Saturday, February 28, 2009

Doa

Jujur, saya akui saya bukan orang yang religius. Saya bukan orang yang memegang kitab suci di tangan kanan saya dan tasbih di tangan kiri saya, lantas berteriak lantang menyerukan kebajikan kepada sesama manusia. Atau... terserah lah indikator orang religius itu seperti apa. Saya hanya merasa saya tidak termasuk di dalam golongan tersebut, meskipun mungkin ada beberapa orang yang seringkali menganggap saya demikian. Hell, whatever.

Tapi, saya tetap beragama dan tetap mengakui Tuhan. Walaupun terkadang saya sendiri sering mempertanyakan hal-hal sensitif yang terkait dengan hal tersebut. Bertanya kepada diri sendiri dan menjawab sendiri. Bias? Mungkin. Kalau ada yang mau bilang sebaiknya saya bertanya kepada yang ahli atau blablabla, save your breath. Ini urusan saya dengan Tuhan. Dan juga bukan ini yang ingin saya bahas di tulisan kali ini.

Penggemar: Lantas, kamu ingin membahas apa?

Hanya sekedar ingin berbagi cerita saja. Saya merasa semakin ke sini saya semakin jarang berdoa. Mungkin karena saya tidak religius itu kali ya? Atau kepercayaan saya terhadap doa itu sendiri semakin menipis? Ah, gak juga. Semakin jarang bukan berarti tidak berdoa sama sekali kan? Saya berdoa ketika saya butuh dan ingin saja. Saya berdoa ketika saya akan tanding futsal, misalnya. Atau, ketika saya akan naik pesawat. Atau, ketika saya lagi ngegebet cowok. Atau, ketika saya sedang ada masalah. Atau, ketika saya sedang takut kehilangan orang-orang yang saya kasihi.

See? Lihat kan saya berdoa hanya kalau saya butuh dan ingin saja? Ketika saya sedang ada masalah, baru saya ingat Tuhan. Kalau gak ada? Boro-boro. Ketika saya sedang ada mau, baru saya lari ke Tuhan. Kalau gak ada? Bleh. 

Hal tersebut membuat saya merenung. Saya sebagai manusia ternyata sombong juga ya. Saya yang tidak religius ini ketika sedang terhimpit musibah yang saya ingat pertama kali adalah Tuhan. Terkadang membuat saya tersadar bahwa di alam semesta raya ini, saya tak lebih dari organisme yang lemah dan tidak berguna. Bahwa ternyata ada sebuah kekuatan di luar sana yang tidak saya pahami bagaimana cara bekerjanya. Sebuah kekuatan yang bekerja di luar nalar saya. Dan bahwa saya sebagai manusia ternyata masih membutuhkan kekuatan tersebut untuk saya sembah, saya takuti, dan saya jalankan peraturan yang dibuatnya.

Saya merasa seperti Amir, tokoh utama di novel The Kite Runner. Setelah bertahun-tahun melupakan Tuhannya, akhirnya ia bersimpuh juga menyembah Tuhan ketika ia dihadapkan pada kenyataan ayahnya sakit parah. Ia mengharapkan Tuhan akan memberikan kesembuhan untuk ayahnya.

Manusia yang katanya berkuasa di bumi ini dan dengan kejeniusannya menciptakan berbagai peradaban, yang seketika lupa akan keberadaan Tuhan akan kembali lagi mencari-Nya ketika dia sedang berada dalam keadaan terdesak atau takut. Atau bagi mereka yang tetap mengotot tidak ada Tuhan, terserah lah siapa saja yang mau dicari ketika mereka dalam keadaan tersebut. *ini menurut pengalaman saya pribadi*

"Tuhan, tolong aku, Tuhan..."

"Tuhan, lindungi aku dalam perjalanan ini."

"Tuhan, bantu aku mengalahkan penyakit ini."

"Tuhan... Tuhan... Tuhan..."

Dan, disini saya--di tengah-tengah kebisingan yang menjadi-jadi--berdoa dengan cara yang saya pahami dari kecil, "Tuhan, lindungi ayahku. Berilah ia kesehatan. Panjangkanlah umurnya agar kami bisa berkumpul lebih lama lagi. Amin."

p.s.: Mengutip dari Angels and Demons-nya Dan Brown yang baru saya selesai baca:

God, grant me strength to accept those things I can not change.

Thursday, February 26, 2009

Singkat saja...

Cuma ingin bilang...

Selamat yaaa untuk Mba Natazya yang udah lulus sidang skripsi. I am really really really happy for you. Beneran!!! Tulus! Ikhlas! Beneraaaan senengnyaaaa... Ahhhh... *hug Mba Nata*

Pertanyaan berikutnya:

  1. Kapan makan-makan?
  2. Kapan menikah? *digilas*

Tuesday, February 24, 2009

Buntu Ide

Cukup empat lagu di playlist untuk menemani saya menulis postingan ini. Every Time (Janet Jackson), If I Fell (Adam Levine), Adelaide Sky (Adhitia Sofyan), dan Nuansa Bening (Vidi Aldiano). Dua diantaranya menjadi inspirasi saya untuk melanjutkan cerita kemarin. Cerita yang entah kenapa banyak sekali teman yang membacanya bertanya ke saya, “Itu kisah nyata lo, Kim? Ada unsur curcolnya?” Tidak hanya itu, ada satu oknum yang bahkan dengan teganya mempertanyakan kemurnian cerita itu. “Ini asli buatan lo, Kim? Kalo iya, keren...”

*tendang si oknum jauh-jauh*

Ketika cerita kemarin saya posting juga di note FB saya, komentar yang muncul kebanyakan bernada positif. Alhamdulillah. Dan mau tak mau membuat saya sedikit GR dan juga menjadi kepikiran untuk melanjutkan ceritanya. Ternyata begini ya rasanya seorang penulis ketika karyanya dihargai, disukai, dipuji,...

*senyum-senyum dulu ah*

Sejauh ini sih, saya sudah mendapatkan gambaran di cerita selanjutnya akan seperti apa. Tapi untuk lebih detilnya, saya masih bingung. Inilah salah satu kendala saya sewaktu menulis. Menulis apa saja: posting untuk di blog, tugas kuliah, cerita pendek, bahkan hanya untuk sekedar menyapa buku harian. Saya selalu mengalami kesulitan untuk menulis detil suatu peristiwa.

Memang waktu SD sudah ada pelajaran mengarang, dimana saya merasa salah satu kelebihan saya ada disana. Perasaan anak SD loh itu... Yang hanya merasa, “Aku suka loh nulis. Tulisanku juga kaya’nya gak jelek-jelek amat ya!” Setiap kali guru saya memberi tugas untuk mengarang, dengan bersemangat saya pun menulis. “Aku hari ini menemani ibu ke pasar” atau “Kucingku mati” atau entahlah apalagi saya lupa. Hanya bermodalkan semangat dan kesukaan, saya—yang waktu itu masih SD—merasa saya berbakat dalam bidang tulis-menulis.

Karena waktu itu saya merasa saya punya bakat dalam menulis, saya iseng membeli buku harian. Buku harian yang hanya ditulis sebulan sekali (kalau lagi rajin sih sehari bisa berkali-kali). Curhatan saya sewaktu SD dimana saya ingat betul salah satu isi curhatan saya yaitu saya marah sama ibu saya. Saking marahnya saya sampai menulis, “Sebenarnya aku ini anak siapa sih?!”. Gobloknya, buku harian itu dibaca langsung sama ibu saya. Saya pun menjadi bulan-bulanan ibu saya. Disindir, ditowel-towel. Beuh, malu abis pokoknya.

Saya pun kapok menulis di buku harian. Saya tidak suka lagi menulis.

Benarkah?

Ternyata saya masih suka menulis, lebih tepatnya menulis di blog. Tapi, karena saya sudah lebih dewasa dibandingkan sewaktu saya SD, saya sadar diri sajalah kalau saya ini tidak punya bakat menulis. Saya hanya menulis sekenanya saja. Hanya untuk pamer-pameran. Soalnya, waktu saya bikin blog pertama kali di FS, blog waktu itu lagi booming. Tidak ada skill apalagi bakat menulis, hanya sekadar bermodalkan PD dan ikut-ikutan, saya pun mulai ngeblog. Dan kalau saya mengingat-ingat kembali tulisan lawas saya, saya kok merasa jadi aneh sendiri? Ternyata tulisan saya dulu itu lucu juga kalau gak mau dibilang jelek dan norak. Hehehehe... *tertawa dulu sebentar*

Untung saja saya orangnya cuek bebek. Tidak seperti saya sewaktu SD yang langsung berhenti nulis, saya sekarang tetap menulis di blog walaupun tulisan saya terasa biasa-biasa saja. Kalau kata salah blogger (saya lupa! Maapkeun) di salah satu postingannya, blog merupakan tempat kita latihan menulis. Serta-merta saya mengangguk setuju dengan beliau. Bagaimana bisa kita bisa menulis dengan baik kalau kita sendiri tidak pernah menulis? Bagaimana kita bisa menyanyi dengan baik kalau kita sendiri tidak pernah latihan? Bagaimana coba? Mendatangi dukun dan minta jimat atau susuk agar tulisan sampeyan mampu menarik banyak orang? Mungkin saja bisa, tapi entahlah... Saya belum pernah coba. Kalau salah satu dari pembaca iseng ingin mempraktikkan cara tersebut dan ternyata berhasil, bolehlah berbagi cerita ke saya. Bagi-bagilah informasi ke saya siapa dukunnya, tempat prakteknya dimana, tarifnya berapa terutama tarif jimat atau jampi-jampi buat menarik banyak pengunjung ke blog dan tarif untuk mempelet orang.

Nah, sudah ngerasa sombong sedikit karena sok berpengalaman ngeblog, sering juga sih muncul niat ingin bikin novel misalnya, atau bikin cerpen setidaknya. Melihat teman kanan-kiri saya yang kalau lagi ngobrol sibuk cerita, “Eh, gue pengen bikin novel juga loh.” Terus teman saya yang lain menyahut, “Iya, gue juga.” Blablabla... Dan obrolan mereka pun berlanjut. Saya yang mendengarnya pun hanya garuk-garuk kaki sambil bergumam dalam hati, “Iya juga ya. Seru juga kaya’nya kalau bikin novel. Kalau laris, kaya raya donk gue? Tinggal ongkang-ongkang kaki aja. Tamatin kuliah terus gak usah kerja. Nikmatin royalti. Ha, ha, ha...” Sayangnya, menulis novel itu tidak sesederhana dan semudah melempar koin sambil teriak, “Angka atau burung garuda?"

Bikin kerangka karangannya, bikin plotnya, bikin tokoh-tokohnya, bleh. Jangan harap saya mau diharapkan bekerja untuk membuat sesuatu sedetil itu. Capek. Pusing. Ribet. Sampai akhirnya saya menyimpulkan, “Ya udahlah ya. Serahkan saja kepada orang lain urusan menulis novel itu. Gue cukup sebagai penikmat.”

Soalnya begini, Jek, setiap kali menulis, saya itu ndak pernah bikin kerangka karangan. Paling mentok ya tidur-tiduran sambil mencari ilham hari ini mau menulis apa. Sisanya ya nyalakan laptop, buka word, buka winamp, terus ngetik di winamp... oh, salah ya? Maksudnya ngetik di word. Dan itu mengetiknya lanjut terus harus sampai titik di kalimat terakhir tulisan tersebut. Mengalir seperti air. Gak bisa dipaksain berhenti. Saya baru berhenti mengetiknya kalau tulisan itu sudah selesai. Jarang banget dipotong rehat, misalnya berhenti sebentar buat main solitaire terus lanjut lagi. Bleh, itu mah kalau saya sedang mengerjakan tugas. Itu pun kebanyakan mainnya dibanding mikir apalagi yang bakal ditulis di tugas itu.

Nah, jadi kesimpulannya *sekarang saya buru-buru menyelesaikan tulisan ini karena sebentar lagi saya latihan futsal* saya masih bingung mau menulis apa di cerita lanjutan. Intinya sudah ada. Tapi, seperti biasa, detilnya belum ada. Maklum, writer’s block. Bleh, ahlesyan kalau kata si Chris.

p.s.: Busyet, nulis untuk bilang buntu ide aja sepanjang ini ya? Bodo ah. :p Kalau kata Mas Aten kan disalah satu resensi bukunya yang dimuat di salah satu harian nasional yang kira-kira intinya: menulislah. Menulis apa saja termasuk menulis tidak kemampuan menulis itu sendiri. Ahlesyan. Huahahahaha...

Friday, February 20, 2009

Lamunan

Disini. Di salah satu sudut kafe aku sendiri. Dengan laptop menyala dan ditemani secangkir kopi hangat. Ada sebungkus rokok yang belum kubuka. Nanti saja kubuka rokoknya. The night is still young, Beib.

Aku menatap jam di monitor laptop. Pukul 9 malam. Masih ada berapa jam lagi sih sebelum jam 8 pagi? 

Malam ini kafe ramai pengunjung. Maklum besok akhir minggu. Banyak anak muda yang datang. Kebanyakan sih berpasangan, entah itu pacar, TTM, selingkuhan, dan ah... apa peduliku? Aku tidak peduli. Sama tidak pedulinya dengan keramaian dan kegaduhan yang dibuat anak-anak muda itu. Toh, aku merasa sepi. Selalu.

Untuk mengusir sepi, iseng kuputar lagu-lagu band favorit si lelaki. Dia suka The Beatles. Dia suka Nirvana. Dia suka Naif. Dia suka... ehm, apalagi yah? Sial, aku lupa. Bangsat. Kenapa aku tidak bisa mengingat favorit bandnya apa saja?

Masih dalam rangka iseng, aku googling Manchester United. Wayne Rooney masih main disana atau tidak? Cristiano Ronaldo? Terus, si itu siapa nama manajernya? Ah, lupa lagi. Sial. Kenapa aku tidak bisa mengingat tentang klub sepakbola kesayangannya?

Ah, sudahlah. Buat apa aku menyiksa diriku untuk mengingat sesuatu yang telah kulupa sejak bertahun-tahun yang lalu? Kunyalakan sebatang rokok. Aku merokok, Teman... Kamu pasti murka kalau melihatku sekarang. Tapi, toh kamu sekarang tidak ada disini kan? Kuhirup kopiku seteguk. Kemudian, mataku menyapu seisi ruangan. Kulihat pengunjung yang lain terlihat bahagia. Bercengkerama dengan orang-orang terkasih. Menatap kekasih dengan penuh mesra, memegang tangan pasangan dengan erat seolah ia takut terlepas, tertawa manja mendengar gurauan si pacar. Aku tersenyum. Senang rasanya melihat kebahagiaan orang lain. Memang benar kata ayahku dulu bahwa kebahagiaan itu menular.

Tiba-tiba aku teringat masa-masa itu. Masa dimana aku benar-benar bahagia. Saat aku merasa diriku sepenuhnya. Diriku yang utuh. Diriku yang telah hilang sejak bertahun-tahun lalu.

Indah sekali masa itu. Sungguh. Membuatku tersenyum sekaligus menitikkan air mata. Membuatku dengan terpaksa mengorek kembali luka yang bekasnya begitu dalam. Hatiku berdarah lagi. Sakit, sakit sekali. Sakit terasa meskipun yang kuingat adalah memori kebahagiaan yang pernah kupunya. Aku ingin sekali bahagia. Aku ingin tersenyum, meskipun hanya tersenyum simpul. Sekali lagi, aku ingin bahagia. Setidaknya untuk malam ini. Bahagia untuk yang terakhir kalinya. Meskipun untuk bahagia itu aku harus menarik nafas sangat dalam. Mengingat dirinya sama susahnya dengan mengingat rumus-rumus statistika. Oya, berbicara statistika untung saja aku lulus mata kuliah tersebut. Yah, meskipun pas-pasan. Mungkin ini pertanda bahwa aku bisa lulus “ujian” mengenai dirinya meskipun sulit? Entahlah.

Ingatanku melayang ke masa SMA. Dimana kami pertama kali kenal. Masih ingat kita bolos sekolah bareng? Masih ingat aku menangis di bahumu? Masih ingat film pertama yang kita tonton? Masih ingat, Teman? Masih ingat kebodohan kita yang lain?

Dan karena suatu kebodohan, aku melangkah mundur. Aku menjauh dari kehidupan dirinya. Aku coba hapus semua tentang dirinya. Karena aku tidak sanggup untuk tetap setia berada di samping dirinya dan diabaikan. Berada disisinya tapi tidak dianggap, untuk apa? Berada disisinya tapi tidak dimiliki dan memiliki, untuk apa? Maka aku pergi. Aku lari sejauh mungkin. Terkadang aku berhenti. Sesekali menengok ke belakang dan bertanya kepada matahari yang selalu bersinar untuknya, “Apa kabar dirinya sekarang?” Dan matahari menjawab pertanyaanku, “Dia baik-baik saja. Dia bahagia. Tapi tidak dengan dirimu.” Mengabaikan jawaban matahari, aku kembali berlari. Tersandung. Terjatuh. Terluka. Berdarah-darah. Tak kuhiraukan semua itu. Asalkan aku bisa lari dari dirinya.

Tapi, dia seperti bayangan yang selalu mengikutiku. Sebulan yang lalu ia menghubungiku. Memaksaku untuk bertemu dengan dirinya. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan. “Tidak bisa lewat telpon saja? Aku sibuk.” Aku beralasan. Sesungguhnya adalah aku merasa belum sanggup untuk kembali bertemu dengannya. Aku takut aku terlihat rapuh di hadapannya. Percuma aku membangun kekuatan di dalam diri kalau kekuatan tersebut runtuh dalam hitungan detik ketika aku berjumpa dengan dirinya.

“Tidak. Kita harus bertemu. Lagian, masa’ sih kamu tidak mau bertemu denganku? Sudah berapa tahun coba kita tidak bertemu? Terakhir kali kita bertemu kan sewaktu kamu masih kuliah tingkat satu.” Ah, bingung. Apa lagi yang harus aku katakan sebagai alasan agar aku tidak usah bertemu dengan dirinya?

“Baiklah. Kapan? Dimana?” tanyaku. “Besok yah. Di tempat biasa.” 

Aku menghabiskan kopiku yang tersisa. Lalu aku pesan kembali secangkir kopi hangat untuk yang kesekian kali. Biarlah aku keracunan kafein. Mati gara-gara kebanyakan minum kopi rasanya agak aneh dan lucu. Tapi, ini bukan saat yang tepat untuk melucu. Sekarang saatnya aku menyakiti diri sendiri untuk dirinya.

Lamunan itu berlanjut. 

Akhirnya aku bertemu kembali dengan dia. Setelah... entah lah 6 – 7 tahun yang lalu? Kami datang dengan membawa cerita di belakang kami. Pekerjaan kami, titel kami, kehidupan kami...

“Kamu bahagia?” tanyanya. Sejenak aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, aku berbohong, “Tentu saja aku bahagia. Aku mendapatkan apa yang aku inginkan.” Kecuali kamu, aku menambahkan dalam hati. Dia tersenyum. Ah, senyuman itu. Manis sekali. Senyuman yang lama sekali tidak kulihat. “Aku senang mendengarnya. Jadi, ada yang ingin aku beritahukan ke kamu. Sangat penting. Penting sekali hingga aku memaksa kita untuk bertemu. Aku tidak ingin menyampaikan berita bahagia ini lewat telpon, email, apalagi sms...” wait! Berita bahagia?? “Aku akan menikah bulan depan.”

Tiba-tiba sekelilingku terlihat gelap. Langit terasa runtuh menimpa diriku. Aku terdiam. Cukup lama. Kulihat pancaran wajahnya bersinar ketika memberitahuku. Dia bercerita bagaimana dia bertemu dengan pacarnya yang menjadi calon istrinya, bagaimana ia melamar calon istrinya itu, bagaimana... bagaimana... wanita itu begitu sempurna untuk dirinya. Matanya berbinar-binar setiap kali ia menyebutkan nama calon istrinya. Aku dengan sekuat tenaga memaksakan diri untuk tersenyum. 

Salah satu ketakutan terbesarku menjadi kenyataan...

“Maaf, Mbak... Kami sudah mau tutup.” Teguran dari pelayan kafe membuyarkan lamunanku. Aku kembali menatap jam di monitor laptop. Delapan jam lagi menuju pukul delapan pagi. “Oh iya, Mas. Sebentar ya. Saya beres-beres dulu.” Kurapikan laptopku dan aku berdiri meninggalkan kafe menuju mobilku di parkiran. 

Kunyalakan mesin mobil, dan kupacu mobilku sekencang mungkin. 

Besok tepat sebulan.

Kuliah atau Tidak

Kira-kira seminggu yang lalu, seorang teman bertanya bodoh ke saya. “Kim, Psikologi itu belajarnya kaya’ berhubungan dengan orang lain kan? Bagaimana menghadapi orang lain? Gitu-gitu deh...” Karena saya mengambil kepeminatan Psikologi Sosial ya saya hanya mengamini. Saya lupa kalau masih ada Psikologi Perkembangan, Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, dll. “Kalau gitu, buat apa lo capek-capek kuliah? Buang-buang duit? Tinggal beli buku trus belajar sendiri deh.”

Saya terdiam. Sesaat saya kasih senyum ke dia. Saya ingin membantah argumen dia, tapi kok rasanya bibir ini kelu dan lidah terasa kaku? Mungkin emang pada dasarnya saya gak jago ngomong sih ya jadinya ya apa yang mau saya bilang mentok di tenggorokan. Gak keluar suaranya. Alhasil, argumen dia menguap begitu saja tanpa bisa saya koreksi. Cukup mengganjal sebenarnya. Buktinya saya masih kepikiran sampai sekarang. 

Nah, untuk si teman saya tadi ehm jadi gini ya... Pertama-tama, Psikologi tidak sesempit yang kamu perkirakan loh, Mas... Ruang lingkupnya tidak hanya urusan bagaimana menghadapi orang lain. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, masih ada Psikologi Industri dan Organisasi, Psikologi Sosial, Psikologi Klinis, masih banyak lagi. Dan masing-masingnya punya sudut pandang masing-masing. 

Mungkin bisa saja saya belajar sendiri. Beli bukunya atau cari ebooknya kemudian saya baca deh sampe mata saya juling. Dapat ilmunya? Kalau hanya untuk sekedar belajar teori mungkin bisa. Itu pun masih mungkin. Kalau bukunya enak dibaca sih mending, tapi kalau sulit dipahami? Yang ada malah tambah pusing. Lha wong, udah nanya sama dosen aja terkadang masih bengong. *jaaah, itu sih emang faktor dari elunya aja, Kim!* Dan yah itu gunanya dosen kan? Menjelaskan apa yang mahasiswanya tidak mengerti. Kalau belajar sendiri, ntar pas bingung mau nanya sama siapa?

Yang pasti yah, Mas, buku gak bisa mengoreksi proposal penelitian eksperimen kita udah bener atau belum. Buku gak bisa kasih feedback item-item alat ukur yang udah kita bikin. Gak mungkin dong belajar Psikologi, tapi gak pernah belajar bikin penelitian gimana? Gak pernah belajar bikin alat ukur gimana? Kalau belajar sendiri, bisa? Sepertinya gak mungkin lah ya bisa belajar sendiri. Sama halnya dengan sampeyan yang nda mungkin beli buku akuntansi terus belajar akuntansi sendiri. Bisa? Kemarin pas ujian bisa ngerjain gak?

Sekarang, kalau saya boleh bertanya balik memang kenapa jika saya kuliah? Sumber daya ada, kesempatan ada, dan kemauan ada. Saya merasa capek? Tidak. Justru saya sangat menikmatinya. Malah, ada rasa sedikit tidak tenang karena saya sudah berada di semester-semester menuju akhir. Kok ya rasanya ada yang kurang? Kurang puas gitu. Kemarin-kemarin saya kemana saja? Kok sepertinya saya tidak maksimal kuliahnya. 

Bagi saya pribadi, dengan saya kuliah membantu saya untuk membentuk identitas diri. Di masa kuliah ini lah saatnya mengembangkan diri. Mengoptimalkan diri. Kalau kata teman saya, kuliah itu saat mencari jati diri. Idealisme lagi di puncak-puncaknya. Dan, sungguh, itu terasa sangat menyenangkan. Kenapa saya berpendapat demikian? Karena jika saya sudah berada di luar kampus, realitas menyapa saya. Dan saya terkadang benci dengan realitas yang ada. 

Saya jadi teringat dengan dosen saya. Waktu itu beliau pernah bilang, “Coba deh tujuan kalian kuliah itu dibenerin ya. Kalau orientasi kalian UUD (ujung-ujungnya duit), coba diubah menjadi, ‘saya kuliah karena saya memang mau belajar. Saya belajar karena saya memang butuh dan ingin belajar.’” Ketika saya terapkan hal tersebut, rasanya jauh lebih menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri. Saya jadi lebih bebas. Lepas. Merdeka. Seperti anak kecil yang bebas berlarian di pinggir pantai mengejar layangan. Percaya deh. Nikmat abis.

Memang kuliah membutuhkan biaya yang tinggi. Tapi, tidak melulu hanya karena masalah duit. “Percuma kuliah, buang-buang duit.” atau, “Percuma kuliah, kerjanya juga ntar belum jelas.” Atau alasan lainnya lah. 

Sekarang gini, kenapa orang yang udah bekerja tetap ada yang kembali ke bangku kuliah? Lihat lah itu teman-teman saya yang PNS. Kuliah entah di universitas mana, yang gak perlu masuk kuliah yang penting ujian hadir. Karena mereka mengejar pangkat, Man! Mungkin teman-teman pembaca ada yang lebih paham soal grading PNS... 

Kenapa orang kaya rela bayar mahal universitas-universitas bergengsi itu agar mereka mau menerima anaknya kuliah disana? Karena mereka percaya, lulusan S1 lebih baik daripada lulusan SMU. Karena mereka percaya pendidikan bisa mengubah nasib seseorang. Dan kenapa kamu, Mas, juga kuliah? *wink2* Buang-buang duit lho itu...

Itu bagi mereka yang berorientasi kuliah itu UUD atau berharap-masa-depan-cerah. Itu sah-sah saja.

Jadi, kesimpulan tulisan kali ini adalah belajar psikologi itu menyenangkan dan jangan keseringan bolos kuliah. *halah*

Wednesday, February 18, 2009

Trust

Entah sudah berapa orang yang bilang bahwa saya ini orang yang jujur. Orangtua, teman, bahkan teman di dunia maya yang seyogyanya belum pernah bertemu secara langsung pun bilang saya orang yang jujur. Saya ingat teman saya yang saya paksa-paksa untuk mampir ke blog ini pun berkomentar, “Lo itu nulisnya pake hati. Berasa banget emosinya. Jujur abis.” Oh, Mas... Mas... Sebelumnya mau tanya dunk kalau menulis pakai hati itu bagaimana caranya ya? Saya mah kalau menulis pakai pena atau pensil. Kalau enggak itu ya ngetik di laptop. Halah. *dikemplang si teman*

Nah, aneh kan? Hanya karena membaca blog ini teman saya itu sudah berani menilai saya ini orang jujur. Padahal mah kenal begitu dekat juga tidak, terakhir bertemu beberapa tahun yang lalu, lantas atas dasar apa coba dia bilang begitu? Ya, entahlah...

Atau ini... Kalau saya lagi di rumah, bapak saya selalu menyuruh saya mengambil uang di ATM beliau. Jarang beliau menyuruh kakak saya atau orang lain, pasti yang diminta saya. Padahal kan bisa saja yah uangnya saya ambil diam-diam? Saya tahu loh semua pin ATM bapak saya. *wink2* Ketika saya bercanda dengan bilang, “Untung aja loh Pa, Ayu ini orangnya jujur. Kalau gak kan, bisa aja Ayu ambil uang Papa diem-diem. Papa nyuruh ambil berapa, Ayu ambilnya berapa.” Bapak saya hanya tersenyum. “Ya, gak masalah juga sih kamu mau ambil lebih. Tapi, kepercayaan langsung hilang.”

Nah, itu... Kepercayaan langsung hilang. Berabe kalau sampai bapak saya tidak percaya lagi sama saya.

Lantas saya jadi merenung. Betapa susahnya ya membentuk satu karakteristik positif dibandingkan karakteristik negatif pada diri kita? Butuh pengakuan dari banyak orang dan biasanya memerlukan waktu lama untuk diakui bahwa kita ini orang baik. Misalnya ya tadi itu, jujurnya saya itu. Untuk dikenal sebagai orang jujur harus ditunjukkan dengan perilaku yang berlangsung terus-menerus. Konsisten bo’ kalau term kerennya. Persistensi? Bisa juga. Eh, tunggu... Saya ngecek dulu yah definisi persistensi. *ditimpuk telor ma pembaca* Itu juga gak semua orang setuju. Kali aja ada orang di luar sana yang bilang, “Kimi itu tukang bohong ah! Gak percaya gue ma dia.” Well, who knows?

Tapi yah... Misalnya saya bohong sedikiiiit aja terus ketahuan langsung deh dicap pembohong. Berita buruk itu lebih cepat tersebar dibandingkan berita baik. Si A cerita ke si B, “Eh B, masa’ ya Kimi itu bohong loh soal blablabla...” terus si B ngegosip ke C dengan menambahkan bumbu-bumbu. Terus si C bikin konferensi pers ke teman-teman arisannya bahwa ada temannya teman dia yang bernama Kimi hobi sekali berbohong. Dan begitu seterusnya. Seketika orang-orang tidak percaya lagi sama saya. Kredibilitas saya pun tercoreng. *huuueekkss,,, bahasanya boiii...!! Kagak nahan gue!* 

Ibaratnya ya udah capek-capek bikin istana-istanaan pasir, eh gampang aja ombak laut datang merusak istana kita itu. *lah ya elo sendiri kenapa bikin istana dari pasir?*

Dan memang mendapatkan kepercayaan orang lain itu susah. Sudah kenal bertahun-tahun pun dengan seseorang belum tentu dia sepenuhnya percaya sama kita. Dia belum mau cerita banyak tentang dirinya ke kita, masih meragukan kita, singkatnya self-disclosure yang dia lakukan ke kita masih sangat sedikit. 

+Penggemar: Eh Kim, kenapa ini dari jujur, kepercayaan, blablabla... tiba-tiba ada self-disclosure? Lo itu mau ngomongin apaan sih?

Ya cuma mau bilang kalau self-disclosure itu terkait erat dengan trust. *kalimat-kalimat pembukanya gak ada hubungannya ya? Bodo ah... Emang gue pikirin? Hakhakhakhak* Timbal balik gitu hubungannya. Saya gak mungkin donk blak-blakan cerita masalah pribadi saya ke orang asing yang baru bertemu pertama kali? Cerita soal kisah cinta saya dengan Mas Rafa, misalnya... *halah* Saya harus tahu dulu si orang asing itu siapa. Namanya, rumahnya dimana, nomer hpnya berapa, emailnya apa, alamat blognya, punya facebook apa gak, nomer PIN ATM-nya berapa *loh? Gak ya? Hehehe...*, ya basa-basi dulu lah ya... Nah, kalau si orang asing itu sudah mau memberi tahu sedikit tentang dia yah sekarang gantian dunk saya harus membuka diri saya ke dia. Saya menceritakan diri saya ke dia. Sedikit aja lah ya. Gak usah banyak-banyak. Gak usah obral curhat sampe nangis bombay segala. Sewajarnya aja. Namanya juga kan baru kenal. Entar kalau kebanyakan terus besok-besoknya tidak ada kelanjutan lagi, rugi dong bo’... Yang ada ntar saya jadi rapuh. Si orang asing itu punya kartu As tentang saya yang kalau dikeluarin bisa bikin saya ehm... minimal malu. :p

Sekarang balik lagi ke masalah kepercayaan tadi. Saya membuka diri saya ke orang lain karena saya percaya dia. Benar kan? Dan karena ada kepercayaan tadi itu saya mau membuka diri saya ke dia. Bingung? Idem. Jadi gini, saya mau mengobrol, berbagi cerita, minat (ini salah satu wujud dari self-disclosure tadi ya) ke A karena saya percaya dia. Dan karena adanya kepercayaan tadi itu, saya mau membagi cerita-cerita saya ke dia. Masih bingung? Haduh, gak tau lagi ah mau ngejelasinnya gimana. Saya memang buruk dalam menjelaskan. Maapkeun... :(

+Penggemar: Kimi... Kimi... Gimana sih caranya biar bisa dipercaya sama orang lain? Biar orang lain mau membuka diri ke kita? 

Haduh, ditanya seperti itu berasa saya jadi pakar aja. Jadi gak enak. Maluuuw... Tapi ya kalau maksa ya gak apa-apa sih. Saya cari jawabannya dulu di buku kuliah saya yah. Percuma kan udah beli eh ngebajak (baca: fotokopi) buku mahal-mahal kalau tidak dimanfaatkan? Benar kan? Benar... 

*ngubek2 lemari kosan*

Nah, ini dia bukunya ketemu... Jadi, kalau menurut si Janasz dkk dalam bukunya Interpersonal Skills in Organization, kita bisa kok mendapatkan kepercayaan orang lain. Caranya antara lain:
1. Menepati janji dan komitmen yang sudah dibuat. Jadi, jangan keseringan banget menjanjikan apa yang sebenarnya tidak bisa kamu tepati. Tapi, kalau sekali-sekali bolehlah. Kali aja sedang dalam keadaan terdesak gitu?
2. Jangan ngebocorin rahasia orang. Nah, tuh... Bagi orang-orang yang suka latah, keceplosan, atau tanpa sadar cerita ke teman-teman gosipnya mengenai rahasia seseorang mbok ya dihilangkan. Pasti gak mau juga dong kalau rahasia kamu dibongkar orang lain?
3. Jangan ikut-ikutan ngegosipin orang. Besok kalau lagi kumpul-kumpul di kantin sambil ngopi, baca koran, ngerokok terus temannya situ mulai buka forum gosip mending nyingkir deh ya. Susah ya? Ember... Ngegosip itu emang seru kok! Tapi yah, harus dikurangi lah. Mau dikenal sebagai tukang gosip atau tukang jujur? Hueheheheh... Eh, tapi kalau mau ngegosip, "Kimi kan mau married sama Rafael Nadal. Gosipnya dia ampe  nyewa pulau gitu loh..." ya gak apa-apa. Sok atuh saya digosipin... *dipentung*
4. Jangan berlebihan memuji diri sendiri. Boleh sih narsis, tapi secukupnya aja. Kaya’ saya tuh ya. Saya sering bilang kalau saya ini manis. Emang pada dasarnya saya manis kok. Tidak bisa dibantah itu... *ditimpuk batu*
5. Bangun reputasi loyalitas. Kesediaan kita untuk selalu stand by kapan pun dibutuhkan orang lain buat cerita misalnya. Gimana orang mau percaya kalau setiap kali dia mau cerita tapi sayanya gak pernah ada untuk dia?
6. Konsisten, bo’... Konsisten! Jangan hari ini menepati janji, terus besok dilanggar janjinya.
7. Realistis kalau bikin janji. Jangan bilang, “Tenang... Nih tugas dari awal ampe akhir gue aja yang ngerjain. Lo semuanya santai aje!” Eh, gak taunya pas hari-H dikumpul bikin bab pendahuluan pun belum. 
8. Bangun reputasi kejujuran. Kalau kata si Janasz dalam bukunya ini, “Say what you mean and mean what you say.”
9. Antara tindakan dengan kata-kata harus konsisten yah... 

Seperti yang saya bilang sebelumnya, membangun karakteristik yang positif itu susah. Gak semudah membalikkan telapak tangan. Kalau ngerusakkinnya mah gampang. Jadi, konsisten aja. Itu yang penting. :)

*tulisan ini dibuat dalam rangka untuk lebih memahami salah satu materi kuliah*

Monday, February 16, 2009

Adelaide Sky - Adhitia Sofyan

Tadi mampir ke blognya Raditya Dika dan baca postingannya yang ini, otomatis saya langsung jatuh cinta sama lagu itu. Dan rasanya saya jadi ingin ikut-ikutan posting tuh lagu. Abisnya bagus lagunyaaa!! Buat Mas Adhitia Sofyan, izin ya lagunya dipajang disini? Mas Adhitia Sofyan menjawab, "Iya, Kimi... Boleh kok..."

Sunday, February 15, 2009

Pasang Internet di Rumah Gak Ya?

Hari Jumat - Minggu itu hari liburnya saya. Hari dimana saya sepuas-puasnya menggunakan internet yang unlimited itu di rumah kakak. Meskipun tugas kuliah menumpuk, sebisa mungkin saya menyempatkan diri untuk bisa pulang ke rumah. Sayang aja bo' internet unlimited yang memaksa saya harus merogoh Rp. 148,500 (bangsat, tagihannya dinaikin!) setiap bulan lantas tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Kalau sudah bayar mahal begitu, wajib hukumnya bagi kita untuk mengeksploitasi jasa yang ditawarkan. Benar begitu?

Meskipun saya sudah mengenal internet dari jamannya saya kelas satu SMP, tetap saja saya masih katro disana-sini. Misalnya saja fasilitas dari YM. Selama ini saya hanya menggunakan YM hanya untuk chatting tok. Padahal kalau saya rajin mengeksplor dari dulu-dulu, mungkin kata webcam atau pc-to-pc call bukan merupakan suatu hal yang asing bagi saya. Mungkin saya sudah banci kem-keman *meminjam termnya Chika* dan nelpon-nelponan dari jaman dahulu kala.

Nah, dua minggu terakhir ini setelah saya meng-install the latest version of YM *cih! sok nginggris*, dengan berprinsip pada "Berdayakanlah semua apa yang bisa diberdayakan" *prinsip yang aneh? Ember* maka saya ubek-ubek lah itu YM. Karena saya tidak mau dibilang dusun, iseng saya telpon teman saya. Eh, nyambung dong bo'...! Gila gak lo? Terus, saya dan teman saya itu ngobrol deh jadinya. Ngobrol gak penting kaya', "Eh Mela, aku bisa dong sekarang nelpon pake YM." Iya, iya,... Saya tahu saya memang dusun... sebelumnya. Tapi, sekarang udah gak lagi dong ya. Tos dulu ah!

Terus, pelajaran berikutnya adalah mengenai webcam. Lagi-lagi bersama Mela, saya mencoba untuk webcam pertama kalinya. Oke, sampai disini mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa selalu Mela? Oh, itu mah jawabannya mudah. Soalnya Mela itu sahabat saya, so kalau saya norak-norak dikit saya gak bakal ngerasa malu dong, bo'... Sama sahabat ini. Huehehehehe...

Alhasil, kemarin malam saya webcam-an lah sama Mela. Emang dasarnya orang dusun ya dusun aja lah ya. Saya pamerin ke Mela coklat Silverqueen strawberry dunk... Dengan polosnya bilang ke dia, "Mela, mela... Aku punya coklaaat... Kamu mau gak?"

Kepolosan saya itu rasanya harus berhenti sampai disini. Tidak usah ditambahkan dengan mengutip omongan saya sewaktu semalam ngobrol dengan Christin, "Eh Chris, pake Skype jernih banget ya? Berasa kamu deket loh..." *sebuah bukti lain kedusunan saya*

Ehem... Ehem... Karena saya sudah pakar begini dalam urusan webcam dan pc-to-pc call *cuih, gaya pisan lo, Kim!*, saya mau merayu ayah saya di kampung ah untuk pasang internet. Maksudnya biar beliau gaul gitu dengan teknologi. Biar gak gaptek. Usia boleh tua, tapi jiwa harus selalu muda dunk? Harus selalu up to date dengan perkembangan teknologi. Benar begitu? Benar... Lagian kan kalau saya kangen tinggal telpon bapak terus bilang, "Papa onlen dunk Skype-nya! Kita webcam-an ya..."

Tapi, ada tapinya nih... Kakak saya yang sekaligus saingan saya itu kurang setuju kalau di rumah dipasang internet. Soalnya nanti salah satu keponakan saya bisa menyalahgunakan internet itu sendiri.

+Penggemar: "Maksudnya apa, Kim?"

Loh ya maksudnya sudah jelas, toh... Kakak saya takut nanti keponakan saya itu buka situs porno karena tidak ada yang mengawasi. Memang sih rumah saya di kampung itu sepi. Bapak saya pergi pagi pulang sore, sedangkan ibu saya lebih suka nonton Indosiar dengan sinetron Indonesia ala India-nya. Takutnya keponakan saya bisa semau-mau ketika mengakses internet. Bukannya tidak percaya dengan keponakan sendiri, tapi apa yang kakak saya bilang ada benarnya juga. Keponakan saya itu akan memasuki masa remaja. Berdasarkan pengalaman pribadi, remaja itu cenderung menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Tahu sendiri kan pengaruh teman-teman itu seberapa besar bagi remaja?

Tapi kalau menurut saya sih tidak ada salahnya di rumah pasang internet. Maksud saya, pasang internet di rumah sendiri tentu jauh lebih baik kan daripada keponakan saya kelayapan gak jelas di warnet-warnet luaran sana? Entar dia cari-cari alasan dengan bilang, "Aku keluar ya mau ke warnet." Terus ngilang berapa jam gak paham deh... Situs-situs apa saja yang dia buka sewaktu di warnet juga gak bakalan bisa ketauan donk? Kecuali dia laporan ke kakeknya dengan bilang, "Ayik, aku tadi buka fotonya Maria Ozawa sama Chika Jakarta Bandung." Bapak saya yang memang pada dasarnya buta internet paling hanya mengangguk-ngangguk saja. Paling banter beliau bilang, "Hoaa... Hebat dong ya kamu sekarang udah bisa internet-an?" Padahal mah dalam hatinya, "Nih bocah ngomong apaan sih?"

Saya jadi teringat waktu saya menyentuh internet untuk yang pertama kalinya. Waktu itu saya kelas satu SMP. Kebetulan di dekat sekolah ada warnet. Namanya juga ABG yang "dipaksa" untuk gaul, maka rajin lah saya nyamperin warnet itu. Rajin banget nyamperin sampe si mas-mas yang jaga warnet hapal dengan wajah saya yang manis ini. Padahal internet waktu itu mahal banget Rp. 6,000/jam! Gila gak lo? Anak SMP kelas 1 ngeluarin duit buat internet yang tarif sejamnya Rp. 6,000!

Waktu itu saya murni belajar internet sendirian. Tidak ada pengawasan dari orang yang lebih tua. Jadi kalau waktu itu teman chatting saya iseng punya niat menculik saya sebenarnya bisa-bisa saja. Tinggal dia mengajak kenalan, rayu-rayu sedikit minta nomer hp, terus ngajakin ketemuan, terus... udah deh! Lah ya habisnya bagaimana, tidak ada yang mengawasi saya donk... Saya chatting sama siapa, saya buka situs apa, orangtua tidak tahu apa-apa. Tapi, Alhamdulillah sih hal seperti itu tidak kejadian sama saya. Jangan sampe deh! Untung juga waktu itu saya tidak buka situs yang macem-macem. Maria Ozawa belum muncul sih ya waktu itu... *halah*

Melihat dari pengalaman pribadi, saya jadi mikir gini, "Iya, kalau keponakan gue itu kaya' gue. Orangnya gak macem-macem. Lurus-lurus aja. Lah, kalau kagak? Tau sendiri pergaulan anak muda jaman sekarang. Bikin ngeri aja." Setidaknya kan kalau internet di pasang rumah, tuh anak jadi gak kelayapan di luar. Terus, setidaknya lagi ada yang mengawasi dia di rumah. Terus, setidaknya lagi kalau saya sedang di rumah saya bisa memberi pengertian ke dia kalau internet itu seperti ini seperti itu... Bahwa internet itu punya dampak negatif, tapi di sisi lain memberikan banyak manfaat ke kita. Ya iyalah bo' manfaat. Donlod lagu-lagu Five for Fighting, Keane, Sarah Mclachlan, etc. Belum lagi dapet ebook gratis (syukur2 bisa dapet buku kuliah). Dan pastinya bisa dapet foto kecengan, bo'... Klik kanan, save-as, print. Ahahahahahaha... Berasa jadi stalker dah gue...

Saturday, February 14, 2009

Hayo ngaku siapa yang disini pada gak tau Facebook! Kebangetan banget deh ya pokoknya kalau sampe gak tau FB (facebook, red.). Kemana aja Mas selama ini? Terlalu sibuk nyari pesugihan kali ya? Haks,, haks,, *dipentung*

Eniwei, saya mau jujur aja deh sama kalian para pembaca. Saya memang sudah lama join disana tapi baru ngerasain betapa pentingnya *tuh, ampe di-bold segala* situs pertemanan satu itu ya belakangan ini. Apalagi setelah teman saya semakin banyak. Ngeliat di "People You May Know" eh ada si ini... yow, langsung saya add as friend. Terus, liat lagi eh ada si itu... ya di add lagi. Kebanyakan ketemu dengan teman-teman SMA. Yang teman-teman SD juga ada. Intinya, kalau hanya untuk sekedar penyambung tali silaturahmi (baca: basa-basi), lewat FB lebih dari cukup kok. Hehehe...

Belakangan ini saya sedang gila-gilanya aktif di FB. Yah, gak gila-gila banget sih... Hanya sebatas rajin nge-wall, kasih comment ke status, foto, atau notes temen-temen, atau meng-update status sendiri dengan lumayan sinting. Singkat kata, saya lagi eksis di FB. Saking eksisnya, saya sudah mulai malas dengan Plurk. Bosen. Capek juga.

+Penggemar : "Capek kenapa, Kim?"

Lah ya, capek... Capek naikin karma. Mau serajin apapun plurking kok ya rasanya susah sekali menaikkan karma. Kaya'nya jalannya lamaaa banget! Dongkolnya, gak ngeplurk sehari aja karma langsung turun seenak jidat. Nyebelin banget gak sih kalo udah gitu? Makanya saya cari mainan baru. Nyasarnya ya di FB itu. Saya tahu semua teman saya disitu dan kenal dekat sebagian *hihihi... yang penting saya TAHU friends saya siapa saja. Tidak hanya asal meng-add atau meng-approve*. Gak ada karma-karmaan. Jadinya ya saya lebih ikhlas saja untuk facebook-ing. :p

Tadi pagi teman saya, Amil, menulis di wall saya:

"Kim.. sumpah yah.. kita banci FB aja.. huahhahaha"

Yah, mungkin Amil menulis seperti itu karena memperhatikan kegiatan saya di FB belakangan ini yang bisa dibilang cukup aktif. Rajin tebar pesona dari wall-to-wall. Rajin komen ke note siapapun yang meng-tag saya. Biasanya, jarang banget dah saya muncul di profil mana pun di akunnya teman-teman saya itu.

Dan saya membalas di wall-nya dia:

Hahahaha... Boleh deh, Mil...

mengutip salah satu kalimat lo (yang kalau tidak salah) yang berbunyi, "Berasa facebook merupakan satu-satunya tempat yang menunjukkan eksistensi gue."

ahahahahahaha...

Duh, kasian banget yah kami berdua? Gak ada tempat lain yang bisa menunjukkan eksistensi kami selain di FB? *meratap* Ah, hell. Whatever lah. 

Nah, karena saya sudah merasa cukup terikat dengan FB, sempat terlintas beberapa kali di benak saya untuk menghapus blog ini dan berkonsentrasi menulis di notes FB saja. Alasannya sekarang saya lebih aktif di FB dan mulai merasa blog ini semakin terbengkalai. Jarang update dan komen-komen yang masuk sedikit sekali yang saya balas. *blah, belagu banget gak sih gue udah yang ngasih komen sedikit trus gak direspon pula?*

Ketika saya menyampaikan niat ini ke Mas Galeshka *tuh Mas, udah pake "mas" yah. Gak pake "om" lagi. Tapi, masih kagok loh...*, eh beliau malah melarang. Katanya sayang kalau blog ini dihapus. Katanya lagi blog ini udah setahun lebih ngejogrog di google reader beliau. Katanya lagi blog ini lucu, nulisnya pake emosi, jujur, jadinya berasa banget emosi di tulisan saya. Katanya lagi... Katanya... Ehm... Opo yo? Katanya... Ng... Entahlah. Saya lupa saking salah tingkahnya dipuji seperti itu. *garuk-garuk kaki yang budukan*

Maka semalam saya pun iseng membaca kembali tulisan-tulisan yang ada di blog ini. Archives tiap bulannya yang saya baca mundur: Januari 2009, Desember 2008, November 2008, dst. Dan setelah saya baca-baca ulang...

Oh, oke...

Ehm... *ngelus-ngelus dagu*

Perasaan biasa-biasa aja deh... Kalau gak mau dibilang konyol, terutama postingan-postingan awal. Lucu aja kaya'nya membaca tulisan sendiri yang belum terarah dan belum jelas gaya bahasanya (sampai sekarang masih sih sebenarnya, tapi setidaknya sudah mendingan lah kalau menurutku). Berasa ingin saya hapus ajah. Tapi, sayang yah? Toh, gak mungkin juga ada orang yang mau ngubek-ngubek arsip lama blog ini atau mau membaca SEMUA tulisan saya dari awal posting sampai sekarang. Kalau pun ada salut deh... Dan sebuah ucapan terima kasih saya sampaikan kepada yang bersangkutan. Kalau mau minta tanda tangan atau foto nanti saja yah kalau kita sempat bertemu di dunia nyata. *dikemplang*

Thursday, February 12, 2009

Setelah Seminggu

Ternyata sudah lebih dari seminggu kuliah di semester baru ini. Baru seminggu sih dari 12 (eh, 12 atau berapa sih?) minggu perkuliahan yang direncanakan. Tapi dari seminggu itu belum apa-apa sariawan saya sudah menumpuk aja *saya kalau stres, sariawan langsung muncul*. Selama seminggu itu, tugas-tugas sudah menggunung aja. Apalagi tugas dari Konstruksi Alat Ukur Psikologis atau biasa disingkat KAUP. Hanya satu kata: BEUH. Pusingnya mah iya, capeknya mah pasti. Luar biasa betul lah pokoknya. Tanya saja teman-teman seangkatan saya kalau tidak percaya. Bodohnya saya, waktu isi IRS kemarin tanpa pikir panjang saya dengan PeDe-nya ambil 24 SKS dengan 9 mata kuliah. Gebleg. Padahal saya sadar betul ada satu mata kuliah terkutuk yang pastinya akan menuntut perhatian dan stamina lebih. Ya, KAUP itu tadi. Gini lah ya sok ngerasa pinter, sok ngerasa punya waktu 25 jam sehari, dan sok-sok yang lainnya deh. Sudah lupa saya dengan semester lalu yang menangis-nangis darah, mengumpat sumpah serapah, dan kemana-mana selalu pasang tampang lecek? Iya, sepertinya saya lupa. Soalnya saya terlalu fokus dengan cita-cita pengen tamat 3,5 tahun (yang ternyata masih berupa spekulasi gara-gara ada satu mata kuliah wajib yang belum lulus) dan juga karena terlalu memaksakan kehendak menyisakan sedikit SKS yang akan diambil di semester yang akan datang. 

Baru seminggu kuliah, atmosfir stres dan “gila” sudah terasa di kampus. Perpustakaan penuh dan sesak *oke, ini agak sedikit didramatisir*, saking penuhnya membuat saya berusaha sebisa mungkin menghindari perpustakaan. Di berbagai sudut kampus terlihat teman-teman seangkatan pada mojok lengkap dengan buku-buku yang bertebaran, laptop yang menyala dengan Facebook sebagai latar belakangnya, dan... oh, jangan lupakan dengan tampang lelah, malas, dan kusut yang menghiasi wajah teman-teman saya itu (termasuk saya). 

Berbagai tingkah laku untuk melupakan stres pun muncul. Ada yang rajin membuat notes tentang KAUP di Facebooknya—berasa cerpen bersambung aja *kedip-kedip ke Amil*, ada yang iseng mengambil foto secara candid waktu kuliah pertama KAUP *lirik ke Silmy*, dan tidak sedikit yang berusaha keras untuk membuat suasana menjadi terasa lebih romantis dengan mengupdate status di Facebook masing-masing seperti “Ayu Kimi Rizkika berusaha mencintai KAUP”, “Ayu Kimi Rizkika is in a relationship with KAUP”, “xxx ngedate dengan KAUP”, “xxx berpacaran dengan KAUP”, “xxx is in an open relationship with KAUP”, yah... kira-kira serupa itulah. 

Kalau kata senior sih dibawa santai aja. Jangan dijadiin beban, Man! Oh, saran yang sangat bagus. Makanya terakhir kumpul kelompok kemarin agar suasana menjadi santai dan tidak tegang bebas dari beban, saya pun nyanyi-nyanyi gak jelas.

“Kusangkakaaaan... panas perpanjangaaaan... Rupanya gerimis, rupanya gerimis, mengundang ha... ha... ha... ”



Eh cuy, yang penting nyanteeee!!!!
“Cie... Kak Kimi... Tahun baru, ajaran baru, penampilan baru ya, Kak?” Itu kata Rahel, adik tingkat saya di kampus dan juga teman satu kos, ketika melihat saya yang baru saja datang dari Lampung minggu lalu. Bukannya dia bantuin mengangkat tas koper saya yang segede gaban itu atau apa gitu yah eh tuh anak malah mengejek saya. Entah lah kenapa dia berkomentar seperti itu. Padahal saya merasa biasa-biasa saja. Apa karena waktu itu saya pake baju baru ya? Mungkin.

Dan besok-besoknya di kampus...:

“Ih, Kimi sekarang beda loooh...”

“Kimi, baju kamu lucu banget sih?”

“Kimi, udah punya pacar ya? Berubah gitu penampilannya.”

“Kimi sekarang lucu yah?”

“Kimi sekarang fashionable.”

Oh, ya ampuuuuuun... Teman-temanku terkasih, kenapa kalian baru sadarnya sekarang kalau saya memang cantik, lucu, dan menarik? Kemana aja kalian selama ini? Makanya jangan terlalu fokus baca buku Anastasi dan Urbina sehingga membuat kalian mengabaikan keadaan sekeliling kalian. Anyway, kalau boleh jujur justru saya merasa sedikit malu dibilang seperti itu... Yah, harap maklum lah kan saya orangnya pemalu... *blush mode ON*

Tapi, diantara komentar yang-membuat-pipi-ini-merah berseliweran seminggu terakhir, yang berada di urutan teratas karena membuat saya sangat tersanjung adalah komentar dari Amul, salah satu teman saya. Jadi ceritanya saya mengucapkan selamat ulang tahun buat dia. Dan para pembaca mau tahu dia bilang apa ke saya?

“Terima kasih, Kimi... Doain aku semoga aku tambah cantik kaya’ Kimi yaaa...?”

Oh, well. Speechless. Saya pun langsung salah tingkah. Bingung gitu bo’ harus bilang apa. Saya pun hanya tersenyum malu gitu... *Ah, Amuuul... Kamu itu cantik kooook...* 

Saturday, February 7, 2009

There are three ways to find the positive relationships you need. The first way is the easiest. You simply wait until someone finds you and wants to be your friend. The second way is harder. You simply ask other people to be your friend. Unfortunately, many of us are afraid to ask. We do not want to risk the rejection, we feel embarrassed, we see asking as a weakness to be ashamed of, or we are too shy. The third way to find a positive relationship is to give your friendship to others. In the long run, this is the surest way to build positive relationships. You get what you give in life. If you want to be friends, be a friend. If you want others to care about you, care about them. If you want others to comfort you, comfort them.
(Daniel W. Johnson, "Reaching Out", p. 17)
Bagi saya, salah satu hal terpenting dalam hidup saya adalah teman dan sahabat. Saya bersyukur saya memiliki teman-teman yang sangat baik. Suatu hal yang sebelumnya sangat jarang saya syukuri. Karena mereka membuat hidup saya jadi lebih berwarna. Karena mereka membuat saya menjadi lebih bahagia. Karena mereka membuat hidup saya jadi lebih bermakna. Karena mereka membuat saya tidak henti-hentinya tersenyum. Karena hal kecil yang mereka lakukan untuk saya membuat saya terharu dan merasa saya adalah orang yang berharga. Hal kecil... sekecil ucapan: Selamat ulang tahun ya, Kimi... dan diikuti dengan berbagai doa mereka untuk saya yang tentu saja langsung saya amini.

Terima kasih untuk semuanya yang sudah ingat ulang tahun saya. Terima kasih ucapannya. Terima kasih doanya. Terima kasih, Teman-teman... Dan terutama sekali terima kasih untuk orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya di tahun ini.

p.s.: Maaf telat, tapi saya mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk mereka semua yang berulang tahun di tanggal 5 Pebruari. Wish you all the best.

Thursday, February 5, 2009

Secret Admirer

Malam ini tiba-tiba saya ingin mendengarkan lagu Secret Admirer-nya Mocca. Sebelumnya bener kan yang nyanyi lagu itu Mocca?



eh, itu nyolong dari youtube yah... jadi harap maklum kalo agak aneh. hihihi,,, 

Alasannya sederhana saja. Bukan karena ada orang yang mengagumi saya secara diam-diam walaupun saya tidak akan menolak jikalau ada orang yang mengagumi saya dari jauh, tapi lebih tepatnya adalah saya yang menjadi si secret admirer tersebut. 

Penggemar: “Emang siapa cowoknya, Kim?”

Seorang pria tampan yang baru saya lihat untuk pertama kali wajahnya satu bulan yang lalu. Dan yah seperti yang kalian sudah tahu bahwa saya ini paling tidak bisa lihat pria tampan, maka sudah bisa ditebak dung saya ngecengin dia. Oh, sangat Kimi sekali bukan? Ahahahaha,,,,,,, Saya emang paling ga bisa liat cowok bening dikit aja langsung deh naksir. Hihihihi... *terkikik malu*

Anyway, namanya juga secret admirer lah ya... Jadinya saya hanya jadi pemuja rahasianya si mas-mas ganteng itu. Mas itu nda usah tahulah kalau ada cewek cantik, pintar, menarik, baik hati, setia kawan, lucu, yang naksir dia. Lagian buat apa juga dia tau? Ga penting juga. Kalau dia tahu yang ada cuma bikin gue malu aja.  

Penggemar: “Lah, si Kimi ini payah. Kalau kaya’ gini terus jomblo aja lo selamanya. Kapan lo mau dapet pacarnya coba kalau lo bisanya cuma ngagumin dari jauh?”

Ehm... ehem... Gini yah,, Saya belum pernah cerita yah kalau saya ini orangnya selalu jauh berpikir ke depan? Saking jauhnya sampe beda-beda tipis sama paranoid. Selalu mikirin kemungkinan terburuk. Kalau bahasa Mas Leonardo DiCaprio sih worst case scenario. Mending yah kalau udah mikir hal-hal buruknya saya melakukan sesuatu untuk mencegah atau gimana gitu, lah ini saking takutnya saya malah diem aja. Terlalu terinspirasi sama wejangannya Om Detektif Horatio Caine di CSI: Miami, “Sometimes the best thing you do is to do nothing.” 

Nah bo’, saya sih mikirnya saya bakal sakit hati si Mas-mas ganteng itu gak bakal ngelirik saya barang sedikitpun, atau gak itu si Mas-mas ganteng itu udah punya pacar/tunangan/bini, atau gak itu si Mas-mas ganteng itu antara biseksual atau homoseksual, atau gak itu... si Mas-mas ganteng itu tukang mabok, tukang judi, tukang main perempuan, blablabla. 

See? Jadi jangan harap saya mau minta nomer hp dia duluan atau nyari informasi tentang dia ke teman-teman dia atau siapa gitu kek yang kenal dia. Selain masalah harga diri adalah segalanya, juga soal worst case scenario tadi itu. Jadinya ya lebih baik bagi saya mengenal dia secukupnya saja tanpa perlu merusak penilaian saya mengenai dia sebelumnya. Paham maksud saya? Maksudnya gini, di benak saya menganggap dia adalah orang yang tampan, menarik, pintar, baik, ramah, blablabla... Nah, saya gak mau idea tentang dia yang bagus-bagus itu dirusak oleh satu kenyataan yang saya tidak suka. Paham kan sekarang? Paham dong ya... Kan rajin minum susu semua ya? *apa hubungannya coba?*

Tapi, saya sih tetap ada rasa penasaran sedikit ke dia. Gak banyak kok. Jadi untuk mencari tahu mengenai si Mas-mas ganteng itu saya sih merasa cukup aja nanya ke Mbah Google. Trus, klik kanan dan save-as fotonya dia 2 biji (dan mungkin masih akan terus bertambah kalau dia mengupload foto-foto baru dan di fotonya itu dia keliatan tampan). Trus, ngeprint fotonya pake printer saya yang kemarin baru dibeli (halah, pameeeerrr). Trus, fotonya dipajang deh di meja belajar saya. Itung-itung buat nambah semangat belajar di tengah gempuran 24 sks dan 9 mata kuliah. Eh, atau fotonya saya jadiin wallpaper aja yah di komputer saya? Ah, jangaaaaan... Nanti ketauan sama Mbakku... Bisa mati karena malu saya nanti. 

Ahahahaha,,, nasiiiib... nasiiib... Nasib jadi The Secret Admirer abadi kaya’ gini nih. *menunjuk diri sendiri*

*p.s.: tulisan ini dibuat tanggal 3 Pebruari 2009 lalu tapi baru diposting sekarang..

Metal

*menulis entry ini sambil ditemani lagu-lagunya Mas Jason Mraz*

Meminjam istilahnya Ical, saat ini saya sedang metal alias mellow total. Saat ini maksudnya itu ketika saya sedang menulis entry ini. Saat ini suasana hati sedang hati tidak keruan. Saat ini saya sedang berusaha dengan keras untuk tidak menitikkan air mata. Lagi. Untuk dia. Not now. Not ever.

Entah karena saya memang terlalu perasa jadi orang, atau terlalu emosional, atau terlalu sensitif, atau... entahlah. Setiap kali mood saya sedang buruk, hal—dalam hal ini lebih tepatnya adalah orang—yang selalu saya ingat adalah dia. Bawaannya selalu ingin menangis.

Benci. Saya benci jadi orang cengeng. Saya benci jadi orang yang sangat mudahnya menangis. Benci, benci, benci.

Pernah waktu itu saya menangis parah hampir satu jam dengan teman saya yang dengan setianya mau mendengar kecengengan saya di ujung telpon sana. Gila kan nangis di telpon sampe hampir satu jam? Lebih gila lagi saya cuek (atau udah lupa?) bahwa tarif Halo itu gila-gilaan. Yang membuat tabungan saya kian menipis di akhir bulan. Semua itu hanya gara-gara satu kalimat yang keluar dari si dia. “Tunggu bentar yah, gue bales sms cewek gue dulu.”

Damn. Saat itu juga, detik itu juga, saya langsung sadar bahwa ternyata saya masih sangat menyayangi dia. Saya pikir saya sudah mulai bisa menghilangkan perasaan itu. Minimal melupakannya. And I was wrong. Definitely wrong. Totally.

Maka menangislah saya sejadi-jadinya dengan teman saya itu. Menangis sambil mengutuk mengapa saya belum juga bisa melupakan dia? Menangis sambil bertanya-tanya kenapa saya masih menyayangi dia dengan sangat? Menangis dengan tembok kesombongan yang runtuh bilang ke teman saya, “Gue pikir gue udah bisa ngelupain dia. Gue pikir gue udah mengubur dia dalam-dalam. That is why I called him. Sengaja gue menghilang dari dia. Sengaja gue gak mau ketemu dia meski dia selalu ngajakin gue untuk ketemu. Karena gue ingin menghapus perasaan gue ke dia. Gue takut kalau gue ketemu dia atau gue masih ada kontak ma dia, rasa itu akan semakin susah dihilangkan. And it damn hurts. Lo tau kan maksud gue?”

“Di saat gue pikir gue udah melupakan dia, maka gue pun memberanikan diri menelpon dia. Gue kira perasaan gue ke dia seperti perasaan gue ke elo, murni sahabat. Dengan sombongnya gue berkata ke diri gue sendiri bahwa gue berhasil. Gue berhasil ngelupain dia. Gue gak punya rasa apa-apa lagi ke dia. Ternyata gue salah. Salah besar. Gue masih sayang dia. Teramat sayang malah.

“So, elo pikir selama ini tanpa gue sadari yang gue butuhkan adalah sebuah relationship yang sama persis yang pernah gue punya dengan si dia? Elo pikir sebenarnya yang gue butuhkan adalah orang lain untuk menggantikan posisi dia? Untuk mengisi posisi yang kosong di hati gue yang ditinggalkan dia? Bukan si Bali, bukan si senior, bukan si pria yang sudah berkeluarga, bukan si ini, bukan si itu, bukan pacar, tapi yang gue butuhkan adalah hubungan yang sama persis dengan yang pernah gue punya dengan dia? Dengan kata lain lo pengen bilang bahwa gue butuh pelarian?

“Sayangnya... sayangnya... sayangnya... Arrgggh,,, I am too much in love with him. Sial.”

Ok, Mr. Time. Please heal my wounded heart with your indefinite power. Not later, please... or soon. But, NOW.

*p.s.: ini tulisan seminggu yang lalu yang baru diposting sekarang