Wednesday, July 29, 2009
Antara Bosan dan Keinginan
Sunday, July 26, 2009
Untuk Apa?
Teman : Buat apa ngasih tau dia kalau cuma pengen ngasih tau?Terus kenapa kalau dia tahu kamu suka ma dia?
Dancing in The Rain
I was not in a good state when I decided to come to futsal practice last Wednesday afternoon. I felt my skin was a little bit warm and I was (still am) having cough. I haven’t been fully recovered from my sickness, yet I was forced myself to practice as I already sent text message to a friend that I would come practicing.
I’m not really a big fan of rain—in fact, I once hated rain—but that afternoon during the walk to my campus, I was hoping it would rain so I didn’t have to practice. I looked at the sky and it was cloudy, one of the signs that rain would pour down. I prayed, “Dear God, would You be kindly enough to give us, particularly me, rain down here?”
I didn’t stop praying during the walk.
When I arrived at campus' futsal court, sky was getting darker. I could tell you that my friends, from their faces, that they were worried it would rain therefore the practice automatically would be cancelled. Contrary to me, they, with all their big hearts, were hoping the sky was getting clearer and brighter. Hoping that sun would show up and would shine beautifully. But, God chose to answer my prayers, not theirs.
It started to drizzle when we were having our stretching. It was so clear to me that my friends were upset. They were annoyed with the drizzle and, of course, they were still hoping the drizzle wouldn’t turn into a big rain. One of them muttered, “Crap! Why would it rain when I’m in my zest to practice?” Oh dear friend of mine, believe me, the reason I hated rain was exactly the same as what you said.
So, with a big disappoinment—but a big smile from me—we had to finish our stretching. With a shambling gait, we took a shelter on a roof-bench. There we were waiting the drizzle to stop. Unfortunately, it’s not. But rather it became rain cats and dogs. Now, it’s my turn to get upset. If I had known that it would be a big raining, I wouldn’t have come. I’d rather to loaf around in my bed or finish my readings. Now, with such a big and hard raining—please do count lightning and thunder—we sat there, on the bench, with different intentions hoping it would stop.
An hour already passed and the rain didn’t show any sign to stop. One of my friends finally said, “Let’s play! I won’t come here for nothing!” To make it short, despite the big raining, lightning, and thunder, we all played futsal. Yes, we were playing futsal in that big raining afternoon and we all were soaking wet. We didn’t care flu or cough or fever might haunt us. We weren’t afraid at all. We looked like some innocent children playing around. We were laughing, shouting, playing stupid, mocking ourselves, on top of it WE WERE HAVING FUN. So much fun.
At that moment I felt how lucky I was having these futsal-addicted people as my friends. I was, am, and always will be grateful for knowing them and having them as friends.
So now, I do not regret coming for practicing that Wednesday afternoon. In fact, I am so blissed.
p.s. : Frankly speaking, it is appalling to me that now I’m intoxicated by rain. I’m starting to love rain. I love playing futsal in big and hard raining with my friends. I want to do it again. Soon.
Monday, July 20, 2009
A Love Letter For You
Lately I have been considering thinking to tell you something. This something has been whirling in my mind for almost a year and a half. This something also makes me tingling in my stomach.
You know, I've been trying so hard to keep this feeling inside. I wanted to conceal it from you. So, in silent I smiled when you smiled. I cried when you cried. I hurt when you felt pain.
I just don't want you to know.
But, this couple of few days you were wandering in my mind. It's like a thick fog that had been covering my head. It's been you, you, and you. Always you. At first, I thought I was gonna through this phase. Some of the time, I'm getting trapped by the thought of you, though i'll get over it most of the time.
Unfortunately, I'm failing. I give up. Finally, I decided to tell you what's been bugging on my mind.
I like you.
Won't say that "I love you", since for me "love" is a strong word. Besides, until now I haven't found the true meaning of "love". Let us just say that I'm retarded about this thing called love. But, I do know one thing for sure:
I care so much about you. And I miss you. So bad.
I watched each your game at last Psygame at our campus. Without your knowing, I gave you all my supports that I could give. Without your knowing, I enjoyed each of our hasty chatting on Facebook. I blushed when you said I played really good as a goalkeeper. Do you want to know the real reason why I was playing real good at that match? It's because you were there.
I fluttered when I found out you were the one who oversaw the game. You were the referee. What can I say, huh, apart from that I became nervous but on the other side I was so excited? All I know I had to play good at that match. So I did play good. Well, according to you, "You played really good". *blush*
So...
My plan was telling you personally. But, I've changed my mind. I chose to tell the whole world instead about my feeling towards you. With one promise to my friend, "I won't say his name, but I assure you if he reads it then he knows it's about him."
Now, I don't care what you might think about me. I want to be relieved. Be freed from this untold feeling. Then, I will move on and I won't ask for more. I just want to be honest with you. That's all.
Friday, July 17, 2009
Ya, ya, ya. Pikiran yang terlalu negatif memang. Tidak berdasar. Pesimis. Pengecut. Tapi, apa mau dikata kalau memang demikian kenyataannya? Kenyataan yang tidak bisa aku bantah: aku memang suka kamu. Kamu keberatan?
Kamu tahu, hanya untuk mengklik "add as a friend" dibutuhkan keberanian yang sangat besar bagiku. Berlebihan? Mungkin. Tapi, itu kenyataan. Setidaknya aku punya alasan penguat kenapa aku ingin menjadi teman kamu di FB. Alasannya sederhana saja, yaitu agar aku bisa melihat foto-foto kamu, kemudian klik kanan lalu save-as. :D
Sempat khawatir kamu akan mengacuhkan friend request-ku. Kekhawatiran yang tidak berdasar karena toh aku mendapatkan juga notifikasi dari FB bahwa kita telah berteman. Aku senang. Satu langkah maju untuk mendekati kamu.
Ng... Niatnya sih begitu. Apa lacur, aku ternyata hanya berani menjadi penguntit kamu saja. Aku sanggup menatap profil FB kamu berjam-jam, tidak bosan-bosan, tapi aku tidak memiliki keberanian hanya untuk sekedar mengajak kamu chatting di FB. Boro-boro chatting, melihat kamu berseliweran di kampus saja sudah cukup membuat saya menundukkan kepala. Aku tidak berani menegur kamu. Aku... malu.
Ada kalanya keberanian yang aku butuhkan muncul tiba-tiba. Aku mengomentari status kamu, menyapa kamu di FB, men-tag kamu di beberapa notes-ku, tapi tetap aku tidak pernah berani untuk menyapa kamu di dunia nyata.
Aku sempat mengacuhkan blogku dan lebih sering menulis di notes FB (yang sebagian besar dari notes tersebut merupakan tentang kamu atau setidaknya terinspirasi oleh kamu). Bukan, bukan karena alasan bahwasanya di FB akan lebih banyak yang membaca dan berkomentar (atau kalau kata temanku, "Lebih interaktif di FB daripada di blog."). Tapi murni karena alasan aku ingin mendapatkan perhatian kamu. Kita semua tahu kan setransparan apa FB itu? :P
Dulu aku bisa menulis banyak notes dalam beberapa hari saja. Mengabaikan musim ujian waktu itu. Aku tidak belajar karena lebih mementingkan menumpahkan semua isi pikiranku ke dalam tulisan. Karena aku tahu meskipun aku memilih untuk belajar, aku tidak akan fokus. Aku lebih terpaku bahwa aku harus menyelesaikan notesku meskipun itu berarti aku tidak belajar dan harus bersiap-siap mendapat nilai buruk rupa. Dan kesampaian. :D
Lagi-lagi alasan sederhana: karena aku ingin kamu tahu bahwa ada makhluk yang bernama Kimi di dunia ini. Terima kasih FB untuk itu. Kamu menyadari eksistensiku. Kamu mulai mengenalku. Kitapun akhirnya sempat chatting beberapa kali. Sepatah dua patah kata. Tidak lama. Bukan obrolan yang panjang. Tapi cukup membuatku senang dan tidur nyenyak malam itu. Terutama sewaktu kamu memuji permainan futsalku. Serius, pujian yang datang dari kamu sungguh bermakna bagiku. Terima kasih.
Sampai akhirnya aku menyerah di satu titik. Aku tidak lagi menulis notes. Semangat menulisku mengendur. Tidak ada lagi inspirasi. Tidak ada lagi tulisan mengenai kamu di notes. Hal itu dikarenakan aku merasa lelah. Lelah untuk mendapatkan perhatianmu. Lelah untuk memberikan perasaan ini untuk kamu. Kamu terlalu angkuh. Terlalu sombong. Terlalu... entahlah.
Ah, persetan dengan cinta yang membebaskan. Cinta itu menyakitkan. Itu yang aku tahu pasti.
Aku pun berusaha mengalihkan pikiranku dari kamu. Susah memang, tapi bukankah harus dicoba terlebih dahulu? Baiklah. Aku coba. Tidak login ke FB, tidak membuka halaman profil FB kamu, pokoknya tidak mau tahu apapun tentang kamu.
Oke, berhasil. Aku tidak lagi memikirkan kamu (errr... sesekali masih sih). Aku pikir aku sudah bisa melupakan kamu.
Aku pikir... demikian. Toh, ternyata pikiran itu menipuku. Karena tadi sewaktu aku melihat kamu online di FB, aku belingsatan. Panik. Sudah cukup mengindikasikan bahwa ternyata...
Aku masih suka kamu.
Baiklah. Kamu tidak berkeberatan kan untuk selama waktu yang tidak dapat ditentukan, aku menyukaimu dalam diamku?
p.s. : sengaja aku menulis ini di blogku karena aku (lumayan) yakin kalau kamu tidak akan mampir ke blogku ini. :D
Wednesday, July 8, 2009
RIP Michael Jackson :(
Waktu laserdisc sedang berjaya, bapak saya senang sekali menyewa video-video baik film maupun lagu-lagu. Sesekali bahkan ia membeli sendiri. Saya yang waktu itu masih kecil, lugu, polos, imut, dan belum tahu dosa itu apa, sangat senang kalau diijinkan ikut nonton. Yang paling sering diputar biasanya sih video lagu-lagu. Mulai dari lagu-lagu anak-anak (“Abang tukang bakso, mari-mari sini... Aku mau beli...”), tembang kenangan (“Bukit berbungaaa... Bukit yang indah...”), hingga lagu-lagunya Abang Michael Jackson. Saya suka sekali lihat videoklipnya yang “Black or White”. Err... “Thriller” juga. Banyak deh.
Kemudian, laserdisc punah. *halah* Dan MJ pun sudah jarang muncul dan mengeluarkan lagu-lagu baru, tapi saya tetap sering mendengarkan lagu-lagu beliau diputar di radio-radio. Apalagi kalau sudah malam, yang biasanya diputar tuh lagunya yang sendu-sendu. Misalnya “You’re not Alone”, “Heal The World”, “Ben”, “One Day in Your Life”, “Will You be There”. Banyak deh.
Ben, you're always running here and there
You feel you're not wanted anywhere
Ketika saya bangun pagi di hari Jumat tanggal 26 Juni kemarin dan langsung disambut pengumuman dari kakak saya, “Yu, Michael Jackson meninggal.” Saya bengong. Hanya “Oh...” yang keluar dari mulut saya. Kemudian saya ke kamar mandi dan cuci muka. Seolah-olah itu merupakan hal biasa. Ya, memang hal biasa saja kan orang meninggal? Anda hidup, kemudian Anda mati. Apa yang luar biasa dari kematian kecuali kematian merupakan suatu kepastian?
You are not alone
Oke, saya ngaku. Saya tidak mau ikut terlarut dalam kesedihan. Saya pikir lah MJ ini siapanya saya? Saudara bukan, teman bukan, nge-fans banget juga gak... lantas kenapa saya harus sangat sedih sampai-sampai menangis segala, meraung-raung? Gak banget kan?
Penggemar : Lah Kim, hari Kamis sampai Minggu kemarin kamu ngedengerin
lagu-lagunya MJ sampai matamu berkaca-kaca segala apa itu bukan namanya sedih
banget?
Hiks... Ketahuan deh.
Kemarin itu tiba-tiba saya ingin men-download lagu-lagunya MJ di 4shared. Selama hari Kamis – Minggu kemarin tidak ada lagu lain di Windows Media Player saya selain lagu-lagunya MJ dan selalu saya dengarkan setiap kali saya membuka laptop saya. Menemani saat-saat saya online, entah pagi, siang, ataupun malam.
Dan semalam ketika saya nge-plurk lewat mobile, semua pada heboh ngomongin MJ. Ada juga yang berbagi video “One Day in Your Life” *lirik ke Kitin*.
One day in your life
Kesampingkan lah perkara dia yang katanya pedofil, telah melakukan pelecehan seksual atau entahlah, bolak-balik operasi plastik. Sebelum kita mencaci dirinya, memandang rendah dia dengan mengungkit-ngungkit kasus-kasus yang menimpa dirinya, ada baiknya kita membaca ini terlebih dahulu.
Sekarang mari kita lihat dia sebagai individu yang sangat berbakat di bidang musik. Karya-karyanya tetap awet hingga saat ini. Lagu-lagunya tetap didengarkan hingga detik ini. Album-albumnya masih dicari. Musiknya tidak seperti musik band-band kacangan yang sekarang sedang bertebaran disana-sini. Hari ini lagunya booming, besok menghilang. Hari ini pada heboh pengamen dimana-mana menyanyikan lagu-lagu murahan itu, besok orang-orang sudah pada bosan.
Ada yang mau membantah lagu-lagunya MJ tidak termasuk lagu-lagu yang everlasting? Ada yang berpendapat musiknya kacangan? Sini... saya pentung kalau ada yang sampai bilang musiknya MJ itu kacangan atau lagu-lagunya MJ itu sampah dan cupu. *siapin pemukul baseball*
Btw, sayangnya semalam saya tidak nonton pemakamannya MJ. :( Teman saya, Silmi, sampai bilang, “Cepetan Kim, nonton! MJ gak dimakamin dua kali!”
Hiks... Bukannya gak mau nonton, semalam kan saya sedang dikosan. Tivinya di luar. Mau nonton sendirian gak berani. Soalnya kemarin malam saya mimpi MJ ikut yasinan (padahal kan di mimpi saya itu ceritanya pembacaan yasinnya buat dia). Kan saya jadi takut... Belum lagi kemarin sore saya lihat di youtube video hantunya MJ. Makin takutlah saya.
Daripada saya mati ketakutan, saya lebih memilih untuk nonton acaranya di youtube saja. Pasti ada donk yang meng-upload acara pemakaman semalam ke youtube? Pasti adalah.
Jadi, permisi yaa... Saya mau ke youtube dulu. Mau lihat MJ memorial service. *halah, nggaya*
Hiks.
Kisah Penggemar Pemain Nomor 13 (Bagian II)
Minggu malam itu, setelah puas ber-sms ria dengan Cethe dan laptop telah selesai di-defrag, saya pun segera menghempaskan badan ke kasur. Mencoba untuk memejamkan mata dan berharap segera terlelap. Saya harus segera tidur. Tidak boleh tidur terlalu larut! Soalnya, pagi-pagi saya harus latihan futsal. Kan tidak lucu saya datang ke lapangan dengan keadaan kuyu dan kantung mata tebal? Atau ketika berdiri di bawah garis mistar gawang saya sibuk mengucek-ngucek mata dimana seharusnya saya fokus menangkap bola.
Untunglah insomnia saya sedang tidak kumat. Malam itu saya bisa tidur cepat dan bangun tetap telat. Dengan semangat pejuang ’45 dan bercita-cita suatu saat bisa dikontrak MU menggantikan Van der Sar *dilempar bakiak oleh orang sekampung*, saya pun datang latihan di Senin pagi itu. Seperti biasa, latihan dimulai dengan jam karet dulu. Kemudian, dilanjutkan dengan lari keliling lapangan 7x dan stretching. Setelah itu, seperti biasa latihan passing, dribbling, dan shooting. Untuk yang terakhir, saya tidak ikutan. Saya malah disuruh latihan menangkap bola-bola shooting *ya iyalah, Kim! Lo pan kiper. Pegimane sih lo?!*
Di sela-sela latihan, saya masih sempat (kembali) mengorek keterangan dari Cethe.
Saya : Cet, dia udah punya pacar belum?Latihan pun menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Saya berhasil memblok banyak bola-bola shooting itu. Saya sempat jumawa. Dalam hati berkata, “Kalau Sir Alex Ferguson melihat ini, mungkin besok setelah saya lulus S1 saya langsung mendapat tawaran kontrak untuk main di MU. Atau bisa jadi saya dijodohkan dengan salah satu pemainnya. Park Ji Sung boleh lah...” *disiram*
Cethe : Kaya’nya belum deh.
Saya : Oh. *dan dilanjutkan tersenyum dalam hati*
Mungkin, karena terlalu jumawa ini membuat saya tidak fokus sehingga musibah itupun terjadi. Bola kencang dari tendangan teman saya mengenai pergelangan tangan kanan saya. Spontan saya berteriak kesakitan. Lagi, saya berkata dalam hati, “Ini toh yang namanya cedera? Sakit ya ternyata.”Gila! Sudah tertimpa musibah, masih sempat-sempatnya jumawa. Untuk kali ini, saya ikhlas deh ditimpuk. *menyodorkan koin 500 ke pembaca*
Penggemar : Duh... Kasian banget kamu, Kim! Pasti sakit banget tuh ya.
Ho oh. Sakit. Banget. Terpaksa saya tidak bisa bermain di pertandingan terakhir tim saya melawan tim perwakilan dari fakultas tetangga. Padahal saya sedang sangat bersemangat main. Berada di lapangan dan dikenal publik. Sebagai ajang eksistensi diri *dikeplak*. Terlebih lagi, dilihat si nomor 13. Wah, semakin yakin saya pasti akan bermain sangat bagus. Seandainya saja setelah pertandingan ada tes doping, pasti saya kena sangsi deh. Soalnya doping saya kan “dilihat oleh pemain nomor 13”. *kalem*
Duuuuhh... Pada gak tahan pengen muntah yaaa? Jangan muntah sembarangan dong. Nih, ember buat muntah... *sodorin ember ke para pembaca*
Satu hal yang saya pelajari dari hidup, jangan cengeng jadi orang! Tangan boleh sakit, tapi bukan berarti saya harus guling-guling di kasur kan? Ngendon seharian di kos dengan dalih tangan sedang sakit. Enggak banget deh. Apalagi sorenya tim saya kan main. Jadi, saya harus tetap datang dan memberikan semangat ke teman-teman saya yang main.
Penggemar : Ahhhh... Ahlesyan aja kamu, Kim! Bilang aja deh kamu itu pengen
ngeliat si nomor 13 main kaaan??
Uhukk... uhuk... uhuk... *batuk-batuk*
Ng... kok tau sih? Kok bisa tau? Kok bisa? Sih? Sih? SIH? Haiah. Sutralah kalau begitu. Saya ngaku deh...
Iya, kamu benar. PUAS? *gigit kabel*
Nah, sekarang lanjut lagi yah ceritanya. Sepakat? Sepakat dunk ah... *maksa salaman ke pembaca*
Singkat cerita, tim saya menang lawan tim fakultas tetangga itu. Dan yang lebih menggembirakan lagi, tim saya jadi juara I di Tropi. :D
Penggemar : Terus?
Terus... yah, saya tetap duduk di bangku penonton. Menanti dengan setia pertandingan terakhir. Menanti dengan sabar performa si nomor 13. (blush)
Saat sedang asyik menunggu, Cethe lewat di depan saya. Otomatis saya teriak memanggil namanya.
Saya : Cethe!
Cethe : Oi, Yu!
Saya : Cethe, dia udah punya pacar tauuuu...
Cethe : Hah? Kata siapa lo? Setau gue belum deh...
Saya : Gue liat di prensternya.
Cethe : ...
Iya, saya ngaku. Saya tanya ke Mbah Google soal si nomor 13 ini. Pikir saya, sudah ada Mbah yang sangat mumpuni dan mengetahui (hampir) segala jenis informasi ya kenapa tidak dimanfaatkan? Gratis pula. Baik lagi. Saya dikasih profil FB dan FS-nya si nomor 13 dunk. Tapi, berhubung saya belum nge-pren sama si nomor 13 jadinya saya tidak bisa melihat FB dia. Yang bisa dilihat hanya FS-nya. Disitu sudah terlihat jelas bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Entah wanita entah pria, saya tidak tahu. *dikemplang*
Yo weis, tidak apa-apa. Tidak ada kisah patah hati disini. Toh, saya kan cuma mengidolakan dia. Saya kagum dengan permainan bolanya. Tidak salah, kan? Apalagi ini mengaguminya dari jarak jauh saja. Mengutip kembali ucapan saya ke Cethe kemarin, “Ngefansnya ini underground style, Cet... Orang yang diidolain gak perlu tau kalo dia punya penggemar setia.”
Yah, tentu saja selama yang bersangkutan tidak berlangganan blog ini atau tanpa sengaja terdampar disini dan membaca postingan bagian I kemarin (juga tulisan ini tentu saja!) saya rasa keadaannya bakal aman-aman saja. Atau selama teman-teman saya, yang mengetahui kisah ini dan kebetulan berteman dengan si nomor 13, tidak banyak bacot cerita-cerita ke dia, ya tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika dia tahu. Itu mah namanya bukan underground style lagi, melainkan surface style. *halah*
Kembali ke bagian tunggu-menunggu tadi.
Setelah beberapa jam menunggu di bawah terikan sinar matahari yang sungguh menyengat sore itu *lebay abis dah!*, akhirnya tim dia main juga! Saya langsung pasang pose paling menarik dan paling menggoda demi pertandingan itu. Sambil belajar kedip-kedip mata dengan anggun dan benar. Juga latihan menarik senyum yang manis untuk nanti dilemparkan ke dia jikalau dia melihat ke arah penonton. *uhuk*
Saya juga sudah berlatih olah vokal untuk meneriakkan nomor punggungnya. Berlatih dengan giat bagaimana caranya teriakan tidak terdengar parau, melainkan merdu. Tidak cempreng, tidak lemah, melainkan penuh power dan terkontrol dengan baik pitch-nya. Nah lho, teriakan merdu belum pernah dengar kan? Sama. Saya juga belum pernah dengar.
Penggemar : Loh, Kim, katanya udah latian teriak?
Sayangnya hasil latihan itu tidak saya aplikasikan. Pasalnya di sebelah saya waktu itu duduk teman-temannya si nomor 13. Jelas saya tidak enak hati kalau harus mempraktekkan hasil latihan saya. Nanti ketahuan deh kalau saya mengidolakan si nomor 13. Ogah deh kalau sampe ketahuan!
Jadinya saya melipir kaya’ ayam sayur. Sudah duduknya di pojok, tidak ada teman yang dikenal, terus tidak bisa bebas teriak-teriak memberi dukungan. Paling hanya berteriak dalam hati. Yang membuat lebih kesal lagi, dia kalah... :(
Itu artinya dia tidak bisa ke final deh. Hiks.
Thursday, July 2, 2009
Kisah Penggemar Pemain Nomor 13 (Bagian I)
Setelah saya merasa dianggap remeh oleh sepupu saya, tadinya saya mau menulis menggunakan bahasa Inggris sebagai ajang pembuktian diri bahwa saya ini sedikit-sedikit paham lah bahasanya Mas Andy Murray itu. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir lagi cerita yang akan saya bagi ke para pembaca kurang pas kalau ditulis dalam bahasa Inggris. Kurang gigit, gitu deh... Nanti takut kehilangan “roh”-nya.
Penggemar : Halah! Lebay banget lo, Kim! Bilang aja lo males buka tutup kamus dan ngecek grammar-nya bolak-balik.
Ng... Itu juga salah satu alasannya sih... *tertunduk malu*
Baiklah, sekarang mari kita tinggalkan perdebatan apakah seharusnya saya menulis dalam bahasa Inggris atau tidak. Kali ini saya mau bercerita. Seru banget deh cerita saya kali ini, yah setidaknya itu menurut saya.
Hohohoho... Iya deh, saya tahu seru atau tidaknya itu sangat subyektif. Tapi kan ini salah satu cara untuk menarik minat para pembaca agar terus membaca tulisan kali ini hingga titik terakhir. Tidak membaca cepat, skimming, scanning, atau entahlah istilahnya apalagi. *merasa tersindir*
Penggemar : Kiiiiimmmm... Buru deh dimulai ceritanya! Gak usah kebanyakan bacot gitu lo! Gue buru-buru nih! Buru-buru mau ke WC!
Oh, oke... Oke... Tenang... Sabar, para penggemarku! Eh itu, kalau mau ke WC coba dibawa aja laptopnya, pcnya, atau hpnya ke WC. *dipentung pakai bata*
Ehem... Ehem... *berdehem*
Para penggemar saya yang sering mampir ke blog ini, dan para teman di Plurk pastinya, tentunya paham betul kesukaan saya akan olahraga futsal. Saking sukanya dengan olahraga satu ini, saya rela pulang malam demi mengikuti latihan. Bahkan, saya sampai membuat cerita bahan rumpian untuk pegawai-pegawai di TM Bookstore dan Bakso Lapangan Tembak Senayan yang di Detos karena pingsan disana setelah pulang latihan. (LOL)
Saya juga ikhlas pulang malam demi menonton pertandingan futsal (terutama pertandingan futsal cowok) yang diadakan di kampus saya. Bukannya apa-apa, selain saya memang hobi melihat permainan futsal itu sendiri, saya juga hobi melihat para pemainnya. Apalagi kalau yang main itu bening-bening mukanya, bebas jerawat, putih bersih, tampan menarik, berdompet tebal, setia, dapat dipercaya, ...
Penggemar : Kiiiiimmm... Please deh! Ini bukan ajang mencari jodoh!
Oh, maaf,... Tadi kehilangan fokus sebentar.
*kembali fokus*
Lanjut yah.
Dulu teman saya pernah bilang ke saya bahwa saya ini orangnya punya radar yang SANGAT bagus kalau sudah berurusan dengan pria-pria tampan. Maksudnya, indera penglihat dan indera perasa (baca: feeling, kata hati, ah terserah deh) saya bekerja dengan cepat jika ada pria tampan yang lewat atau sedang berada di dekat saya. Tidak peduli saya sedang baca komik atau sedang asyik menikmati sate ayam bumbu-kecap-tidak-pakai-bawang, seolah-olah ada yang membisiki saya, “Kim, disitu ada cowok cakep!” maka otomatis saya langsung menengok ke arah yang ditunjukkan oleh intuisi saya *cih!* dan... there! Pria tampan itu ada disana.
Nah, radar saya ini sangat berguna jika sedang nonton futsal di kampus soalnya bisa digunakan untuk tebar pesona ke sasaran yang tepat. (haha)
Seperti waktu acara Tropi (kompetisi futsal antar fakultas, red.) kemarin yang diadakan oleh FC 08 di kampus saya. Banyak tuh pemain tampan yang main disana. Kebanyakan sih dari fakultas lain. *ya iyalah, berhubung di kampus gue kekurangan cowok begitu*
Dari sekian banyak pemain yang membuat saya terkagum-kagum *lebay mode ON*, ada satu pemain yang membuat saya nge-fans abis sama dia. Kalau dibuat daftarnya, dia menempati urutan teratas pemain futsal terfavorit di Tropi versi Kimi. Anehnya, radar pria tampan saya tidak bekerja untuk idola saya satu ini. Soalnya, kalau dilihat dari wajah sih dia biasa-biasa saja (*pentung Kimi*, bah! Macam kau cakep saja, Kim!). Tapi benarlah kata orang bijak dulu jangan melulu melihat dari penampilan fisik.
Oke, saya menurut deh sama si orang bijak tersebut. Saya nge-fans sama idola saya ini bukan karena fisiknya melainkan karena permainan futsalnya yang yahud abis. Gocekannya boooooo’............ Mantabh banget daaahh!! Dibuatnya saya iri hanya dengan melihat permainannya. Saya sampai mengkhayal ke teman saya, Icha, “Cha, kapan ya gue bisa main futsal kaya’ dia?” Icha hanya senyum. Mungkin dalam hatinya malah mentertawai saya, “Kim, lo itu kiper! Kapan-kapan deh lo bisa sejago dia main futsalnya. Boro-boro mau jago, nendang bola aja kagak becus lo!”
Alhasil, setiap kali tim idola saya itu bermain dengan lantang saya menyemangati dia. “Ayo, 13!” atau “Semangat, 13!” FYI, 13 itu nomor punggungnya. Berhubung waktu itu saya tidak tahu namanya jadinya ya saya teriak-teriakin nomor punggungnya saja.
Beruntung ada teman sefutsal saya, Cethe namanya, yang kebetulan kenal dengan si nomor 13 ini. Maka dengan sigap, saya mengorek-ngorek informasi dari Cethe. Berkedok curhat, Minggu malam itu saya sms ke Cethe:
Saya : “... Btw Cet, gue mau curhat! Tapi, udah malu duluan. Hahaha... *blush*.”
Cethe : “Apaan dah? Udah yu... Keluarin aja...”
Saya : “Ah Cet, rahasia diantara kita saja ya. Gue ngefans sama si nomor 13. *blush* Beneran deh ya, Cet, cuma ngasih tau gini aja gue senyum-senyum sendiri. Dasar Kimi bodor! Hakhakhak...”
Cethe : “Ha? Aduhh.. 13 mana, Yu? Belanda?”
Saya : “Jiaah.. Yang kemarin gue tanya ke elo itu loh! Tim dari jurusan F*******. Ho, ho, ho... Beneran deh muka gue jadi merah. :D”
Cethe : “Oia! Gue inget lo nanya, tapi lupa siapa, lupa sama sekali. Parah dah... Hahaha... Gue ada FB-nya tuh... SM (demi kebaikan bersama, namanya sengaja saya tulis inisialnya saja, red.). Dia emang pemain liga pro tahun lalu, Yu... Seangkatan kita lho! Hohoho...” (Ini kenapa pula sih Cethe sebut-sebut “seangkatan kita”? Mentang-mentang belakangan ini saya kebanyakan naksir adik tingkat)
Saya : “Males ah ngeadd FB-nya. Nti status gue di FB terbaca olehnya dan ketahuan dah. :D Tuh orang yah.. buset dah. Keren mampus! Dikasih makan apa sama emaknya mpe jago bola begitu? *iri*” (Status di FB saya waktu itu “Ayu Kimi Rizkika is officially become a fan of player no. 13”)
Cethe : “Gak tau dah, Yu... Di ukor, dia yang paling kuat maennya. Maju mundur, gocek sana sini, emang TOP BANGET! Hohoho...”
Saya : “Gue bikin klub penggemarnya aja deh dengan gue sebagai ketua. Atau gue bikin fan page-nya sekalian di FB? Mwahahaha...”
Cethe : “Najonggg! Tapi boleh juga, Yu. Hahaha... Besok gue kenalin yaa kalo dia maen.. Maen gak dia besok?”
Saya : “Ah, ogah! Ngapain pake acara dikenalin segala? Ngefansnya ini underground style, Cet... Orang yang diidolain gak perlu tau kalo dia punya penggemar setia. *halah* Kaya’nya sih besok dia main deh...”
Cethe : “JIJIIIII! Hahaha...”
Saya : “Yang penting tuh ya Cet, bisa ngeliat dia maen secara live udah cukup kok buat gue. *gombal mode ON* :D Sekarang mah berdoa aja semoga dia bisa ke final. Biar gue bisa lebih sering liat dia. Hihihi... *ketawa genit*”
Cethe : “Huahaha! Amin dah, Yu! Asal lo semangat mah... Hohoho... Udah ah! Tidur lo! Besok pagi latian kita!”
Saya : “Hohoho... Baiklah, Cethe! Saya akan tidur setelah laptop selesai di-defrag. :D Selamat malam, Cet... Selamat tidur... Semoga besok kita menang ya! :)”
Cethe : “AMIN! Hohoho... Semoga dia menang juga yaa, Yu... Hehehe... Gudnite! =)”
Sms-annya pun berakhir sampai disitu. Saya dan Cethe kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saya sibuk menunggu laptop selesai defrag-nya, sedangkan Cethe... entahlah dia sibuk apa. Sibuk tidur mungkin? :p
Setelah laptop selesai di-defrag, saya pun segera tidur. Tidak lupa berdoa sebelum tidur semoga saya tidak bermimpi buruk, semoga tim saya jadi juara 1 di Tropi, dan... semoga si nomor 13 main dan timnya menang. :D
--bersambung--