Wednesday, December 31, 2008

Posting Akhir Tahun

Tidur jam empat kurang tadi pagi dan baru bangun jam delapan pagi. Keasikan baca Darren Shan, cuy! Seharian kemarin menamatkan Darren Shan dari nomor 7 sampe nomor 12. Gak ada kerjaan? Emang. Saya kan lagi liburan. Praktis tidak ada kuliah atau deadline tugas yang mampu membuat saya bersumpah serapah seperti kemarin (walaupun sebenarnya kalau boleh jujur saya mulai merindukan perkuliahan).

Dan ketika bangun, saya langsung nge-plurk. Betapa micro-blogging satu itu merusak saya. Bukannya mandi, sarapan, atau apa gitu eh baru bangun langsung nge-plurk. Well yach, terima sajalah kalau saya memang sudah kecanduan Plurk. Eniwei, dari situ saya baca salah satu tret dari Chris bahwa dia habis selesai posting. Saya pun mampir kesana dan… owkeyh, membicarakan lagi tentang tahun 2008 yang akan berakhir, menyambut 2009, resolusi, flashback, dan serupa itulah. Ehm… sepertinya dimana-mana sedang membicarakan hal yang satu itu yah? Membuat saya jadi tidak mau ketinggalan (meskipun tadinya saya tidak peduli sama sekali dengan hal-hal seperti itu) menulis entry senada. Itung-itung membangkitkan kembali semangat menulis yang sedang kendor.

So, let see… Apa yang sudah terjadi pada saya selama satu tahun ini? Not much. Biasa-biasa saja. Standar. Karena saya memilih untuk menjalankannya dengan biasa-biasa saja. Hal-hal biasa saja itu ya seperti kuliah, tugas, ngecengin cowok sana-sini mulai dari pria yang udah berkeluarga sampai adik tingkat (catet ya HANYA NGECENGIN!), pasang internet di rumah kakak, kecopetan dua kali di kereta (satu di antaranya membuat saya nyaris tewas), eh… tunggu! Kecopetan itu hal yang biasa aja, Kim? Enggak biasa juga sih… Kejadian itu salah satu pengalaman berharga buat saya. Yang akhirnya membuat saya jadi trauma, paranoid, --ah… you name it lah-- kalo kemana-mana. Dipepet orang dikit di jalan langsung gelagapan dan memeluk tas erat-erat, membuat saya selalu curiga orang di samping saya itu copet, berkali-kali ngecek risleting tas kebuka atau gak, bahkan ketika makan di tempat terbuka pun (kantin, cafĂ©, restoran) saya tidak mau mengeluarkan hp atau dompet karena pikiran saya nanti-kalau-saya-lengah-ada-copet-yang-bisa-mengambil-hp-atau-dompet-dari-tangan-saya-dan-langsung-kabur. Pikiran jahat memang, karena anak-anak kecil yang mengamen di kantin Takor pun sering saya “tuduh” akan mencuri hp saya kalau saya sembarangan main hp.

Masih ada hal yang lainnya? Masih. Saya masih kebiasaan mikir segala macam kemungkinan terburuk. Entah neurotis, entah dari orok emang sudah begitu, entah karena memang untuk antisipasi. Entahlah. Tidak menyenangkan sebenarnya karena membuat saya jadi malas untuk bertindak. Suatu hal yang harus mulai untuk dihilangkan sepertinya. Ah, ini bisa menjadi resolusi tahun 2009. Benar kan?

Oke, hal lain? Di tahun 2008 ini saya merasakan teman saya bertambah banyak. Baik teman-teman di dunia nyata *finally, saya mau belajar untuk bisa lebih bersosialisasi* maupun di dunia maya. Berkenalan dengan salah satu teman blogger yang luar biasa baik, yang sampe mau membikin desain kantin pake google sketch atau apalah itu namanya, dan segudang kebaikan dia yang lainnya. You know who you are, buddy! Terus ada teman blogger yang juga seorang plurker yang menjadi sasaran saya setiap kali saya mau bermanis muka, merayu, mungkin ampe orangnya bosen sama saya *chris, aku kehabisan bahan rayuan nih!*. Berkenalan juga dengan teman plurker lainnya yang sibuk men-translate surat lamaran magang dan cv saya. Hahahaha… baru kenal juga tapi mau gitu membantu saya? Yah, pokoknya terima kasih… terima kasih sekaliii… *Om, kalau bapakku tahu bisa-bisa kecewa berat dia sama aku. Hahahahaha*

Hal berikutnya adalah retaknya hubungan baik saya dengan salah satu manusia yang paling saya sayang selama saya hidup (meskipun saya tahu saya akan selalu menyayangi dia seumur hidup saya). Sakit memang. Luar biasa sakit. Butuh waktu lama untuk sembuh dan itu pun belum sembuh sepenuhnya, sampai sekarang. Mentok di tahap melupakan untuk sementara dan bisa teringat sewaktu-waktu. Sekali lagi, sangat sangat sangat sakit. Membuat saya limbung untuk beberapa saat. Sayang memang hubungan yang terjalin harus retak, tapi untuk kebaikan bersama. Kalau kata orang bule sono for the greater good. Ah, sudahlah. Bukan saatnya untuk mengingat hal itu lagi. Cukup sampai disini. Saya gak mau mengorek-ngorek luka itu kembali. Terlebih ketika keadaan sudah mulai membaik.

Nah, lihat kan betapa lempeng-lempeng aja tahun 2008 bagi saya? Saya merindukan tahun yang penuh intrik sebetulnya. Tahun yang banyak kejadian seru, yang membuat hidup saya lebih berwarna, misalnya jalan kesana jalan kesitu (entah kapan bisa terwujud. Mengingat saya sendiri orangnya takut jalan sendirian) atau ribut besar sama bapak. Hahahaha… Yang terakhir itu, save the best for the last. That time will come. Percayalah… percayalah… *mempersiapkan diri*

+Penggemar: Lantas, apa resolusimu tahun 2009 nanti, Kim?

Kalau ditanya resolusi ya saya jadi bingung sendiri. Saya orangnya jarang mempersiapkan segala sesuatu dengan matang sih ya. Jalani aja gitu, trus ntar liat arahnya kemana. Saya mau kemana. Saya mau apa. Bikin resolusinya kalau udah mepet-mepet gitu (eh, mungkin term yang lebih tepat bukan resolusi kali ya? Cita-cita? Dreams? Goals? Wishes? Entahlah). Iya, saya tahu saya prokrastinator. Eh, jangan menghina para prokras yah! Ada serunya tersendiri, tau! Deg-deg seeerrrrr gimanaaaaa gitu tugas dikumpul besok dan baru dikerjain jam satu dini harinya. Halah, jadi gak fokus.

Owkeyh, balik ke topik. Resolusi 2009? Gak tahu. Gak ada. Setidaknya belum. Tapi, saya percaya suatu saat saya akan membuatnya. Membuat saya untuk melakukan pilihan dari berbagai pilihan yang tersedia. Membuat saya untuk mulai merancang masa depan.

Ah, jadi ingat satu kalimat bijak yang pernah saya baca tapi saya lupa dari siapa. The best way to predict future is to create it. And I couldn’t agree more. Kesampingkan sebentar urusan Tuhan, takdir, qada dan qadar, Invincible Hands, faktor X, atau hal-hal terkait dengan urusan manusia. Saya selalu percaya nasib seseorang berada di tangannya sendiri. Manusia itu punya free will. Manusia itu bebas memilih. Dan pilihannya itu nanti yang membentuk masa depannya. Contoh sederhananya saya. Saya lebih memilih untuk kabur dari rumah demi kuliah di tempat yang saya cita-citakan daripada meneruskan D3 saya di Unila. Saya lebih memilih untuk ribut sama bapak demi mengejar mimpi saya. Demi masa depan yang belum jelas memang. Bisa aja di Unila masa depan saya lebih terjamin misalnya. Dan gak ada jaminan juga saya kuliah di tempat saya sekarang masa depan saya pasti gemilang. Tapi, saya lebih memilih untuk kuliah di sini. Perlahan, saya mulai melihat masa depan saya: seorang sarjana psikologi. Tidak hanya terbatas pada itu, saya mulai melihat sosok macam apa saya ini di masa depan.

Ada satu dialog antara Evanna dan Darren Shan yang membuat saya mengangguk-angguk setuju.
Evanna sighed deeply. "Time is like a jigsaw puzzle," she said. "Imagine a giant box full of billions of pieces of millions of puzzles — that is the future. Beside it lies a huge board, partially filled with bits of the overall puzzle — that is the past. Those in the present reach blindly into the box of the future every time they have a decision to make, draw a piece of the puzzle out and slot it into place on the board. Once a piece has been added, it influences the final shape and design of the puzzle, and it's useless trying to fathom what the puzzle would have looked like if a different piece had been picked." She paused. "Unless you're Desmond Tiny. He spends most of his time considering the puzzle and contemplating alternative patterns."

See? Menangkap maksud saya sebelumnya? Kita, sebagai manusia, punya berbagai macam pilihan yang tersedia. Pilihan yang ketika sudah diputuskan mempengaruhi atau membentuk masa depan kita. Dengan kata lain kita yang membuat masa depan kita sendiri. Bukan orangtua, bukan takdir, bukan nasib, bukan teman kemarin sore, bukan Desmond Tiny, bukan pula Tuhan. Heh? Terdengar saya meragukan kuasa Tuhan? Oh, bukan itu maksud saya. Kan tadi saya bilang kesampingkan sebentar urusan yang terkait dengan urusan manusia. *ngeles*

Akhirul kalam, selamat tahun baru 2009. Sudah adakah gambaran puzzle kehidupan Anda dimasa depan seperti apa?

P.S. : Darren Shan itu buku yang bagus. Jauh lebih bagus dibandingkan Twilight saga. Banyak insight yang terkandung di dalamnya yang bisa ditangkap, yah setidaknya bagi saya. Tahun depan saya coba tulis deh insight yang saya dapat setelah baca Darren Shan, dengan catatan kalau mood sedang baik. Btw, tahun depan itu tinggal beberapa jam lagi kan?

Tuesday, December 30, 2008

Tadi sewaktu saya sedang asyik melototin google reader lewat hp, ada salah satu entry tentang DompetJebol.com. Iseng-iseng, mampirlah saya kesana *masih di hp*. Dan setelah liat2 kok sepertinya seru juga ya? Catat itu semua duit keluarnya kemana aja, terus bisa kasih komen juga. Yoi, DompetJebol.com sejenis micro-blogging gtu deh. Serupa plurk dan twitter, ye? Tapi lebih spesifik, yaitu soal duit.

Memang sih gak menjamin pengeluaran bisa lebih terkontrol *kalo soal itu mah tergantung pengendalian diri*, apalagi untuk orang boros macam saya. Tapi kan malu aja misalnya saya boros banget pengeluaran hari ini terus ada yang komen, "Ya ampuun, Kimi... Elu tuh ye jadi orang boros banget! Bisanya cuma ngabisin duit ortu doank. Sendirinya tidak berpenghasilan!" *ada semacam kontrol sosial begitu, halah* Nah, nah, nah, kalo sudah begitu kan saya jadi malu. Malu banget sampe muka memerah dan langsung bersembunyi di balik pohon toge.

Maka saya pun langsung daftar dan telah mem-bookmark situs tersebut di hp saya. Oye! Jadi, selama ada koneksi internet saya akan melaporkan pengeluaran saya apa saja. *sombong tenan kaya'nya*

Monday, December 22, 2008

Star Wars Episode III: Revenge of The Sith

Saya baru saja selesai nonton ulang Star Wars Episode III: Revenge of The Sith. Film Star Wars favorit saya dibandingkan episode I dan II. Well, yang episode IV, V, dan VI belum saya tonton ulang dan mungkin saja nanti saya berubah pikiran episode mana yang menjadi favorit saya. 

Kenapa episode III ini menjadi favorit saya? Yach... Karena disini lebih banyak berantemnya. Halah, boong ding. Karena, menurut saya, disini emosi lebih banyak ditunjukkan, seperti ketakutan akan kehilangan, perasaan cinta, loyalitas, kebingungan Anakin Skywalker (Hayden Christensen) mengenai siapa yang jahat, Jedi atau Sith? Dan terutama sekali alasan kenapa ia akhirnya memutuskan untuk menjadi Darth Vader. 

Yoda: Premonitions? Premonitions... Hmm... These visions you have
Anakin: They are pain, suffering, death...
Yoda: Yourself you speak or someone you know
Anakin: Someone
Yoda: Close to you?
Anakin: Yes.
Yoda: Careful you must be when sensing the future, Anakin. The fear of loss is a path to the dark side. Death is a nature part of life. Rejoice for those around you who transform into the Force. Mourn them, do not. Miss them, do not. Attachment leads to jealousy. The shadow of greed, that is.
Anakin: What must I do, Master Yoda?
Yoda: Train yourself to let go of everything you fear to lose.

Yes, Anakin was afraid to lose Padme (Natalie Portman)--his wife. Masa depan yang ia lihat Padme alias Queen Amidala meninggal karena melahirkan anak mereka. Chancellor Palpatine melihat ketakutan Anakin. Ia pun menawarkan sebuah kekuatan yang katanya bisa mencegah seseorang dari kematian. Dan untuk menguasai kekuatan tersebut ia harus belajar the dark side of the Force--suatu hal yang sangat dihindari oleh Jedi.

Demi Padme --demi cintanya kepada Padme-- dan untuk menyelamatkan nyawanya, Anakin rela untuk menyeberang ke sisi kegelapan. Demi sebuah kekuatan yang katanya bisa mencegah seseorang dari kematian.

Akhirnya? Akhirnya Anakin menjadi apprentice Darth Sidious alias Palpatine. Ia menjadi budak Palpatine. Ia melakukan apa saja yang diperintahkan master barunya tersebut, membasmi semua Jedi termasuk anak-anak. Sekali lagi, hanya untuk mendapatkan kekuatan yang katanya bisa mencegah seseorang dari kematian. Karena Anakin takut kehilangan Padme.


paling suka gambar yang ini! *lupa mencomot dari mana. maapkeun!*

Makna yang saya dapat dari film ini adalah mengenai kehilangan. Kita takut kehilangan. Dan rasa takut kehilangan yang berlebihan akan membuat kita mampu untuk melakukan apa saja, bahkan melanggar apa saja yang selama ini dilarang oleh apa yang kita percaya, peraturan yang kita coba untuk patuhi (dalam film ini peraturan Jedi), dsb. 

Kalau Anakin takut kehilangan Padme, maka Palpatine takut kehilangan power. 

Palpatine: All those who gain power are afraid to lose it. Even Jedi. ...The good is a point of view, Anakin... 

Sengaja saya bold karena perkataan dari Palpatine itu kok rasanya dekat dengan kehidupan sehari-hari kita ya? Ketika seseorang memiliki power, ia takut untuk kehilangan. Contohnya? Banyak. Saya rasa Anda  bisa memberikan contohnya. Dekat sekali dengan kehidupan kita, bukan?

Oh, kok ini sepertinya semakin melenceng yah? Tulisan ini seperti kehilangan fokus. Tidak berarah. Tidak ada jiwanya. *tampar Kimi karena berlebihan* Ah, apa karena saya masih terbayang-bayang sama The Godfather ya?? Jadinya nulis gak bener begini. Jadi kacau, euy. Gara-gara terhipnotis Bapak Al Pacino sewaktu muda. 

Well anyway, balik ke film lagi. Ada satu adegan yang membuat saya terharu, yaitu pas menit-menit terakhir waktu Obi-Wan Kenobi (Ewan McGregor *love him!*) dan Anakin berantem terus Anakin-nya kalah, tangannya putus, dan sebelum dia terbakar itu loh... (tahu kan? Inget kan?), si Obi-Wan Kenobi bilang gini:

Obi-Wan Kenobi: You were the Chosen One! It was said that you would destroy the Sith, not join them. Bring balance to the Force, not leave it in darkness.
Anakin: I hate you!
Obi-Wan Kenobi: You were my brother, Anakin. I loved you.

Huaaaa............. Sediiiih...!!! *garuk-garuk aspal* Kenapa Anakin jadi jahat? Kenapa Anakin termakan omongan Palpatine? Kenapaaa??? Justru Padme mati kan gara-gara Anakin sendiri. Sewaktu melahirkan itu, Padme lebih memilih untuk mati (karena dia kecewa dengan Anakin yang berubah menjadi jahat?). Kenapa, Anakin? Kenapaaaa?? *berteriak histeris* Kenapa kamu lebih memilih kegelapan? Kenapa kamu mengecewakan Mas Obi-Wan Kenobi? Kenapaaaa? *pukul-pukul tembok*

Dan George Lucas pun menjawab, "Kimi, kalau Anakin tetap jadi orang yang baik, tidak tergoda bujuk rayuan Palpatine, maka tidak akan ada Darth Vader. Tidak akan ada Star Wars episode IV, V, dan VI. Karena pasti Anakin Skywalker akan membunuh Darth Sidious di episode III, seandainya dia memilih tetap untuk menjadi seorang Jedi dan mewujudkan ramalan bahwa dia adalah The Chosen One. Dan itu artinya Star Wars tamat di episode III. Kalo udah gitu, buat apa gue capek-capek bikin Star Wars IV, V, dan VI berpuluh-puluh tahun sebelumnya?"
*masih dalam efek setelah-menonton-the-godfather-saga*

Ini lagu yach... Ampun... *Speechless*


The Godfather Saga

Akhirnyaaaa... Semester terkutuk ini telah selesai! Ujian selesai, tugas-tugas sudah dikumpulkan semua, buku-buku kuliah dan jurnal-jurnal saatnya ditutup, dan sekarang saatnya saya menikmati liburan selama satu bulan lebih ke depan. *kedip-kedip ke Ical*

So, let see apa saja yang sudah saya persiapkan untuk liburan kali ini? Ehm... ada sekitar 30 film yang belum saya tonton, sekitar empat buku dan puluhan ebook yang belum saya baca, dan ada ratusan lagu yang niatnya pengen saya donlod. Hi, hi, hi... *terkikik*

Jadi ceritanya, Sabtu kemarin saya mulai mencicil film yang harus ditonton itu. Saya pun akhirnya memutuskan untuk nonton The Godfather I, II, dan III.

+Penggemar: Itu kan film jadul, Kim?

Iye, saya tahu itu memang film jadul. Dan kalau boleh dibilang The Godfather adalah salah satu film favorit saya dari kategori film jadul *gak usah tanya definisi atau kategori film jadul itu seperti apa*. Ceritanya, pemainnya (Bapak Al Pacino waktu masih mudanya kok ganteng ya?), lagunya, semuanya... Saya suka! Berasa di Italia gitu, terus tuh ya sedih2 gimanaaa gitu! Dan saya pun harus berpikir beribu kali sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia mafia. *halah, lagak loooooooo tuh ya Kim! Kagak nahan gue!*

Saya bingung bagaimana caranya menjelaskan film yang diadaptasi dari novelnya Mario Puzo berjudul "The Godfather" selain film ini memberikan kesan yang beda ke saya? Sound cheesy, heh? Tapi, beneran. Film yang punya aura tersendiri... *aduh, Tuhan... tolong bantu hamba-Mu ini dalam menemukan kata-kata yang tepat!* Film yang menurut saya film terbaik sepanjang masa. Trust me. 

1. The Godfather (1972)

gambar dicomot dari sini

Tuh, taglinenya aja "I'm gonna make him an offer he can't refuse". Segala macam cara dilakukan supaya orang lain tidak bisa menolak keinginannya Don Vito Corleone (Marlon Brando). Meskipun itu termasuk menodongkan pistol di kepala orang tersebut dan memaksanya menandatangani suatu kontrak. Atau memotong kepala kuda milik seorang sutradara film. 

Keluarga Corleone termasuk keluarga (mafia) yang disegani di New York. Konflik mulai timbul ketika Don Corleone menolak kerjasama bisnis drugs dari keluarga Tattiglia. Don ditembak (meski akhirnya selamat), Sonny Corleone (James Caan) dibunuh, membuat Michael Corleone (Al Pacino) mau tak mau menjadi Don berikutnya. Awalnya Michael tidak mau terlibat dalam bisnis ayahnya. Ia masuk kemiliteran dan pulang menjadi seorang pahlawan. Namun, keadaan pula  yang akhirnya memaksa Michael untuk menyelamatkan kelangsungan dan kehormatan keluarga Corleone. Yang tadinya Michael memilih untuk menjadi orang "biasa" justru ia menjadi salah satu Don yang disegani. Sepertinya darah mafia memang mengalir di tubuh Michael dan ia memang tidak bisa mengingkarinya.

2. The Godfather: Part II (1974)



gambar dicomot dari sini

The Godfather: Part II memiliki dua cerita, yaitu kisah Vito Corleone (Robert De Niro *baru tahu loh saya ternyata dia yang main! Hihihi...*) sewaktu muda meniti jalan membangun dinasti Corleone dan kisah Michael Corleone (Al Pacino) sebagai Don muda yang membangun kembali kerajaannya di Nevada.

Ternyata ada pengkhianat di dalam tubuh keluarga Corleone. Hal tersebut membuat Michael mencoba untuk mencari siapa yang berani mengkhianati keluarga tersebut. Untuk sementara ia menyerahkan kekuasaannya ke Tom Hagen (Robert Duvall), seorang pengacara yang sudah dianggap sebagai saudara oleh Corleone. Sedangkan Michael sendiri pergi kesana kemari guna mencari siapa sebenarnya pengkhianat tersebut. Hukuman mati pun sudah jelas akan diterima si pengkhianat, tidak peduli sekalipun itu adalah saudara kandung sendiri.

3. The Godfather: Part III


gambar dicomot dari sini.

Disini yang main tetap ada pemain-pemain lamanya, seperti Al Pacino (tetap memerankan Michael Corleone. Ente pikir dia jadi siapa?), Diane Keaton (memerankan tokoh Kay Adams), dan Talia Shire (memerankan Connie Corleone). Sedangkan tokoh-tokoh baru yang muncul ada Vincent Mancini (Andy Garcia), Mary Corleone (Sofia Coppola), Anthony Vito Corleone (Franc D'Ambrosio), dan ada Bridget Fonda yang muncul sembari lewat *hehehe,,, bahasa apa itu?*.

----------
Eh eh eh, OOT sebentar yaaa... Jadi gini, kok Al Pacino semakin tua semakin jelek ya? Coba deh googling foto-fotonya. Huuuueee... Beda banget kalau dibandingin dengan dia sewaktu muda. Pas yang masih mudanya (liat itu The Godfather dan The Godfather: Part II!! Liiiiaaaat....!!!) ganteng abis, terus pas udah tuanya...ah... jadi gimanaaa gitu! Kenapa Pak Al Pacino? Kenapa hilang ketampananmu? Kenapaaaa??? *tarik-tarik kerah baju Al Pacino* Dan kenapa Bapak harus lahir jaaaauuuuuuuuhhhh lebih dulu dibandingkan saya? Malah Anda lebih tua daripada bapak saya. Kenapa Paaaak??? Kenapaaaa??? *pentung-pentung Al Pacino*
----------

Ceritanya kali ini Michael Corleone yang sudah semakin tua merasa ia menjadi lebih "bijaksana". Ia ingin membangun bisnis yang legal. Ia juga ingin mencari Don berikutnya yang akan menggantikan dirinya. Kemungkinan tahta tersebut akan jatuh ke keponakannya yang bernama Vincent.

Bisnis legal yang dicita-citakan Michael ternyata menyakiti sebagian orang. Dengan kata lain mereka juga ingin terciprat dari bisnis yang diincar Michael tersebut. Artinya apa? Artinya terciptalah perang yang baru. Tembak sana, tembak sini. Bunuh sana, bunuh sini. Dan biar bagaimanapun juga hukum karma itu pasti berjalan. Michael pun mendapatkan hukumannya dengan kehilangan orang yang dikasihinya.

Huuuuaaa...... Sedih sih emang... Sediiiih... Di satu sisi kita melihat mafia --dari yang kita dengar, baca, atau gosip dari orang-orang-- adalah sosok yang sangat berbahaya. Sekali terjun didalamnya maka kamu tidak akan pernah bisa keluar. Dunia mafia itu mengerikan. Sekalinya seseorang masuk ke dunia tersebut maka ia telah menandatangani sendiri kontrak kematiannya. Hidup pun menjadi penuh curiga, waspada, kejam, dingin,... Tapi, disisi lain toh mafia itu juga manusia yang sangat mencintai keluarganya. Contohnya aja Michael yang akhirnya memutuskan untuk terlibat di dunia kemafiaan karena ia melihat tidak ada orang lain yang sanggup menyelamatkan keluarga Corleone dari kehancuran. Dan juga rasa sayang dan hormatnya kepada sang ayah. Lalu, lihat bagaimana ia tega memerintahkan orang lain untuk membunuh seseorang karena orang tersebut membahayakan nyawa keluarganya. Jangan lihat kekejamannya, tapi lihat alasannya... Lihat hatinya... Ya, ia memang salah membunuh orang lain untuk kepentingan pribadi tidak peduli apapun alasannya. Tapi itu hanyalah bukti bahwa seorang mafia pun ternyata tetap punya hati dan rasa sayang kepada keluarganya, teman-temannya, orang-orang yang dikasihinya. Dan itu menunjukkan bahwa ia masih... manusia.

Nah, sekarang saya permisi dulu. Mau donlod lagu-lagu soundtrack-nya The Godfather. *langsung mabur ke Youtube*

*update: eh, kok Diane Keaton (terutama di The Godfather Part II) mirip dengan Marcia Cross yah? Atau mataku yang kejepit pintu sampe salah lihat?

Saturday, December 13, 2008

Bermuram Durja Karena Tugas

Hai, semua. Apa kabar? Sudah sebulan lebih ya sepertinya saya tidak meng-update blog ini? *Penuh basa-basi banget sih gue?* Well, belum memecahkan rekor hiatus terlama milik pribadi sih sebenarnya… Niatnya sih saya ingin bikin rekor baru. Berhenti sementara dari ngeblog sampai tahun depan (tahun depan itu beberapa hari lagi kan?), tapi saya tetap tebar pesona disana-sini. 

Maksud? 

Maksudnya, tetap rajin komen di blog sana-sana sini-sini kalau saya sedang tidak bernafsu menjadi silent reader.

Jujur, saya sendiri sebenarnya sekarang ini mencuri waktu untuk menulis posting ini. Yup, mencuri waktu. Kamu tidak salah baca. *Mudah-mudahan tangan saya tidak dipotong karena saya mencuri*

+Penggemar: Mencuri waktu dari siapa, Kim?

Dari Tuan “waktu-yang-seharusnya-dipergunakan-untuk-mengerjakan-tugas”. Ketika saya sedang menulis ini, saya sedang mengerjakan salah satu tugas kuliah saya. Tugas yang dikumpul hari Senin besok bersama ketiga tugas lainnya. Tugas yang baru saya tulis pendahuluan-nya. Itupun saya stucked. Entah mau menulis apalagi. Hanya mengalir di paragraf pertama. Setelah itu, mandeg. Padahal saya sudah memberi diri sendiri penyemangat pribadi berupa suara seksinya Mas James Morrison. Bahkan, saya menyiapkan dua kaleng Nescafe. Suatu hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya: mengerjakan tugas ditemani kopi. Kali aja saya ngantuk padahal niatnya saya harus begadang untuk menyelesaikan tugas mengingat deadline Senin besok. Catat: SENIN BESOK.

Akhirnya saya menyerah. Otak ini sudah terasa penuh. Mampet. Macet. Mumet. Pusing. Bahkan, untuk tertawapun saya sulit *halah*. Dan saya pun berpikir, “I need someone. Saya butuh seseorang yang mau mendengar saya menangis tanpa perlu repot-repot bertanya dengan penuh basa-basi ‘Lo kenapa, Kim?’”

Sumpah, hal terakhir yang mungkin saya inginkan saat ini adalah menangis. Meskipun di lingkungan saya dibesarkan wanita menangis itu lumrah, tapi saya tidak mau menangis. Bagi saya, jika saya menangis hanya karena hal kecil dan sampah seuprit seperti ini harga diri saya runtuh. Ingat, Teman, harga diri adalah segalanya. Saya berusaha untuk menjadi wanita (kok kaya’nya berat banget sih pake kata “wanita”? I’m not a girl, but not yet a woman) tegar. Berusaha loh yah… Artinya? Read between the lines, dear…

Senangnya saya tidak mengalami hal ini sendirian. Teman-teman seangkatan saya pada bermuka muram semua. Hahaha… Kami ini memang angkatan yang kompak. Muram satu, muram semua. Dan kalau bertemu satu sama lain di kantin atau di jalan, hal yang lumrah terdengar adalah, “Eh, gimana tugas ini? Udah selesai belon? Kapan kita kumpul buat ngerjain?” Jadinya bisa ditebak kalau sedang mengerjakan tugas kelompok kebanyakan yang terjadi adalah mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Ya, saya tahu mengeluh itu tidak baik. Tapi, untuk saat ini bagi kami mengeluh itu salah satu cara “melupakan” sejenak beban-beban yang menghimpit, dan oh… tentu saja selain mengumpat dan memaki juga sedikit pikiran untuk “bunuh diri”.

Belakangan ini yang menjadi kata-kata favorit saya adalah “Beneran deh ya, ingin nyemplung ke Selat Sunda rasanya.”. Sempat beberapa kali saya pasang tagline baru saya tersebut di status YM saya. Dan teman saya yang baik hati, Eva, menyarankan agar saya lebih baik nyemplung di Laut Banda. Lebih dalam katanya. “Kalo Selat Sundah mah dangkal.” See? Lihatkan betapa baik dan perhatiannya Eva ke saya? Kalau si Chris lain lagi. Dia bilang, “Tanggung, Kim. Sekalian aja Samudera Hindia.” Oh, well. Senang rasanya punya teman yang sangat perhatian. :)

Teman saya, Edina, lain lagi ceritanya. Di sela-sela kami sedang mengerjakan tugas kelompok tiba-tiba dia menyeletuk, “Bunuh diri massal yuk?” Ha, ha, ha. *tertawa terpaksa* Owkeyh… Tapi, besoknya nih anak berubah pikiran. Masih di saat kami sedang mengerjakan tugas, lagi-lagi dia menyeletuk, “Pusing gue. Nikah aja dah gue.” *Oh my dear Edina, seandainya menghilangkan stres karena tugas-tugas semudah menghabiskan salmon sashimi tiga piring dan besoknya menikah… Kalaupun memang sedemikian mudahnya, yang menjadi pertanyaan adalah siapa calon mempelai prianya? Lo udah punya, Ed? Gue belom nih… mengingat yang satu terlalu tua dan satunya lagi terlalu muda. Doh!*

Nah, sudah agak lega rasanya sudah mengeluarkan kepenatan yang memenuhi otak ini. So, sekarang saya permisi yaaa… saya mau ngelanjutin tugas-tugas saya dulu. 

KiMi [says] cih! *meludahi tugas-tugas brengsek tersebut*