan kontroversi, gue jadi terinspirasi untuk menulis hal yang sama. Intinya dulu gue belum punya gaya menulis sendiri, belum tau tema blog gue apa, malu untuk meng-publish tulisan gue, gue takut salah nulis, takut dikritik orang, wah… banyak banget deh! Tapi, apa gara-gara itu nyali gue langsung ciut dan gue berhenti nge-blog? Tidak toh? Malah gue semakin aktif nge-blog. Hampir setiap hari gue meng-update blog gue ini. Sekalinya lo ngerasain betapa asyiknya nge-blog, lo bakal kecanduan! Ibarat candu, blog itu bikin kita ketagihan.
Hal yang dulu gue alami ini sekarang sedang dialami Mas Hanung. Dia ngerasa sebagai seorang blogger pemula, dia suka merasa ciut pas abis ngebaca blog orang lain. Belum lagi gak ada ide mau nulis apa, bla… bla… Trus, ujung-ujungnya blog jadi terbengkalai karena sibuk nyari ide tulisan. Bah! Itu mah sama persis dengan apa yang gue alami dulu. Kalo boleh jujur, dulu untuk nyari bahan postingan gue ampe googling gitu atau nyari berita dari koran kemudian gue tulis ulang di blog. Tentunya dengan bahasa gue sendiri. Dari berbagai macam referensi gue rangkum jadi satu. Ahahaha… Gak kreatif ya gue? Tapi itu mah dulu, Kawan… Sekarang tidak lagi. Sekarang sih gue nulis aja apa yang ada di dalam pikiran gue. Gue juga gak begitu memikirkan pendapat orang lain. Mereka suka blog gue ya syukur Alhamdulillah. Gak suka ya gak apa-apa.
Untuk Kawan-kawan yang baru mulai ngeblog (ahahaha,,berasa udah pakar aja gue?? Hihihi...), jangan pernah patah semangat yaaa!! Harus tetap rajin ngeblog! Jangan terlalu dipikirin masalah tema, konsep, ide, atau semacamnya lah. Tulis aja apa yang di kepala kalian. Dengan rajin menulis dan juga rajin blogwalking, lama-kelamaan bakal ketemu sendiri kok gaya menulis kita seperti apa. Pastinya sih jangan pernah merasa malu dengan tulisan kalian sendiri. Oke? Semangat!!!
Wednesday, February 27, 2008
jangan tertipu dengan iklan
Gue gak pernah tau pikiran apa aja yang ada di otak para advertisers, yang dibayar perusahaan, selain membodohi konsumen. Gue melihat iklan-iklan yang bertebaran belakangan ini semakin cerdas aja dan tentunya semakin membodohi konsumen. Entah udah berapa riset yang mereka lakuin untuk ngebikin iklan seperti itu. Contohnya kalo lo pake pemutih wajah merk A maka lo bisa nemuin cinta sejati lo. Efeknya cewek-cewek jadi terdoktrin kalo pengen nemuin cinta sejati mereka harus berkulit putih! Atau iklan yang lagi gencar belakangan ini, yaitu iklan tarif telpon seluler yang pada jor-joran.
Seperti yang udah kita ketahui Pemerintah meregulasi tarif telpon seluler yang dianggap kelewat batas. Gue pernah baca di salah satu artikel yang bilang tarif telpon di Indonesia termasuk mahal di dunia. Belum lagi ada perjanjian terselubung antar operator telpon mengenai tarif sms. Jelas aja ini merugikan kita sebagai pihak konsumen. Oleh karena itulah, Pemerintah merasa harus turut campur. Tarif telpon pun dipatok sekian. Kabar terakhir yang gue baca di salah satu tabloid handphone, bulan April nanti tarif telekomunikasi nirkabel mengalami penurunan tarif batas atas mencapai 30%. Jadi mau gak mau, operator telpon seluler memang harus menurunkan tarifnya. Ehm,, *senyum apatis*
Operator telpon seluler pun mulai atur strategi. Mereka jelas gak mau kehilangan pelanggan karena beralih ke operator lain yang tarifnya lebih murah. Simpati dari Telkomsel dengan program PeDe-nya. Nelpon ke sesama pelanggan Telkomsel hanya Rp 0,5/detik yang mulai dihitung setelah dua menit pertama. Mentari dari Indosat dengan trik pemasaran dengan mengisi ulang Rp 10.000 lo bisa nelpon gratis satu menit pertama selama tujuh hari atau isi Rp 25.000 untuk lima belas hari. Bebas dari XL dengan tarif Rp 0,1/detik untuk ke semua operator di Indonesia setelah menelpon tiga menit. 3 Hutchison dan Smart dari Sinar Mas tarifnya paling mahal Rp 1 per menit. Fren dengan promonya Rp 700/menit ke semua operator GSM tanpa syarat. Esia dari Bakrie cuma Rp 50/menit dan sejamnya yang hanya Rp 1.000. Flexi dengan Rp 49/menit. Starone Rp 750/jam (menurut hitungan gue sendiri). Dan yang terbaru tentu saja Im3 dengan promo sensasionalnya Rp 0,01/detik ke lebih dari 110juta pelanggan di Indonesia.
Gue udah pake im3 dari jamannya gue kelas tiga SMA, tapi nomer gue yang sekarang baru gue pake sejak semester tiga kemarin. Gue sendiri baru ngeh im3 bikin promo ini dari Angel. Dia yang pertama kali ngasih tau ke gue kalo im3 turun tarif. Gue sih seneng-seneng aja. Meskipun gue sendiri jarang nelpon, toh gue ngerasa promo dua bulan itu menguntungkan pelanggan im3 yang lain. Tapi, tunggu deh… Kesenengan gue cuma berhenti sampe disini. Dan yang ada sekarang hanyalah kekecewaan yang mendalam *lebay*.
Karena termakan iklan, gue nelpon Cak Mira (kakak sepupu gue yang bentar lagi menikah, red.). Cak Mira pake operator Fren. Skema di otak gue adalah im3 lagi promosi, telpon ke beda operator Rp 25/detik, dan setelah 90 detik tarif Rp 0,01/detik itu berlaku. So, dengan pedenya gue nelpon kakak sepupu gue yang paling deket dengan gue itu. Bahkan, gue pake acara promosi segala ke dia, “Cak pake im3 juga dunk. Murah kok. Hanya Rp 0,01/detik.” Gue nelpon dia selama empat belas menit (pembulatan ke atas, hehe…). Ok, sekarang kita hitung-hitungan. 90 dikali 25 = 2250. Karena empat belas menit itu 840 detik, kita kurangin 90 detik (tarif promo baru berlaku setelah 90 detik pertama) = 750 detik. Nah, 750 x 0, 01= 7,5. Jadi, SEHARUSNYA total biaya nelpon gue HANYA 2257,5. Coba tebak berapa banyak pulsa gue yang berkurang? Sekitar Rp 12ribu!! Hueeksss,,, im3 SIALAN!! PENIPU!! *keluar tanduk setan* Ng,, Atau mungkin gue yang salah ngitung? Maklum lah gue kan lemot banget kalo itung-itungan. Syukur” aja matematika gue di raport SMA gak merah. Tolong dikoreksi! *jadi gak yakin*
Gue pun langsung mengobrak-abrik tumpukan koran di kamar kos gue. Seinget gue promo dari im3 ini ada iklannya di koran.
Oke. Koran TEMPO edisi Jumat, 22 Pebruari 2008 di halaman paling belakang. Satu halaman penuh dibayar Indosat untuk pasang iklan im3 Rp 0,01/detik. Nih, gue kutip dari iklan:
IM3
Rp, 0,01 per detik
Ke lebih dari 110 juta pelanggan di Indonesia
berlaku setelah 90 detik
IM3
SMS Bangeetss
juga nelpon
murah bangeetss
*Berlaku untuk pemakaian wajar ke semua operator
*Rp 15/detik untuk 90 detik pertama ke sesama Indosat
*Rp 25/detik untuk 90 detik pertama ke operator lain
*Periode promo berlaku sd. 30 April 2008
Tuh, gue bener kan?! Tapi, iklan ini juga rada ngebingungin deh. Apa maksudnya dengan “Berlaku untuk pemakaian wajar ke semua operator”? Pemakaian wajar itu yang bagaimana? Emangnya empat belas menit itu gak wajar? Dan apakah Fren termasuk dari “operator lain” itu? Terus, operator lain itu hanya untuk GSM saja, CDMA saja, atau bisa keduanya? Heh?! Jawab dunk!!
Bah! Benar-benar iklan yang paten! Berhasil menipu gue! Dan gue jadi menyesal mempromosikan im3 ke Cak Mira. Ngapain gue promosi untuk barang tipuan? Gak dibayar pula. Huhhh!!! Saking keselnya gue ampe buka buku pegangan Psikologi Sosial gue (Baron, 2006). Gue mau tau teknik apa sih yang dipake para pengiklan itu untuk menipu konsumen? Dari sekian banyak cara yang bisa digunakan untuk mengubah perilaku orang lain (Bab 9 “Social Influence: Changing Others’ Behavior), gue rasa yang paling sesuai dengan cerita ini adalah teknik the foot-in-the-door. Teknik ini dimulai dengan meminta hal yang kecil dulu, setelah terpenuhi baru deh permintaannya naik ke yang lebih besar. Sengaja tuh mereka pasang angka yang paling kecil (0,01) untuk menarik pelanggannya supaya rajin” nelpon. Tapi nyatanya? Setelah terpenuhi, yang mereka butuhkan sebenarnya bukan segitu tapi lebih besar lagi. Bukan Rp 2257,5 tetapi Rp 12ribu! Dan itu langsung mereka potong dari kredit pulsa gue. Benar-benar suatu pembodohan massal!
Tuesday, February 26, 2008
berlebihan? tergantung...
“Selalu bersyukurlah terhadap apa yang udah kita punya sekarang. Segala sesuatunya jangan berlebihan. Ingat, masih ada orang yang lebih susah dari kita.” Wejangan itu sering banget keluar dari ayah gue. Gue harus mengakui gue sendiri sebenarnya tampak sulit untuk menurutinya. Bukan berarti gue tidak mensyukuri apa yang udah gue punya sekarang. Maksudnya adalah sifat boros gue yang susah untuk ditolerir. Belum lagi gue yang banyak banget keinginan. Pengen ini pengen itu. Melihat barang bagus sedikit aja rasanya pengen gue beli saat itu juga. Berlebihan
Alhamdulillah setidaknya gue bisa mengurangi sifat jelek gue itu sedikit demi sedikit. Semenjak gue ngekos, gue jadi bisa lebih sedikit hemat. Yach,, meskipun sedikit tetep aja dunk itu perubahan yang positif? *membela diri* Dalam membeli barang, gue gak asal beli. Gue lebih melihat kira-kira gue perlu tuh barang atau tidak. Kalo kalimat kerennya sih, “Membeli karena saya butuh bukan karena saya ingin.” Dan juga gue lebih selektif dalam berbelanja. Kalo dulu gue asal comot aja, sekarang sih gue hobi banget ngebandingin harga barang dari merk ke merk. Huehehe,,,
Lalu, apakah hal ini berlaku juga ketika gue membeli kamera baru gue, Canon Digital IXUS 75? Gue berani menjawab, “Iya.” Gue memang butuh kamera. Berlebihan kah gue? Gak, karena gue sekarang sedang belajar fotografi. Untuk belajar, gue perlu media dan medianya itu ya kamera. Sebenarnya dari dulu gue udah minat sama dunia ini, tapi dulu gue hanya sebatas sebagai penikmat saja. Lama-kelamaan kok ya gue jadi minat pengen punya foto sendiri? Iri rasanya ngeliat foto-foto orang yang lain bagus-bagus. Gue bilang ke diri gue sendiri, “Kapan ya gue bisa motret sekeren itu?” Masalahnya sekarang adalah gak mungkin dunk gue terus-terusan mengkhayal dan bermimpi terus gak pernah gue wujudkan? Ini masalah hobi, Bung! Dan juga masalah passion, Saudara! (halah!) Daripada nanti gue mati penasaran karena gak pernah nyoba untuk motret sendiri? Karena itulah mengapa gue membeli kamera. Dan ketika gue menyampaikan niat gue itu Alhamdulillah bokap gue mendukung gue (mendukungnya itu dengan cara ngebeliin gue kamera, red.).
Waktu si Armen nanya ke gue kenapa gue gak pake kamera yang SLR (atau LSR… Embuh ah. Ora ngerti saya) karena kamera itu ngarah ke pro, gue sih nyantai aja. Gue bilang ke dia, “Ya elah… Nikmati sajalah apa yang udah ada. Itu juga seharusnya gue bersyukur udah dibeliin kamera. Lagian kamera yang ada aja gue belum begitu mengerti cara pakenya gimana. Namanya juga baru belajar. Gak mungkin dunk belum bisa apa-apa, ujug-ujug gue minta ke bokap kamera yang mahalan dan canggih? Belum saatnya lah.”
Armen : “Hehe… Iya sih. …Lo mau gue kirimin harga kamera gak?
Buset dah. Duit segitu mah mending gue depositoin aja deh. Kecuali --kecuali yah-- gue kaya raya, lalu serius di fotografi, dan gue menguasai fotografi (tau tekniknya dll), nah gak masalah gue ngeluarin duit segitu apalagi untuk hobi. Semua orang paham lah ya kalo untuk memenuhi hobi kita gak pernah perhitungan keluar duit berapa. Lha wong ada orang yang hobi ikan hias untuk akuariumnya aja rela ngerogoh kocek ratusan juta sampe miliaran rupiah. Tapi, gue sadar diri kok kalo gue ini baru mulai dan pengetahuan gue tentang dunia fotografi ini NOL besar. Gue gak tau apa-apa. So, gue minta dibeliin kamera yang biasa-biasa aja. Yang murah aja lah. Yang penting bisa dipake foto. Berlebihan namanya kalo gue yang gak tau apa-apa ini langsung jebret minta dibeliin kamera yang SLR itu.
Monday, February 25, 2008
jalan2 ke unj
Karena di Indonesia banyak pohon karet, sudah menjadi hal yang lumrah kalo orang Indonesia pada hobi ngaret. Sama aja dengan acara seminar sofstkil yang tadi pagi gue ikutin. Katanya sih acara dimulai jam 8.30, tapi mulainya jam 9.30. Luar biasa ngaretnya sampe satu jam. Selain ngaret, ternyata panitianya masih menyiapkan perlengkapan gitu. Ya nyiapin kursi lah, meja lah, ini itu. Kok ya masih belum siap sih pas udah hari-H? Aneh. Dan gue merasa agak menyesal dateng ke acara softskill itu. Udah ngaret sejam eh acaranya gak seru pula. Bikin gue ngantuk dan tertidur di tengah-tengah seminar. Gue pun langsung cabut pas disuruh istirahat sama panitianya. Ogah deh abis istirahat gue masuk lagi ke seminar itu. Mending gue ke UNJ aja ketemuan ama Echa, temen SMA gue.
Niat gue ke UNJ agak sedikit tertunda dengan turunnya hujan. Kalo si Angel sih malah senang turun hujan. Si Cina Benteng *upss… gue gak bermaksud rasis loh!* satu itu percaya turunnya hujan di suasana Imlekan atau Cap Go Meh atau apalah namanya pertanda akan banyak rejeki. Gue sih manut-manut aja depan dia, tapi di dalem hati gue agak ngegerendeng. Kenapa harus turun hujan pas gue mau pergi ke Rawamangun? Tapi, untung aja sih hujannya gak lama jadi gue gak kesorean pas sampe sana.
Dengan berbekal panduan sms dari Echa --“Kim, lu naik patas 84 ya. Bilang turun di IKIP. Kalo kelabasan turun di Arion Mall aja. Nanti gue susul kesana.”--, gue pun berangkat. Sempet takut gue salah naik bus soalnya bus yang gue naikin gak ada embel-embel Rawamangun-nya tapi Pulogadung, gue sms Echa. “Bener kan, Ca, patas 84 yang ke Pulogadung itu? Gue takut salah naik bus nih.” “Yup… Bener kok ke arah Pulogadung. Udah bilang belum minta turunin di IKIP? Awas jangan sampai bablas ke Pulogadung.” Alhamdulillah, gue gak salah… *menghela napas lega*
Sampe di UNJ, gue dijemput Echa di Bank Bukopin-nya. Kami langsung ke kosan Echa dulu. Duduk-duduk dulu lah ya sambil ngobrol-ngobrol. Udah lama banget kan gue gak ngobrol sama dia. Boro-boro mau ngobrol, ketemuan aja jarang. Terakhir kali kami bertemu ya sekitar setahun lebih beberapa bulan yang lalu deh. Gue kangen ma dia makanya gue bela-belain ke UNJ dari Depok hanya untuk menemui Echa *dramatisir*.
Abis dari kosan Echa, gue minta ditemenin sama dia keliling UNJ. Dan gue iseng ngambil foto disana…
Puas menjelajah UNJ, gue ma Echa mampir ke Arion Mall. Mall yang jaraknya paling deket dengan UNJ ini menurut gue biasa aja. Isinya juga standar lah. Sepertinya malah lebih bagus PGC (Pusat Grosir Cililitan, red.) daripada Arion Mall. Tapi, ya sudahlah. Nikmati saja apa yang ada. Melirik baju (hanya melirik loh,,tidak membeli), cari-cari cowok cakep *gubrak*, dan yang tak mungkin kami berdua lewatkan adalah numpang foto! Hehehe,,,
Dengan bermodal kamera baru *agak nyombong nih ceritanya*, gue ma Echa pun narsis mode ON. Banci kameranya kumat. Dengan tampang seadanya dan tanpa persiapan yang matang (halah! Kaya’ apa aja,,), dengan pedenya kami berdua pun berfoto ria.
Bahkan, kami rela makan di Dunkin’ Donuts hanya untuk numpang foto! Buset dah… Niat banget gak sih gue ma Echa?? Hihihi,,,
p.s.:Sebenarnya pengen pasang fotonya disini. Tapi, entah kenapa gak bisa diupload... Sedih deh... Hiks,,hiks,,hiks,, *nangis meraung-raung* Maaf ya kalian gak bisa ngeliat foto-fotonyaaa...
24 Pebruari 2008
Sunday, February 24, 2008
tolak PP No. 2/2008!
Bangke’! Rese! Sialan! Dan gue pengen mengeluarkan segala macam jenis umpatan kasar lainnya. Gue juga pengen nyebut-nyebut berbagai macam isi kebon binatang. Karena alasan norma kesusilaan dan kesopanan, gue gak bisa numpahin berbagai macam umpatan kasar itu disini meskipun ini blog gue sendiri.
“Weiittss,, emang kenapa lo, Kim? Kok kaya’nya kesel banget sih?”
Begini ya Kawan-kawan semuanya… Gue baca Kompas kemarin dan ada salah satu beritanya yang bikin mata gue panas pas bacanya! Kuping gue jadi berair. Dada gue bergemetaran menahan marah. *Oke… Gue udah mulai lebay*
Emang gak bener lah pemimpin kita! Pemimpin bullshit! Penipu! Apa sih maksudnya dengan “menyewakan hutan lindung untuk pertambangan”?? Alasannya mereka sih keuntungan ekonomi untuk negara lebih besar kalo disewakan lah… ini itu… Tai! Anak yang baru belajar baca juga ngerti kale kalo hutan lindung disewain justru yang ada malah merusak lingkungan. Kalo hutan lindung rusak yang rugi siapa coba, Pemimpinku yang terhormat??? Gak perlu dijabarin lebih rinci
Mereka belum pernah nonton An Incovenient Truth ya (gue juga belum nonton sih sebenarnya,, *gelodak*)? Film yang membuat isu global warming semakin terdengar gemanya dimana-mana. Yang membuat kita mau untuk menyadari dan mengakui kalo planet yang kita tinggali ini sebenarnya udah gak aman lagi untuk kita. Kutub mencair, perubahan iklim terjadi secara drastis, banjir,… Pernah denger
Dengan isu global warming dimana-mana seharusnya bisa membuat kita lebih aware dunk, minimal timbul rasa takut. Jujur, gue ngerasa takut. Gue takut kutub es baik di utara maupun di selatan mencair. Karena, kata guru Geografi gue waktu SMP, kalo kutub es sampai mencair maka banyak negara yang akan tenggelam *gak ada bedanya dengan kiamat dunk?*. Takut gak sih lo? Pasti takut dunk. Bohong kalo lu gak takut. Tapi yach mau diapain lagi? Toh, sedang terjadi. Namun, bukan berarti kita berdiam diri, gak ngelakuin apa-apa, atau nunggu tempat tinggal kita ditelan air dari kutub. Gak perlu jadi aktivis Greenpeace untuk menyelamatkan lingkungan. Cukup jadi donatur aja dengan menyumbang lima puluh ribu rupiah setiap bulan seperti yang gue lakuin *bangga*. Mulai lah dari skala kecil. Kalo yang Oprah ajarin sih bawa kantung kain belanja sendiri, bawa botol minum sendiri, hemat listrik, hemat air, jangan boros pake tisu, dll. Itu skala kecilnya. Skala besarnya? JANGAN MENGGOLKAN PP No. 2/2008 YANG MEMPERBOLEHKAN HUTAN LINDUNG UNTUK DISEWA PERTAMBANGAN. Memangnya pemimpin kita itu dapet berapa sih sampe mau bikin PP tolol semacam itu? Gak menutup kemungkinan toh mereka mendapat fee atau upeti atau semacamnya untuk bikin PP brengsek itu?
Katanya ketika membuat PP itu sudah melalui riset. Riset apaan? Riset tai bedul! Kalo emang ada riset berarti tai anjing yang tinggal di hutan lindung yang diriset. Tolol banget petugas risetnya kalo ampe bilang hasil risetnya mendukung PP itu dibuat.
Sudahlah. Pemerintah kita memang tidak pernah peduli lingkungan. Ganti Pemerintah sajalah. *langsung ngumpet takut ditangkep polisi*
21 Pebruari 2008
Thursday, February 21, 2008
digicam? baru punya...
Awalnya sih gue rada-rada gak rela kalo gue gak latian futsal mengingat gue ingin menjadi kiper yang hebat bin handal bin luar biasa (halah! Lebay mode ON). Loh? Memangnya kenapa kok gue sampe gak latian futsal hari ini (gue latian futsal setiap hari Senin dan Rabu jam empat sore, red.)? Begini ya Kawan-kawan sekalian cerita lengkapnya…
Hari ini ortu gue dateng ke Jakarta dan tempat janjian kami kali ini adalah --seperti biasa-- Sushi Tei di Plasa Senayan. Sushi Tei sudah seperti tempat wajib yang harus kami datangi kalo bokap gue lagi di Jakarta. Alasannya simpel banget. Bokap tau kalo gue seneng banget makan salmon sashimi. Beliau sering bilang, “Kamu itu gak ada bedanya sama kucing.” Haiah. Anak sendiri kok disamain sama kucing. Aneh. Tapi, sutralah… Gak apa-apa gue disamain dengan kucing. Yang penting gue bisa makan salmon sashimi semau gue dan gratis pula.
Masalahnya adalah berhubung hari ini hari Rabu yang notabene adalah hari latian gue. Gue dilema dunk. Bagaikan buah simalakama. Saya berada diantara dua pilihan. *lebay mode ON* Gue bingung harus pilih yang mana? Bertemu dengan orangtua dan makan salmon sashimi gratis atau latian futsal? Pengennya sih gue bisa ngejalanin keduanya, tapi gak bisa. Harus ada yang dikorbankan. Nah, karena gue adalah anak yang berbakti dan patuh kepada orangtua *haiah! Bilang aja deh Kimi kalo lo pengen makan gratis*, gue memutuskan untuk menemui orangtua gue tercinta di Sushi Tei. Maka meluncurlah gue kesana sehabis kuliah MOW (Metode Observasi dan Wawancara, red.).
Di perjalanan gue tetap berharap semoga gue bisa balik ke Depok tepat waktu. Gue ngitung-ngitung jam. Taruhlah perjalanan gue satu jam, terus makan siang di Sushi Tei kelarnya jam satu siang. Muter-muter di Plasa Senayan-nya sejam-an deh. So, gue masih bisa balik ke Depok dan bisa latian dunk? Kan latiannya jam empat sore… Gue udah seneng-seneng gitu kan. Eh, ternyata gue nyampe kosan aja jam delapan malem. Hiks,, hiks,, hiks,, *menangis*
Hehehe,, Jujur, gue gak sesedih itu kok. Boro-boro ampe nangis segala. Malah gue balik ke kosan dengan senyum mengembang. Seneng banget gue hari ini. Gak sia-sia gue gak latian futsal demi bertemu dengan orangtua. Gimana gue gak seneng soalnya udah ketemu ortu, makan salmon sashimi 15 iris dan california roll juga minum dua gelas ocha (gratis pula!), dapet uang sangu yang lumayan, dan… (ini nih yang paling gue tunggu-tunggu!) GUE DIBELIIN DIGICAM!!! Bussseeet daaahh……… Mimpi apaan coba gue semalem bisa ketiban rejeki segini banyak?? *langsung mengingat-ingat semalem mimpi apa*
Sumpah, gue seneng abis. Bokap ngebeliin gue digicam, cuy…!! Gile!! Lagi kesambet apa ya bokap gue kok gue mudah banget ngerayunya? Gak usah susah-susah gue ngerayu, beliau manut aja pas gue minta dibeliin digicam. Yach… Meskipun beliau sempat agak “jual mahal”. Maksudnya tuh beliau nanya buat apa sih digicam itu? Emang penting tah digicam itu bagi gue? Gue sih dengan diplomatis menjawab, “Ayu ingin belajar fotografi, Pa.” Lalu rayuan gue pun berlanjut, “Gak perlu yang mahal kok, Pa. Kamera digital yang dibawah sejuta juga ada kok. Ayu mah gak perlu yang canggih. Masih belajar ini. Yang penting bisa buat foto lah. Ayolah Pa beliin… Kado ulangtahun Ayu…” Dan bokap gue pun akhirnya luluh.
Keluar dari Sushi Tei, kami mampir ke counter Sony di lantai lima Plasa Senayan. Karena pilihan kamera-nya sedikit dan harganya juga tidak pas di hati, kami pun keluar dengan tangan kosong dari sana. Sebelum melanjutkan hunting digicam, bokap mampir ke Kinokuya (eh, bener gak sih nama toko bukunya?). Beliau mau mencari referensi tambahan untuk ruang kantor pribadinya yang sekarang lagi dibangun di rumah (paham kan maksud gue apa?). Gue disuruh bantuin milih buku interior yang bagus dan harganya wajar. Maklum lah kan Kinokuya itu toko buku yang ngejual buku-buku impor gitu. Otomatis harganya impor juga. Tadi aja gue liat harga buku interior design gitu ada yang mencapai enam ratus rebu lebih! Buset dah! Gila! Mahal banget! Gak paham deh kok harga buku bisa semahal itu?
Sempet kelimpungan juga sih nyari buku interior bagus dan murah. Tiap buku yang gue pegang pasti harganya dua ratus, tiga ratus, empat ratus, lima ratus, enam ratus ribu, buset dah… ampun gue! Sampe akhirnya bokap gue bilang, “Cari yang dari Thailand, Yu. Biasanya buku yang dari Thailand itu yang murah.” Siap, Komandan! Perintah laksanakan! Dan akhirnya gue pun menemukannya!! Bukan buku sih tapi majalah interior dari Thailand. Kalo di sini seperti majalah Asri atau Home gitu deh. Itupun harganya 92ribu. Haiah. Tetep aja mahal bagi gue. Duit segitu mah mending gue beliin pulsa im3 gue deh. Selera sih yaaa,, Selera belanja bapak-bapak itu namanya. *uppsss…!*
Abis dari Kinokuya, turun lagi ke lantai satu. Bokap gue mampir kesono-kemari. Gue sih ngikut aja, tapi nyokap gue rese tuh. Beliau bilang capek lah, masuk angin lah, pengen muntah lah, pengen pulang aja, huuhh… emang gak pernah leluasa deh kalo jalan sama nyokap! *Eh eh eh, jangan bilang ke nyokap gue yaaa??* Melihat nyokap gue seperti itu, bokap gue bilang, “Besok aja ya beli kameranya?” Gue langsung protes. “Yah… Besok tuh Ayu kuliahnya penuh. Gak bisa. Sekarang aja gimana? Mama sama Ses Lidya pulang duluan aja terus kita cari di depan aja *sambil nunjuk ke Senayan City*.” Hehehe,,, maksa banget ya gue jadi orang? Keliatannya ide gue jahat, tapi nyokap gue setuju aja tuh. Tapi, bokap gue yang ogah. Beliau memang tidak pernah mau pisah dari istri tercintanya… *huekkss… Bahasa gue najis!* “Ya udah deh gini aja. Kita naik taksi trus kita ke Senayan City. Supirnya kita suruh tunggu. Mama sama Ses Lidya tunggu di taksi.” Busseett!! Lebih parah lagi ide bokap gue. Mana enak belanja kaya’ begitu. Terburu-buru banget. Semua orang tahu lah yang namanya belanja terburu-buru itu gak enak dan banyak ruginya. Bisa-bisa pas pulang nyesel karena salah beli. But, it’s ok lah. Lebih baik nurutin aja apa kata Bokap. Daripada gue gak dibeliin digicam? Rugi atuh…
Tadinya gue mau kamera yang harganya murah aja. Toh, gue masih belajar ini. Kebetulan Olympus ada yang harga satu juta lebih berapa puluh rebu. Entah kenapa gue langsung gak sreg aja pas dibilang Olympus itu Made In China. Setali tiga uang, Bokap juga gak suka. Gue bisa ngeliat dari ekspresi wajahnya. Karena gue belajar Psikologi, gue harus tahu dunk hal-hal yang semacam ini *Haiah… Maksud lo apa sih Kimiii…??*. Bokap gue pun menyarankan gue untuk ambil Canon. Soalnya, Canon ini yang Made in Japan. Tapi, pas gue liat harganya… Ampuuun… Gak tega gue! Gak perlu semahal itu kok… Yang penting bisa foto lah. Gue kan baru mau belajar. Anehnya, justru bokap gue yang keliatannya bersemangat pengen ambil tuh Canon. Gue mah nurut aja lah sama bokap. Apapun pilihan beliau ya gue terima. Lah wong beliau yang punya uangnya.
Alhamdulillah, gue akhirnya punya digicam. Bukan untuk gaya-gayaan atau pamer-pameran tapi emang karena gue sekarang sedang minat di fotografi dan gue ingin belajar. Alhamdulillah lagi, salah satu wish gue terpenuhi. *Terima kasih ya, Pa! You’re the best dad in the world!!*
20 Pebruari 2008
Wednesday, February 20, 2008
i am a lousy keeper
Gue punya obsesi baru, yaitu gue harus menjadi kiper yang hebat! Mengingat performa gue yang makin lama makin buruk dan bukannya semakin bagus, gue jadi kecewa sama diri gue sendiri. Kok gue gak bisa sih jadi semakin baik mainnya? Padahal gue rajin latihan loh,, Gue menyadari kekurangan-kekurangan gue dan puncaknya adalah ketika gue bermain sangat buruk di turnamen kemarin. Sigh… Sungguh mengecewakan!!!
Gue bukan seorang perfeksionis tapi gue eneg kalo gue gak tampil sempurna sesuai dengan yang gue inginkan. Gak usah tampil sempurna deh… Minimal gue tampil baik dan tidak melakukan blunder. Nyatanya apa? Kemarin itu gue melakukan sangat banyak kesalahan sendiri. Kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak pantas seorang kiper lakukan. Contohnya, refleks gue yang kurang cepat mengantisipasi arah bola, gue yang masih malas untuk jatuh buat nangkep bola, gue yang hobi banget untuk maju padahal masih ada bek gue di depan, dan banyak banget deh kesalahan lainnya. Gak tau kenapa gue bisa setolol ini mainnya. Gak ada perkembangan ke arah positif dari sekian banyak latihan yang udah gue lakuin. Huh… Gue payah! Payah! Payah! Payah! Gue emang payah!
Meskipun begitu, gue udah tekad sama diri gue sendiri kalo gue gak boleh kalah! Gue harus pasang target untuk jadi kiper yang hebat! Gue harus punya niat yang kuat… Gue harus janji sama diri gue sendiri kalo gue harus rajin latihan dan HARUS latihan dengan serius. Gue harus semakin baik setiap harinya. Harus semakin baik di setiap latihan. Harus semakin baik di setiap pertandingan. HARUS! HARUS! HARUS! Dan gue yakin gue pasti BISA!!!
Saturday, February 16, 2008
hasil wawancara gue
… *mikir* …
… *mengingat-ingat* …
Tiba-tiba…
Aha!!! Gue tau siapa orangnya!! Kenapa gue gak mewawancarai Ketua BEM Ekonomi Unila itu aja? Toh, gue gak kenal sama dia ini. Hanya sekedar tau nama dan hobinya main futsal. Hihihi… *tertawa bahagia*
Gue langsung nelpon temen SMA gue, Uci, yang emang kuliah di Manajemen Unila. Gue minta tolong sama Uci untuk nanya ke si Ketua BEM kita ini, Faisal, bolehkah gue meminta nomor telponnya dan boleh gak gue mewawancarai dia? Sebagai seorang interviewer yang baik gak boleh dunk gue asal nelpon dia terus langsung wawancara. Harus minta izin dulu sama orangnya. Siapa tahu aja kan dia berkeberatan. Apalagi gue gak kenal sama subjek gue ini. Dan Alhamdulillah dikasih sama Faisal. :-)
So, gue pun nelpon dia. Tapi sebelumnya gue udah nyiapin draft pertanyaan biar nti gak kebanyakan bengong karena bingung mau nanya apa. Meskipun gue gak bertatap muka langsung sama Faisal tetep aja deh gue ngerasa deg-degan. Takut salah tingkah yang berimbas kepada gue salah ngomong. Pan jadinya malu kalo begitu… Gak hanya deg-degan, muka gue pun terasa panas. Ini salah satu ciri pipi gue berubah jadi warna merah. Widiihh… Untung waktu itu gak ada Albar di deket gue. Kalo ada dia bisa-bisa gue diejekkin setengah mampus.
Oke. Sekarang udah ada nada sambung. Gue mencoba untuk menenangkan diri gue dan menyiapkan kata-kata pembuka.
Faisal : Halo. Assalamualaikum.
Gue : Waalaikumsalam. Faisal?
Faisal : Iya.
*Deg! Bingung gue mau ngomong apa lagi…*
Gue : Ng… Saya Ayu temen Uci. Uci bilang gak ya kalo saya mau wawancara?
Faisal : Gak tuh.
*Uci, bangke’! Sialan lu!*
Gue : Oh, gitu ya… Jadi begini saya ada tugas kuliah mewawancarai orang yang belum dikenal lewat telpon… Kalo tidak mengganggu boleh gak ya saya wawancara kamu?
Faisal : Lama gak ya?
Gue : Oh, lagi sibuk ya?
Faisal : Bukan… Saya mau sholat.
Gue : Oke deh. Kalo gitu nanti aja saya telpon lagi.
Fiuhh… Masih ada waktu untuk lebih mempersiapkan diri sekitar sepuluh menit. Gue pun mulai mengarang pertanyaan untuk gue tanyain ke dia nanti.
Sepuluh menit kemudian gue pun menelpon dia. Basa-basi dulu lah nanya biodata dia *haha,, berasa isi formulir*. Gue nanya nama dia, tanggal lahir, hobi, dan kegiatan dia sekarang. Terus gue baru sadar kenapa gue gak nanya e-mail dia? Hihi…
Nama lengkap dia Faisal Kurniawan Pohan. Dia lahir di Depok tanggal 3 Juni 1986. Hobinya baca (standar!), futsal (wah, sama dengan saya, Mas!), main sama kucing *gelodak*. Kegiatan dia sekarang, “Alhamdulillah masih kuliah. Berorganisasi di BEM. Ikutan Risma juga.” Eh eh eh, Faisal ini Ketua BEM Fakultas Ekonomi Unila loohh… *Iya, Kimi… Udah lo kasih tau kok*
Terus gue jadi stucked… Bingung mau nanya apalagi. Draft pertanyaan yang sebelumnya udah gue bikin jadi gak berguna. Abisnya gue bingung kapan gue harus nanya A dan kapan gue harus nanya B. Pertanyaan gue berantakan sih susunannya. Belum termasuk gue yang bersikap “terlalu jujur”. Contohnya, “Aduh… Bingung mau ngomong apa?” atau “Ng… Nanya apalagi ya?” atau “Deg-degan nih…” ehm,, kalo yang terakhir gue gak tahu gue emang ngomong kaya’ begitu atau tidak. Gue lupa. *ditabok*
Ditambah lagi Faisal hanya merespon pertanyaan gue. Maksud gue, dia hanya menjawab pertanyaan gue. Kalo yang temen gue bilang di kelas, “Karena subjek saya penyiar radio dia paham kalo iter itu tidak hanya membutuhkan jawaban yang ya-tidak. Harus ada penjelasannya juga.” Seandainya Faisal mengerti kalo gue gak berpengalaman menjadi iter… Seandainya Faisal tau kalo gue tidak hanya butuh jawaban “Ya-Tidak” tapi gue juga butuh jawaban yang lebih panjang… Tapi, ya sutralah… Gak ada cerita seorang itee harus memahami iter-nya. Yang ada juga seorang iter harus memahami itee-nya. So, untuk mengisi kekosongan alias daripada banyak diem jadinya gue berinisiatif banyak bacot aja. Gede banget lah bacot gue. Gue ngomong yang gak penting dan gak jelas. Ya, gue bersikap sok kenal sok dekat aja. Daripada wawancaranya jadi garing? Betul gak?
Akhirnya sampailah pada pertanyaan terakhir. Gue nanya soal ekonomi sekarang bagaimana. Berhubung dia anak ekonomi lah ya… masa’ gue nanyain soal psikologi? Gak lucu dunk ah! Dan dia nanya balik ekonomi di Lampung atau secara global? Waduh… Bingung gue. Yang mana ya? Yach,, yang global… ng… yang yach terserah lah! *gelodak* Malu gak sih gue jadinyaaaaaaaaaa?????? *nabrak-nabrak tembok*
To Love You More
Take me back into the arms I love
Need me like you did before
Touch me once again
And remember when
There was no one that you wanted more
Don't go you know you will break my heart
She won't love you like I will
I'm the one who'll stay
When she walks away
And you know I'll be standing here still
I'll be waiting for you
Here inside my heart
I'm the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more
See me as if you never knew
Hold me so you can't let go
Just believe in me
I will make you see
All the things that your
heart needs to know
I'll be waiting for you
Here inside my heart
I'm the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more
And some way all the love that
we had can be saved
Whatever it takes we'll find a way
Believe in me
I will make you see
All the things that your
heart needs to know
I'll be waiting for you
Here inside my heart
I'm the one who wants to love you more
Can't you see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more
Bagi kebanyakan orang lagu-lagu tertentu bermakna bagi mereka. Lagu-lagu tertentu bisa mengingatkan mereka akan seseorang, bisa juga menjadi ajang nostalgia, bisa juga sesuai dengan kisah yang sedang atau pernah mereka alami. Gue termasuk kedalam kebanyakan orang tersebut.
Lagu ini mengingatkan gue akan seseorang. Waktu jamannya gue SMP yang belum tau apa-apa soal cinta tapi udah berani berkoar-koar ngomong ke orang-orang kalo si kakak kelas itu cinta pertama gue *gelodak*. Bayangin aja ya gue ampe curhat sembarangan ke orang-orang kalo gue suka ma si A (kakak kelas gue, red.) lah, gue sayang ma dia lah, selamanya gue bakal cinta ma dia lah, gue gak bisa lupain dia lah, ini lah itu lah. Wuiiih… Kalo sekarang gue inget-inget gue jadi merinding sendiri. Gak nyangka hal-hal semacam itu bisa keluar dari mulut gue yang gak bisa direm ini. Yang sebenarnya mah mungkin gue hanya sekedar ngecengin, naksir, mengagumi dari jauh si A ini. Sama halnya gue ngecengin si Abang, si temen Mbak Nun, dan siapapun yang pernah menjadi kecengan gue. Karena begitu seringnya gue mengecengi lelaki, gue jadi ragu sama yang sebelumnya gue deklarasikan dengan “Cinta pertama gue”. Pertanyaan gue adalah benarkah si A ini cinta pertama gue? Atau mungkin malah gue belum menemukan cinta pertama? Well, sutralah… Nikmati saja profesi gue: menjadi seorang secret admirer.
Yach,, meskipun begitu, tetep aja deh setiap kali gue mendengarkan lagu ini gue jadi inget sama si A. Karena waktu itu gue lagi kasmarannya, lagi “cinta-cinta”-nya, lagi “sayang-sayang”-nya sama dia. Dan lagu ini sangat sesuai dengan perasaan gue yang saat itu sedang sangat mellow. Huuu…
15 Pebruari 2008
Alhamdulillah akhirnyaa...
Alhamdulillah.
manfaatkan kesempatan selagi bisa
Sebenarnya ada hal lain juga sih yang bisa membuat gue tidak begitu merasa berkecil hati.
*terjadi dialog imajiner antara gue sama fans gue*
“Apaan itu, Kim?”
Ehm… Opo yo? Ada deh…
“Weiits,, si Kimi ini minta dihajar.”
Waduh! Ampun,, ampun,, Jangan marah dunk! Iya… iya… Gue cerita. Yang gue maksud dengan hal lain itu adalah gue dapet kecengan baru dari ajang kejuaraan Valentine kemarin itu. Hehehe,,, Jadi maluuuwww… *blush*
Sebelumnya sih gue udah pernah bertemu dengan si Abang ini (untuk selanjutnya mari kita menyebut kecengan gue dengan “Abang”), tapi waktu itu gue yang masih bisik-bisik dalam hati, “Wew… Boleh juga nih cowok.” Dan lo mau tau hal apa yang gue lakukan pertama kali setelah melihat dia? Gue melototin jari-jari tangannya satu per satu apakah dia memakai cincin di salah satu jarinya. Gak lucu dunk gue naksir cowok yang udah tunangan atau udah menikah? Bener gak? Dan untuk selanjutnya, gue gak ketemu-ketemu dia lagi sampai dua hari yang lalu (13/02). (-_-)
Karena sebelumnya gue emang udah ada rasa walaupun hanya sebatas pada “boleh juga nih cowok”, sewaktu ketemu dia lagi itulah gue jadi naksir dia. Huehehehe,,, semudah itu ya gue naksir cowok? Emang mudah… Tapi, mudah juga ilangnya. Well back to topic, kesempatan langka dua hari itulah gue sempatkan untuk sepuas mungkin ngeliatin dia. CCP gitu deh… Meskipun kebanyakan gagal daripada berhasilnya, ya lumayanlah daripada tidak bisa melihat dia sama sekali? Kapan lagi coba gue bisa ngeliatin dia?
Berhubung gue orangnya pelupa, gue sekarang sedang berusaha merekam wajahnya dalam ingatan gue. So, bisa gue recall kapan aja tuh memori wajahnya kapanpun gue mau. Cie,,cie,, swiit,,swiit,, *siul-siul* yang lagi jatuh cinta…
15 Pebruari 2008
Friday, February 15, 2008
Heath Ledger meninggal??
Dulu waktu gue masih rajin baca majalah remaja seperti Kawanku atau Gadis, gue ngikutin banget lah hal-hal yang berbau entertainment gitu. Gue jadi remaja yang up-to-date banget mengenai artis-artis
Dan dampaknya pas Angel bilang Heath meninggal, gue shock dunk! Gila! Gak percaya gue. Aisdah! Ketinggalan berita banget
Gambar diambil dari sini
Sore tadi sehabis kuliah Statistika yang sumpah-gue-gak-ngerti, gue dan Edina nangkring di kantin fakultas orang (di Takor kantin Fisip, red.) --bukannya di fakultas sendiri. Mengenai hal ini gue dan Edina menemukan satu kesamaan: Takor adalah tempat favorit kami. Bukan Kanlam bukan pula Kancil yang notabene adalah kantinnya Psikologi. Gue gak tau ya apa alasan Edina menjadikan Takor sebagai kantin favoritnya, yang jelas kalo gue sih karena gue nyaman di Takor dibanding Kanlam atau Kancil. Gue kurang suka di Kanlam. Kalo gak terpaksa” amat sebisa mungkin gue menghindari tempat itu. Bagi gue, Kanlam itu terkotak-kotak. Di pojokan sana gerombolannya si anu. Di pojokan situ gerombolannya si fulan. Ah yaa… Kok gue jadi susah begini ya pengen ngungkapin uneg-uneg gue? Ya intinya itulah. Sedangkan di Kancil, ehm… baru sekali gue makan disitu. Agak mahal ya disana? Pokoknya hidup Takor!! *dihajar anak-anak Psiko*
tidak peduli berapa buku panduan yang gue baca alhasil gue meminta bantuan Edina. Dia harus bertanggung jawab. Karena bujuk rayuan maut dia-lah gue melakukan “perselingkuhan”. Gue mengkhianati wordpress kan gara-gara dia. Nah, masalah yang sedang gue hadapi adalah multiply gue tampak aneh. Sedang ngambek mungkin ma gue? Moso’ hanya untuk sekedar mengganti theme kagak bisa? Boro-boro mau dipajang Pagerank, hitcounter (gue kan penggila angka hits), dan pernak-pernik blog lainnya.
Dasar semprul! Sepertinya belakangan ini Dewa (gue kan cewek jadi gue pake “dewa” bukan “dewi”. *apalah maksudnya?*) Fortuna sedang menjauhi gue. Momennya udah pas ada Edina yang berjanji mau meng-edit multiply gue (karena gue langsung nodong dia abis keluar Stat tadi, hehehe…), tapi emang hotspot bangke’! Yang biasanya di Takor bisa hotspot (setidaknya ini Edina yang bilang) lah tadi sore jadi kagak bisa. Dudul lah! Ternyata benar apa kata dosen gue, “…Hotspot yang tidak begitu hot…” Dan rencana meng-edit multiply gue pun terpaksa ditunda… Hiks,,hiks,,hiks,, *meratap*
Tapi, kita nangkring di Takor bukan tanpa hasil kok. Selain gue bisa TP dan sedikit melakukan zina mata, kami berdua ngobrolin masalah laptop. InsyaAllah bulan April nanti bokap gue mau ngebeliin gue laptop baru (kalo jadi ya… dan kalo dia mengingat janjinya itu. Terkadang dia suka lupa sih. Entah lupa atau memang sengaja dibikin lupa. He…). Sebenarnya gak ada masalah berarti dengan laptop yang gue pegang sekarang. Paling yang menjadi bahan rengekan gue ke bokap adalah laptop gue beratnya minta ampun. Pagi ini aja punggung gue rasanya udah mau patah. Lo bayangin aja gimana beratnya punggung gue membawa laptop 15.4” dengan beratnya yang sekian kilo itu. Dari mulai gue berdiri nunggu angkot di deket rumah kakak gue, terus gue berdiri di metro mini, terus gue berdiri di KRL dari Stasiun Tebet sampe Stasiun UI. Fiiiuuuh… *langsung ngelus-ngelus punggung*
Edina cukup memberi masukan yang berarti buat gue sebagai bahan pertimbangan untuk membeli laptop ntar. Dia menyarankan Fujitsu atau Macbook dan sangat melarang gue untuk memilih Acer. Dia sangat anti dengan Acer. Tadinya gue agak heran kenapa dia bisa antipati dengan Acer? Padahal lumayan banyak yang pake Acer di kampus gue sampe-sampe gue ceplosin ide, “Kita bikin komunitas hotspoters pecinta Acer yuk?”
Ternyata, menurut berbagai forum yang telah dia samperin, Acer itu kurang bagus. Banyak orang yang komplain dengan kualitas Acer, terutama kalo dipake dalam jangka waktu lama. Edina bilang mendingan gue beli Fujitsu aja. Kualitas terjamin dan, “Fujitsu itu satu-satunya laptop yang masih dibikin di Jepang.”
Gue : “Lah ya terus kenapa kalo dibikinnya di Jepang?”
Edina : “Gue sih lebih percaya buatan Jepang daripada Cina.”
Gue : “Iya juga ya. Contohnya aja motor.”
Edina : “He-eh.”
Gue : “Ng… Kalo Toshiba bagus gak?”
Edina : “Lumayanlah. Udah lah… Fujitsu aja.”
Gue : “Tapi Din, gue tuh belum terbiasa dengan merk Fujitsu. Kesannya gak terkenal. Gue taunya
Acer ma Macbook.”
Edina : “Berarti lo payah. Fujitsu tuh bagus kale. Terkenal. Memang sih harganya lebih mahal, tapi kualitasnya donk. Laptop gue ini ya ada Photoshop sama Corel (eh, bener gak, Din?) terus masih gue tambah dengan The Simms. Fine-fine aja tuh. Lancar-lancar aja. Kalo Acer belum tentu bisa kan? Emangnya lo butuh laptop yang seperti apa sih?”
Yang tadinya gue sangat keukeuh dengan Acer sekarang gue beralih pengen Fujitsu atau Toshiba. Bah! Memang dasar racun Edina itu! Gampang sekali dia membujuk gue? Atau mungkin emang dasar gue-nya aja yang sangat mudah dirayu?
p.s.: gue sekarang gak ngeblog lagi di multiply.
11 Pebruari 2008
Tuesday, February 12, 2008
kejuaraan valentine? oh nooo....!!
Valentine? Apa sih Valentine itu? Hari Kasih Sayang sedunia ya? Yang katanya setiap tanggal 14 Pebruari orang-orang (khususnya pasangan yang lagi kasmaran!) sibuk nyari kado buat pasangannya masing-masing. Coklat, bunga, barang-barang yang ada bau” pink-nya jadi laris manis. Kafe-kafe disulap jadi tempat romantis buat nge-date di hari Valentine. Hell yeahh… Whatever lah dengan that stupid damn valentine thing.
Tidak seperti orang kebanyakan yang sibuk bikin rencana untuk hari Valentine dengan pasangannya, gue sibuk berdoa semoga gue gak dimainkan di Kejuaraan Valentine tanggal 13-14 Pebruari mendatang. *Iya, gue tau kok kalo kalian mau ketawa. Kejuaraan Valentine? Please deh…* Kejuaraan Valentine? Apa itu, Cah Ayu? Well, kalo katanya si CT sih itu kejuaraan futsal dalam rangka merayakan hari Valentine. Huehuehue… Kreatip juga yang bikin acara. Daripada bikin acara yang gak jelas pas Valentine mending bikin acara futsal lah. Lebih banyak manfaatnya daripada buang-buang duit untuk hal yang gak penting untuk coklat dan bunga, misalnya.
Untuk mempersiapkan diri mengikuti kejuaraan tersebut, tim FC 08 cewek kemarin latian perdana di semester empat. Gue yang udah sebulan lebih kagak olahraga jadi agak-agak kagok pas latian kemarin. Gue juga jadi mudah capek. Baru latian sebentar dari paha ke bawah udah mulai pegel-pegel. Mudah ngos-ngosan gue. Untung posisi gue kiper, jadinya gak capek-capek amat. Gak perlu capek-capek lari ngejer bola sana-sini layaknya seorang striker atau bek. Paling gue baru bekerja kalo striker lawan sudah mulai memasuki daerah pertahanan gue.
Melihat permainan gue yang jelek banget ditambah gue jarang latian ditambah jam terbang gue yang masih amat sangat sedikit sekali ditambah gue belum lama-lama amat jadi kiper (baru satu semester, red.), gue jadi agak ragu dunk kalo harus jadi pengganti Jilly (kiper utama FC 08, red.) di kejuaraan itu nanti. Soalnya, dia bilang dia gak bisa ikut. Dia harus ketemu sama Pembimbing Skripsinya tanggal 13-14 Pebruari itu. Alamakjaaaaannn……!!! *panik mode ON* Please deeehh… Kalo kaya’ begitu mah mau gak mau gue harus ngegantiin Jilly. Gak ada lagi kiper yang lain, cuma gue ma Jilly *emang deh FC 08 cewek itu miskin kiper*.
Gue belum ada nyali untuk main di luar kampus. Kalo hanya sekedar main-main pas latian atau membela angkatan atau membela TimTam sih gue masih sanggup. Justru itu tujuan gue ikut futsal. Hanya ingin having fun berolahraga ria. Tapi main untuk FC 08? Oh, nooo…!!! *langsung menciut nyali gue* Belum lagi waktunya yang mepet banget. Minggu depan, bro!! Cuma bisa satu kali lagi latihan… Gue yang kagak pernah latian selama sebulan lebih dan baru satu kali latian merasa persiapan gue sangat sangat kurang untuk kejuaraan tersebut. *berasa yakin banget gue bakal dimasukkin ke dalam tim?*
Ah, Jilly… tega sekali dirimu kepadaku, Senior…
niat gue belum cukup kuat
Kalau kita menginginkan sesuatu, hal utama yang kita perlukan untuk mendapatkannya adalah niat yang kuat. Tanpa niat yang kuat maka semuanya akan sia-sia. Contohnya aja gue. Gue punya target dalam enam bulan gue udah harus bisa beli digicam (syukur-syukur kalo bokap yang beliin jadi duitnya bisa gue alokasikan ke tempat yang lain, hehehe…). Itu targetnya. Sekarang untuk mewujudkannya adalah dalam enam bulan ini gue gak boleh beli buku apapun (kecuali buku teks kuliah ya… Itu mah wajib dan itu sih urusan bokap gue).
Sebenarnya gue masih ada angan-angan pengen beli Gajahmada nomer 3, 4, dan 5. Rencananya gue pengen beli pas liburan semester kemaren. Tapi blo’onnya gue, gue beli buku sastra klasik gitu macamnya “Salah Asuhan”, “Siti Nurbaya”, “Sengsara Membawa Nikmat”, dan “Atheis”. Gue juga beli kumpulan surat Kartini yang “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu dan “Ramayana”. Alasan gue beli buku-buku itu gue pengen baca langsung bukunya, jadi gue tau ceritanya langsung dari buku bukan dari cerita orang-orang. Lagian masa’ sih gue gak pernah baca sastra klasik? Kebangetan banget… Dusun… Ndeso… Nda perhatian sama karya sastra dalam negeri… Dibanding gue baca novel-novel teenlit gak mutu itu? Lah ya mending gue baca “Siti Nurbaya” dunk…
Ngebeli enam judul buku itu menguras tabungan gue banget. Yang tadinya duit di tabungan gue emang udah gue niatin untuk beli digicam ternyata gue pake untuk beli buku-buku tersebut. Inilah yang disebut dengan tidak memiliki niat yang kuat.
Sejak itu, gue “menghukum” diri gue sendiri. Gue gak akan beli buku apapun dalam enam bulan. Anggap saja gue udah beli buku untuk enam bulan sekaligus (gue emang nargetin beli satu buku setiap bulan).
Tapi ternyata, Kawan-kawan semua…
Gue melanggar hukuman yang telah gue buat itu. Arrrggghhhhhh………………… SIAAAALLLLL!!!!!!!!!!!!
Gara-gara kakak gue, Ses Lidya, yang ngajak gue ke Trimedia di Mall Ambasador. Emang sih tadinya gak ada niatan untuk ke sana. Awalnya gue diajakin ke penjahit Dian Pelangi di bilangan Kemang. Nyokap minta tolong sama Ses Lidya untuk nganterin dasar kain ke sana untuk dijahitkan baju. Maka berangkatlah kami berdua, termasuk suaminya Ses Lidya (gue manggilnya Adin, red.) dan Anin (anak Ses Lidya yang tertua, red.) ke sana kemarin sore. Abis dari sana tau-tau Ses Lidya mengusulkan kami pergi ke toko buku. Gue sih asyik-asyik aja. Waktu itu gue masih berpikir, “Gue kuat kok gak beli buku…”
Masuk ke Trimedia gue berhasil dengan sukses mengacuhkan rak novel, buku import, buku terbaru, best seller, biografi, sejarah… Bangga dunk gue! Padahal gue udah megang-megang “Ayat-ayat Cinta”, “Babad Tanah Jawi”, biografinya Bung Tomo, dan buku-buku lainnya.
Dalam hati gue teriak, “Yess…!! Gue bisa kok. Gue pasti bisa keluar dari sini gak beli buku apapun. Gue cukup baca-baca aja.”
Sekarang gue mendekati rak buku-buku komputer. Yeah,, disini setan penggoda mulai berhasil menjalankan tugasnya. Baru ngeliat sampulnya doank, gue udah ada sedikit niat (keciiiiiiiil banget niatnya! Tapi, tetep niat itu ada) untuk beli tuh buku.
Gue udah berusaha sekuat tenaga gue untuk gak beli buku. Gue menguatkan hati gue. Gue menguatkan niat gue. Gue memberi semangat ke dalam diri gue bahwa gue pasti bisa keluar dari Trimedia tanpa membeli buku.
Ternyata gue salah besar lah ya. Gue beli dua buku dunk. Judulnya “72 Trik Tersembunyi Internet” dan “Mengeksplorasi Foto Online dengan Flickr”.
Ah ya. Sial. Ternyata niat gue belum cukup kuat. Gue gampang sekali tergoda. Bodoh! *menampar diri sendiri*
mereka yang ingat...
Aria Sita
+6281272437xx
5 Feb 2008
00:02:53
Kimiku, frohli cher geburstag…
Met ultah ya say,,
Tambah segala-galanya
Cepet-cepet lulus biar cepet jadi orang
Sukses… Semangat… :)
Febby
+62852644424xx
5 Feb 2008
00:40:50
Assalamualaikum…
Ayu, met ulang tahun ya,…
Moga panjang umur, sehat selalu,
makin cakep, murah rejeki,
tambah pinter, pokokna semua baek-baeklah…
212
5 Feb 2008
01:52
Indosat Community,
Keluarga besar Indosat mengucapkan
Selamat Ulang Tahun kepada sdr/i Ayu,
Semoga kesuksesan selalu menyertai Anda.
(Gak penting banget sih Indosat,,)
Mbak Nun
+62813941616xx
5 Feb 2008
03:31:20
Ya Allah, panjangkan umurnya.
Sehatkan jiwa raganya.
Sempurnakan imannya.
Lancarkan rizkinya.
Tambahkan ilmunya.
Perbanyak amalnya.
Bahagiakan hidupnya.
Amin.
Mbak Nun
+62813941616xx
5 Feb 2008
03:31:59
Sayangku, met ultah ya.
Moga tambah baik segala-galanya dalam hal apapun.
Amin.
Intan
+6281933555484
5 Feb 2008
04:17
Happy 21st birthday, sis!! =)
I expect that… whatever you want,
you’ll get soon.
All of your dream is going come true.
Your life always be cheerful
and you can be nice and lively person everytime.
Your love will shining like a star,
All of your friends always be there for you,
and we’ll always be friend forever.
Then, wish Allah blessing you and wish you all the best!!
Luv u…
Indri
+6285624629195
5 Feb 2008
04:41
Asw sayang.,
Subhanallah hari ini saat kubuka mataku ingat
Kalo sahabatku ada yang ultah ke-21.
Happy birthday ya.
Smoga tambah dewasa and terus meningkat keimanannya.
All the best for you. Amin
Rini
+62819779182xx
5 Feb 2008
06:46
Tahun ke-21 telah diberikan segala anugerah,
nikmat dari-Nya.
Pahit, manis, mulai kau tapaki.
Mau kemana tujuan?
Mudah-mudahan segala keinginan tergapai,
Cuma doa serta harap dari seorang aku yang dapat kuberi.
Amin. ;p
Albar
+6285669605759
5 Feb 2008
07:15
Cuy, met ultah ya…
Semoga panjang umur, sehat selalu,
Murah rejeki, enteng jodoh, tambah dewasa.
Ya pokoknya yang bagus-bagus deh…
Sekali lagi met ultah ya… :)
Diah
+6285669742458
5 Feb 2008
08:05
Ya Allah, berikanlah berkah untukku dan sahabatku.
Ini adalah hari kelahirannya…
Berikan kesehatan selalu padanya
Umur yang panjang
Selalu teguh pada-Mu
Diterangi langkahnya untuk mencapai cita-citanya
Murah rejeki
Sukses selalu.
Nilam
+6281272219xx
5 Feb 2008
05:46:51
The beautiful day come to you
Sun rises brightly for you
Happy birthday, Ayu!
Hope you have a succesfully in your life
Hope today and next you will more better than the last!
Sandhi
+62856697676xx
5 Feb 2008
09:42:01
Wah ada yang nambah tua nih,
Met ultah ya
Semoga apa yang bisa dicita-citakan bisa tercapai.
Amien…
Ses Lidya
+628177778xx
5 Feb 2008
10:58:23
Yu, selamat ulang tahun ya.
Semoga panjang umur dan mendapat berkah dari Allah
+628176267xx
5 Feb 2008
14:08:15
Happy birthday my luvly friend!!
Hope you’ll get all what you want,
what you wish for,
and what you dream of…
trakterrrr!!!!!
Berarti lo utang traktiran dua kali lo!!!!
Ahahaha
+62899227226xx
5 Feb 2008
20:04
Happy birthday Jeng Ayu,,
Moga apa yang dicita dan cintakan bisa tercapai,
Dimudahkan dalam mencapai kesuksesan,
Tambah sayang sama ortu, and jangan lupa ibadahnya yak.
Masih tanggal 5 kan?
Hoho,,
5 Pebruari 2008
gak ada kado it's ok lah!
Dengan sms yang masuk ke hp gue secara bertubi-tubi *mulai dramatisir*, bisa dibilang tidur gue gak nyenyak. Gue mencoba tidur pas jam 12 malem teng, tapi dua menit kemudian gue udah diganggu dengan sms dari Aria. Untuk tahun ini, dia adalah orang pertama yang mengucapkan “Selamat ulang tahun” ke gue. Congrats ya, Aria! *Lho kok? Maksudnya opo tho?*
Yach tidak perlu diceritakanlah detilnya bagaimana gue melewati dini hari perdana di usia gue yang ke-21. Memejamkan mata, mulai terlelap, tiba-tiba sms masuk… Terulang seperti itu terus sebanyak enam kali Terganggu sih tidurnya, tapi gue seneng kok. Itu artinya masih banyak orang disekeliling gue yang care ma gue. Mereka inget ulang tahun gue. Dan gue merasa bersalah sama mereka… *langsung tertunduk* Ya, gue ngerasa salah sama mereka. Gue inget tanggal lahir Nilam dan Sandhi, tapi gue gak ngucapin selamat ulang tahun ke mereka. Gue inget tanggal lahir Albar, Aria, Intan, dan Mbak Nun tapi gue ngasih ucapan ulang tahun ke mereka sering banget telat. Gue lupa-lupa inget tanggal lahir Indri, tapi gue cuek bebek sewaktu dia ngirim sms sindiran ke gue, “Kimi, kamu inget gak sih temen kamu yang ulang tahun bulan Januari siapa?” Dan yang ini yang parah, gue gak tahu kapan ulang tahun Febby, Rini, Cecep dan Diah. Aghh… Saya memang teman yang buruk. :( Maapkan saya ya, teman-teman semua…
Terbukti mereka adalah orang yang sayang dan perhatian sama gue. Oleh karena itu, gue harus membalas perhatian mereka semua…
Btw, gue memulai hari ini dengan sedikit meriang. Entahlah meriang atau bukan. Yang gue rasain pas bangun tidur tadi pagi, badan gue anget dan kepala gue sedikit pening. Ah, gak keren banget masa’ ulang tahun gue sakit sih?! Belum lagi ditambah penyakit langganan gue (sariawan, red.) yang tiba-tiba kambuh. Rasa-rasanya mulut dan lidah gue penuh dengan sariawan. Padahal ya gue udah banyak minum dan makan buah. Ampe gue bela-belain beli pisang Sunpride di Giant kemaren karena dikosan gak ada buah. Udah kondisi sedang tidak begitu fit ditambah gue yang jadi malas makan karena sariawan sedang bertamu. Jadi lemaslah gue. Pengen banget hari ini gue gak usah kuliah. Tapi, gue langsung inget ada urusan IRS yang belum kelar, so gue harus kuliah hari ini NO MATTER WHAT!! Lagian masa’ sih gue jadi manusia cengeng macam ini? Hanya karena meriang sedikit gue langsung bengek dan gak masuk kuliah?! Apa kata dunia, Kawan…?
Jam delapan pagi gue kuliah Psikologi Kognitif. Entahlah apa yang dipelajari. Pikiran gue sedang tidak berada di kelas. Tapi, di lain tempat… Selesai kuliah gue langsung kabur pengen ketemu dengan Mas Aten, PA gue tercinta itu. Niatnya sih pengen konsultasi masalah IRS, tapi setelah dipikir-pikir gak usah konsul lah. Maen tembak aja. Kita gambling. Drop Psikologi Bermain dan meng-add Enterpreneurial sama SDM. Entah dapet entah tidak. Doakan saja semoga dapat, ya! Sekarang kita lupakan sejenak masalah IRS. Gue bersikap pasrah saja ah. Toh, formulir IRS-nya udah gue balikkin ke Subag. Tinggal tunggu pengumuman. Kunfayakun. Yang terjadi ya terjadilah.
Back to topic, sedih sekali tidak ada yang memberi gue kado. Dari daftar kado yang udah gue bikin, tidak ada yang terpenuhi. Huuu,, sedihnya diriku… Huu,, ingin menangis rasanya… *dramatisir*
Ah, jadi ingat waktu gue SD. Waktu itu gue ngeliat ada murid kelas sebelah yang ulang tahun terus temen-temennya ngasih dia kado gitu. Gue iri ngeliatnya. Gue juga pengen ada yang ngasih gue kado. Besok-besoknya gue samperin temen-temen sekelas gue yang jarang gue tegor. Gue bilang ke mereka, “Eh, bentar lagi gue ulang tahun lho…” Mau tau reaksi mereka apa? Mereka ngeliat gue dengan campuran tatapan sinis, gak percaya, cuek, pastinya gak ada tatapan berbinar-binar semangat mau ngasi gue kado. Malah ada yang nyeletuk, “Trus, kenapa?” jleeebbb…! Nancep banget dunk! Tersinggung dunk gue. Malu. Apalah ya maksudnya seperti itu? Tapi, gue bisa mengerti kok kenapa mereka begitu. Gue kan gak deket sama mereka. Maklumlah ya gue kan orang yang susah bersosialisasi. Gak heran temen gue sedikit.
Ya sudahlah. Tak apa tahun ini gue gak dapet kado. Doa dari keluarga dan teman-teman gue juga udah lebih dari cukup kok. Bahkan, mereka hanya sekedar inget pun gue seneng banget. Tapi, lebih seneng lagi kalo ada yang ngasih gue kado… *Ditampar bolak-balik*
5 Pebruari 2008let me make my wishes
Angka menunjukkan pukul 23:11 di laptop acer aspire 1690 gue. Kurang dari 49 menit adalah lamanya waktu terakhir gue di usia 20 karena tepat pada pukul 00:00 nanti usia gue genap 21 tahun.
Ah yaaa… waktu terasa cepat sekali berlalu. Sepertinya baru kemarin gue masih ngegangguin kakak gue pacaran sekarang anaknya udah tiga (yang paling kecil umurnya 6 tahun, red.). Huuhh… Sepertinya baru kemarin gue masih main karet, petak umpet, gobak sodor, sekarang gue main TMB *gelodak! Gak nyambung banget!*. Sepertinya baru kemarin gue abis bertengkar sama bokap gue ribut soal urusan kuliah, sekarang gue udah kuliah tingkat dua (harusnya gue tingkat tiga). Dan masih banyak “seperti-sepertinya” yang lain…
Kenapa sih waktu cepet banget jalannya?
Kenapa?
Kenapa, pren?
Ada yang bisa jawab?
Hah ya… Iya, gue tau itu adalah pertanyaan bodoh. Waktu tidak berjalan dengan lambat tidak pula cepat. Tergantung bagaimana kita menjalaninya. Dan… Bagaimanakah kehidupan yang sudah gue jalani selama dua puluh tahun terakhir? Sudah menjadi orang yang lebih baikkah gue? Atau mungkin gue malah menjadi seorang bajingan yang brengsek?
Kehidupan macam apa yang udah gue jalani selama dua puluh tahun terakhir? Have I done something great? Apakah gue sudah membahagiakan orang tua gue? Membanggakan keluarga gue? Menjaga nama baik mereka? Bahagiakah orang-orang yang berada disekeliling gue? Apa sih yang udah gue lakuin untuk mereka? Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang menganggap gue sebagai musuh mereka? Apakah mereka udah memaafkan semua kesalahan gue?
Kemudian, bagaimana dengan masa depan gue? Bisa optimiskah gue untuk mencapai masa depan yang cerah? Atau gue malah menjadi orang pesimis lalu terpuruk jatuh ke jurang dan tidak terselamatkan? Entahlah. Yang gue tahu masa depan adalah sebuah misteri.
Sekarang waktu telah menunjukkan pukul 23:31. Kurang dari tiga puluh menit lagi gue menikmati masa-masa usia dua puluh tahun.
Ngomongin soal kenikmatan, have I really enjoyed mylife? Ehm,, dunno. Bagaimana sih caranya kita menikmati hidup? Karena gue ngerasa idup gue datar-datar aja. Gue pengen ngelakuin sesuatu yang bikin idup gue berwarna! Gak harus sedramatisir kaya’ yang Ronan Keating bilang kalo life is a rollercoaster, you’ve got to ride it. Masalahnya Ronan gak tahu kalo naik rollercoaster itu harus bayar, gak bisa gratis. Bukannya idup itu gratis ya? Tuhan Sang Pencipta kan yang memberi kita kehidupan? Haiah! Makin gak nyambung aja entry gue yang ini. Ngalor-ngidul gak jelas. Maklum lah… deg-degan, stres, sekaligus excited menunggu jam12 teng.
Masih ada tujuh belas menit sebelum pukul 00:00. Saatnya gue bikin draft “Make Wishes” gue. *langsung sibuk corat-coret*
Ya Allah, berikanlah selalu rahmat dan hidayah-Mu kepadaku. Berikanlah selalu ridho-Mu dalam setiap hembusan nafasku… dalam setiap langkah kakiku…
4 Pebruari 2008
semrawutnya kota gue
Bandar Lampung kota Tapis Berseri. Tapi, menurut pendapat pribadi gue Bandar Lampung kota Tapis tidak Berseri. Makin lama kota kelahiran gue ini makin mumet, ribet, ekstremnya makin ancur. Gak perlu jago politik atau ahli ekonomi atau pakar pembangunan untuk melihat kenyataan Bandar Lampung sekarang. Gue menilai kota ini murni sebagai warga yang kecewa dengan keadaan kotanya sekarang. Pandangan gue tentu gak bakal diperhatiin sama Walikota Bandar Lampung. Oleh karena itulah, gue pengen ngeluarin uneg-uneg gue selama ini. Seenak udel gue.
Gue punya julukan tersendiri untuk kota ini, yaitu “Bandar Lampung: Kota Ruko.” Heh? Kok dibilang kota ruko? Karena dimana-mana, dari ujung ke ujung, dari sudut ke sudut kota, gue selalu ngeliat ada ruko yang lagi dibangun. Seolah-olah tidak pernah berhenti dan tidak ada habisnya. Dan gue ngedumel. Sebegitu mudahnyakah mengurus perizinan mendirikan bangunan di kota tercinta gue? Emangnya pihak yang berwenang gak menghitung apa udah berapa ruko yang dibangun? Mending kalo ruko yang dibangun itu semuanya laris dijual atau disewa, lha ini masih banyak yang nganggur kok. Malah ada ruko yang dibiarkan begitu saja tidak terawat karena udah lama banget gak laku-laku. Ini baru uneg-uneg pertama.
Uneg-uneg berikutnya, bukit-bukit di Bandar Lampung sekarang sedang dijarah. Digerus. Dihabisi. Diperkosa. Mereka yang melakukannya tidak peduli perbuatannya itu bisa merusak lingkungan, bahkan bisa membahayakan nyawa mereka sendiri. Banjir dan sulit mendapatkan air bersih adalah sedikit resiko yang harus ditanggung bersama oleh warga Bandar Lampung akibat dari perbuatan segelintir orang bejat nan kapitalis tersebut. Mereka mendirikan hotel, perumahan, restoran disana. Mereka hanya menghitung keuntungan pribadi mereka tanpa berpikir panjang dampak ke depannya. Begitulah kaum kapitalis. Cuma ngurusin isi perut sendiri. Sekali lagi, sebegitu mudahnyakah pemerintah kota memberikan izin untuk mereka?
Kemudian masalah kemacetan. Bandar Lampung sekarang macet, lho! Emangnya cuma Jakarta doank yang bisa macet? Memang sih Bandar Lampung kota kecil. Lo bisa keliling-keliling kota Bandar Lampung cuma dalam sehari. Dari ujung kota ke ujung kota lain. Dan gue gak tahu apa yang udah dilakuin sama Pemkot kita mengenai masalah ini? Jujur, gue gak ikhlas kalo Bandar Lampung ampe ikutan macet. Bisa-bisa sesak napas gue.
Uneg-uneg nomer empat mengenai pedagang kaki lima. Gue ngerti kalo mereka (para pedagang kaki lima, red.) itu hanya ingin mendapatkan uang untuk membiayai kehidupan mereka. Tapi, mereka juga harus mengerti juga dunk kalo mereka itu merusak keindahan kota. Lihat Bambu Kuning yang penuh dengan kaki lima, sampai-sampai mobil gak bisa parkir karena lahan parkir dijadikan tempat mereka berdagang (tapi katanya sekarang sih pedagang kaki lima-nya udah diusirin dari sana. Gak tahu deh kalo mereka balik lagi). Dampaknya apa? Macet toh? Lihat pula di Jalan Pemuda atau Jalan Pangkal Pinang. Kawasan ini penuh dengan toko yang menjual sepatu, elektronik, kue, dll. Sayangnya, para pedagang resmi (yang punya toko, red.) tidak bisa berdagang dengan leluasa karena di depan toko mereka berjejer tenda-tenda pedagang kaki lima. Bahkan, plang toko pun tidak kelihatan karena tertutup oleh kios pedagang kaki lima. Pemkot kita hanya diam. Mereka membiarkan pedagang kaki lima merusak keindahan kota.