Thursday, January 28, 2010

A Promise is More Than Just A Word

Pagi ini saya menulis di Plurk


“Selalu ada alasan pembenaran untuk segala sesuatu. Termasuk pembenaran mengabaikan janji.”

Bagi saya, janji adalah sesuatu hal yang sangat penting. Janji, bagi saya, bukan sekedar kata-kata. Ketika saya berjanji, baik itu kepada Tuhan, diri sendiri, maupun kepada orang lain, berarti saya telah membuat suatu komitmen dimana saya harus menjalankan komitmen tersebut. Ini untuk kepentingan saya sendiri dan orang lain. Mungkin Tuhan tidak memiliki kepentingan apapun terhadap saya, tapi saya masih memiliki kepentingan terhadap Tuhan. Let say, agar Ia mau mengabulkan segala doa-doa saya. (lol)

Ketika janji dibuat, berarti ada pengikat diri kita untuk menepatinya. Karena ketika kita tidak menepatinya, ada orang lain yang akan menderita kerugiannya. Ambil contoh sederhana saja. Setiap kali FC 08 putri akan latihan futsal, selalu ada sms dari koordinator latihan menanyakan apakah kami mau latihan atau tidak. Bukan tanpa alasan, koordinator latihan saya itu tiap 2 kali dalam seminggu mengirim sms kepada semua anggota FC 08 putri. Untuk menghitung siapa saja yang akan hadir latihan dan ini berguna bagi pelatih untuk mengatur menu latihan. Makanya waktu latihan hari Rabu minggu lalu saya tetap datang latihan meskipun saya sedang malas gak ketulungan. Alasannya sederhana saja: karena saya sudah konfirmasi akan latihan pada malam sebelumnya. Dan itu sebuah janji.

Contoh dari pengalaman pribadi lainnya. Beberapa waktu lalu saya berjanji dengan seorang teman akan transfer uang sekian ratus ribu rupiah. Karena ada sedikit kesibukan, saya belum bisa transfer hari itu. Namun, kesibukan bukan alasan bagi saya untuk tidak menunaikan kewajiban saya. Saya pun meminta waktu kepada dia hingga siang keesokan harinya. Dan meskipun uang di tabungan saya sedang menipis, saya tetap mentransfer uang sesuai janji saya kepada teman saya itu. Andaikan saya tidak menepati janji, mana tahu dia mungkin sangat membutuhkan uang tersebut untuk makan misalnya. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kalau kita tidak menepati janji atau mengabaikannya maka ada orang lain yang menderita kerugiannya. Karena orang tersebut percaya kepada kita dan memegang janji kita sehingga dia bergantung kepada kita. Sampai disini paham kan maksud saya apa?

Karena saya selalu berusaha menepati janji saya, saya pun berharap orang lain yang berjanji kepada saya untuk bisa menepatinya. Sekecil apapun janji itu. Oke, katakanlah saya punya ekspektasi yang berlebihan. Tidak semua orang bisa menepati janjinya. Tidak semua orang serius dengan kata-kata yang telah diucapkannya. Beberapa orang hanya bertujuan bermanis-manis kata untuk menenangkan hati kita dan merenggut kepercayaan kita. Beberapa orang pun berhasil.


“Besok ya uangnya. Gue baru punya uangnya besok nih. Nanti gue langsung kasih ke
elo kok.”

Keesokan harinya…

“Aduh, maaf banget… uangnya belum ada. Minggu depan yah…”

Minggu depannya…


“Yah, gue ada keperluan mendadak jadi uangnya sudah habis. Bulan depan ya?”


Sebulan, dua bulan, enam bulan, setahun, dua tahun… Hanya janji kosong.

“Maaf yah gue telat. Tadi gue harus ini itu dulu. Belum lagi macet banget tadi di jalan.” Dan telatnya pun berjam-jam.

Tidak sadarkah orang-orang seperti ini ketika dia berjanji dan melanggarnya ada orang lain yang dirugikannya? Coba untuk belajar menghargai orang lain kalau kita ingin dihargai, dan itu termasuk menepati janji. Sekecil apapun janji itu.

Alasan seperti sibuk, sakit, ada urusan yang tidak bisa ditinggal, atau alasan lain bukan pembenaran untuk mengabaikan janji. Tolong dicatat besar-besar itu di otak kita semua. Atau… karena kita merasa dekat dengan orang yang kita buat janji lantas kita merasa berhak untuk mengabaikannya. “Ah, Kimi ini kok orangnya… Santai aja. Dia pasti ngerti kok.” Atau… Jangan hanya karena kita merasa orang tersebut punya kesabaran yang luar biasa besar sehingga kita merasa sah-sah saja untuk mengabaikan janji. “Kimi kan orangnya sabar banget. Pasti dia bisa lah nunggu sejam atau dua jam lagi.” Atau… Jangan hanya karena kita merasa kita dipercaya orang tersebut lantas kita bisa semena-mena mengabaikan janji. “Ah, Kimi kan percaya sama gue. Suruh siapa coba dia percaya sama gue?”

Sekali lagi:

Ketika kita mengabaikan janji yang telah kita buat kepada orang lain, ada orang lain yang telah kita rugikan.

Sekarang cobalah kita bayangkan seandainya kita berada di posisi orang tersebut. Karena kita bergantung kepada orang yang telah berjanji itu, kita pun membuat kepentingan lain. Kita memiliki kepentingan lain. Namun, karena dia mengabaikannya urusan kita pun menjadi berantakan. Bagaimana rasanya? Gak enak banget kan?

Jadi begini…

Sesabar-sabarnya saya jadi orang, saya pun memiliki batas kesabaran. Janji yang sudah dibuat dari dua bulan lalu, namun belum ada realisasinya sampai sekarang dan kesabaran saya sudah mulai menipis. Sebesar apapun toleransi saya, lama-kelamaan akan habis juga kalau terlalu banyak alasan yang dibuat. Dan bagaimana mungkin saya bisa mengerti permasalahan orang lain kalau orang tersebut sendiri tidak mau mengerti saya? Bahasa kasarnya kira-kira begini,

“Eh man, gue udah coba ngertiin elu ye. Gue udah coba buat sabar nunggu. Tapi, masa’ harus gue mulu sih yang ngertiin elu? Kapan elu ngertiin gue-nya? Elu sakit, sibuk, gak bisa keluar-keluar karena ada urusan yang tidak bisa ditinggal,… ITU SIH URUSAN ELU, BUKAN URUSAN GUE. Gue udah gak peduli lagi sama hal-hal yang kaya’ gitu. Karena gue udah cukup sabar, udah cukup lama nunggu.

“Gini deh… Kita punya kesibukan masing-masing. Punya urusan masing-masing. Tapi, tolong banget luangkan waktu barang sebentar untuk menepati janji Anda. You have words. You made promise to me. Dan itu kewajiban Anda: tepati janji. Saya tidak bisa terus-terusan memberi toleransi. Tidak selamanya saya bisa bersabar. Tidak selamanya saya bisa berempati terhadap Anda. Tolong hargai saya dengan menepati janji Anda.

“Jangan salah mengartikan bahwa saya tidak bisa mengerti Anda atau tidak bisa memahami Anda. Awalnya, saya sangat sangat sangat memahami kendala yang Anda hadapi. Namun, bukan berarti Anda bisa membuat excuse satu, excuse dua, excuse tiga. Bagaimana saya bisa memahami Anda kalau Anda sendiri tidak bisa atau tidak mau memahami saya? Sudah cukup lama saya menunggu kewajiban Anda, sekarang saya mau hak saya.”

Mengerti maksud saya?

Wednesday, January 27, 2010

Kenapa Harus Antipati dengan MLM?

“Setiap orang pasti ingin sukses. Tapi, kalau MLM gue gak mau.”

Itu adalah bunyi sms yang dikirim teman saya tadi malam. Ya, saya paham kenapa dia sikapnya antipati terhadap MLM. Layaknya khalayak ramai, dia menganggap MLM adalah suatu bisnis yang hanya mengumbar mimpi atau janji. Tiap bulan akan mendapat bonus sekian juta lah, akan jalan-jalan gratis ke luar negeri lah, ini itu, you name it.

“Lo kerja capek-capek, jualan kesana kemari, tapi yang dapet untungnya ya orang-orang yang ada di atas elo. Lo sendiri dapet apa? Gak dapet apa-apa kan? Dapet capeknya mah iya.”

Itu komentar kakak saya dulu. Kesimpulannya MLM merupakan bisnis omong kosong.

Weeeiiitttsss… Tunggu dulu. Apa benar begitu? Karena kalau memang hanya bisnis omong kosong, kenapa ada orang yang berhasil di bisnis ini? Tidak hanya satu atau dua orang, melainkan BANYAK orang. Jadi, MLM bukan bisnis omong kosong karena sudah ada bukti nyata orang yang berhasil. Logikanya adalah jika ada orang lain yang bisa sukses, berarti bisnis MLM adalah bisnis yang nyata dong yah? Iya banget.

Lantas, kenapa ada orang yang malas untuk bergabung di MLM? Bahkan, mendengar kata “MLM” saja dia sudah kabur duluan. Ada banyak hal yang bisa membuatnya demikian. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya melihat orang-orang yang antipati dengan MLM karena mereka sebelumnya pernah bergabung di salah satu perusahaan MLM namun sayangnya gagal. Mungkin mereka kapok. Mungkin mereka trauma. Entahlah. Tapi, seharusnya kegagalan satu kali jangan dijadikan alasan untuk tidak mau bangkit dan mencoba lagi.

Saya dulu pernah bergabung di dua perusahaan MLM lainnya, tapi saya sudah tidak aktif lagi disana. Kenapa? Karena, di perusahaan MLM yang satu tenaga saya habis untuk berjualan. Saya tidak dibimbing, tidak diberi arahan, saya benar-benar dilepas layaknya kura-kura yang dilepas ke laut bebas. Saya yang masih tidak tahu apa-apa hanya manut saja ketika dibilang, “Pokoknya jual barangnya yah sebanyak mungkin. Semakin banyak kamu menjual, semakin banyak untung yang kamu dapat.” Awalnya saya semangat, namun pada akhirnya saya keok sendiri.

Kemudian, MLM berikutnya yang saya ikuti, MLM X. Saya memutuskan tidak aktif disana karena setelah beberapa kali saya mengajak teman saya bergabung, hasilnya nol. Tidak ada yang mau bergabung. Kenapa? Setelah saya pikir-pikir, mungkin salah satu penyebabnya dikarenakan uang pendaftaran awal yang cukup besar untuk ukuran anak SMA. Rp 500.000,-. Mungkin juga karena produknya yang menurut teman-teman saya susah dijual, yaitu berupa produk suplemen.

Penggemar : Lantas, Kim, kenapa kamu gak kapok untuk ikutan MLM?

Seperti yang sudah saya bilang berkali-kali sebelumnya karena untuk persiapan setelah saya lulus kuliah nanti. Alasan sederhana, kan? Dan juga mencari pekerjaan di jaman sekarang lebih sulit dibandingkan mengeluarkan uang Rp 39900 untuk investasi dan memiliki bisnis sendiri.

Tapi, saya juga tidak mau gagal lagi. Sebelum saya memutuskan untuk bergabung di suatu perusahaan MLM ada beberapa hal yang harus saya pertimbangkan:

  • Uang pendaftaran yang murah.

Ini penting, terutama bagi mahasiswa dan anak-anak sekolahan. Pasti mereka akan berpikir berpuluh-puluh kali kalau dari awal sudah ditodong ratusan ribu untuk gabung di perusahaan MLM tersebut.

  • Kenali perusahaan MLM yang diminati.

Perusahaan MLM yang sudah lama berdiri, tersebar di berbagai negara penjuru dunia, angka penjualan tinggi merupakan beberapa indikator yang menunjukkan bahwa perusahaan MLM tersebut adalah perusahaan yang aman dan terbukti berhasil.

  • Kemudahan menjual produk dan harga.

Perusahaan MLM yang menawarkan produk kebutuhan sehari-hari, seperti sabun, shampoo, dll dan produk dengan pangsa pasar yang luas, misalnya kosmetik atau pembalut, patut untuk dipertimbangkan. Saya tidak mau bergabung di suatu perusahaan MLM yang produknya tidak bisa saya jual atau mau saya pakai sendiri pun malas. Saya juga tidak mau menjual produk yang harganya terlampau sangat irrationally expensive. Siapa coba yang mau beli produk yang harganya mahal nda ketulungan? :p

  • Pelajari sistem marketing-nya.

Bagaimana suatu perusahaan MLM menjalankan bisnisnya, pembagian bonus, dan lain-lain juga patut dipertimbangkan. Jangan mau bergabung dengan perusahaan MLM yang seperti kakak saya bilang tadi hanya menguntungkan orang-orang yang di atas saya tapi saya sendiri tidak mendapatkan apa-apa, selain capek tenaga, waktu, biaya, dan pikiran.

Itulah bahan pertimbangan saya mengapa akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di Oriflame. Modal bisnis awal yang sangat kecil (ya iyalah kecil, lah wong saya kalau jajan di Alfamart atau Indomaret bisa lebih dari Rp 40ribu), perusahaan dijamin aman (sudah berdiri selama 40 tahun. Berarti bagus dong bisa bertahan sampai sekarang?), produk dijual mudah dengan pasar yang luas, dan sistem marketing-nya yang menurut saya adil (tidak menutup kemungkinan saya mendapatkan bonus yang lebih besar daripada sponsor saya). :)

So, pertimbangkanlah untuk berkarir di Oriflame. Banyak yang sudah berhasil di bisnis ini, contohnya Jeng Nad (salah satu pendiri grup d’BC Network), Mba Nata, Bundo Zulfa, dan yang lainnya. Kalau sudah dipertimbangkan dan berminat, segera daftar yaaa…







Dapat Coklat Gratis Dari Jerman! :D

Kemarin hari saya diawali seperti hari-hari biasa. Bangun siang, main Football Manager hingga berjam-jam, mandi, kemudian langsung ke perpustakaan kampus. Niatnya sih saya ingin mencari-cari buku terkait dengan topik yang akan menjadi skripsi saya, namun seperti biasa saya malah keasyikan ngenet. :p

But heeeeyyyy… segala sesuatu itu harus dimulai dari niat kan? *ngeles*

Saya pun browsing sana-sini, sambil selewat-selewat baca postingan-postingan yang udah numpuk banget di Google Reader saya. Klak-klik sana-sini gak jelas banget. Tangan kiri bertugas menggerak-gerakkan mouse, tangan kiri bertopang dagu. Kaya’ yang bengong gitu karena nasib idup gak jelas gimana arahnya. *halah, curcol*

Tapi, badan saya langsung tegak, wajah saya terlihat cerah, dan saya pun tersenyum bahagia. Apa pasal?

SAYA MENANG UNDIAN DAPET COKLAT DARI MBA SHERINE!!!

Hahahahaha… kesannya saya senang banget ya? Ya iyalaaaaaaah seneng. Sebelumnya saya mah nda pernah hoki kalau sudah berurusan dengan undi-mengundi ini. Berkali-kali saya isi kupon belanja undian yang hadiahnya rumah, mobil, motor, uang tabungan, tapi gagal mulu jeeee… Kalaupun saya pernah menang undian, itu pun hadiahnya jam tangan Star Wars hadiah dari Chiki (waktu SD) dan foto personil Westlife (waktu SMP), yang sekarang baru saya sadari gak perlu ikutan undian Tabloid kalau cuma ingin dapet foto artis. Cukup googling foto artis yang diminati, klik kanan save-as, kemudian print deh. (lol)

Penggemar: Tapi Kim, hadiahnya cuma coklat gitu loh!

Biarin. Segala sesuatu itu tidak akan menjadi “CUMA” kalau terkait dengan apa yang kita sukai. Iya kan? Kan? Kan? :D Di mata orang lain mungkin CUMA coklat, tapi dimulut saya entah sudah berapa kali saya menelan air liur terbayang coklatnya. *jadi ngences*

Well anyway, thanks banget ya Mba Sherine! Ditunggu kiriman coklatnya. Sampaikan juga ucapan terima kasihku untuk temanmu yang sudah mengundi. Pengen sungkem deh. Serius.

Sunday, January 10, 2010

Keep On Dreaming

Sudah dari jauh-jauh hari Mbak Natasya memberitahu saya bahwa hari Sabtu tanggal 9 Januari 2010 kemarin d’BC Network mengadakan acara yang namanya d’Bistro. Acaranya sendiri diadakan di Senayan Trade Center (STC). Berhubung saya tidak ada acara ya saya datang saja bersama kakak saya. Jujur, tadinya saya tidak begitu paham acara ini tentang apa, mau ngapain, namun setidaknya saya bisa sedikit punya gambaran. Well, minimal acara ini bisa sebagai ajang pertemuan dengan teman-teman baru, memperluas jaringan pergaulan saya, dan bisa mengikis rasa malu saya sedikit demi sedikit saat bertemu orang baru. Maksimalnya? Ya, saya bisa merayu kakak saya buat join Oriflame. ;p

Saya tidak akan bercerita jalannya acara itu karena saya yakin kalian akan bosan membacanya. Yang ingin saya bagi disini adalah pelajaran yang telah saya dapatkan kemarin.

Bukan, bukan pelajaran cara berjualan yang baik dan benar itu seperti apa. Bukan pula pelajaran bagaimana cara mengajak orang lain untuk ikut ke dalam bisnis ini. Lantas, apa yang saya dapatkan kemarin?

Tiga kata sederhana yang bermakna dahsyat.

KEEP ON DREAMING

Terus bermimpi. Jangan pernah takut untuk bermimpi. Karena mimpi-mimpi itu yang membuat kita akan terus semangat menjalani hidup. Kita tahu apa yang ingin kita raih. Kita tahu apa yang kita inginkan. Dan jadikan itu sebagai mimpi yang akan terus memacu adrenalin kita untuk mengejarnya.

Kalian bermimpi ingin menyekolahkan anak kalian di luar negeri? Silakan. Kalian bermimpi ingin menulis buku? Silakan. Kalian bermimpi ingin menjadi pengusaha sukses? Silakan. Kalian ingin punya gaji puluhan juta tiap bulan? Silakan. Kalian bermimpi ingin punya Honda CRV GRATIS? Silakan. *kedip-kedip ke Bundo Zulfa dan Mbak Liza* Apapun yang kalian mimpikan tulis besar-besar di relung hati kalian, tanam dalam-dalam ke otak kalian, dan yakin bahwa kalian BISA menggapainya.

Jika kalian bertanya kepada saya apa mimpi saya maka jawabannya sederhana saja, yaitu saya ingin berhasil di bisnis ini. Saya ingin membungkam mulut orang-orang yang tertawa melecehkan melihat saya menjalankan bisnis ini. Saya akan membuat mereka diam dan saya akan membuat mereka berhenti memandang remeh terhadap saya.

Bundo Zulfa dulu juga mengawali jalannya yang sekarang sama seperti saya. Dimulai dari nol. Sekarang? Tanyakan kepada beliau bulan lalu beliau mendapat bonus berapa juta. Begitu halnya dengan Mbak Liza, juga Mbak Natasya. Mereka semua berawal dari NOL. Sekarang? Well, ask them. :)

Jika kalian berpikir saya digelapkan oleh nilai angka yang telah mereka bertiga dapatkan, maka Anda salah. Bukan, ini bukan soal tujuh atau delapan digit angka yang tercetak di buku tabungan Bundo Zulfa yang diterima sebagai bonus. No, it’s not about that. *Ngg… dikit sih. Siapa yang gak ngiler dapet gaji bulanan belasan juta?* Ini soal pembuktian diri. Jika beliau bisa, lantas kenapa saya tidak bisa? Jika Mbak Liza bisa, kenapa saya tidak bisa? Jika Mbak Natasya bisa, kenapa saya tidak bisa?

Yes, keep on dreaming and reach our dreams.

Friday, January 8, 2010

Merancang Masa Depan

Saya mau curhat. Bulan Pebruari besok resmi saya menjadi mahasiswa semester delapan. Kalau di kampus saya angkatan saya, yakni 2006, dibilang sudah angkatan Non-Class alias tidak masuk kelas mana-mana, hanya fokus di skripsi saja. Weiittss… Itu bagi mereka-mereka yang memang tinggal skripsi saja. Kalau saya? Saya masih kurang satu mata kuliah pilihan. Berarti saya tidak termasuk angkatan Non-Class doms? Saya kan masih ikut kelas… *garing banget sih* Kriuk… Kriuk… Kriuk…

Well, anyway, berhubung saya sudah angkatan tua begini *hiks, sedih* dari semester kemarin (ng… dari kemarin-kemarin sebenarnya) saya sudah berpikir sangaaaaat jauh ke depan. Nanti kalau saya sudah lulus, saya bakalan kerja dimana ya? Apa iya saya bisa langsung dapat kerja? Kalau enggak, sedih banget sih jadi pengangguran… Dan saya pun yakin bahwa bukan saya saja yang berpikiran seperti itu. Pasti diluar sana banyak juga mahasiswa yang seperti saya khawatir akan masa depan.

Khawatir sih boleh saja tapi kalau berlebihan kan tidak bagus ya? Justru dengan kekhawatiran itu membuat saya memutar otak untuk “sedia payung sebelum hujan”. Just in case, in worst case scenario, saya tidak langsung dapat pekerjaan (amit-amit jangan sampai Ya Allah…), setidaknya saya harus memiliki pegangan. Pegangan dalam arti kata saya harus punya penghasilan sendiri. Jelas dong saya tidak mau habis lulus kuliah, saya pulang kampung terus menjadi beban orangtua saya yang harus menambah lagi biaya tanggungannya. Kasihan orangtua saya… :(

Nah karena itulah setelah lirik sana-sini sambil sedikit kedip-kedip mata saya pun memutuskan saya mau berjualan saja. Iya, jualan. Aneh ya saya yang tidak punya bakat bisnis atau bakat berjualan tiba-tiba memutuskan untuk berjualan? Tidak usah sampeyan yang merasa heran, saya pun heran. Tapi demi masa depan tadi saya harus berani ambil risiko, bukan? Saya harus keluar dari zona nyaman saya dan mencoba sesuatu yang lain. Bakat atau tidak itu urusan belakangan. Merayu calon pembeli itu keahlian, memasarkan barang dagangan biar laku itu keahlian, ngoceh sana ngoceh sini promosi barang dagangan itu keahlian. Keahlian itu bisa diasah. Iya kan?

Saya akui saya orangnya pemalu, susah gaul, pendiam dengan orang baru. Kalau seorang penjual memiliki karakteristik seperti saya bisa dijamin barang dagangannya tidak laku. Makanya tadi saya bilang saya harus keluar dari zona nyaman saya. Dengan orang baru coba deh ya saya lebih ramah, basa-basi kek, menegur sapa kek, minimal kasih senyum deh.

Saya juga mengakui saya ini orangnya takut ditolak, makanya saya tidak mau lagi “menembak” cowok (loh, kok curhat??). Tapi, saya harus ingat bahwa saya sedang berjualan dan seperti yang kita semua ketahui yang namanya berjualan: WAJAR KALEEEE ADA YANG TIDAK MAU MEMBELI BARANG DAGANGAN KITA. So, kenapa saya harus takut? Iya kan? Iya kan? Iya kan? Nanti tinggal mengasah kemampuan untuk mempersuasi calon pembeli agar mau membeli barang dagangan kita. Sekali lagi, saya benar kan? Hahaha… *tertawa paksa*

Penggemar : Lah, emang kamu jualan apa, Kim?


Ah, saya mah jualan barang yang sudah ada saja alias ikutan Oriflame, Avail, dan pulsa (yang ini masih dalam tahap rencana). Mungkin ada diantara kalian yang menatap nyinyir saat membaca “Oriflame” atau “Avail”. Yang ada di benak beberapa diantara kalian mungkin, “Duh, MLM ya? Malesin banget sih.” Heuheuheuheu…

Pertanyaan saya, “Lah, emang kenapa kalau MLM?” Berjualan barang produksi Oriflame atau Avail kan sama saja dengan jualan baju, celana, cokelat. Lantas, kenapa ada yang sewot ya? Toh, berjualan kan halal selama tidak menipu calon pembeli.

Orang iseng : “Tapi, Kim, MLM itu kan menawarkan mimpi palsu. Kalau bintang ini bakal dapat bonus inilah, bakal dapat mobil lah, dst dll dsb. Kasarnya menawarkan kekayaan dalam waktu singkat.”


Well, saya tipe orang yang percaya kalau ingin sukses butuh waktu dan kerja keras. Tidak ada yang namanya kesuksesan instan. Bagi saya sih jualan ya jualan saja. Kalau kata mendiang Gus Dur, “Gitu aja kok repot.” Anggap sajalah (yang memang) lumayan (banget) menambah uang jajan. Nantinya akan terus saya jalani bagai air yang mengalir. Namun, tetap saya membuat perencanaan dan strategi yang matang. ;)

Akhirul kalam, bagi teman-teman yang ingin pesan produk-produk Oriflame monggo hubungi saya di 0813-8656-8459. Atau bagi teman-teman yang ingin menambah uang jajan, punya penghasilan sendiri, ingin jualan dari rumah, silakan isi formulirnya disini ya. Ditunggu lhooo…
Oya lupa, bagi yang ingin tahu Avail itu apa silakan klik ini. Untuk informasi lebih lanjut, pemesanan, dan pendaftaran bisa hubungi saya di 0813-8656-8459 atau e-mail di ayu.rizkika@gmail.com