Wednesday, July 30, 2008

Mental Juara

Menurut kalian kenapa Roger Federer begitu lama bertahan menjadi peringkat pertama (lebih dari 200 minggu, tepatnya berapa saya lupa--maapkeun)? Saya tidak paham filosofi apa yang dipegang seorang atlit untuk menjadi yang terbaik, atau apa-apa saja yang diperlukan untuk bertahan selama itu menjadi petenis peringkat pertama dunia. Perlu dilakukan sedikit riset untuk mengetahui resepnya Roger Federer, tapi sayangnya saya MALAS. Kenapa? Karena saya benci Roger Federer. Dan saya rasa tidak perlu riset untuk mengetahui kenapa Roger bisa disebut sebagai "Legend in Making". Sebagai orang awam, saya bisa menebak resepnya Roger: persistent, konsistensi, dan pastinya diperlukan mental seorang juara. Ada yang mau menambahkan? Tentunya selain kenyataan bahwa Roger memang a great tennis player. No doubt about it.

Sekarang saya bertanya, kenapa Marat Safin sepertinya sekarang susah sekali untuk kembali masuk ke dalam jajaran top petenis dunia? Menurut saya (sekali lagi ini menurut saya) karena Marat Safin tidak memiliki mental seorang juara. (Saya rasa dia tetap disegani sebagai pemain, tapi tidak lebih karena dia mantan petenis nomor satu dunia.) Sejauh ini yang saya ingat mengenai dia dari berita-berita yang pernah saya baca Marat adalah pemain yang temperamental. Suka sekali membanting-banting raket kalau pukulannya jelek, teriak-teriak kalau melakukan kesalahan, memprotes keputusan wasit. Seperti kemarin waktu saya nonton pertandingan dia melawan Dmitri Tursunov di Western & Southern Financial Group Masters (salah satu turnamen ATP Masters Series) Cincinnati (AS).

Marat kalah di set pertama dari Tursunov dengan skor 6-7. Di set kedua skor 4-4 saat Marat sedang memegang servis. Ketika game ke-9 di set kedua skor 40-40 saat wasit menyatakan Marat Safin melakukan kesalahan saat serve. Kesalahan kakinya menyentuh garis atau apa itulah namanya saya tidak paham. Mungkin teman-teman yang lebih paham soal tenis bisa memberi tahu soal ini. Nah, keputusan wasit ini diprotes Marat. Saya rasa sih wajar saja kalau Marat protes, tapi mbok ya protesnya yang wajar. Ini protesnya seperti anak kecil yang gak terima karena dia kalah main gundu. Ngoceh-ngoceh, hakim garis disalahin, trus tetep aja ngungkit-ngungkit ke wasit masalah servis dia tadi. Jelas ini mengganggu permainan dia. Hal ini terlihat dari pukulan dia yang sudah tidak akurat. Dan dia terpaksa melepaskan servisnya. Kedudukan sekarang menjadi 5-4 untuk Tursunov. Lucunya, saat Tursunov memegang serve dan skor 40-0, servis pertama Tursunov dinyatakan keluar saat Marat mengangkat raketnya. Wasit mengira Marat akan men-challenge keputusan hakim garis (pemain bisa men-challenge keputusan wasit/hakim garis apakah bola itu keluar atau masuk. Bingung dengan penjelasan saya? Nonton deh tenis maka kamu akan mengerti sendiri. Hehehe...) ternyata Marat tidak men-challenge servis tersebut tapi dia mengundurkan diri. Dia menyalami Tursunov, tapi tidak menyalami wasitnya. Hah! Sungguh anak kecil sekali sih Marat Safin. Kalau mau kalah ma kalah aja begitu. Toh, tinggal satu poin lagi Tursunov menang. Gak usah pake acara si Marat ini mundur deh. Sungguh menyebalkan melihat kelakuan seorang mantan petenis nomor satu dunia seperti itu. Wajar Marat sekarang merasa kesulitan untuk kembali masuk menjadi petenis top dunia saat ini. Mentalnya itu mental anak kecil, bukan mental seorang juara. Ya kesalip dunk ah sama pemain-pemain yang lain.

Saya jadi ingat setahun yang lalu final Wimbledon (2007) antara Mas Rafa-ku vs Roger. Waktu itu, saya sudah sangat yakin Rafa akan keluar sebagai juara melihat permainan Rafa yang luar biasa dan Roger yang sedang berada di dalam tekanan. Nyatanya, Roger berhasil keluar dari tekanan dan dia membalik keadaan. Di set ke-5, Roger balik menekan Rafa dan memenangi set tersebut (dan Wimbledon) dengan skor 6-2. Seingat saya, titik balik penampilan Roger adalah disaat Rafa men-challenge bolanya yang dinyatakan out oleh hakim garis. Ternyata bolanya Rafa memang masuk, tapi hanya secuil/seuprit dari bola yang nempel di garis permainan. Meskipun begitu bola tetap dinyatakan masuk. Roger tampak keberatan. Dia sempat mempertanyakan kepada wasit. Kalo saya sih nangkepnya begini, "Cuma seuprit begitu masa' dibilang masuk sih? Anda kan wasit harusnya bisa over rule dunk..." Tapi wasitnya mungkin berdalih yah itu emang bolanya masuk mau diapain lagi. Dan Roger akhirnya cuma bisa bilang, "I'm happy he challenged it." Setelah itu, entah Roger dapat tenaga darimana dia langsung kembali ke permainannya. Yang sebelumnya Roger mendapat tekanan dari Rafa sekarang dia balik menekan. Hasilnya? Saya sumpah serapah kenapa Roger bisa menang. Padahal Rafa nyaris menang! It was close... very close... Kenapa permainan Rafa tiba-tiba rusak dan permainan Roger di akhir set malah berkembang? Ah, damn... Ayah saya cuma berkata dengan singkat, "Itulah mental seorang juara." And I couldn't agree more.

Tidak seperti Marat yang protesnya seperti anak kecil, ngambek, mempengaruhi permainan, dan akhirnya mundur dari pertandingan, Roger protes sewajarnya dan dia bisa kembali ke dalam permainannya. Luar biasa untuk Roger. Sangat memalukan untuk Marat. Bahkan komentator pertandingan saat itu sendiri bilang (seingat saya ini mah):
Marat sendiri tidak bisa 100% yakin apakah servisnya itu fault atau tidak. Seharusnya dia melupakan keputusan wasit dan terus saja bermain. Dari permainan high quality kemudian dropped to that elementary level sangat tidak baik. Memenangi pertandingan tentu menyenangkan, tapi memenangkan pertandingan dengan cara seperti tadi tentu mengecewakan.

Sunday, July 27, 2008

The Call


Song lyrics | The Call lyrics

Lucky

Saya langsung menyetel lagunya Mas Jason Mraz yang judulnya "Lucky" setelah saya mampir dari rumahnya Ical. Anak itu memang a good song recommender. *Eh Cal, "I'm Yours" tetep yang the best!* Terbukti dari lagunya Mas Jason itu memang enak didengar. Maka saya langsung minta liriknya sama Mas Google dan Alhamdulillah Mas Google tidak pelit.

Ada satu bagian yang membuat saya merasa tersentuh.
I'm lucky I'm in love with my best friend
Ah, kalimat itu benar-benar menyentuh saya. Sangat mengena. Sangat sangat sangat mengena. Ya, saya mencintai sahabat saya dan saya beruntung saya jatuh cinta sama dia. I fall in love with him because he's the best man that I've ever known. Dramatisir? Berlebihan? Mungkin. Tapi setidaknya sampai detik ini saya bernapas dia adalah laki-laki terbaik yang pernah saya kenal. *Entah ya kalo detik berikutnya saya bertemu dengan brand new guys, will he still be the best man I've ever known?* Melebihi semua itu saya beruntung pernah mengenal dia dan menjadi sahabat dia.

*masih terbawa suasana habis membaca message curhatan teman*

Sejujurnya, menulis posting ini mempermainkan emosi saya. Saya ingin menangis, tapi saya tersenyum. Perut saya seperti diaduk-aduk. Emosi saya tidak karuan. Dan lagu "Lucky" yang sedang saya dengar sekarang turut memperkeruh suasana. Saya sedang terbuai dengan perasaan.

*Berusaha keras menahan air mata supaya tidak jatuh*

Jadi, mari kita lanjutkan. Kenapa saya bilang sahabat saya itu adalah lelaki terbaik? Terlalu banyak alasannya dan tidak bisa saya ungkapkan disini semuanya. Tapi akan saya coba tulis sebagian.

Alasan pertama, dulu waktu kami sedang dekat-dekatnya saya merasakan ini adalah hubungan terbaik yang pernah saya punya selama ini. He is the "bestest" friend ever. Dia menawarkan sebuah persahabatan yang tulus. He's so pure. Ikhlas, tanpa pamrih, tanpa embel-embel. And I was so lucky I had the great time with him back at those times. Jika ditanya apa keinginan saya saat ini maka tanpa ragu saya akan menjawab, "Saya ingin kembali ke masa kelas 3SMA."

Alasan kedua, dialah orang yang menjadi teman saya di saat masa-masa tergelap saya. Dia adalah tempat saya bernaung, tempat saya berlindung, kotak sampah saya, dan saya tidak tahu apa yang terjadi pada saya seandainya dia tidak ada disana. Mungkin bagi sebagian pembaca menganggap saya berlebihan, tapi seandainya kalian berada di posisi saya pasti kalian bisa mengerti perasaan saya.

Alasan ketiga, dia menyayangi saya apa adanya. Dia tahu semua kejelekan saya, semua rahasia gelap saya, semua dark wishes saya, dia tahu semuanya dan hebatnya dia masih bisa sayang sama saya... sebagai sahabat tentu saja. *entah sekarang dia masih sayang atau tidak sama saya? Mengingat kami semakin jauh...*

Alasan keempat, dia... He's too damn perfect!!

Alasan kelima, dia... Maaf, saya jadi speechless. Bingung harus menulis apa lagi untuk menggambarkan sahabat terbaik saya itu. Terlalu banyak yang ingin saya tulis sampai-sampai saya bingung sendiri.

Sayangnya karena suatu dan lain hal hubungan kami tidak sedekat dulu lagi. Komunikasi sudah jarang dilakukan. Sms hanya sekedar formalitas asal tidak kehilangan kontak. Sepertinya kami sibuk dengan kehidupan kami masing-masing. Dia dengan kuliahnya, kegiatannya, teman-temannya, keluarganya, terutama pacarnya. Sedangkan saya dengan kuliah saya, kegiatan saya, teman-teman saya (tidak ada teman seperti dia, tentu saja!), keluarga saya, terutama blog saya.

Mudah-mudahan sahabat saya itu tidak membaca postingan ini. Kalaupun dia membaca dan bertanya apa sebenarnya mau saya sekarang, maka saya akan menjawab:
Gue pengen kita kaya' dulu lagi. Benar-benar seperti dulu. Kita deket, benar-benar deket. Dimana gue bisa cerita apa aja ke elo. Gue pengen gue ngerasa nyaman lagi sama elo. Believe it or not, gue ngerasa gue mulai kehilangan elo. Mungkin gak sekarang atau besok atau besoknya lagi, tapi gue yakin kehilangan elo itu cuma soal waktu. Dan gue... Gue sangat sangat sangat takut kalo itu sampai terjadi. Karena gue gak mau kehilangan elo. Gue gak pernah mau...
Dan saya sekarang benar-benar menangis.
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard
p.s.: Now playing:
  1. Jason Mraz feat Colbie Caillat - Lucky
  2. Regina Spektor - The Call
  3. Jason Mraz - I'm Yours
  4. Landon Pigg - Falling In Love At A Coffee Shop
  5. The Beatles - I Will
  6. Syesha Mercado - Yesterday
Yeah, perfect combination!

Bilang Atau Tidak?

Bagi saya, segala sesuatu itu ada masanya. Waktu kecil saya suka sekali nonton kartun. Kalo sudah hari Minggu maka saya bangun dan mandi dari pagi lalu menguasai tv dari pagi hingga siang. Lama-lama saya bosan sendiri dengan kartun. Setelah agak besar, kartun tidak membuat saya begitu tertarik lagi. Waktu remaja saya mulai mengenal internet dan saya mulai keracunan internet. Saat itu sama dengan teman-teman lain, saya mulai mengenal Friendster. Sama seperti yang lain, saya pun kecanduan dengan situs tersebut. Tapi itu dulu. Sekarang mah saya sudah bosan dengan situs-situs sosial seperti itu, katakanlah seperti MySpace, Facebook, Hi5, dan yang lainnya. Saya memang buka rekening akun disana, tapi itu hanya sekedar formalitas. Biar saya tidak dibilang cupuw. Hanya daftar tok. Loginnya kapan-kapan kalo saya ingat. mafia

Nah, semalam itu saya iseng-iseng login ke akun FS saya (ya iyalah, masa' login ke akun FS orang lain?). Ternyata banyak message yang nangkring sudah lumayan lama di inbox. Dan sewaktu saya membaca message-nya ternyata isinya semacam duka derita nestapa *dramatisir* teman saya. Singkat cerita, dia curhat ke saya. Aduh... Saya jadi tidak enak dengan teman saya itu karena baru baca message-nya.

Teman saya itu, untuk seterusnya kita sebut saja dia sebagai A, curhat bahwa sebenarnya dia itu sayang banget sama sahabatnya. He's falling in love with his bestfriend. Dia pengen banget hubungannya dengan sahabatnya itu berubah lebih dari sahabat. Dia ingin mereka menjadi sepasang kekasih. Dengan segala reminiscence yang dia ceritakan ke saya mengenai kisah mereka, saya bisa mengambil kesimpulan betapa sayangnya dan cintanya A ke sahabatnya. Ketakutan terbesarnya adalah jika dia mengatakan hal yang sebenarnya ke sahabatnya, dia takut sahabatnya nanti jadi ilfil ke A. Ah ya, masalah yang sangat klasik.

Kita bertemu dengan banyak orang dan beberapa menjadi teman. Karena interaksi yang intens dan merasa ada kecocokan lama-kelamaan teman itu berubah menjadi sahabat. Siapa saja bisa menjadi sahabat kita mengabaikan jenis kelaminnya. Saya sendiri punya sahabat perempuan dan laki-laki. Sejauh ini menurut saya bersahabat dengan lawan jenis sangat complicated. Kenapa saya bilang begitu? Karena lambat laun kita bisa jatuh cinta dengan sahabat sendiri. Mau sekuat apapun kita *kita? Elo kali, Kim...* menyangkal kenyataannya adalah kita jatuh cinta dengan sahabat kita. And there is nothing wrong with that. Manusiawi lah jatuh cinta dengan sahabat sendiri. Siapa yang bisa menolak perasaan cinta? Kamu bisa? Yakin? Kok saya jadi tidak yakin. Menurut pengalaman saya mah ya saya tidak bisa menolak perasaan itu, tapi saya menyangkalnya. Sampai akhirnya di satu titik saya lelah terus menerus menyangkal. Sama halnya dengan A, saya jatuh cinta dengan sahabat saya. Dan saya baru mengakuinya belakangan ini. Parah, huh? Yeah, I know.

Saya mengerti perasaan A. Dia jatuh cinta dengan sahabatnya dan dia ingin mengungkapkan, tapi dia takut sahabatnya nanti malah menjauh or even worse dia bakal jadi ilfil dengan A. Kalo kata sahabat saya (yang saya cintai itu), "Bukannya itu namanya udah jatuh ketimpa tangga? Itulah kenapa meskipun gue sayang banget sama elo tapi gue gak mau bilang. Karena gue takut lo bakalan ngejauh dari gue." *Oh my dear bestfriend, I wish you just told me the truth. There is no way I'm gonna be pushing you away or leaving you. Not in a million years.*

So, untuk teman saya A dan kalian semua yang mungkin punya pertanyaan sama,

"Menurut lo, gue harus gimana? Gue bilang ke dia perasaan gue sebenarnya ke dia gimana atau gue pendam aja selamanya? Gue takut kalo gue bilang perasaan gue, dia bakal jauh dari gue dan ilfil ke gue."

maka jawaban saya sudah pasti. You better tell her the truth how you truly feel for her. Daripada kamu mati penasaran? Dan kalo sahabat kamu itu benar-benar care dan sayang sama kamu, dia pasti menghargai perasaan kamu. Dia akan tetap menjadi sahabat kamu dan tidak akan menjauhi kamu (boro-boro mau ilfil). Kalo kamu sedang beruntung, siapa tau sahabat kamu itu ternyata punya perasaan yang sama? So, jangan dipendam lah perasaan kamu. Karena... Saya gak mau kamu punya pengalaman yang sama seperti saya.

Saturday, July 26, 2008

Siapa yang Daftarin?

Saya sedang malas bermanis-manis kata. Jadi langsung saja ke pokok permasalahan. Tadi saya iseng googling nama sendiri. Dan Om Google memberikan satu url ini.

Registrasi 28.07.2005.
Last login 26.07.2008 00.00.

Mungkin saya lupa, pikun, atau amnesia. Tapi seingat saya tidak pernah buka akun disana. Jadi, siapa? Entahlah. Penggemar rahasia mungkin? Mungkin saja. *Hihihihi... ngarepnya begitu*

Ah, kemungkinan yang paling mungkin adalah saya lupa pernah daftar di Ngeceng.com. *pikun akut*

My Lovely Boy





Itu anakku dengan Mas Gerard Buttler. Cakep yak? Lah, emaknya aja cantik, bapaknya ganteng, wajar dunk anaknya cakep? ketawasetan Pembaca dilarang sirik! Orang sirik kuburannya nanti banjir belatung. Hihihihihihi...
Are you sure that you're in love? Your heart beats faster when you think of him/her, your body parts trembling, always smile, inability to focus, etc.? You better read this before you say that you're in love.

My Sacrifice For Mas Rafa

Dear Mas Rafa,

You know I should've come to my Deutsch course this morning, in fact I didn't. Actually, maximum absences you can have is twice and I've already used them all. Being absent today, I put myself in a danger zone. Why? I have three absences already!! According to the course institution's rules, maximum absences you can only have is twice. If you have absence more than twice, it means you will not have your certificate for first level. You will only get a notification letter that you already pass it (if you pass the final test, of course) if you want to continue your course.

Do you wanna know why I didn't come today? It's because I watched you played, God damn it! I knew you would play this morning after Novak Djokovic's quarter final at Rogers Cup. At first, I only wanted to watch Novak (too bad he lost to Andy Murray) but I couldn't resist myself to watch you played. So, I decided to watch you beat Richard Gasquet in 3 sets (6-7, 6-2, 6-1) and it meant I had to sacrifice my Deutsch course with definite consequence that I won't have my level 1A Deutsch certificate. nangis

I am sacrificing my certificate because of you, Sir! Because I watched you play! Thank God, you won and I would be so upset if you had lost it. So, you'd better win this fu*king Rogers Cup as one of ATP Master Series. Or I will kill you for making me lose my certificate!! 38

Friday, July 25, 2008

Sebel Dengan Pertanyaan (dan Pernyataan) Itu!

(10:22:47 PM) kojitabe: Kuliah lu gmn,mbok?
(10:23:50 PM) kojitabe: Kpn lu2snya?
(10:27:03 PM) kojitabe: Mbak,dah tidur ya? :(
(10:27:11 PM) insanayu: ntaaar
(10:27:16 PM) insanayu: gue masih posting blog
(10:28:16 PM) kojitabe: Rajin bener posting di blog? Lu cuman posting daily activity kan?
Nah... Pertanyaan (dan pernyataan) seperti itu tuh yang sering bikin saya kesel. Helloooo Mas Kojitabe, so what if I post my daily activities in my own blog? Is there something wrong with that?? Merasa berkeberatan saya menulis kegiatan sehari-hari saya sendiri di blog saya sendiri? Kok situ yang sewot siih?? Yang punya blog kan saya, yang nentuin ini blog mau diisi apa kan saya, lah kok situ yang ribut? Sebelum bertanya ya Mas Kojitabe, ada baiknya sampeyan mampir dulu ke blog saya lalu lihat apa saya cuman posting daily activity?

I'm Yours


Setelah kemarin saya tergila-gila dengan Mas Landon, sekarang saya sedang tergila-gila dengan Mas Jason Mraz. cinta

Kemarin malam saya lihat video klip Mas Jason di Disney Channel yang judulnya "I'm Yours". Iyaaaa, saya tahu saya dusun, ketinggalan jaman, gak up to date, tapi yaaah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan? *membela diri*

Dan sejak saat itu saya langsung jatuh cinta sama Mas Jason dan saya sukaaaa banget sama lagunya! Saya jadi ingin nyanyiin lagu ini buat penggemar blog ini *berkata dengan nada kepedean* dan mereka-mereka yang rajin datang kemari.

Yuk mari kita mulai bernyanyi... Atau mau nyanyi sama-sama? Mariii... Saya sedang bahagia soalnya... Hehehe... cheerleader



Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you're so hot that I melted
I fell right through the cracks
and now I'm trying to get back
Before the cool done run out
I'll be giving it my bestest
Nothing's going to stop me but divine intervention
I reckon it's again my turn to win some or learn some

But I won't hesitate no more, no more
It cannot wait, I'm yours

Well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you're free
Look into your heart and you'll find love love love love
Listen to the music of the moment people dance and sing
We're just one big family
And It's our God-forsaken right to be loved love loved love loved

So I won't hesitate no more, no more
It cannot wait I'm sure
There's no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I'm yours

Scooch your noble closer dear
and i will nibble your ear

I've been spending way too long checking my tongue in the mirror
And bending over backwards just to try to see it clearer
My breath fogged up the glass
And so I drew a new face and I laughed
I guess what I'd be saying is there ain't no better reason
To rid yourself of vanity and just go with the seasons
It's what we aim to do
Our name is our virtue

But I won't hesitate no more, no more
It cannot wait I'm yours

Well no no, well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you're free
Look into your heart and you'll find the sky is yours
So please oh please oh please
There's no need to complicate
'Cause our time is short
this is our fate, I'm yours

p.s.: Gambar diambil dari sini. Lirik dicomot dari... (gak tau deh lupa! Hehehe... Maapkeun)
Lanjutan dari postingan ini, saya masih punya pertanyaan yang terus menghantui saya *tsssaaah... bahasanya!*

Pertama, kenapa biaya pendidikan di Indonesia sangat mahal dan tampak tidak realistis? 300 juta setahun? Yang bener aja!

Kedua, kenapa masyarakat kita mudah tergiur dengan embel-embel "Sekolah internasional", "Sekolah Nasional Plus", "Sekolah bilingual", "Sekolah dengan kurikulum luar negeri", dan lain-lain?

Ketiga, Kenapa masyarakat kita mudah percaya dengan kemampuan orang lain (baca: sekolah dengan embel-embel yang saya sebutkan sebelumnya)?

Keempat, kenapa masyarakat kita (orang-orang kaya khususnya!) tidak ragu untuk mengeluarkan uang ratusan juta demi anaknya sekolah di sekolah mahalan? Kenapa uangnya tidak disumbangkan saja untuk membangun sekolah yang reyot dan nyaris rubuh? *ok, ini pertanyaan bodoh.*

Kenapa, kenapa, dan kenapa. Terlalu banyak kenapa. Mungkin ini bisa menjadi topik skripsi saya nanti? Hehehe...

Sekolah Mahal Itu Bagus (?)

Bagaimana sekolah yang bagus menurut kalian? Apakah sekolah yang biayanya mahal dan bertaraf internasional atau memakai kurikulum luar negeri atau serupa itulah sudah jadi jaminan bahwa sekolah tersebut mutunya bagus? Sekolah-sekolah negeri kita sudah bisa dipastikan kalah bagus dibandingkan sekolah internasional tersebut? Kalian pasti heran kenapa tiba-tiba saya bertanya seperti ini. Jawabannya singkat saja karena ayah saya ingin memasukkan cucu kesayangannya ke sekolah mahal itu.

Sekolah dengan embel-embel internasional, berkurikulum luar negeri, sekolah nasional plus, dan sejenisnya semakin menjamur dimana-mana. Lampung tidak mau kalah. Biar kata Lampung itu provinsi miskin dan banyak tukang begalnya, Lampung itu juga punya banyak orang kaya apalagi yang tinggal di Bandar Lampung. Kalau kamu main ke Bandar Lampung jangan lupa mampir ke Perumahan Vila Citra II. Oh bukan, rumah saya bukan disana (meskipun saya punya angan-angan ingin beli rumah disana). Rumah disana besar-besar, cuy. Gak mau kalah sama rumah-rumah yang ada di Pondok Indah. Mobil Terrano, Camry, Altis, Harrier, Pajero, Fortuner, X-Trail, you name it lah berseliweran di jalan-jalan Bandar Lampung. So, sekiranya wajar donk Bandar Lampung punya sekolah yang elit seperti Sekolah TMI-nya Kak Seto? Biaya SPP sebulan yang bisa mencapai Rp 750rebu tidak masalah. Lah, kalo bisa beli Harrier kenapa ga bisa bayar Rp 750rebu setiap bulannya? Dan jangan heran banyak lho yang ngantri untuk masuk sekolah itu.

Mungkin karena sekolah TMI laris, sekarang ada sekolah baru di Bandar Lampung. Namanya sekolah Dharma Bangsa. Menurut informasi terakhir yang saya terima biaya sekolah disana setahunnya mencapai Rp 30juta. Entah itu sudah termasuk biaya masuk, uang bangunan, uang seragam, uang buku, uang entah-apalagi atau belum. Dan saya hanya bisa tertawa miris. Kenapa biaya pendidikan bisa semahal itu? Kita membeli pendidikan atau kita membeli fasilitas sekolah? Kenapa ilmu dijual begitu mahal? *Catat: itu baru untuk biaya SMP, entah berapa biaya SMA-nya.* Apa karena sekolahnya bilingual, punya kolam renang, gurunya bule, bayar lisensinya dari Singapura dan Malaysia mahal, bangun gedung sekolahnya ternyata di luar budget, atau apa? Entahlah saya kan tidak sekolah disana. Anehnya, justru kebanyakan orangtua berbondong-bondong mendaftarkan anaknya untuk sekolah yang mahal dan ada embel-embel internasional itu. Kurikulum luar negeri lebih keren dibandingkan kurikulum Depdiknas?

Ok, tidak masalah bagi mereka yang kemampuan ekonominya kelas atas yang belanja bajunya aja harus di butik ternama di Jakarta. Mereka bisa menyekolahkan anaknya dimana saja mereka mau. Baik SD, SMP, SMA-nya di Dharma Bangsa ya sah-sah saja. Toh, mereka punya dananya. Kemudian melanjutkan anaknya kuliah di luar negeri ya Alhamdulillah. Itu artinya tidak percuma orangtua mengeluarkan biaya besar. Anak juga usahanya menimba ilmu di sekolah mahalan tidak sia-sia. Tapi, keraguan terbesar saya adalah: udah sekolah di sekolah mahalan lantas kuliahnya nanti hanya kuliah di Unila atau Dharma Jaya (salah satu universitas swasta di Bandar Lampung)? Mentok-mentok kuliah di Jawa. Apa gak sayang itu uang orangtua udah keluar banyak tapi ujung-ujungnya anaknya kuliah di situ-situ juga? Apa gak percuma?

Saya bukannya mau meremehkan universitas-universitas di Indonesia. Toh, saya percaya mutu universitas kita tidak kalah dengan universitas di luar negeri sono *berusaha membangkitkan kepercayaan diri*. Apa yang saya ingin coba sampaikan adalah buat apa keluar uang banyak di sekolah mahalan kalo kuliahnya nanti di universitas sini juga? Bingung? Baiklah, saya berikan cerita yang Edina sampaikan ke saya waktu kami menunggu kereta di Stasiun Tebet kemarin itu.

Edina : Oke, gue tau maksud lo. Ada contoh kasus nyata. Ada temen gue yang sekolahnya di sekolah mahalan ntu. Lo tau biaya setahunnya berapa? 300juta, man. Akhirnya dia ikutan bimbel gitu untuk masuk UI. Pas gue tanya kenapa udah mahal-mahal sekolah kok kuliahnya mau di UI ternyata jawabannya adalah orangtuanya ga mampu kalo harus membiayai anaknya kuliah di luar negeri. Orangtuanya mampunya ngebiayain anaknya kuliah di universitas swasta Jakarta atau paling mentok kelas internasionalnya UI.

Haha... See what I mean? Buat apa buang-buang duit di sekolah mahalan kalo kuliah di situ-situ juga. Jadi, sewaktu kakak saya (sekaligus saingan saya) punya niat ingin memasukkan anaknya ke sekolah Dharma Bangsa, saya bilang ke dia:

Saya: Kalo kata Ayu ya, mending uangnya Ses simpan aja untuk biaya dia kuliah nanti. Karena kuliah itu perlu biaya yang besar dibanding SD, SMP, SMA (setidaknya ini menurut saya). Kalo tabungan Ses banyak dan dapat rejeki kan nanti bisa sekolahin Fajri (anak kakak saya, red.) ke luar negeri.

Dan kakak saya mengangguk setuju. Sekarang kembali ke masalah ayah saya yang ingin memasukkan cucu tersayangnya ke sekolah mahalan itu. Saya kurang setuju sama rencana ayah saya itu. Bukannya apa-apa, ayah saya sudah tua dan sebentar lagi pensiun. Tidak masalah kalo rejeki terus mengalir dengan lancar (amin!), tapi bagaimana kalo tidak? Bagaimana nanti saat ayah saya sudah pensiun? Keponakan saya sedang asyik belajar di sekolahnya tiba-tiba dia dapat surat peringatan karena uang bulanan belum dibayar? Atau tiba-tiba dia harus pindah sekolah karena ayah saya sudah tidak mampu lagi membiayai sekolahnya? Atau demi membiayai sekolah cucu tersayangnya itu, kami sekeluarga dipaksa makan nasi sama kecap, dan memakai petromak sebagai pengganti PLN? Atau demi cucu tersayangnya itu sekolah di sekolah mahalan, ayah saya sampai menjual rumah?

+Penggemar: Kim, kamu bisa bilang begitu karena kamu belum punya cucu. Kamu gak tau bagaimana rasa sayangnya seorang kakek ke cucunya.

Oke, kamu benar. Sayang sih sayang tapi kita harus realistis juga kan? Percayalah, saya pernah menyaksikan sendiri dengan mata kepala saya orangtua yang memaksakan diri menyekolahkan anaknya di sekolah mahalan padahal dia tau dia tidak mampu. Apa yang terjadi? Stres, selalu menangis, kecewa, pertengkaran tiap hari di rumahnya, menyalahkan nasib,... Trust me, itu sesuatu pemandangan yang sangat tidak asyik untuk dilihat dan saya tidak mau hal itu nanti terjadi pada keluarga saya. Jadi, saya hanya bisa bilang ke ayah saya:

Saya: Pa, daripada Papa buang uang sekarang untuk biaya SMP-nya Jihan, mending uangnya Papa simpan aja untuk biaya dia kuliah nanti. SMPN 2 juga gak kalah bagus.

Kesimpulan postingan ini? Bagi orangtua yang kaya raya dan (sepertinya) uangnya tidak akan habis-habis, terserah aja mau menyekolahkan anaknya dimana saja. SD sampai SMA di sekolah mahalan dilanjutkan kuliah di luar negeri itu idealnya. Ngapain buang uang SD-SMA di sekolah mahalan kalo kuliahnya ujung-ujungnya mentoknya kuliah di Jawa? Bagi orangtua yang pas-pasan dan punya mimpi ingin menyekolahkan anaknya di tempat mahalan karena teriming-iming "mahal itu pasti berkualitas", you better think twice. Eh, berpikir berkali-kali kalo perlu. Ukur kemampuan diri. Jangan pernah memaksakan diri.

Wednesday, July 23, 2008

Misuh-misuh Di Malam Hari

Baiklah. Singkat saja karena Mas Rafa sudah mau tanding di Rogers Cup Toronto. Saya ingin menceritakan apa yang sudah terjadi malam hari ini.

Telah terjadi kesalahpahaman antara saya dan Mas Ragil. Di postingan dia yang ini, saya memberikan sedikit komentar disana. Tidak disangka ternyata komentar saya berbuntut lumayan panjang. Dia membalas komentar saya disini. Kalau boleh jujur, komentar dia itu cukup membuat saya sedikit berang dan beranggapan "Nih anak seperti mengajak gue perang". Oke, katakanlah saya berlebihan tapi sewaktu saya mampir kembali di blog dia dan membaca komentarnya ehem... nama saya disebut-sebut disitu. Dan saya jadi bertanya-tanya kok jadi begini masalahnya? Saya hanya mengkritik satu kalimat tapi saya dibalas dengan:

Siapa yang bego disini? Gw? Kimi?

Dan kalo boleh jujur lagi, saya agak sedikit tersinggung. Yeah, saya tau saya terlalu mendramatisir. *Mohon maafkan saya karena menjadi orang yang terlalu sensitif. Saya orang yang sangat perasa bagi kalian yang belum tahu.* Saya tahu saya memang bego, tapi mbok ya jangan diceritakan ke publik banyak toh, Mas Ragil... Cukup jadi rahasia kita berdua saja... ketawasetan

Oke, saya tahu ini dunia maya tapi tetap saja kita punya tata krama dan norma kesopanan (seperti yang saya pernah baca entah-dimana-saya-lupa-maafkan). Orang-orang yang tinggal di dunia maya tak jauh beda dengan orang-orang yang hidup di dunia nyata. Ada yang pemarah, arogan, sopan dan penuh santun seperti dia, mudah tersinggung, sabar seperti dia, ah... kita harus mengakui keunikan individu, bukan?

Disini saya tidak akan membahas mengenai apa yang menjadi pemicu masalah karena toh Mas Ragil telah mengakui kesalahannya (selain itu, membahas kembali pemicu masalah itu sudah basi). Tapi, tetap ada yang mengganjal bagi saya. Berdebat itu ada etika. Tidak mudah misuh-misuh. Tidak mencaci orang lain. Tetap berusaha untuk sopan (apalagi kalo berdebat di blog orang lain). Dan terutama sekali sediakan argumen-argumen yang valid sebelum kita berargumen.

+Penggemar: Lah, Kimi... Gini aja kok diperbesar sih masalahnya?

Saya tidak bermaksud untuk memperbesar masalah. Saya hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg saya bahwa baik di dunia nyata maupun di dunia maya kita tetap harus menjaga tata krama dan bersikap sopan kepada orang lain, meskipun kita tidak mengenal orang tersebut. Siapa yang simpatik dengan orang yang sopan seperti dia? Tapi, siapa yang simpatik dengan orang yang tidak sopan? Saya rasa kita semua sepakat tidak akan simpatik dengan orang yang tidak sopan.

Jangan salah sangka dulu, Mas Ragil... Saya tidak bermaksud mengatakan kamu orang yang tidak sopan. Saya hanya ingin mengatakan cobalah kamu menempatkan posisi kamu sebagai orang lain sebelum kamu berbicara atau berbuat kepada orang tersebut. "Kira-kira nih orang bakal tersinggung gak ya? Blablabla." Saya terkesan menggurui? Maaf. Sekali lagi saya tidak bermaksud demikian.

Ah, maafkan saya karena telah bereaksi berlebihan. Maafkan karena saya tidak tahu bagaimana menanggapi komentar yang bernada emosi negatif. Maafkan. Terutama untuk Mas Ragil, "Maafkan saya."

p.s.: Kasus ini telah dirangkum secara singkat, padat, dan jelas oleh Mas Joe di postingan-nya yang ini. *ahahaha... Blog gue bakalan laris nih abis ini*
Ehem... Maaf, Saudara! Meskipun ini dunia maya tetap ada yang namanya tata krama dan norma kesopanan. Sama halnya dengan di dunia nyata ketika Anda bertamu ke rumah orang lain apakah Anda akan berteriak, memaki-maki si punya rumah, sambil menggenggam batu di tangan?

Tuesday, July 22, 2008

A Thousand Splendid Suns

Yah! Saya tahu apa yang ada di benak kalian ketika membaca posting ini. Mau bilang saya plin-plan? Silakan. Mau bilang saya sebenarnya tidak akan pernah bisa berpisah lama-lama dari blog? Memang itulah kenyataannya. Mau bilang saya menjilat ludah sendiri karena kemarin saya bilang saya mau menjauh sejenak dari blogosphere? Ya, terserahlah Kawan sajalah. Mau bilang saya ini cantik, seksi, menarik, baik hati, etc.? Oh, percayalah kamu orang kesekian yang mengatakan demikian. 33

Setelah kemarin blog ini penuh dengan postingan yang terasa menjenuhkan bagi sebagian orang (maksud saya, siapa sih yang suka baca postingan menye-menye?) --dan mungkin tidak bagi sebagian lainnya--, sekarang saatnya saya kembali menulis hal-hal yang... ehm... let say... ehm... narsis? Jenaka? Mengutip sana-sini? Postingan singkat? Menulis sesuatu dengan kalimat penuh kesombongan? Ah, what the heck lah. Saya masih buntu ide tidak tahu harus menulis apa. Tapi, di tengah miskin ide itu tiba-tiba saya punya ide yang luar biasa! Ide tersebut seperti lampu bohlam yang tiba-tiba menyala seperti di film-film kalo suatu ide muncul. *dramatisir*

Niat saya menjauhkan diri dari blogosphere juga dikarenakan tidak adanya ide, tapi setelah saya menamatkan novel "A Thousand Splendid Suns" karya Khalid Hosseini tiba-tiba saja saya merasa, "Ok, saya harus menulis di blog saya. Tulis sesuatu lalu menghilang lagi dari peredaran blogosphere Indonesia."


+Penggemar: Memang kamu mau menulis apa, Kim? Tentang perang tidak berkesudahan di Afghanistan? Sejarah Afghanistan? Pengungsi Afhganistan? Atau mau menulis tentang wanita Afghanistan?

TEEETTTTT...... Tebakan kamu salah, Kawan! Saya tidak menulis hal-hal seperti itu. Selain karena ilmu saya cetek saking ceteknya kalo berenang ditempat kolamnya anak bayi, otak saya yang pas-pasan ini tidak mampu menjangkau topik seberat itu. Maaf, ini bukan merendahkan kemampuan pribadi tapi merendahkan diri. Yes, I am a humble person. *langsung dipentung orang sekampung karena ngesok* keplak

+Penggemar: Lantas, kamu mau menulis apa dari novel itu?

Well, saya hanya ingin menulis kesan saya setelah membaca novel itu kok. *langsung diamuk massa* 38

Sebelumnya harap dicatat bahwa ini bukan review. Kesannya kok berat banget dengan kata itu? Memang saya siapa kesannya ngesok sekali me-review buku best seller? *Kamu itu adalah Kimi yang manis, baik hati, suka menolong, dan gemar menabung...* Ini hanyalah spoiler...

Sebelumnya lagi tolong jangan hina dina saya karena saya baru punya novel ini dan baru selesai baca. Bagi yang sudah membaca novelnya sekarang tugas kalian adalah membaca postingan ini sampai selesai lalu memberikan komentar (hehehe... Terjadi pemaksaan disini). Bagi yang belum baca, novel ini sangat highly recommended (terutama bagi mereka yang mudah termehek-mehek. Ihihihihihi...).


Sore ini baru saja saya menamatkan novel kedua karya Khalid Hosseini setelah kemarin saya beli novelnya di TM Bookstore Depok. Sebenarnya kemarin itu saya mau membeli novel "P.S.: I Love You" karena kepincut dengan filmnya yang berjudul sama yang sudah saya tonton kemarin itu. Berhubung novelnya tidak ada ya akhirnya saya beli "A Thousand Splendid Suns" saja. Jujur, saya membeli novel itu karena termakan iklan dari mulut ke mulut yang bilang Om Khalid ini nulisnya bagus lah buktinya novel pertamanya yang "The Kite Runner" itu sukses berat lah, ini itu. *Percaya atau tidak, marketing dari mulut ke mulut ini sangat penting memang* Dan memang apa yang saya lihat, dengar, rasakan *dramatisir lagi* memang benar adanya. Saya tidak menyesal sama sekali telah membeli novel ini *lah soalnya sudah dapet diskon 25%. Gimana bisa menyesal?*.

Kalo boleh saya kutip disini dari cover novelnya berbagai pujian untuk "A Thousand Splendid Suns" (ini belum termasuk pujian dari saya):

"Spektakuler... membuat hati pedih, perut serasa teraduk, dan emosi terkoyak..." --USA Today

"...pengolahan emosi yang memukau." --New York Post

"...begitu menghunjam." --The Guardian

I couldn't agree more with them. Setuju banget. Emosi saya dipermainkan disini. Sedih, senang, sedih lagi, senang lagi, sampai di puncaknya saya menangis. Ya, saya menangis. Saya menangis ketika membaca surat ayahnya Mariam untuk dirinya. Dramatis sekali. Btw, siapakah Mariam itu?

Mariam adalah salah satu tokoh utama di novel ini selain Laila. Dia adalah seorang harami (anak haram). Di Afghanistan (dan mungkin hampir di seluruh penjuru bumi ini) memiliki anak haram adalah sebuah aib. Alih-alih menyalahkan mereka yang berbuat zina, kebanyakan masyarakat yang berpikiran sempit justru menyalahkan anak (haram) yang tidak berdosa itu. Apalah dosa Mariam sehingga dia harus dijauhkan dari ayah kandungnya demi menyelamatkan muka ayahnya? Mariam kecil hanyalah menginginkan keutuhan sebuah keluarga dimana dia tidak harus menunggu satu hari dalam seminggu untuk bisa bertemu dengan ayahnya, dia bisa bergandengan tangan dengan ayahnya jalan-jalan di pasar atau sekedar ke bioskop, dia ingin bermain bersama saudara-saudara tirinya, sayangnya yang menjadi kenyataan adalah dia hidup berduaan dengan ibunya terasingkan karena dia adalah anak haram.

Mariam sangat ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dia punya ayah yang menyayanginya dan juga saudara. Saya mengerti perasaan Mariam. Saya yakin dia ingin berteriak ke setiap orang yang ditemuinya di jalan, "Ini ayahku dan kami akan jalan-jalan hari ini." atau "Aku akan menemani adikku bermain." tanpa harus takut dicemooh atau dihina orang-orang. Dia iri dengan keluarga kebanyakan. Saking inginnya dia dengan mimpinya itu ibunya sampai mengancam:

Hati pria sangat berbeda dengan rahim ibu, Mariam. Rahim tak akan berdarah ataupun melar karena menampungmu. Hanya akulah yang kaumiliki di dunia ini, dan kalau aku mati, kau tak akan punya siapa-siapa lagi. Tak akan ada siapa pun yang peduli padamu. Karena kau tidak berarti!

Ibunya mengancam akan bunuh diri jika Mariam berani menemui ayahnya. Mariam tidak peduli. Ia tetap berusaha menemui ayahnya. Sayangnya ayahnya merasa malu untuk menemui Mariam. Mariam dibiarkannya menunggu di luar rumahnya seperti anjing penjaga. Ia tidak mau pulang sebelum akhirnya dipaksa untuk pulang dan ketika tiba di rumah ia menemukan kenyataan yang pahit: ibunya mati gantung diri.

Mariam yang tadinya begitu memuja ayahnya berubah membenci ayahnya. Ayahnya tidak mau menemuinya ketika Mariam datang berkunjung, seolah-olah ayahnya malu untuk mengakui bahwa Mariam adalah anaknya. Dan yang semakin membuatnya benci kepada ayahnya sewaktu ayahnya memaksakan pernikahan kepada Mariam padahal usianya tidak lebih dari 14 tahun. Mariam dipaksa menikah dengan Rasheed, yang usianya jauh lebih tua daripada Mariam. Pernikahannya dengan Rasheed pun tidak bisa dibilang bahagia, melainkan penuh dengan penderitaan. Dia disiksa, dimaki, dipukul seperti binatang, tapi hebatnya Mariam mampu bertahan. Meskipun begitu melalui Rasheed inilah dia dipertemukan dengan Laila. Melalui Rasheed, Mariam menjalin hubungan yang suci dengan Laila dan anak-anaknya. Mariam merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.

... Dia memikirkan bagaimana dirinya hadir di dunia ini, sebagai harami seorang wanita desa miskin, anak yang tidak dikehendaki, kecelakaan yang mengibakan dan diwarnai penyesalan. Rumput liar. Dan sekarang, dia meninggalkan dunia ini sebagai seorang wanita yang pernah mencintai dan mendapatkan balasan cinta. Dia meninggalkan dunia sebagai seorang teman, seorang kakak, seorang pelindung. Seorang ibu. Seseorang yang berharga. ... (hal. 455-456)

Laila adalah seorang perempuan cerdas. Ia tinggal tidak jauh dari rumah Mariam dan Rasheed. Laila memiliki seorang sahabat sejak dia kecil yang nantinya persahabatan itu berubah menjadi percintaan ketika mereka beranjak dewasa. Sahabatnya itu bernama Tariq. Karena nasib, perang, juga tipu daya Rasheed akhirnya Laila menjadi istri Rasheed. Awalnya Mariam dan Laila bermusuhan, namun pada akhirnya mereka saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain. Mariam menyayangi anak-anak Laila seperti anak kandungnya sendiri. Mariam melindungi Laila dan anak-anaknya. Mariam bahkan rela menanggung dosa demi menyelamatkan nyawa Laila dari monster Rasheed yang sedang mengamuk. Mariam rela kebebasannya terenggut dan memberikan kebebasan lain untuk Laila dan anak-anaknya. Sebuah pengorbanan yang sangat tulus.

Cerita yang sangat menggugah hati bagi siapapun yang membacanya. Kalau sampai ada yang tidak tergugah, maka saya bisa bilang bahwa hatinya terbuat dari batu. Maksud saya, siapa yang tidak akan menjerit dalam kesedihan membaca perang di Afghanistan telah merenggut segalanya? Istri menjadi janda, anak menjadi yatim, badan menjadi cacat, rumah-rumah hancur, rakyat sangat miskin (saking miskinnya seorang ibu terpaksa menyerahkan anaknya ke panti asuhan untuk dirawat?), rakyat harus menjadi pengungsi di negara lain. Di saat Taliban berkuasa wanita tidak boleh dandan, tidak boleh berjalan sendirian tanpa muhrim (jika ketahuan maka akan dipukul. Syukur-syukur kalo hanya dimaki!), intinya kedudukan wanita sangat lemah kalau tidak mau dibilang tidak berharga. Membuat saya bersyukur berulang-ulang kali dan tiada henti bahwa saya hidup di negara (yang setidaknya sampai saat ini) yang aman dan dalam masa yang aman pula (tidak perang, tidak huru-hara, tidak dalam kecemasan).

Oke Kawan (terutama pada wanita baik yang sudah, belum, maupun akan membaca novel ini), sudahkah kalian bersyukur atas karunia Tuhan yang diberikan kepada kalian?

p.s.: Gambar dicomot dari sini.

Saturday, July 19, 2008

Award! (?)

Nah... Nah... Nah... Setelah postingan ini mungkin saya akan menjauh sebentar dari dunia blogosphere. Saya sedang bosan. Jenuh yang meradang. Ditambah belakangan ini saya seperti merasa kehilangan arah. Semuanya berada dalam titik tertinggi. Saya rasa saya memerlukan waktu sebentar untuk merenung, menyatukan kembali serpihan-serpihan hidup, seraya beristirahat sejenak dari hikuk-pikuk blogosphere. Mungkin jika saya menghilang sebentar dari blogosphere dan ketika nanti saya kembali saya datang dengan membawa semangat baru. Well, let's hope so... *Eh, jangan panik dulu... Saya tetap rajin menyambangi blog-blog kalian kok. Sesekali meninggalkan jejak, tapi lebih seringnya menjadi seorang silent reader. Hehehehe*

Eniwei, tadi pas blogwalking ke blognya Ical, saya melihat nama saya dipamer-pamerin di sana. Saya pikir dia mau bayar hutang dia kan... eh ternyata saya salah... Lebih dari itu. Saya mendapatkan sebuah penghargaan. Penghargaan, Saudara-saudaraku semua! Penghargaan!


Can you imagine that? Akhirnya, setelah sekian lama saya mendapatkan juga penghargaan ini... Akhirnya... Akhirnya... *pasang muka ingin menangis sambil mengibas-ngibaskan tangan ke muka* Pertama-tama saya ingin mengucapkan Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah Swt...

Plaaaak... *ditimpuk Ical*

...
...
...

Oh iya... Maaf... Maafkeun saya lagi-lagi dramatisir. Ternyata setelah saya baca-baca lagi penghargaan yang saya terima itu adalah penghargaan abal-abal (baca: PR terselubung). Nantinya kita juga harus memberikan penghargaan ini kepada orang lain (yaaah... Padahal saya ingin penghargaan ini hanya untuk saya sendirian! Yang lain gak boleh punya!). Dan dalam pemberian penghargaan itu ada aturan mainnya. Aturan mainnya adalah:
  1. Put the logo on your blog.
  2. Add a link to the person who awarded you.
  3. Nominate at least 7 other blogs
  4. Add links to those blogs on yours.
  5. Leave a message for your nominees on their blogs.
Sebelum saya menganugerahkan penghargaan ini ke yang lainnya, izinkanlah saya mengucapkan terima kasih terlebih dahulu ke Ical. Karena atas kebaikan dan kemurahan hatinya lah penghargaan ini menjadi milik saya *halah! Ini apaan sih? Dramatisirrr*.

Baik. Sekarang inilah para pemenang penghargaan ini:

eng...ing...eng...
jeng...jeng...jeng...
*pasang musik yang tegang*
  1. Paams
  2. Ruth
  3. Tamie
  4. Roy Saputra
  5. Itikkecil
  6. Natazya
  7. Koko
Meminjam kata-katanya Ical:
jadi,,,anak-anak, dikerjakan ya PRnya, !!! awas klo nggak…
So, have fun! Dan sampai jumpa di postingan berikutnya yang-entah-kapan!

p.s.: "Brillante" itu apaan sih?? *Haduuh... Udah panjang lebar ngetik eh malah ga tau apaan yang ditulis. Capek deeeeh... 35*

p.s. lagi: Bagi yang nanti sekiranya bakalan kangen sama saya dan nda tahan pengen tahu kabar saya yo weis monggo add saja YM saya di insanayu *ahaha... promosi terselubung*

Gosip... Gosip... Gosip...

Membaca tulisan Dewi Lestari memang selalu menarik. Saya memang belum pernah membaca buku-bukunya tapi saya pernah membaca salah satu cerpennya di kumpulan cerpen yang saya pinjam dari teman mantan satu kosan saya. Dan saya langsung jatuh hati. Tulisannya memang sangat menarik.

Kemarin saya mampir ke blog Dewi dan membaca tulisannya mengenai perpisahannya. Ada paragraf yang menarik bagi saya (tentu saja bukan bagian perceraiannya. Siapa sih yang tertarik dan suka dengan perceraian selain acara gosip?) dan saya kutip paragraf itu di bawah ini.

Hari ini, saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan. Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan.

Saya sepakat dengan Mbak Dewi. Media infotainment kita, entah itu tv maupun tabloidnya, dirasa terlalu berlebihan. Sama sekali tidak menghargai privasi orang lain. Apapun dilakukan untuk mendapatkan berita demi para pirsawan setianya. Menambah-nambahi berita, memberi bumbu sana-sini, yah itu semua dilakukan agar tabloid mereka laku dan tayangan mereka banyak peminatnya. Tapi, sadarkah mereka apa yang telah mereka lakukan itu telah menyakiti orang lain? Ah, saya rasa mereka tidak akan pernah sadar. Biarkanlah orang lain menangis karena fitnah yang keji, kehidupan pribadinya dirampok menjadi konsumsi publik, asalkan mereka mendapatkan apa yang mereka mau: berita (baca: gosip) terbaru dari artis negeri ini.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya. Kenapa segala sesuatu yang menyangkut orang lain bisa menjadi ketertarikan tersendiri bagi orang lain? Maksud saya, kenapa gosip itu menyenangkan? Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngomongin orang, mencari kejelekan orang, and find it really entertaining. *Hayooo... Siapa disini yang tidak pernah ngomongin orang? Kalo boong hidungnya nambah panjang lho! Haks,, Haks,,* Saking menyenangkannya acara gosip di stasiun televisi kita jumlahnya gak kira-kira! Padahal mah ya ngapain coba mulut kita capek-capek berbusa ngomongin orang, ngurusin kehidupan orang lain, apalagi orang lain itu adalah orang yang tidak kita kenal (maksud saya, artis?). Memangnya kita tidak punya kehidupan lain apa yang harus dijalankan selain ngomongin orang lain? Contohnya ngegosip, nonton gosip, beli tabloid gosip demi mengikuti perkembangan Mayang Sari yang sebentar lagi jatuh miskin. Oh, please deh!

Ah, gak tau lagi deh mau nulis apa. Otak ini sedang buntu. Miskin ide. Tapi, kamu paham kan maksud saya apa? Apa? Gak nyambung? Emang gue pikirin! *dihajar massa*

Friday, July 18, 2008

Gila!

Gila... Setelah 3 hari tidak bersentuhan dengan internet sudah ada 350 lebih postingan yang nangkring dan meminta untuk dibaca di GReader saya. Maaf kepada para penulisnya kalo saya tidak membaca dengan penuh hikmat tulisan-tulisan kalian. *membaca cepat*

Gila... Setelah seminggu dari les bahasa Jerman minggu lalu, tak terasa besok harus les lagi dan ujian. Dan saya belum belajar sama sekali. *alamat tidak lulus*

Gila... Saya sedang malas ngeblog. Juga malas untuk blogwalking. Juga malas meninggalkan jejak di blog kalian. Tolong jangan rajam saya!

Gila... Setelah menonton film ini, saya semakin mencintai dia. Saya semakin takut kehilangan dia. Tapi, saya menyadari sudah sewajarnya saya kehilangan dia karena dia bukan milik saya. Maaf, bukan kamu! Tapi dia... Iya, dia yang sudah saya kenal sejak lama. Dia yang disamping saya sewaktu saya menyalahkan Tuhan. Dia yang membuat saya bertahan hidup. Dia yang membuat saya mau membuang harga diri saya dan mengakui bahwa saya sayang dia. Dia yang membuat saya tertawa sekaligus menangis, kuat sekaligus rapuh, dan juga membuat saya ingin mempertahankan dia sekaligus melupakan dia. Dia dengan segala kerumitan hubungan kami selama ini yang kami ciptakan jauh-jauh hari. Dia yang saya maksud. Dia. Bukan kamu yang baru saya kenal kemarin sore.

Gila... Hari ini dapat berita teman saya punya masalah keluarga yang cukup berat. Ibu dan kakaknya depresi sehingga tahta raja keluarga diserahkan ke teman saya tersebut.

Gila... Baru saja membaca blog yang mengungkapkan sisi kehidupannya yang lain. Monster. Setan. Tapi, saya tidak mau bilang "munafik". Karena saya paham dunia ini panggung sandiwara.

Gila... Kenapa semuanya terasa memuakkan?

Gila... Terlalu banyak kegilaan di dunia ini. Dan saya salah satunya.

Gila!

P.S.: I Love You

Masih ingat dengan cerita kemarin yang saya membeli dvd bajakan? Selain membeli dvd serial Desperate Housewives season 4 dan Lost season 4, saya juga membeli lima film bajakan salah satu diantaranya adalah P.S.: I Love You. Alasan saya membeli film ini karena banyak teman saya yang bilang novelnya bagus dan terutama sekali karena ada Hilary Swank. Yep Saudara-saudara sekalian, saya memang penggemar Hilary Swank (selain Nicole Kidman dan Reese Witherspoon, tentu saja). Dan akhirnya setelah lebih dari tiga hari film itu ngendon di tas saya, hari Rabu kemarin saya menyempatkan untuk menonton film tersebut. Saya nonton filmnya di hotel tempat orangtua saya menginap. Sengaja saya membawa laptop dari rumah kakak dengan niat saya akan menghabiskan malam saya di hotel dengan menonton film selama orangtua saya sibuk dengan acaranya menerima penghargaan entah-apa-namanya.


Mungkin emang pada dasarnya saya orangnya memang suka mendramatisir atau juga melankolis ketika dihadapkan pada film yang mendayu-dayu, air mata ini gampang sekali keluar. Bukan hanya sekedar tetesan saja tetapi benar-benar menangis. Gak sampe sesenggukan sih tapi cukup membuat baju saya basah kuyup mengelap air mata saya. Film ini benar-benar luar biasa! mantabs Keren. Sedih. Mengharukan. Dan di saat saya mengingat-ingat kembali beberapa adegan di film tersebut tetap bisa membuat saya terharu dan ingin menangis (lagi). nangis

Jadi ceritanya mengenai Holly (diperankan Hilary Swank) yang ditinggal mati suaminya, Gerry (diperankan oleh Gerard Butler). Diceritakan Gerry meninggal karena tumor otak. Holly yang sangat mencintai suaminya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa suaminya telah meninggal. Ia terpuruk dan selalu berada dalam kedukaan yang sangat dalam. Holly masih belum bisa melepaskan bayang-bayang suaminya. Teman-temannya sangat mengkhawatirkan dirinya. Telpon tidak diangkat, pesan tidak dibalas, dan sampai akhirnya ketika teman dan keluarganya datang menjenguk Holly di apartemennya, mereka sangat kaget melihat keadaan Holly yang berantakan.

Ternyata, sebelum meninggal, Gerry membuat kejutan-kejutan untuk Holly. Kejutan pertama datang di saat ulang tahun Holly yang ke-30. Ia mendapat kue tart dan sebuah kaset yang ternyata berisi rekaman suara Gerry. Gerry bilang setelah ini akan ada surat-surat yang datang untuk Holly. Singkat cerita, surat demi surat untuk Holly dari Gerry membangkitkan kembali semangat Holly untuk menjalani hidup meskipun Gerry tidak lagi berada di sisi Holly. Holly yang tadinya kelihatan clueless tidak tahu harus ngapain setelah kepergian Gerry, di akhir film ia mendapatkan kembali hidupnya. Surat-surat itu menolongnya.

Saya benar-benar terharu menonton film ini. Lewat surat-surat dari orang yang sangat dikasihinya, Holly bangkit dari kegelapan. Ia melakukan apa saja yang diminta oleh Gerry.

...
...
...

Ah, entahlah. Saya bingung harus menulis apa lagi untuk mengungkapkan betapa film ini begitu menggugah saya. Saya tidak tahu harus menggunakan kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya setelah menonton film ini. Dramatisir? Mungkin. Dan tolong jangan salahkan saya menjadi orang yang suka mendramatisir keadaan. Hehehe...

Ehm... Sampai mana tadi? Oh ya, saya ingat sekarang. Film ini membuat saya semakin terbuka bahwa kita rela dan mau melakukan apa saja untuk orang-orang yang kita sayangi. Gerry yang sedang sakit masih sempat-sempatnya dia menulis surat penyemangat untuk istrinya karena dia tahu waktunya tinggal sedikit. Holly menuruti apa saja yang ditulis suaminya di dalam surat. Kasarnya mungkin begini, "Demi elo, gue bakal ngelakuin apa aja. Gue bisa berubah demi elo. Gue bisa bangkit dari keterpurukan karena elo. Karena gue sayang sama elo. Karena elo penyemangat gue. Karena elo, elo sangat berarti bagi gue." Duh, saya bingung bagaimana harus menuangkannya dalam tulisan. Mungkin kalian harus menonton filmnya dulu baru mengerti apa yang saya maksud. Saya kan bukan penyair, penulis, pujangga, yang pandai merangkai kata *mengutip Base Jam* so harap maklum ya kalo saya agak-agak lemot di postingan ini (dan postingan-postingan berikutnya). Hihihihi...

Gambar dicomot semena-mena dari sini.

p.s.: I love him.

Monday, July 14, 2008

Konsumtif? Yuk, Mari...

*Baru pulang langsung buka laptop dan langsung setor cerita*

Rencananya hari ini saya tidak mau jalan kemana-mana. Saya mau seharian di rumah saja menghabiskan waktu dengan menonton dvd serial bajakan (Desperate Housewives season 4 dan Lost season 4! Hoh... Mau begadang berapa malam itu?) yang saya beli kemarin sore di Mangga Dua sono. Saya juga beli lima judul film lainnya. Harganya? Per keping Rp 5000 dan beli 10 keping gratis 1. *Oh, saya cinta produk bajakan!* Sedangkan kakak saya beli sepatu merk ternama bajakan. Harga sepasangnya Rp 200ribu. Itu KW1 lho *katanya*... Ahahaha... Harap maklum ya,, Mangga Dua gitu loh! Nah, buat ibu-ibu pasti tidak akan tahan kalo main ke sana. Barangnya bagus-bagus, murah, kualitas nomer satu... *halah! Berasa saya yang jualan*

Tapi rencana saya itu harus ditunda soalnya kakak saya sekaligus saingan saya yang tinggal di Bandar Lampung sedang main ke Jakarta. Dia ngajak saya ketemuan di PIM2 (bagi yang tidak tau PIM itu Pondok Indah Mall ya... *langsung digetok*). Katanya sih mau mentraktir saya makan di Bakmi GM. Demi kakak saya tersayang dan sebagai bakti adik kepada kakak *penjilat banget gak sih gue?*, saya langsung meluncur ke sana. Padahal mah ya saya lagi kere. Uang di dompet tinggal 80rebu dan itu pun buat ongkos taksi. Ah, peduli setan. Toh, nti duit saya diganti sama kakak ini terus ditraktir makan pula (dan pasti saya dapet uang sangu tambahan dari kakak saya tersayang itu. Hihihi...) Ahahaha... ketawasetan

Sampenya disana saya langsung ke foodcourtnya dan bertemulah saya dengan saingan saya alias kakak saya itu. Dia datang bersama keluarganya. Oh, rupanya setelah ini mereka langsung pulang ke Bandar Lampung.


Kakak : Ayo Yu, mau pesen apa kamu?
Saya : Steak Fiesta aja deh, Ses.
Kakak : Ya udah pesan sana. Nanti kalo udah habis makan kita muter2 sini sebentar ya. Gak bisa lama lho soalnya Ses mau pulang.
Saya : Ho-oh.


Selesai makan, kami muter-muter sebentar. Dan saya sekali lagi harus merasakan siksaan batin. Setelah kemarin saya hanya menemani kakak saya mencari-cari sepatu di Mangga Dua, hari ini saya hanya bisa melihat-lihat. Bajunya bagus-bagus, celananya juga, hpnya juga... Oh, tidaaak!! 1Tuhan, tolong kuatkan imanku!!

Lihat baju A harganya 300rb. Saya langsung ngeloyor pergi. Lihat baju berikutnya 400ribu, berikutnya 500ribu, berikutnya lagi 600ribu, berikutnya lagi sejuta dan saya hanya bisa berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, jodohkanlah aku dengan lelaki kaya raya." Pas buka dompet saya isinya tinggal 80ribu eh tinggal seribu ding. Kan tadi udah dipake buat bayar taksi. Huuuuh... Gak enak banget sih gak punya duit? ngaistanah

Yah beginilah nasib mahasiswi kere yang rela kabur dari rumah demi kuliah di UI. Cuma bisa gigit jari ngeliat barang-barang bagus. Sesekali mengkhayal seandainya suami saya nanti Mas Rafa. Beuuuh... Kalo suami saya Mas Rafa yah bisa belanja terus deh. Duit dia dari berbagai kejuaraan aja udah 18juta dolar lebih. Eh, tapi kalo udah kebanyakan duit juga bingung sendiri deh jadinya ntar.

+Penggemar : Loh, kok bingung Kim? Kan enak kalo jadi orang kaya. Duit numpuk bisa belanja apa aja gak usah khawatir kartu kredit sobek.

Iya, sih... Tapi, kalo sudah terlalu banyak jadinya bingung sendiri. Pengen hp tinggal beli. Pengen beli baju tinggal ke butik. Bisa beli mobil paling mahal, punya pulau pribadi, punya jet pribadi, punya mansion, intinya bisa beli semuanya yang kita pengen. Tapi kalo bisa beli semuanya apa gak jadinya bingung nih duit harus dikemanain lagi? Iya gak sih? Eh, gak tau ding. Saya bukan orang kaya raya sih. Besok kalo suami saya orang kaya baru deh bisa ngerasain. 23

Yah... Mungkin inilah hasil didikan lingkungan saya berada. Saya jadi matre dan selalu ngedongok ke atas sampai leher saya kaku. Sepertinya tidak pernah puas dengan apa yang saya punya sekarang. Melihat barang bermerk langsung mata ini jadi berair saking pengennya. Setiap saat kalo lagi jalan mata jadi jelalatan ngeliatin orang pake hp-nya apa. Dulu saya tidak tahu apa itu Guess, Louis Vitton, Charles Jordan, dan lainnya. Sekarang? Oh jangan ditanya. Kalo lagi kumpul keluarga dan saling pamer-pameran tas mahal dan terbaru seharga diatas 15juta, saya cuma diam dan berkata dalam hati, "Gila ya tasnya... Bermerk dan mahal banget." Lihat jam yang dipake, oh... itu Rolex. Ngelirik kacamata, oh... itu Cartier. Ngeliat mobilnya, oh... itu Alphard. Saya sekarang tahu barang-barang mahal karena setiap saat saya dijejali dengan doktrin, "Barang bermerk itu penting untuk meningkatkan prestige. Biar kita dianggap orang kaya dan orang lain kagum sama kita karena kita bisa beli barang-barang tersebut." Jadi, jangan salahkan saya atau orang lain karena konsumtif. Lingkungan mendidik kami seperti itu. Bedanya saya dengan orang lain adalah kalo orang lain punya uang untuk beli apa yang mereka mau, sedangkan saya hanya bisa menabung di celengan semar untuk beli hp baru. Dan tolong jangan salahkan anak Anda yang masih duduk di bangku SD kalo dia jadi sombong dan suka pamer ke teman-temannya, "Kemarin Papa aku beli rok untuk aku di Singapura loh... Merknya Hugo Boss. Terus yah adik aku yang masih bayi dibeliin baju Burberry. Oh iya, kakek aku ngebeliin aku sepatu Louis Vitton. Mau tau gak harganya berapa? 5juta loh..." Dan juga jangan salahkan anak Anda kalo tiba-tiba dia merengek, menangis sambil guling-guling di lantai, atau ekstremnya sampe mogok makan juga mogok sekolah hanya karena kakeknya membelikan baju dan sepatu untuk keponakan Anda sedangkan anak Anda tidak dibelikan apa-apa. Jangan salahkan mereka, tapi salahkan lingkungan dan cara mendidik Anda ke mereka.

Kemarin ketika sedang di KRL ke Kota, kakak saya cerita ke saya.


Kakak : Yu, kemarin si X nelpon Ses Lidya. Dia sengaja nelpon Ses cuma pengen ngasih tahu dia beli mobil Grand Livina terbaru. Katanya, "Aduh... Saya lagi kesel loh sama suami saya. Mobil saya kan dijual terus diganti Grand Livina. Kan belum dateng mobilnya jadinya saya naik ojek deh nganterin anak saya sekolah." Tuh Yu, dia nelpon Ses cuma pengen pamer. Padahal mah ya jarang banget dia nelpon Ses Lidya.
Saya : Ya sudahlah... Biarin aja dia sombong. Suka-suka dialah mau pamer apa juga.
Kakak : Iya, sih...


Ah, sebenarnya saya muak dan ingin muntah hidup di lingkungan yang begitu mengagung-agungkan materi, materi, dan materi. Suka pamer harta, sombong karena dia kaya, memanjakan anak berlebihan, arrrgggh... Ingin rasanya ngegetok kepala mereka satu per satu! keplak Itu berarti saya juga harus ngegetok kepala saya sendiri dunk?

Template Baru

Dampak memasang template baru ini begitu dahsyat! Saya semakin banyak memiliki penggemar, Sodara-sodaraku semua! Mulai dari kucing tetangga hingga cicak-cicak di dinding. *OMG, blog gue berubah jadi kebun binatang kah??*

Kalo kemarin blog ini masih gubug reyot sekarang sudah jadi rumah. Besok kalo nemu template yang lebih bagus, bisa jadi apartemen di Kawasan Sudirman. *Ahahaha... Ini ngomongin apa sih?* Saya mengganti template blog saya karena saya bosan dengan yang kemarin. Yep that's me. Seorang pembosan. Cepat sekali bosan. Nanti kalau sudah menikah dan saya bosan dengan suami saya, saya ganti saja ya? *ihihihi... Emangnya milih suami semudah beli kacang rebus?* Terhitung sudah 3x saya ganti template.

+Penggemar : Yaolo, Kim... Baru 3x! Gak usah didramatisir gitu deh!

Biarin. Kan sudah saya bilang sebelumnya kalo saya ini tuhan di blog saya sendiri. Jadi, suka-suka saya dunk ah mau dramatisir atau gak diblog sendiri.mafia

Dari 3x ganti template itu, baru template yang ini yang benar-benar mendapat pujian dari khalayak ramai. *Horeee... Akhirnya!!! Blog gue dipuji-puji juga!! yippie* Ada yang bilang bagus, sweet, lucu, sexy... itu terbukti... *nyanyi lagunya Mulan Jameela* Sampe ada yang nanya dapet nie template darimana. Well definitely I didn't make this on my own. Tolong ya Mbak/Mas/Om/Tante jangan kecewa sama saya. Jangankan bikin template, lha wong kode2 html yang dasar2 itu aja saya nda bisa. Beneran deh saya nda bisa. Sumpah mati! Kalo saya jujur, saya dicium Mas Rafa! *langsung ngelap2 pipi biar dicium*

+Penggemar : Terus, kamu dapet template ini darimana?

Saya nemu nih template di Blogskins. Butuh waktu berjam-jam sampe akhirnya nemu yang sreg dihati. Bukan, bukan karena template disana jelek-jelek tapi karena template disana bagus-bagus dan jadinya bingung sendiri mau pilih yang mana. Bingung sampe sakit kepala *oh, I need an aspirin*. Terus masalah muncul. Sudah menemukan template yang pas, giliran saya yang kebingungan karena templatenya gak mau dipasang di blog saya. Haduh, saya panik! Saya butuh bantuan! Untunglah, setelah celingak-celinguk kanan-kiri sebelum menyeberang jalan meminta bantuan, saya lihat di Y!M saya id-nya Paams online. Saya langsung kirim instant message ke dia.

Saya : Paams... cara pasang template dari blogskins gimana yaaa??

Dan langsung deh terjadi tutorial online. Lebih tepatnya perbudakan online. Si Paams ini ya mau-mau aja nyariin template buat saya, template yang gelap, angker, sampe headernya Mickey Mouse *Oh, Mickey Mouse? Please deh, Paams!*. Gak hanya sibuk mencarikan saya template, dia mau aja tuh ngedit sedikit templatenya. Pasang shoutbox, banner, musik, dll dsb dkk. Ngerepotin banget kan? Beneran deh saya tidak enak hati sama dia. Kok mau-maunya direpotin sama masalah saya? Tapi, di satu sisi saya sih senang-senang aja. Biarin deh dia repot yang penting blog saya cantik seperti orangnya. jagoan

Tadinya sih saya gak mau templatenya diedit sama dia. Takut ngerepotin kan. Pikir saya apalah susahnya toh tinggal nambah-nambahin shoutbox ini? Kemarin-kemarin aja saya bisa, masa' sekarang gak bisa?

Paams : Situ bisa html gak? Soalnya templatenya ini gak bisa hanya sekedar "add page element". Bener-bener ngutak-ngatik kode html. *bagi pengguna blogger pasti tahu apa yang dimaksud Paams*

Dan saya hanya menjawab dengan singkat:

Saya : Innalillahi.

Haduh. Saya jadi malu sendiri. Segede ini gak bisa html? Kemarin2 kemana aja? Sibuk pacaran sama Mas Rafa sih jadinya ya begini ini buta html. Dan saya kalah sama anak kelas 2SMP! Oh, noooo.........!!! tolong

Singkat cerita, saya terima beres dari Paams. Saya hanya tinggal copy+paste hasil kerjaan dia dan taaaadaaaaa......... muncullah template yang unik ini beserta komponen-komponen wajibnya (twitter, shoutbox, dll). Terima kasih banyak banget untuk Paams. Maap sudah merepotkeun. I owe you a lot, Anak Kecil! *langsung digetok Paams*

p.s.: Paams, aku sudah bisa sedikit2 lho html. Coba deh lihat blog ini. Ada yang berubah kan? Hihihihihi...ketawasetan

Blog Favorit Saya!

Membaca komentar2 yang ada disini dari tulisan saya mengenai dunia itu panggung sandiwara, tujuh dari sepuluh orang *yang kasih komentar emangnya berapa orang, Kim?* sepertinya tampak protes dengan tulisan saya itu. Protesnya bukan karena masalah konten *tulisan gak mutu begitu mau diprotesin. Lah wong dibaca aja kagak ngarti, apa yang mau diprotes coba?*, tetapi karena tulisan saya yang begituuu panjang! Saking panjangnya mungkin jarak antara Anyer dan Jakarta kita jatuh cinta... Antara Anyer dan Jakartaaa... Kisah cinta tiga malam kan kuingat selamanya... Antara Anyer dan Jakartaaa... Halah! Ini kok malah nyanyi? Biarkan lah. Siapa tau Simon Cowell tertarik dan ingin memproduseri album saya? Siapa tau juga Mas David Cook ngajak saya duet dan kemudian mengajak saya menikah? *jedutin kepala ke tembok biar sadar dan kembali fokus*

Ehem... Ehem... *batuk-batuk* Membaca tulisan panjang di blog memang sangat membosankan. Setidaknya itu menurut saya pribadi. Terkadang disaat saya sedang blogwalking kemudian menemukan tulisan yang panjang (bahkan sangat panjang) tak urung saya membaca cepat tulisan tersebut sehingga saya tidak paham apa sebenarnya yang ditulis. Jadinya saya sering merasa bersalah sendiri sama si penulis. Dia sudah capek-capek nulis kok ya tidak dihargai begitu tulisannya? Tapi ya apa mau kata kalo kenyataannya memang begitu? Tulisan panjang dan topik yang tidak menarik bagi saya membuat saya mabok dan keliyeng-keliyeng. puyeng Jadi, saya mengerti kok bagaimana perasaan teman-teman jika dihadapkan pada tulisan yang panjang dan tidak bermakna. Maafkan aku, Kawan... Sungguh... Maafkanlah aku telah membuat matamu belekan... gulingguling Sekali lagi maafkanlah akyu... nangis

Tulisan yang panjang dan membosankan memang membuat (calon) pembacanya kabur. "Ini apaan sih? Panjang banget. Ngebosenin lagi tulisannya. Tidak menarik." Jujur, saya sering banget seperti itu. Tapi, saya bisa melototin sebuah tulisan dari awal sampai akhir. Dari huruf pertama sampai titik kalimat terakhir. Syaratnya jelas bahwa tulisan itu harus menarik bagi saya dan enak dibaca. Dan sejauh ini tulisan-tulisan panjang dan menarik untuk dibaca menurut saya adalah tulisan di blognya Mas Joe. Yah, walopun anak kalimatnya terlalu banyak dan suka bikin lelah mata minus saya *Ahahaha... Peace, Mas Joe... Peace... Tos dulu ah!* tapi saya suka tulisan-tulisan dia. Tulisan dia itu mengalir dan enak untuk dibaca. Jadinya gak ngebosenin dan "mengikat" saya untuk baca tulisan dia sampai habis. Dan blog dia itu termasuk blog favorit saya.

Speaking of favorite blogs, dari 205 blog yang saya ikuti lewat Greader saya bisa dibilang sedikit yang menjadi blog favorit saya. Blognya Mbak Rima *tuh, Mbak... Blog Mbak ditulis duluan. Hihihi...*, Mbak Feba, Nona Dita, Mbak Miund, seorang lelaki, Eva, Toshi, Mbak Natazya, dan... siapa lagi ya? Ah, daftar berikutnya menyusul *kalau saya ingat. Hehe...*.

Menulis postingan ini menimbulkan satu ide yang sangat menarik. Aha! *tiba-tiba lampu bohlam menyala* Bagaimana kalau saya menambah label baru di blog saya ini dengan judul "blog favorit"? Di label tersebut saya akan menulis mengenai blog-blog yang menjadi favorit saya. Setidaknya hal tersebut membuat saya jadi lebih rajin blogwalking demi menemukan blog-blog menarik dan pada akhirnya menjadi blog favorit saya. Hahaha... Ide yang bagus! gyahahaha

+Penggemar : Alah, Kim... Ngegaya sampeyan iki! Sok jadi orang penting aja ngenilai blog orang lain.

Loh, biarin. Suka-suka saya donk? I am god on my own blog *halah*. Terserah saya dunk mau menulis apa aja disini selama itu tidak merugikan orang lain. Betul tidak? Yah... anggap saja dengan nge-link ke blog mereka itu membuat blog saya ini semakin dikenal publik. Ihihihihi...

+Penggemar : Oh, ternyata kamu memiliki agenda tersembunyi toh? Capek deeeh... 35

So, blog pertama yang saya ingin tulis disini adalah blognya Mbak Rima. Pertama kali saya tahu blog Mbak Rima dari Eva. Saya minta rekomendasi ke Eva kira-kira blog mana yang asyik untuk dibaca dan Eva kemudian memberikan linknya Mbak Rima. *Tuh, para blogger... Betapa pentingnya sebuah rekomendasi* Maka segeralah saya meluncur kesana.

Dan... buset. Mbak Rima nulis pake bahasa Inggris! Meskipun bahasa Inggris saya di raport dapat 9 ya *tampar Kimi karena sombong*, tetep deh bahasa Inggris saya belepotan. keringetan Gak bisa conversation, vocab terbatas, grammar acak-acakan, nulis pun bisanya cuma "I love you". *Anggep-anggep latian kalo ntar disuruh nulis surat cinta untuk Mas David Cook*

Ah, tapi bahasa bukan menjadi kendala bagi saya untuk terus mampir ke blognya Mbak Rima *dramatisir sedikit*. She's really a good writer and I love her writings. Tulisan-tulisannya itu jujur banget dan cerdas. Saya bisa menilai Mbak Rima seperti apa orangnya melalui tulisan-tulisannya yang jujur itu. Yeah, I know I have no rights to do that. Terlebih lagi saya tidak kenal beliau *tsssaaah... "beliau"! Kesannya tua banget sih??*. Boro-boro kenal, lah ketemu aja kagak pernah. Tapi, mau gak mau dan suka tidak suka penilaian saya mengenai dia: she's smart, she's funny, she's a good writer, she's pretty, she has good voice, she's sexy, she's hot... Ok, I'm not a lesbian.

+ Penggemar : Lah, Kim. Ini mau ngenilai blog atau orangnya?

Both. Penilaian saya mengenai blognya berpengaruh pada penilaian saya terhadap orangnya (eh, apa kebalikannya ya? Embuh ah...). Intinya, sering-seringlah mampir ke blog saya, eh salah, maksudnya cobalah mampir ke blognya Mbak Rima and I'm pretty sure that you'll be addicted to it. Kalo sudah kecanduan dengan tulisan-tulisannya Mbak Rima, jangan salahkan saya dan jangan minta obat ke saya. I don't have the cure. Lha wong saya sendiri kecanduan kok.

Saturday, July 12, 2008

Dunia Panggung Sandiwara

Semangat ngeblog saya sedang kendur. Entah kenapa. Kalo dulu sehari bisa dua-tiga entries sekarang sehari satu entry sudah syukur Alhamdulillah. Mungkin ini ada hubungannya dengan mood menulis saya yang sudah banyak tingkah. Maksud saya, dulu saya bisa menulis kapan saja dan dimana saja saya mau selama saya ada ide untuk menulis. Terkadang tidak ada ide pun sering saya paksakan untuk ada ide. Entah itu pagi, siang, atau larut malam sekalipun saya bisa memaksa diri saya untuk menulis meskipun pada akhirnya (dan selalu) tulisan saya itu tulisan tidak bermutu dan terkesan menyampah. Ah, sudahlah. Saya tidak peduli dengan mutu tulisan saya di blog ini. Suka-suka sayalah mau menulis apa saja di blog ini selama itu tidak merugikan orang lain. Toh, blog ini adalah tong sampah saya.

 

Ehm… Sampai dimana tadi? *Maaf, kehilangan fokus. Terlalu banyak ngelanturnya.* Oh ya, sampai saya bisa menulis kapan saja. Lanjut cerita, mungkin dulu itu saya sedang semangat ngeblog. Pikiran saya selalu dibebani dengan blog. “Hari ini saya harus memposting satu tulisan, minimal satu.” Jadinya, mau tidak mau saya mencari ide tulisan yang akan saya angkat untuk di-publish di blog ini. Dan, seperti kita ketahui bersama --terutama bagi pengunjung setia blog ini-- ide tersebut tidak jauh dari kehidupan sehari-hari saya. Ide tulisan bisa berasal dari kejadian yang saya alami, curhatan saya, amarah saya, hasil observasi saya, dan sebagainya. Saking semangatnya ngeblog sehari bisa lebih dari dua tulisan ter-publish di blog ini. Bahkan Mas Ical sendiri terkagum-kagum dengan semangat ngeblog saya. Saking kagumnya, dia rela mengantri di WC wanita. Kenapa? Karena WC pria-nya rusak. *halah! Jayus!*

 

Saya jadi menyadari satu hal. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya dulu saya bisa menulis kapan saja dan dimana saja. Mood saya tidak terlalu bertingkah saat itu. Cukup sediakan saya komputer atau laptop (dan flashdisk sebagai tambahan) maka mulai jari-jari ini bergerak dari satu tombol ke tombol lain di keyboard menuruti perintah dari otak. “Saya harus mengetik ini… itu… dan ono…” Nikmat. Apalagi kalo ide sedang menumpuk dan mengantri untuk ditumpahkan satu per satu. Sangat nikmat. Tidak peduli keramaian, saya bisa menulis. Suasana hening seperti di kuburan (kita kesampingkan “suara tangisan anak kecil” dan “suara wanita” sejenak) tidak menjadi masalah bagi saya karena saya tetap bisa menulis. Tidak ada komputer  pun tidak masalah. Saya bisa menuliskan ide saya di buku tulis saya tersebut. Seperti waktu saya sedang menunggu ayah saya di bandara. Sambil menunggu pesawat beliau mendarat, saya menghabiskan waktu dengan menulis di buku. Padahal kalo dipikir-pikir, suasana sedang tidak mendukung pada saat itu. Ramai, berisik, banyak orang lalu-lalang, tapi saya tidak peduli. Saya terus menulis karena saya sedang banyak ide. Karena saya sedang bernafsu menulis.

 

Itu dulu. Bagaimana dengan sekarang? Sekarang mood ini sudah banyak tingkah. Manja. Kalo saya sedang tidak marah atau kesal, jarang sekali dalam sehari saya bisa mem-posting lebih dari dua tulisan. Itupun postingan yang pendek-pendek. Ternyata setelah saya renungi *beuh,, bahasanya!* sekarang ini saya tidak bisa lagi menulis kapan saja dan dimana saja saya mau. Sekarang untuk menulis saya perlu suasana yang tenang, sepi, hening, tapi bukan berarti saya harus nangkring di kuburan. *Sengebet-ngebetnya saya sama blog ya kaya’nya gak sampe segitunya deh sampe bela-belain ke kuburan buat mencari inspirasi.* Dan suasana yang saya butuhkan itu bisa dipastikan hanya bisa saya temui di malam hari. Semakin malam semakin baik. Entah kenapa dengan suasana yang hening seperti itu rasanya ide bisa mengalir dengan lancar. Untaian kalimat bisa dibuat dengan mudah. Sebelumnya saya pernah mencoba untuk menulis di siang hari dan hasilnya tidak sebagus ketika saya menulis di malam hari (menurut pandangan subyektif saya tentunya!). Entahlah kenapa.

 

Dan sebenarnya postingan kali ini intinya bukan membahas mood saya menulis atau sejenisnya. Itu hanyalah pembuka saja. *Buset, Kim… Pembukanya aja udah berapa paragraf tuh??*

 

+Penggemar : Lah, emang sampeyan mau menulis tentang apa?

 

Jadi begini, sebenarnya saya mau menulis mengenai apa yang saya pikirkan tadi pagi ketika saya sedang dalam perjalanan ke kampus untuk les bahasa Jerman. Ketika sedang menunggu metro mini 52 *ah, tanggal lahir saya jadi nomer trayek metro mini*, tiba-tiba saya nyanyi, “Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah…” Dari sekian banyak lagu kenapa saya malah nyanyi lagu jadul itu? Kenapa bukannya lagu Mas Landon yang “Falling in Love at A Coffee Shop”? Well, karena saya tidak hafal lagunya Mas Landon. *ahaha,, jawaban cerdik!*

 

Karena saya terlanjur menyanyikan lagu itu dan juga karena saya adalah orang pemerhati lirik lagu, mau tak mau saya jadi meresapi makna liriknya. Liriknya sangat dalam, saya rasa. Sangat mengena. Bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari *halah! Aplikasi? Lo kata program buat hp?*.

 

dunia ini panggung sandiwara
ceritanya mudah berubah
kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani

setiap kita dapat satu peranan
yang harus kita mainkan
ada peran wajar dan ada peran berpura-pura

 

Ya, dunia ini memang panggung sandiwara dimana masing-masing dari kita adalah pelakonnya. Kita aktor dari setiap cerita yang kita punya, bahkan kita menyutradarai sendiri cerita kita. Berhubung kita sendiri yang jadi sutradara (saya rasa kita semua sudah tahu apa arti dari sutradara) untuk cerita kita masing-masing maka cerita itu bisa berubah-ubah semau kita. Kita bisa berperan dengan wajar dan terkadang kita bisa berperan berpura-pura (dalam bahasa saya: menjadi orang munafik). Bukan begitu?

 

+Penggemar : Loh, kenapa bukan Tuhan sutradaranya? Kenapa kita? Bukannya Tuhan yang Mengatur segalanya di seluruh jagat raya ini?

 

Ehm… Memang Tuhan yang Mengatur semuanya, tetapi bukankah manusia memiliki pilihan? Ketika manusia telah menentukan pilihan tindakannya itu kan artinya dia “mensutradarai” setiap episode dalam kehidupannya. Kenapa dia memilih memakai baju pink dan bukannya baju berwarna hitam, kenapa dia memutuskan kuliah di luar kota berpisah dari orangtuanya, kenapa dia memilih untuk makan roti dan bukannya makan nasi, dan berbagai kenapa lainnya. Bahkan, “kasarnya” maut dan jodoh manusia itu sendiri yang menentukan. Kaget? Bingung? Oke, saya kasih satu contoh: bagaimana dengan bunuh diri? Bukankah itu berarti manusia bisa menentukan kapan dia mau mati (tentunya ini bertentangan dengan kehendak Tuhan)? Itu kan artinya manusia adalah sutradara, benar kan? Lalu, ketika seseorang memutuskan untuk menikah dengan A dan bukannya dengan B. Itu kan artinya manusia menentukan jodohnya. Dia mensutradarai sendiri hidupnya. Benar kan? Manusia diberikan pilihan dan ketika manusia menentukan pilihannya --menurut saya-- dia mensutradarai sendiri kehidupannya.

 

Lantas, apa peran Tuhan? Masih menurut saya (ini menurut saya lho! Pembaca dilarang protes!), Tuhan adalah produser. Saya gak tahu pasti peran produser di film-film atau di sinetron itu bagaimana, tapi kalau boleh saya ambil intinya sih peran produser adalah membiayai produksi film/sinetron tersebut. Nah, disini Tuhan sebagai produser “membiayai” cerita kita dengan memberikan kita akal dan pikiran. Selebihnya kitalah yang memanfaatkan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan. Mau baik, mau buruk, terserah pada kita.  *Itu menurut saya.* Yah, saya tidak tahu bagaimana menuangkan maksud saya ke bahasa yang lebih mudah dan sederhana tapi setidaknya kalian pahamkan maksud saya? Paham ya? Paham aja sih! Awas kalo gak! *ngancem sambil mengacung-acungkan golok*

 

mengapa kita bersandiwara

 

Iya, mengapa kita bersandiwara? Kenapa kita tidak jalani aja hidup ini sejujur-jujurnya? Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara dan kita adalah aktornya. Setiap aktor tentu bersandiwara memainkan perannya, bukan begitu? Contohnya saya. Peran saya sekarang adalah sebagai seorang anak, cucu, adik, kakak (sepupu), tante, keponakan, mahasiswi, dan jangan lupakan seorang hipokrit! Saya --dan juga Anda-- memiliki banyak peran yang harus “disandiwarakan”. Peran yang harus dimainkan dalam kehidupan ini. Dan peran ini membuat hidup menjadi lebih menarik. Coba bayangkan Anda hidup tanpa memiliki sebuah peran apapun? Hidup datar, lempeng, kosong, bengong, jalan kesana-kemari tanpa arah dan tujuan (setiap peran tentu memiliki arah dan tujuan, kan?),… apa itu bukan GILA namanya?

 

Sebagai tambahan, terkadang ketika kita menjalankan peran kita dengan “bersandiwara”. Maksud saya, benar-benar bersandiwara. Berpura-pura. Saya tidak mau munafik dengan mengatakan bahwa saya tidak pernah menjadi seorang munafik. Saya pernah kok munafik. Saya pernah menjadi seseorang yang bukan diri saya sesungguhnya demi mendapatkan apa yang saya inginkan. Egois? Biarkan. Saya menggunakan topeng setiap saat. Saya harus jujur, melepas topeng dan membiarkan muka ini terbuka apa adanya dan tanpa ada yang menutupi sangat sulit untuk dilakukan. Contohnya? Biarkanlah itu menjadi rahasia saya. *ngeles* Banyak contoh di  sekitar kita mengenai hal ini. Tidak usah jauh-jauh mengambil contoh. Mungkin sekarang Anda sedang kesal dengan seseorang karena dia menjilat atasan Anda dan menyikut kanan-kiri demi mendapatkan jabatan yang lebih baik. Atau seorang pria sangar mendadak menjadi romantis demi mendapatkan wanita idamannya. Atau seorang anak yang tiba-tiba menjadi sangat rajin membantu ibunya demi mendapatkan hp baru. Atau seorang anak kecil yang menjelek-jelekan temannya sendiri dan bermuka manis di depan gurunya. Ah, terlalu banyak contoh. Saya rasa kalian bisa menambahkan sendiri. Intinya, masing-masing dari kita pasti pernah, sedang, dan akan memakai topeng guna menutupi keadaan kita sebenarnya. Apapun alasannya. Saya percaya itu. Karena saya rasa sangat sulit bagi kita jika kita menjadi orang yang sangat sangat sangat jujur (baca: menjadi 100% diri sendiri). Pasti ada kalanya kita ingin memakai topeng dan menutupi wajah kita. Benar kan? Sudahlah, jangan terus-terusan menyangkal. Berhentilah munafik dan akui saja.

 

peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
dunia ini penuh peranan
dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

 

Dunia ini penuh peranan. Nikmati saja. Ada peran yang baik dan ada peran yang jahat. Ada juga peran yang abu-abu. Berhati-hatilah dengan berbagai peran tersebut (dan orang yang memainkan peran itu!). Watch your back! Karena terkadang tidak ada yang bisa melindungi diri kita selain diri kita sendiri. That’s life! Itulah hidup beserta dinamikanya.

 

p.s.: Ini sebenarnya ngomongin apa sih? Entahlah. Bingung saya juga…