Thursday, November 6, 2008

Obama Menang, So What?

Saya heran kenapa orang-orang sini pada heboh dengan kemenangan Barrack Obama sebagai Presiden AS. Karena dia dari minoritas? Karena dia pernah tinggal di Indonesia lantas kita merasa ia adalah bagian dari kita? Yeah, like he cares aja... 

Apa sih ngefeknya kemenangan dia buat Indonesia? Indonesia jadi bebas pengangguran? Indonesia jadi negara kaya raya? Indonesia jadi adik angkatnya AS? Apa? Saya tidak paham...

Ah, daripada main tidak paham-pahaman dengan kemenangan Mr. Obama yang membuat kita (kita? Elu kali!) bersorak-sorak gembira, lebih baik saya mencoba memahami mengapa tugas-tugas saya sangat banyak dan deadline yang berdekatan pula?

Ini daftar tugas saya... *Sebagai pengingat saja*:

  1. Psikologi Abnormal : Bikin poster mengenai salah satu materi kuliah (bisa mengenai transseksual, anorexia, atau yang lainnya).
  2. Metode Penelitian Kualitatif : Analisis verbatim dari suatu wawancara mengenai suatu kasus *halah*
  3. Self in Social World : Review jurnal dan membuat short essay
  4. Stres dan Keselamatan Kerja : Bikin makalah penanganan stres kerja
  5. Riset Organisasi : Bikin laporan makalah abis riset organisasi kemarin itu...
  6. Psikologi Konsumen : Esai dan disain kantin
  7. Hubungan interpersonal : Esai dan review jurnal
  8. Analisis Jabatan : ya menganalisis jabatan lah... 
  9. Coaching dan Counselling : belum tau pasti tugasnya apa
  10. Psikometri : Tiap minggu selalu mendapatkan tugas *oh, ya ampun...*

Pusing... Pusing... Pusing... *seketika sariawan menumpuk*

Saturday, November 1, 2008

Kimi Jatuh Cinta

Festival ujian itu akhirnya usai. Setelah nyaris dua minggu saya berkoar-koar, seperti kambing mengembek, ngapalin materi ujian di kamar kosan. Teriak-teriak seperti orang yang lagi kerasukan nonton bola. Ya begitulah cara saya belajar. Menghapal dengan suara keras dan lantang. Menghapal, diingat kata demi kata dan letak titik komanya, tidak dipahami materinya, lalu menguap begitu saja setelah saya mengumpulkan kertas jawaban saya.

Lega rasanya telah terbebas dari wajib belajar-demi-menghadapi-ujian. Lumayan lega walaupun hanya sementara. Karena pada akhirnya saya harus kembali kepada kenyataan bahwa masih ada tugas-tugas bajingan itu yang belum dikerjakan. Arrrgh...

Jadi kesel lagi deh kalau mengingat tugas. Dan pas sedang kesal begini saya jadi teringat kembali sama si Bapak Puji itu. Jadi tambah kesal lah saya.

Kemarin waktu saya sedang kesal-kesalnya sama dia, saya sampai tidak konsentrasi belajar. Pikiran saya terganggu gara-gara orang kurang waras satu itu. Bahkan, saya sampai menulis outline untuk memposting mengenai hal yang sekarang lagi anget-angetnya di blogosphere Indonesia, seorang ulama (atau ustadz sih?) yang menikahi anak usia 12 tahun dan bahkan berencana menikahi anak umur 7 dan 9 tahun. Dan yang membuat dia jadi lebih bangsat, ia membawa-bawa agama.

GILA. G-I-L-A. GILA.

Tapi berhubung saya sudah agak malas untuk menulisnya jadi biarkan sajalah. Toh, sudah banyak rekan-rekan blogger yang mengeluarkan kekesalannya terhadap si bangsat satu itu di blognya masing-masing.

Oke, baiklah. Kalau kalian tetap memaksa ingin tahu outline saya itu. Kalau saya jadi memposting hal itu isinya kurang lebih umpatan saya untuk dia, macamnya: Gak usah bawa-bawa agama. Kalau emang pedofil mah pedofil aja. Gak usah mencari pembenaran dengan bersembunyi di balik "Rasulullah melakukan demikian". Itu alasan sampah, murahan, rendahan, untuk menutupi kebajingan orang tolol macam dia. Kaya' gak ada perawan-perawan tua aja yang bisa dikawinin ma dia. Kalau emang dia naksir sama anak 12 tahun itu, mbok ya tunggu sampai dia dewasa, matang secara fisik dan emosional, toh Pak... Sampai umurnya cukup untuk menikah di mata negara paling tidak. Apa susah nunggu at least 6-10 tahun? Sabar lah... Sama halnya saya sabar menunggu Adik Mahar dewasa. Oh iya, saya lupa. Anda seorang pedofil sih ya... Jadi, napsunya sama anak-anak. Semoga kau ngehe di neraka!

Ya, kira-kira begitulah isinya. Ah, sudahlah. Lama-lama segala macam perkakas di dekat saya bisa terbang kalau terus-terusan ngomongin ini. *Idih, kaya' gue punya tenaga aja*

Btw, daripada marah-marah kaya' tadi cuma buang-buang energi gak jelas mending kita ngomongin Kimi yang lagi jatuh cinta yuk?! Lebih bermanfaat dan tepat guna karena bisa dijadiin bahan rumpian di Pesta Blogger nanti *Cih, berasa tenar aja lo!*. Dan juga berbagi kebahagiaan dengan kawan-kawan semua. Membuat orang bahagia itu berpahala, lho! Dan bagi yang mau minta tanda tangan saya ehm... berani bayar berapa sampeyan? *digetok*

+Penggemar: Cieee,,, Kimi lagi jatuh cinta, euy! Jatuh cinta ma siapa, Kim?

Ehem... Sama siapa yaaa? Aduuuh, jadi malu saya. Beneran malu kok, bukan malu-maluin. Liat nih pipi saya sudah merah kaya' tomat. Itu tandanya saya malu. Gak percaya? Mau liat pipi saya merah? Haduuh... Jangan deh. Malu saya karena pipi saya memerah karena malu. *ditinju orang sekampung karena plin-plan*

Oke, oke, oke. Tenang, Sodara-sodaraku! Saya tidak akan pernah menutupi kabar bahagia. Pasti rekan-rekan wartawan semua akan saya kabari kalau saya baik saya sedang berbahagia maupun bersedih hati. Tidak ada yang perlu saya tutup-tutupi. Toh, saya bisa tenar seperti sekarang berkat rekan-rekan wartawan juga kan? *halah, lagaknya gue kaya' artis ibukota aje*

Jadi ceritanya adalah...

Jreng...jreng...jreng...

Saya percaya cinta itu adalah anugerah terindah yang diberikan Yang Kuasa untuk kita. Bayangkan kalau di dunia ini tidak ada cinta atau kasih sayang. Perang dimana-mana. Ah, membayangkannya saja saya sudah ngeri, Kawan...

Sekarang bayangkan di saat Anda sedang jatuh cinta. Yang tadinya males mandi, sekarang jadi rajin mandi karena gebetannya suka sama orang yang wangi. Yang tadinya benci sama Afghan, sekarang setiap mau tidur kudu dengerin suara Afghan. Yang tadinya malas kuliah, sekarang jadi rajin kuliah. See? Betapa indahnya kekuatan cinta. Ia mampu mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mungkin.

Dan saya juga percaya bahwa cinta itu bisa ditemukan dimana saja. Di bioskop karena abis nonton Adik Mahar, di angkot, di kereta, di pesta pernikahan, di kampus...

Oh, kampusku tercinta... Tak sabar rasanya hati ini menanti esok hari. Tak sabar untuk bertemu lagi dengan idaman hati meskipun hanya sebentar. Sekilas saja hanya untuk memandang wajahnya sudah cukup untuk membuat jantung ini berdetak tidak karuan. Kepala langsung tertunduk malu untuk kemudian merasakan panas menjalar di pipi. Ini pertanda pipi mulai memerah. Lalu berusaha semampu saya agar tidak loncat-loncat kegirangan. Jaim dunk ah. Saya tidak mau menjadi pusat perhatian karena sikap konyol saya. Yang saya mau adalah jadi pusat perhatian dia di saat sidang skripsi saya nanti. Oh, so sweet yach??

Apakah ini cinta? Atau hanya sekedar suka? Mungkin simpati? Mungkin saja ini crush... Who knows?

Dan kira-kira berapa lama perasaan ini akan bertahan? Sehari? Seminggu? Sebulan? Selamanya? 

Dan salahkah saya jika perasaan ini ternyata saya simpan untuk pria yang sudah berkeluarga?

Yes, I'm falling in love with a married man.

*bwahahahaha... Ketawa ngakak ampe terguling-guling. Kaya' kekurangan pria jomblo aja*

Yang Saya Takuti

Eowyn bilang bahwa dia tidak takut mati. Lantas, ditanya oleh Mas Aragorn, "What do you fear, My Lady?" Si wanita menjawab terkurung di dalam cage *catat ya, ini terjemahan bebas*.

Ketakutan si wanita ini tentu berbeda dengan ketakutan saya, anda, dia, atau siapa saja di muka bumi ini. Setiap orang punya ketakutan masing-masing, bukan? Dan kalau saya ditanya saya takut akan apa maka dengan lantang saya akan menjawab saya takut ular dan saya takut mati. Standar banget ya? Okeh, mari kita mencari hal lain apa yang kira-kira menjadi hal yang saya takuti.

Ehm... *berpikir dengan keras*

Ehm...

Saya rasa saya takut berbicara di depan umum, bertemu dengan orang baru, maka tidak heran saya tidak pandai berbasa-basi, selalu sakit kalau ada tugas presentasi, dan seperti orang penyakitan kalau berada di lingkungan baru. Hal ini ternyata sangat sangat sangat mengganggu dunia sosial saya. Saya memiliki masalah dengan yang namanya bersosialisasi. Maka tidak heran teman dan sahabat saya sangat sedikit. 

Tidak pernahkah saya merasa kesepian? Kosong? Hampa? Oh, jangan ditanya kalau itu mah. Jawabannya jelas: hampir setiap saat.

Kesepian, kalau kata dosen saya, adalah keadaan tidak bahagia secara emosional dan kognitif akibat mendambakan hubungan dekat tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya. Faktor-faktor yang berperan, masih kata dosen saya, karena pengalaman masa kecilnya atau karena dia memang menolak membangun hubungan karena khawatir mendapatkan penolakan. Ia sengaja menghindari keintiman. Ia memang tidak percaya orang lain. 

Saya memang menolak membangun hubungan dengan orang lain. Saya memang sengaja menghindari keintiman. Karena saya takut saya ditolak. Karena saya tidak percaya orang lain.

+Penggemar: Kenapa bisa begitu, Kim?

Ah, rasanya ini bukan saat yang tepat untuk main analisis. Toh, ini bukan studi kasus. Tapi mungkin saja ada Kawan-kawan yang nyasar di blog ini karena terpaksa mencari bahan untuk tugas, lantas merasa kasus saya ini unik dan tertarik mau menganalisis, yuk mari... Hubungi saya saja untuk keterangan lebih lanjut. *halah, pede tingkat akut*

Bukannya tanpa usaha saya ingin membunuh kesepian itu. Saya jalan ke mall, buang banyak uang di toko buku atau di toko baju atau di alfamart, mengajak teman-teman untuk main biliard, bowling, karaoke, atau nonton, ataupun mengkhayal terus-terusan ingin pergi ke luar negeri. Untuk sesaat mungkin saya berhasil. Tapi sesaat berikutnya ketika saya membuka pintu kamar kos saya lalu menghabiskan waktu di dalamnya cepat saya rasakan kesepian itu datang lagi. Entah kenapa.

Saya memaki tumpukan kertas-kertas bahan kuliah saya. Menatap kosong buku-buku yang sudah saya beli dari minggu lalu tapi belum sempat dibaca. Duduk dengan punggung bersandar ke dinding dengan pandangan menyapu isi kamar. Berantakan. Dingin karena kipas angin yang terus menyala. Bekas aqua gelas yang berserakan. Dua ponsel gsm yang tidak pernah bunyi. 

Tidak ada yang salah dengan kamar ini, tapi entah kenapa saya merasa kosong, sepi, juga hampa.

Sepertinya nanti kalau Mas Aragorn bertanya kepada saya apa yang saya takuti, dengan malu-malu dan pipi memerah (karena ditanya oleh Mas Aragorn) saya akan menjawab, "Berada di kamar saya sendiri, Mas..."