Baiklah.
Terserah mereka saja. Karena bagi saya toh bertemu dengan teman lama di FB atau tidak, berpengaruh sedikit bagi saya. Oke, saya bertemu dengan teman SD, SMP, SMA, hingga teman kuliah sewaktu saya masih di D3 Akuntansi Unila dulu. Kemudian, apa? Mengobrol di FB? Tidak. Saling membalas status? Apalagi itu. Menulis di wall mereka? Meh, malas. Jadinya gak ngaruh juga kan? Teman lama, teman baru, FB mulai membosankan. Bikin mual lama-kelamaan.
Penggemar : Yeeee... Itu mah emang lo-nya aja yang malas bersosialisasi di FB.
Hahaha... Itu bisa dijadikan alasan sih. Sekarang ini saya sudah mulai malas login ke FB. Kalaupun saya login ke FB tidak lebih dari melihat notes yang men-tag nama saya, membalas mereka yang menulis di wall, terakhir meluangkan waktu sejenak untuk melihat profil tambatan hati.
Mau curhat sedikit.
Belakangan ini saya sedikit menyesal punya akun FB. Saya bukan termasuk orang yang memiliki masa lalu gilang gemilang sehingga layak dikenang. Bertemu dengan teman-teman lama tidak berpengaruh apa-apa karena toh saya juga tidak punya banyak teman yang bisa dikatakan akrab. Justru saya ingin menutup lembaran masa lalu. Tidak mau diungkit, mengungkit, atau ada yang iseng melakukan pengungkitan. *hasyah, apa pula ini maksudnya?*
Bagi saya, apa yang sudah berlalu ya biarkan berlalu. Yang sudah terjadi ya terjadilah. Tidak usah diingat. Apalagi kenangan yang pahit. Apalagi orang-orang yang membuat hidup terasa pahit. Nah, ada salah satu dari mereka yang sangat ingin saya hindari. Dan FB tidak membantu saya untuk menghindari beliau. Entah bagaimana beliau berhasil menemukan profil saya, dari friends-nya friends kah, sengaja mencari nama saya kah, ah... banyak jalan menuju Roma bukan?
Hingga sekarang saya belum meng-approve friend request beliau. Terlalu banyak kenangan yang menyakitkan. Ya, saya sadari kenangan menyakitkan itu juga terbentuk dari beberapa kesalahan saya. Saya mengakui itu dan saya merasa bersalah karenanya, sekaligus merasa bodoh. Sehingga akhirnya saya memutuskan saya tidak mau tahu apa-apa lagi dari orang tersebut (tentunya selain dipicu faktor interaksi terakhir kami diakhiri dengan cara yang sungguh tidak mengenakkan).
Dan akhirnya saya pada kesimpulan:
There are some things that can not be fixed.
Anggaplah suatu barang sudah rusak, sudah pecah, kemudian ingin diperbaiki ya tidak apa-apa. Terserah bagaimana caranya. Mau dilem kek, diperban kek, dilakban kek, whatever. Masalahnya bisa saja bukan bertambah baik, justru bertambah rusak. Jadi, untuk apa kan? Lebih baik biarkan saja barang itu rusak. Buang ke tong sampah. Kemudian, "Langkah tegap maju, JALAN!"