Friday, May 29, 2009
Donna Donna
Saya sedang tergila-gila dengan lagu ini. Dan menurut saya versi Mba Sita ini yang paling bagus. Soalnya, saya belum mendengar semua versi lagu "Donna Donna" sih yaaa...
Btw, dari klipnya saya paling suka di bagian waktu Mba Sita yang sedang nyanyi melihat Mas Nicolas Saputra sambil senyum (menit 1:15). Duh, kok yaaaa bagus sekaliiiiii rasanyaaaa... (blush)
Jadi pengen deh main gitar trus menyanyikan lagu ini, kemudian diliat sama Mas Nico. Persis banget sama klip di atas, cuma beda orang. Mba Sita-nya diganti sama saya. Hakahkahakhakhakhak... (lmao)
Cuma masalahnya saya kan nda bisa main gitar. Saya bisanya main futsal. Apa settingnya kita ubah aja ya? Ceritanya di sebuah lapangan futsal, saya sedang main trus Mas Nicolas kucluk-kucluk dateng ngeliatin saya main. :D
Dijamin, pasti saya mainnya bakal sangat bagus. Ho, ho, ho...
p.s.: meskipun Mas Nico gak pernah ngeliat saya main, setidaknya ada yang sering dateng ngeliat saya main deh. Hihihihihihihi... (blush) Eh, membuat GR diri sendiri gak dosa, tho?
Waktu Memang Kejam
Tugas yang membuat saya tidak tidur semalaman kemarin itu sudah selesai. Dengan dikumpulnya tugas tersebut secara resmi semester enam pun berakhir. Saya pun senang. Hati girang bukan kepalang. Menyambut liburan mendatang. :D
Eh, saya baru inget. Saya liburnya nda lama ding. Hanya seminggu. Soalnya saya ambil SP. Mengulang satu mata kuliah. Menyebalkan! *keluar tanduk setan*
Tapi, untuk sementara ya nikmati saja liburan yang hanya sebentar ini. Dan mencoba untuk memanfaatkan waktu luang dengan sebaik-baiknya.
Ngomongin soal waktu yah, saya jadi ingin refleksi terkait satu semester yang baru saja saya lalui.
Saya merasakan kok ya prokrastinasi saya semakin akut. Setiap tugas yang diberikan dosen pasti saya mengerjakannya pas menjelang deadline pengumpulan. Selalu menunda-nunda. Padahal mah niat dalam hati tidak mau begitu. Beneran deh. Contohnya ya, pas masih siang dan sedang di kampus, niat saya, "Ntar gue mau kerjain tugasnya jam 7 malem aja." Pas udah jam 7, "Nti aja ah ngerjainnya jam 2 pagi aja. Sekarang gue mau tidur dulu." Terus, pas jam 2, masih asik mimpi. :D
Polanya selalu begitu. Niat, menunda, niat lagi, menunda lagi, sampai akhirnya saya teringat bahwa deadline tugas satu hari lagi. Kalau sudah begitu, sambil mengerjakan tugas dengan terkantuk-kantuk juga mengutuk, dalam hati saya menyesal. Iya, menyesal. Menyesalnya karena kemarin-kemarin itu saya kemana saja, dimana aja, dengan siapa, berbuat apa, *backsound lagu Kangen Band*.
Parahnya, saya hanya menyesal saat itu saja. Besoknya dengan tugas yang berbeda kejadiannya ya begitu lagi. Gak kapok-kapok. Alasannya, "Tugasnya masih lama kan dikumpulnya? Tenaaaang... masih ada hari esok."
Masih ada hari esok. Hal yang saya katakan juga kepada Mas Cristiano Ronaldo yang tertunduk lesu sewaktu MU kalah dari Barcelona kemarin dini hari, namun saya modifikasi sedikit. Saya bilang, "Masih ada tahun esok kok, Mas..."
Oke, itu hanya intermezzo. Tidak ada sangkut pautnya dengan tulisan kali ini. :D *ditimpuk batu*
Lanjut lagi.
Jadi, dengan dalih "masih ada hari esok" membuat saya lengah. Lebih tepatnya membuat saya tidak menghargai waktu. Seenaknya saja saya membuang waktu percuma, yang kemudian hal itu berujung pada penyesalan. "Kenapa gue gak ngerjain dari kemaren2 ya?" atau "Duh, coba deh ya gue bisa ngulang waktu. Gue pengen balikin waktu ke kemaren. Biar kemaren gue ngerjain tugasnya, trus sekarang gue bisa santai." atau beragam bentuk ungkapan penyesalan yang lain mewarnai hari-hari saya di satu semester kemarin.
Terkadang, di saat saya sedang sendiri di kamar atau sedang di metro mini sambil menatap ke luar kaca metro mini, saya sering berbicara dengan diri sendiri. Tentunya bicara dalam hati. Tidak berkoar-koar. Nanti saya dikira orang gila lagi ngomong sendirian. :D
Saya sering bilang ke diri saya sendiri:
Iya, saya tahu waktu memang kejam.
Eh, saya baru inget. Saya liburnya nda lama ding. Hanya seminggu. Soalnya saya ambil SP. Mengulang satu mata kuliah. Menyebalkan! *keluar tanduk setan*
Tapi, untuk sementara ya nikmati saja liburan yang hanya sebentar ini. Dan mencoba untuk memanfaatkan waktu luang dengan sebaik-baiknya.
Ngomongin soal waktu yah, saya jadi ingin refleksi terkait satu semester yang baru saja saya lalui.
Saya merasakan kok ya prokrastinasi saya semakin akut. Setiap tugas yang diberikan dosen pasti saya mengerjakannya pas menjelang deadline pengumpulan. Selalu menunda-nunda. Padahal mah niat dalam hati tidak mau begitu. Beneran deh. Contohnya ya, pas masih siang dan sedang di kampus, niat saya, "Ntar gue mau kerjain tugasnya jam 7 malem aja." Pas udah jam 7, "Nti aja ah ngerjainnya jam 2 pagi aja. Sekarang gue mau tidur dulu." Terus, pas jam 2, masih asik mimpi. :D
Polanya selalu begitu. Niat, menunda, niat lagi, menunda lagi, sampai akhirnya saya teringat bahwa deadline tugas satu hari lagi. Kalau sudah begitu, sambil mengerjakan tugas dengan terkantuk-kantuk juga mengutuk, dalam hati saya menyesal. Iya, menyesal. Menyesalnya karena kemarin-kemarin itu saya kemana saja, dimana aja, dengan siapa, berbuat apa, *backsound lagu Kangen Band*.
Parahnya, saya hanya menyesal saat itu saja. Besoknya dengan tugas yang berbeda kejadiannya ya begitu lagi. Gak kapok-kapok. Alasannya, "Tugasnya masih lama kan dikumpulnya? Tenaaaang... masih ada hari esok."
Masih ada hari esok. Hal yang saya katakan juga kepada Mas Cristiano Ronaldo yang tertunduk lesu sewaktu MU kalah dari Barcelona kemarin dini hari, namun saya modifikasi sedikit. Saya bilang, "Masih ada tahun esok kok, Mas..."
Oke, itu hanya intermezzo. Tidak ada sangkut pautnya dengan tulisan kali ini. :D *ditimpuk batu*
Lanjut lagi.
Jadi, dengan dalih "masih ada hari esok" membuat saya lengah. Lebih tepatnya membuat saya tidak menghargai waktu. Seenaknya saja saya membuang waktu percuma, yang kemudian hal itu berujung pada penyesalan. "Kenapa gue gak ngerjain dari kemaren2 ya?" atau "Duh, coba deh ya gue bisa ngulang waktu. Gue pengen balikin waktu ke kemaren. Biar kemaren gue ngerjain tugasnya, trus sekarang gue bisa santai." atau beragam bentuk ungkapan penyesalan yang lain mewarnai hari-hari saya di satu semester kemarin.
Terkadang, di saat saya sedang sendiri di kamar atau sedang di metro mini sambil menatap ke luar kaca metro mini, saya sering berbicara dengan diri sendiri. Tentunya bicara dalam hati. Tidak berkoar-koar. Nanti saya dikira orang gila lagi ngomong sendirian. :D
Saya sering bilang ke diri saya sendiri:
"Usia sudah begini tua gue sudah ngapain aja ya? Kok kaya'nya idup cuma gini-gini aja? Lempeng banget. Gak berkesan banget. Kuliah juga gitu. Cuma berpusat di kegiatan masuk kelas, nongkrong di kantin fakultas tetangga, ngerjain tugas, dan latihan futsal. Paling mentok nyaingin satpam fakultas deh, which is di kampus sampe malem. Entah ngapain.
Udah dapet apa aja gue selama kuliah? IP yang pas-pasan? Nilai di atas kertas ujian? Ilmu? Atau apa? Kok rasanya gue ngelewatin banyak hal ya pas kuliah? Kaya'nya waktu cepat banget berjalan. Perasaan baru kemarin deh gue bangun subuh-subuh dateng ke kampus buat ikutan ospek. Trus diomelin gara-gara gue gak bawa tugas esai. Eh, tau-tau semester depan gue udah masuk tahun keempat aja. Sungguh tidak terasa.
Kemarin waktu masih semester-semester awal, gue masih ongkang-ongkang kaki. Santai aja bawaannya. Sekarang? Gue harus mulai mikirin topik skripsi. Sigh.
Kenapa gak dari kemarin-kemarin ya gue rajin belajarnya? Rajin baca bukunya? Kenapa gak dari dulu-dulu gue napsunya buat nambah ilmu? Kenapa? Duh."
Iya, saya tahu waktu memang kejam.
Wednesday, May 27, 2009
*live blogging edition*
Hampir pukul dua pagi. Tugas tidak mengalami perkembangan sejak tadi sore, masih dua paragraf saja.
Sungguh, saya sudah malas mampus mengerjakan tugas terakhir di semester ini. Ingin bayar orang saja rasanya untuk menyelesaikan tugas tersebut. Bayaran yang berupa mentraktir dia makan di warteg depan kosan saya. :D
Deadline tiga belas jam lagi. *mabok*
Akhirnya saya memutuskan untuk tidak tidur malam ini.
Baiklah, mari kita putar lagu:
Sekarang, kita tunggu saja akhir cerita tugas ini bagaimana. :D
p.s.: Tidak hanya menunggu, tapi juga jangan lupakan berdoa!
Hampir pukul dua pagi. Tugas tidak mengalami perkembangan sejak tadi sore, masih dua paragraf saja.
Sungguh, saya sudah malas mampus mengerjakan tugas terakhir di semester ini. Ingin bayar orang saja rasanya untuk menyelesaikan tugas tersebut. Bayaran yang berupa mentraktir dia makan di warteg depan kosan saya. :D
Deadline tiga belas jam lagi. *mabok*
Akhirnya saya memutuskan untuk tidak tidur malam ini.
Baiklah, mari kita putar lagu:
- Satu Bintang di Langit Kelam - RSD
- Donna Donna - (OST. Gie)
- OST. Gie (gak tau judulnya. Pokoknya yang Eros feat Octa)
- Cahaya Bulan (OST. Gie)
Sekarang, kita tunggu saja akhir cerita tugas ini bagaimana. :D
p.s.: Tidak hanya menunggu, tapi juga jangan lupakan berdoa!
Tuesday, May 26, 2009
Di suatu tempat... Di suatu hari...
A: Kamu sudah mikir ke depannya belum? Gimana nantinya kalau kamu dengan dia? Bagaimana kalau misalnya dia tidak diakui lagi oleh keluarganya?
B: Aku sih lebih memilih aku yang tidak diakui oleh keluargaku dibandingkan dia tidak diakui oleh keluarganya. Aku pilih aku yang dibuang daripada dia yang harus dibuang keluarganya. Tapi tentu saja kalau dia layak diperjuangkan loh yaaaa... Kalau gak ya, ngapain?
A: Then, he is a lucky guy.
B: You tell him that.
p.s.: Jadi, cinta itu buta, bodoh, romantis, menye-menye, butuh perjuangan, atau... apa?
A: Kamu sudah mikir ke depannya belum? Gimana nantinya kalau kamu dengan dia? Bagaimana kalau misalnya dia tidak diakui lagi oleh keluarganya?
B: Aku sih lebih memilih aku yang tidak diakui oleh keluargaku dibandingkan dia tidak diakui oleh keluarganya. Aku pilih aku yang dibuang daripada dia yang harus dibuang keluarganya. Tapi tentu saja kalau dia layak diperjuangkan loh yaaaa... Kalau gak ya, ngapain?
A: Then, he is a lucky guy.
B: You tell him that.
p.s.: Jadi, cinta itu buta, bodoh, romantis, menye-menye, butuh perjuangan, atau... apa?
Subscribe to:
Posts (Atom)