Saturday, April 25, 2009

Thanks To Doroymon

--saya masih hiatus--

Sore tadi setelah kuliah wajib bagi mahasiswa yang mengambil peminatan Psikologi Sosial, yaitu Proses Kelompok, saya berseloroh ke Kiki. “Ki, aku mau luntang-lantung gak jelas ah.” Kiki hanya tersenyum. Dia tahu persis alasan mengapa saya sore itu berniat luntang-lantung ke sana ke mari tidak jelas. Saya pun tahu persis tujuan luntang-lantung saya itu mau kemana.

Pertama, pulang ke kosan terlebih dahulu. Biarpun pikiran dan hati sedang ngaco, badan harus tetap bersih dan wangi. Biarpun hati patah menjadi ribuan keping, wajah harus tetap terlihat cantik dan menarik. Singkat kata, saya mandi sore dulu lah. Bersihin badan ya, jeee... Biar bersih, wangi, gak daki-an, dan penggemar saya pun semakin banyak. :D Baru setelah magrib, saya bermalam sabtu-an. Sendirian saja.

Kedua, mulai bermalam sabtu-an. Saya melangkah keluar dari pagar kosan dengan suasana hati yang tidak begitu baik. Masih buruk sisa-sisa tadi dari kampus. Tapi saya sudah meyakinkan diri saya bahwa saya tidak boleh begini terus. Saya harus tetap semangat! Tetap tersenyum, tertawa, dan lupakanlah kesedihan. Dan salah satu yang bisa menghibur saya adalah toko buku. Maka saya pun ke Gramedia Depok.

Niatnya sih hanya ingin melihat-lihat, tapi apa lacur saya keluar dari Gramedia dengan empat buku di tangan saya. Habis sudah uang bulanan saya yang baru dikirim. Tapi hey, selalu ada justifikasi untuk segala sesuatu kan? Saya ini sedang tidak baik mood-nya. Bete melulu. Kalau mau sembuh ya buang uang, entah itu ke baju, buku, atau ke yang lainnya. Pokoknya belanja. (Lumayan) sembuh sih memang, tapi nanti di pertengahan bulan depan bakalan gigit jari dah gue.

Next pit stop adalah Oh La La yang di Margo City. Lagi, saya buang uang disini. Ronde pertama saya pesan kopi. Setelah pesan, saya mencari tempat duduk yang pewe’, tempat duduk yang masih dalam jarak pandang saya untuk melihat performance mereka-mereka yang bermain di Margo Friday Jazz malam ini.

Setelah menemukan tempat yang pas, saya menaruh tas dan kemudian membuka plastik yang membungkus salah satu buku dari empat yang baru saja saya beli tadi. Maka, mulailah malam ini saya menikmati kesendirian saya di Oh La La Margo City, ditemani secangkir kopi, sambil membaca buku Roy yang terbaru berjudul “Doroymon: A Wonderful Masa Jadul” (sori Roy, baru beli sekarang!), dan (tetep) plurking.



Halaman demi halaman saya baca. Anjrit. Ini buku yah... Bisa membuat mood saya berubah drastis! Saya tertawa ngakak. Minum kopi dulu. Kemudian, tertawa lagi. Pesan nasi goreng dan moca coffee (0r whatever nama tuh kopi) dulu. Kemudian, lanjut lagi tertawanya.

Halaman demi halaman berikutnya saya lanjutkan membacanya. Saya masih tertawa. Sendirian. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang di Oh La La yang semakin malam semakin ramai itu. Saya juga tidak mau ambil pusing dengan orang-orang itu, dengan keramaian itu. Saya masih sibuk dengan “Doroymon” di tangan saya. Yang tidak bisa saya tutup bukunya sebelum saya membacanya sampai halaman terakhir. Yang di tengah-tengahnya membuat saya seperti naik roller coaster. Terkadang saya terkikik geli, senyum dikulum, atau tertawa lepas. Terkadang pula saya meringis, terharu, bahkan nyaris menangis di depan ramai orang. Sendirian.

Ya, saya memang sendirian malam ini di Oh La La yang ramai. Sendirian di sekumpulan orang-orang yang menonton Margo Friday Jazz. Tapi, saya sendirian secara fisik. Secara emosi, saya tidak sendiri. Membaca buku Roy, saya seperti menjadi mahasiswi teknik industri UI angkatan 2003. Saya merasakan kehangatan, kegokilan, kebahagiaan,... Saya merasa dekat dengan orang-orang yang tidak saya kenal itu.

Berlebihan ya saya? Emang... Demi kepentingan tulisan. *digeplak orang sekampung*

Dan tiba-tiba... saya rindu dengan teman-teman seangkatan saya. Teman-teman yang tidak semuanya saya kenal dekat, bahkan masih ada beberapa diantaranya saya belum hafal namanya *pentung diri sendiri*. Teman-teman yang saya kenal dengan cukup dekat. Teman-teman yang menjadi peer group saya. Ah, saya rindu mereka semua.

Dan tiba-tiba... saya menyesal. Ya, saya menyesal karena saya sudah membuang tiga tahun terakhir dengan sia-sia. Saya terlalu asik dengan dunia sendiri selama 2,5 tahun terakhir dan baru 0,5 tahun sisanya saya baru mau keluar dari zona aman saya untuk lebih berbaur dengan yang lain. Saya kehilangan banyak hal di masa kuliah ini. Banyak sekali.

Dan tiba-tiba... saya menjadi bersemangat. Saya bersemangat karena saya ingin lebih mengenal teman-teman saya. Saya ingin memperdalam rasa keterikatan saya dengan Psikologi UI angkatan 2006. Masih ada setahun lagi kan untuk menebus dosa-dosa saya?

Dan untuk itu saya harus berterima kasih kepada Roy Saputra. Terima kasih sudah membuat buku sebagus ini. Terima kasih sudah membuat saya tertawa bahagia dan melupakan kebetean saya. Terima kasih sudah membuat saya tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang (mungkin) menganggap saya gila karena saya tertawa sendirian. Terima kasih sudah membuat saya keluar dari Oh La La dengan senyum yang terus mengembang di wajah saya. Terima kasih sudah membuat saya semakin menyadari bahwa persahabatan itu luar biasa indah. Terutama sekali, terima kasih sudah membuat saya berpikir bijak malam ini:

Hati boleh patah dan hancur, tapi tidak dengan persahabatan.

*hakhakhakhkahka... gaya banget gue? pentung diri sendiri dulu ah **pentung2** *

Terima kasih untuk itu, Roy. Sukses selalu untuk elo yaaa... Ditunggu buku-buku berikutnya. :)

Depok, 24 April 2009

p.s.: gambar dicomot semena-mena dari pesbuknya Roy. *langsung ngumpet takut ditimpuk*

p.s. lagi : dan hiatus pun berlanjut...

Monday, April 20, 2009

Sedang Berkontemplasi

Saya lega sekarang. Saya sudah tahu dan saya pun berhenti bertanya-tanya.

Saya tidak mau munafik, terasa sakit memang tapi saya sedang berusaha untuk sembuh. Dan saya pun tahu untuk sembuh total itu tidak mudah dan memerlukan waktu (entah berapa lama).

Saya akan mencoba meresapi sakit ini, mencari maknanya, menilai pengalamannya, dan mendewasakan diri karenanya. Ya, saya tahu perjalanan ke sana cukup panjang. But hey, I won't give up! Not now. Not ever. Seperti yang Mba Medina bilang, "We're born to be a fighter and we're proud of it." So, I keep saying to myself that I am a fighter and I'm gonna win this fight. :)

Dan karena ini adalah pertarungan saya, maka saya akan berjuang sendiri. Dimulai dari merancang strategi pertarungan, mengimplementasikannya, hingga menikmati kemenangannya. :)

Untuk itu saya ingin (bahasa kerennya) berkontemplasi sejenak. Entah sampai kapan.

Permisi.

Sunday, April 19, 2009

Demi Harga Diri?

Sekarang saya sedang berada di J.Co Margo City Depok. Sendirian. Ditemani dengan hot coffee latte dan sepotong donat. Rp 24000. Demi mengejar wifi. Lebih tepatnya sih mencoba wifi J.Co. Sebelumnya saya tidak pernah ber-wifi ria selain di kampus. Soalnya, di kampus kan gratis. ;)

Penggemar: Lah, Kim. Mahal amat 24rebu? Kalau di warnet bisa enam jam tuh. Kenapa gak di kampus aja kan gratis?

As I told you, saya ingin mencoba wifi-nya J.Co. Selain itu, saya juga sedang ingin ganti suasana. Bosan rasanya kalau harus menghabiskan sisa weekend hanya di kamar kosan. Lebih baik saya ke Margo City, lebih tepatnya di J.Co-nya, nangkring disini entah untuk berapa jam. Di sekeliling juga rasanya lebih ramai. “White Flag”-nya Dido sayup-sayup terdengar, berbagai suara anak kecil ada yang menangis, teriak, tertawa. Orang-orang berlalu-lalang. Pokoknya ramai. Dan saya sedang senang berada di tengah suasana keramaian namun sendirian. Tidak peduli dengan keramaian itu sendiri, namun saya mencari keramaian itu. Ramai. Sendiri. Sendiri. Ramai. Ah, peduli setan. Pastinya saya sekarang sedang menikmati suasana ini.

Atau anggap sajalah sedang menghibur diri sendiri dan mempercepat proses penyembuhan. Saya kan belum sembuh betul. Dari kosan ke Margo City sini aja saya masih keliyeng2 (eh, bahasa apa sih keliyeng2 itu?). Memaksakan diri ya? Sok kuat ya saya? Emang. Padahal saya sudah istirahat empat hari di Lampung, tapi kok belum sembuh total? *thinking*

Btw, saya terkadang merasa saya sering sekali menipu diri sendiri. Contohnya ya tadi itu. Suka merasa sok kuat, padahal mah lembek. Sok kuat, padahal mah dari kecil penyakitan. Sok kuat, padahal mah dari lahir bawaannya emang cengeng. 

Heran juga kenapa. Apa karena saya ingin dilihat orang lain sebagai sosok yang kuat, tidak mudah sakit, dan tidak cengeng? Mungkin saja. Kaya’nya hebat aja gitu kalo dinilai sama orang, “Huiii... Kimi teh jagoan. Hebat pisan, euy. Gak penyakitan. Gak cengeng.” Lah ya sekarang siapa sih yang mau dinilai lemah sama orang lain? Pasti gak ada yang mau kan?

Seperti sekarang misalnya. Sebenarnya saya ini sedang sedih. Mau nangis. Tadi pagi pas pamit balik ke Depok sama orangtua kok rasanya ada yang ganjel. Biasanya mereka ikut mengantarkan saya ke bandara, tapi berhubung Bapak sedang sakit jadinya ya hanya diantar supir. 

Dan saya jadi sedih... Ada yang beda aja rasanya. Tapi, saya tidak mau menunjukkan itu di depan orang lain, bahkan di depan orangtua sendiri. Karena saya tidak mau dianggap lemah. 

Sebenarnya tidak masalah orangtua tidak ikut mengantar saya ke bandara. Yang membuat saya sedih adalah ketika saya akan pulang ke Depok siang tadi, paginya Bapak merintih kesakitan. Telapak kakinya bengkak, warna telapak kakinya merah kehitaman gitu. Seperti memar. Dan beliau mengeluh sakit kalau berjalan. Beliau tidak menangis memang, tapi saya tahu beliau kesakitan. 

Saya pun berpikir mungkin ini pengaruh dari kemoterapi yang sedang beliau jalani. 

“Masih ada enam kali lagi kemo-nya, Yu, sampai bulan September nanti,” ucap Ayah saya tadi disaat saya sedang mengolesi telapak kakinya dengan lotion.

Saya hanya bisa menjerit dalam hati. Tuhan... Melihat beliau sekarang saja saya sudah tidak kuat, dan beliau masih harus menjalani... enam kali kemoterapi lagi? Sungguh, saya tidak mampu membayangkannya. Melihat beliau sekarang saja saya tidak kuat. Beliau berjuang sendirian melawan rasa sakitnya. Sedangkan saya hanya bisa melihat beliau merintih menahan sakit. Hanya melihatnya pun menularkan rasa sakit itu ke saya. Hati saya perih. Sakit sekali. Saya ingin menangis, tapi tidak bisa. Tidak di depan Bapak saya.

...
...
...

Saya tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membantu beliau mengurangi rasa sakitnya. Seandainya saja rasa sakitnya bisa dipindah ke saya, maka dengan senang hati saya akan menerimanya. Apa saja akan saya lakukan supaya Bapak saya tidak merasa sakit. Karena saya tahu beliau akan melakukan hal serupa jika melihat saya sedang sakit. 

Seperti Rabu malam lalu waktu saya sakit. Saya dijemput kakak saya dari RS Bunda Depok dan pulang ke rumah di Duren Sawit. Saat itu Bapak dan Ibu saya sedang di rumah kakak saya. Ketika saya baru saja masuk ke dalam rumah, Bapak saya ternyata belum tidur. Beliau keluar dari kamar, menatap saya dengan cemas. Saya tahu tatapan mata Beliau ingin bertanya, “Kamu tidak kenapa-kenapa kan, Nak? Kamu harus jaga kesehatan. Sudah, istirahat sana. Jangan kecapekan lagi. Jangan sampai pingsan lagi.” Padahal Bapak saya itu baru keluar dari rumah sakit. Baru selesai dikemoterapi. Baru sembuh dari demam berdarah. Harusnya beliau tidur saja. Banyak-banyak istirahat. Bukannya menunggu saya pulang dari Depok hingga larut malam.

Melihat saya yang sedang sakit, saya pun dipaksa ikut pulang ke Lampung. Saya disuruh istirahat total. Padahal yang seharusnya istirahat total itu Bapak saya, bukan saya. 

Ah, Papa... Masih sempat-sempatnya mencemaskan saya. Masih sempat-sempatnya mengurus saya. Padahal sewaktu beliau di rumah sakit kemarin, saya tidak sempat menginap di rumah sakit karena kuliah saya yang sedang brengsek dengan tugas-tugasnya itu.

Saya jadi merasa tidak berguna sebagai anak. 

Dan tadi pagi tante saya menangis melihat Bapak saya. Kakak saya menangis. Saya? Hanya diam. Sama halnya waktu ayah saya akan dioperasi bulan lalu. Hampir keluarga inti saya menangis semua. Saya? Hanya terdiam melihat mereka menangis. 

Saya pun bertanya pada diri saya sendiri, sebegitu tinggi kah harga diri saya sehingga saya tidak mau menangis di depan umum? Hanya karena saya tidak mau dibilang lemah, menangis untuk orangtua sendiri pun saya tidak mampu? Sudah mati rasakah saya? Begitu sakaunyakah saya ingin diakui sebagai orang yang kuat?

Wednesday, April 8, 2009

Sebenarnya beberapa hari terakhir mood saya tidak begitu baik. Mulai dari urusan remeh temeh hingga urusan kelompok kuliah yang menyebalkan. Karena saya orangnya tidak bisa terang-terangan bilang kalau saya lagi kesel (iya, saya orangnya lebih memilih buat memendam perasaan. Entah itu marah, kesal, atau apa), jadinya saya sakit sendiri. Sebel sendiri. Efeknya muka saya selalu terlihat kusut. Gak ada cakep-cakepnya. Padahal aslinya saya ini orangnya manis sekali. Semut pun sampai jatuh hati sama saya. *halah*

Saya yang biasanya kalau hujan-hujanan gak bakal sakit, lha tadi pagi ngerasa sakit kepala setelah kemarin pulang ke kosan hujan-hujanan. Lantas saya mikir mungkin ini efek dari mood saya yang lagi jelek. Semua penyakit kumpul jadi satu. Saya bilang ke teman saya, "Sakit komplikasi gue."

Tapi, sekarang saya merasa lebih baik. Seketika beban terasa lebih ringan. Bahkan, di tengah perjalanan dari kosan ke kampus, saya senyum-senyum sendiri.

Penggemar: Loh, ada apa, Kim?

Ng, anu... Soalnya tadi ketika saya keluar dari kosan, Mas Mumu (yang jaga kosan, red.) menyerahkan paket untuk saya. Saya pun sudah bisa menebak ini pasti bukunya Bang Arif. Saya memang pesan ke Bang Arif bukunya yang berjudul "Cilincing Brotherhood". *Bang, bayarnya gimana nih?*

Seketika bete saya langsung hilang. Ah, terima kasih, Bang Arif. :)

p.s.: cerita soal bukunya ntar aja deh ya. Saya sekarang mau kuliah dulu dan menyiapkan power point buat presentasi nanti siang. Yeah, hidup prokrastinasi!!!