Wednesday, August 5, 2009

There Are Some Things That Can Not Be Fixed

Banyak yang bilang ke saya alasan mereka nge-FB karena mereka bisa bertemu dengan teman-teman lama. Kembali menjalin tali silaturahmi dengan teman-teman yang sudah lama tidak bersua. Bercengkerama melalui dunia maya mengingat kenangan masa lampau.

Baiklah.

Terserah mereka saja. Karena bagi saya toh bertemu dengan teman lama di FB atau tidak, berpengaruh sedikit bagi saya. Oke, saya bertemu dengan teman SD, SMP, SMA, hingga teman kuliah sewaktu saya masih di D3 Akuntansi Unila dulu. Kemudian, apa? Mengobrol di FB? Tidak. Saling membalas status? Apalagi itu. Menulis di wall mereka? Meh, malas. Jadinya gak ngaruh juga kan? Teman lama, teman baru, FB mulai membosankan. Bikin mual lama-kelamaan.

Penggemar : Yeeee... Itu mah emang lo-nya aja yang malas bersosialisasi di FB.


Hahaha... Itu bisa dijadikan alasan sih. Sekarang ini saya sudah mulai malas login ke FB. Kalaupun saya login ke FB tidak lebih dari melihat notes yang men-tag nama saya, membalas mereka yang menulis di wall, terakhir meluangkan waktu sejenak untuk melihat profil tambatan hati. Sejenak tapi bisa bikin hati berdarah-darah untuk waktu lama. putuscinte

Mau curhat sedikit.

Belakangan ini saya sedikit menyesal punya akun FB. Saya bukan termasuk orang yang memiliki masa lalu gilang gemilang sehingga layak dikenang. Bertemu dengan teman-teman lama tidak berpengaruh apa-apa karena toh saya juga tidak punya banyak teman yang bisa dikatakan akrab. Justru saya ingin menutup lembaran masa lalu. Tidak mau diungkit, mengungkit, atau ada yang iseng melakukan pengungkitan. *hasyah, apa pula ini maksudnya?*

Bagi saya, apa yang sudah berlalu ya biarkan berlalu. Yang sudah terjadi ya terjadilah. Tidak usah diingat. Apalagi kenangan yang pahit. Apalagi orang-orang yang membuat hidup terasa pahit. Nah, ada salah satu dari mereka yang sangat ingin saya hindari. Dan FB tidak membantu saya untuk menghindari beliau. Entah bagaimana beliau berhasil menemukan profil saya, dari friends-nya friends kah, sengaja mencari nama saya kah, ah... banyak jalan menuju Roma bukan?

Hingga sekarang saya belum meng-approve friend request beliau. Terlalu banyak kenangan yang menyakitkan. Ya, saya sadari kenangan menyakitkan itu juga terbentuk dari beberapa kesalahan saya. Saya mengakui itu dan saya merasa bersalah karenanya, sekaligus merasa bodoh. Sehingga akhirnya saya memutuskan saya tidak mau tahu apa-apa lagi dari orang tersebut (tentunya selain dipicu faktor interaksi terakhir kami diakhiri dengan cara yang sungguh tidak mengenakkan).

Dan akhirnya saya pada kesimpulan:

There are some things that can not be fixed.

Anggaplah suatu barang sudah rusak, sudah pecah, kemudian ingin diperbaiki ya tidak apa-apa. Terserah bagaimana caranya. Mau dilem kek, diperban kek, dilakban kek, whatever. Masalahnya bisa saja bukan bertambah baik, justru bertambah rusak. Jadi, untuk apa kan? Lebih baik biarkan saja barang itu rusak. Buang ke tong sampah. Kemudian, "Langkah tegap maju, JALAN!"

Sunday, August 2, 2009

Boros Itu (Terkadang) Baik

Selalu ada pembenaran untuk segala sesuatu. Saya sih (cukup) percaya dengan pernyataan tersebut. Apalagi kalau dikaitkan dengan episode telah-menghabiskan-banyak-uang-dalam-sehari versi saya. *ngumpet*

Saya selalu menyebut diri saya sebagai sasaran empuk bagi para penjual. Tinggal kasih saya rayuan sedikit, bisa hampir dipastikan saya akan membeli barang yang ditawarkan. Kalau pun misalnya saya tidak membeli barang tersebut, pastinya dikarenakan dua hal. Pertama, saya memang sedang tidak memiliki uang saat itu. Kedua, saya, dengan semangat '45, sedang berhemat. Nah, yang terakhir ini jarang-jarang terjadi. Karena, ya... itu tadi. Balik lagi ke soal saya yang mudah dibujuk rayu. Selain itu, ya emang udah dari orok kali saya ini berbakat untuk boros. (cry)

Penggemar : Ga mungkin lah, Kim. Gak percaya gue. Lo kan orangnya hemat bin pelit bin medit.

Loh, kok gak percaya sih? Butuh bukti? Nih ya, kemarin Jumat saya pasrah menyerahkan kartu debit Visa Mandiri saya ke Mbak-mbak kasir di Body Shop itu bisa dijadiin bukti kan? Yang ketika keluar dari sana saya menenteng satu kantong belanjaan isinya body butter, lotion, body scrub, dan shower gel. Bisa dihitung sendiri lah berapa uang saya buat Body Shop. *pentung-pentung diri sendiri*

But, heyyyy... Selalu ada pembenaran untuk segala sesuatu kan?

Penggemar : Iya, Kim. Selalu ada kok.

Aih... seneng deh ada yang mendukung. Sini... sini... Sampeyan aku cium. *tebar cium ke penggemar*

Nah jadi, setelah keluar dari Body Shop dengan langkah lemah, saya mencoba mencari pembenaran tersebut. Dan, Saudara-saudara, banyak juga yang bisa dijadikan pembenarannya!

1. Mbak pegawai Body Shop-nya tuh keukeuh banget ngikutin kemana saya pergi. Jadinya kan saya ngerasa nda enak kalau nda beli produknya. Saya pegang body butter, si Mbak-nya langsung jelasin manfaat body butter. Saya pegang shampo, langsung dibilang ini bahannya asli natural blablablabla... Saya tanya Body Shop bagusnya apa, eh dia langsung kampanye Body Shop.

2. Sebelumnya saya tidak pernah memakai produk-produk Body Shop. Jadinya ya sekalian aja dicoba produknya.

Penggemar : Coba produk tapi sekaligus beli empat item, Kim?

Ng... *ngumpet di balik daun pisang*

3. Lagi ada promo Body Shop di Margo City. Kalau menunjukkan kartu siswa bisa dapat diskon 20% shower gel dan body lotion-nya. Terus, dapat diskon 50% untuk body butter dan body scrubnya. Kalau gak salah sih gitu... Diskonnya cuma untuk hari Jumat kemarin aja. Kan jadinya sayang kalau saya nda beli barang diskonan... *kalem*

Penggemar : "Kalau gak salah", Kim?? (doh)

4. Saya tidak kuasa untuk berkata tidak sama Mbak yang kemarin nguntitin saya di Body Shop. "Pake ini, Mbak, bisa membuat kulit jadi putih cerah." Spontan saya bilang, "Berarti bisa ngilangin bekas gigitan nyamuk dong ya? Kaki saya kan budukan, Mbak..." Mbak-nya tersenyum manis sambil bilang, "Yah, bisa menyamarkan kok..."

Menjadi catatan bagi saya untuk lebih fokus pada kata "menyamarkan". Huuuhhh...

5. Harga boleh mahal, tapi bisa dipake buat berbulan-bulan! Seperti yang kemarin Mbak-nya bilang ke saya, "Tapi kan produknya ini, Mbak bisa pake 2-3 bulan." Berarti kalau saya pakenya lebih hemat lagi, sedikit demi sedikit, bisa nyampe 6 bulan gak ya? (thinking)


6. Seperti yang dibilang di situs Body Shop, yang mengusung cinta bumi dan sejenisnya, juga sebagaimana yang tertera di kantong belanjaan Body Shop:

Love the world? Show it some affection.
We can all do more to protect our planet and its natural resources.

Saya sih mikirnya ini langkah menengah saya untuk membuktikan cinta saya kepada bumi yang sudah tua ini. *peduli lingkungan mode ON*

7. Anggap sajalah ini sebagai investasi. *lirik-lirik ke Kitin* Kulit mulus, putih cerah, kaki terbebas dari bekas gigitan nyamuk, saya semakin cakep dan keren, sehingga orangtua pun semakin bangga punya anak seperti saya. Ahayyy!!! *joget-joget*

8. Bagi-bagi rejeki lah dengan Body Shop. *alasan paling nda mutu*

9. Ng... Apalagi ya??

*membaca ulang pembenaran-pembenaran di atas*

Baiklah. Sekarang saya tidak begitu menyesal telah buang duit receh ke Body Shop. *sombong akut* Berarti sekarang saatnya kembali menabung! Berhemat harus berada di to-do-list paling atas. Demi masa depan... Demi biaya menikah. Hasyah. *ngumpet di balik pisau*

p.s.: apa tho bedanya body lotion dan body butter? Fungsinya sama kok rakus amat beli dua-duanya. Terus, sok-sokan beli body scrub. Padahal tahu cara penggunaannya aja enggak. Hakahkahakhakhakhakhaka...