Wednesday, June 30, 2010

Dear My Online Diary

Beberapa hari yang lalu, Desti, ngetwit tentang menulis diari. Menurutnya:

@takodok : Menulis diary/buku harian mengasah kemampuan berpikir runut dan kemampuan berkomunikasi, nonverbal tp ya. Dgn siapa? Diri sendiri dong!

Saya langsung teringat dengan buku harian saya yang dulu-dulu (yang beberapa sudah saya buang dan beberapa yang lain sekarang entah dimana).

Dulu, saya termasuk orang yang punya buku harian. Walaupun tidak rutin setiap hari menulis "Dear diary", setidaknya saya pernah punya buku harian. Sekali, dua kali, berkali-kali. Tidak ada yang pernah awet. Maksud saya, buku harian saya itu tidak pernah saya tulis habis hingga halaman terakhirnya. Hanya penuh di beberapa lembar awal, tidak sampai separuh buku, lalu saya coret-coret dan saya robek kemudian saya buang.

Itulah saya. Hangat-hangat tahi ayam. Ketika sudah membeli buku harian yang mahal (tujuannya biar saya rajin menulis di buku harian itu), hari pertama saya bisa menulis berlembar-lembar. Hari kedua, masih menulis. Hari ketiga dan seterusnya, sudah mulai terlihat malasnya: hanya menulis setengah halaman. Dan kemudian baru menulis lagi setelah berbulan-bulan kemudian. :D

Tapi, saya setuju dengan Desti: Menulis diary/buku harian mengasah kemampuan berpikir runut dan kemampuan berkomunikasi, nonverbal tp ya. Dgn siapa? Diri sendiri dong! (Utami, 2010).

Saya sendiri merasakannya setelah beberapa minggu ini kembali rajin menulis buku harian. Ng... sebenarnya lebih tepat dengan online diary sih.

Penggemar: Maksudnya dengan "online diary" apa, Kim?

Maksudnya, saya bikin blog khusus curhatan sehari-hari saya. Tadinya saya mau beli buku harian khusus, namun mengingat saya tidak rapi dalam menyimpan barang-barang ya saya mikirnya lebih baik saya bikin blog saja. Formatnya seperti buku harian, namun karena bersifat online (hanya bisa diupdate kalau sedang online ) jadinya ya online diary toh? :-P

Nah, di online diary saya ini hal-hal yang tidak dapat saya ceritakan ke sahabat, bisa saya ceritakan ke diari saya. Mulai dari hal yang sangat pribadi hingga rahasia kelam saya tuangkan disini.

Setelah beberapa minggu ini saya rutin menulis catatan harian, saya merasakan ada yang berubah dalam diri saya. Selama ini rahasia yang saya simpan sendiri, setelah saya bagikan ke online diary saya itu, saya menjadi lebih lega. Saya bisa berdamai dengan diri sendiri karenanya. Dan sekarang saya bisa menjadi lebih lepas... dan bahagia. :-)

I have found a new bestfriend: my online diary.

Penggemar: Tidak takut terbaca orang lain, Kim? Kan katanya online diary kamu isinya rahasia semua.

Bagaimana mungkin bisa terbaca oleh orang lain kalau hanya saya saja yang tau URL online diary saya itu? Dan juga sudah saya atur setting-nya yang bisa baca tulisan-tulisan di dalamnya hanya saya. Bisa sih orang lain membacanya, tapi nanti. Suatu saat, beberapa puluh tahun dari sekarang, kalau saya sudah tua akan saya beritahu username dan passwordnya ke anak, cucu, atau cicit saya yang terpercaya untuk dibacanya. Kenang-kenangan untuk mereka. Kisah pengalaman hidup saya adalah harta warisan yang tidak ternilai kan harganya? :-D

*siap-siap dihajar massa*

Tuesday, June 29, 2010

Don't Judge Book From Its Cover

Tadi kakak saya bilang begini:

"Mending kaya' gue, ga pake jilbab tapi kelakuan gue jauh lebih baik daripada dia yang pake jilbab. Sok-sokan ngomongin agama mulu, selalu ceramah, tapi kelakuannya bejat. Mending gue ga punya agama, tapi kelakuan gue ga bejat."

Saya gak tau harus berkata apa kalau sudah begini. Jadinya saya hanya bisa diam.

Saya tau wanita yang memakai jilbab diekspektasi berlebihan oleh orang lain. Diharapkan wanita berjilbab itu yang imannya kuat, selalu memegang teguh ajaran agama, tidak berbuat dosa, dll dsb dst.

Padahal, menurut saya, mau pake jilbab atau tidak biarlah Tuhan yang menentukan tingkat keimanan seseorang. Siapa kita yang berhak menghakimi orang berdasarkan atribut yang dia pakai? Siapa kita yang berhak memiliki ekspektasi terhadap orang lain terkait hubungan mereka dengan Tuhannya?

Kenapa tidak melihat orang lain dari perbuatannya, mengesampingkan segala macam atribut yang dikenakan? Kalau misalnya dia memang bejat, ya sudah bejat. Jangan bawa-bawa atribut jilbabnya, pecinya, kalung salibnya, or whatever.

Penggemar: Tapi, Kim, itu kan artinya dia menipu orang lain. Tampilan luarnya terkesan alim, tapi dalamnya bobrok. Apa-apaan orang macam itu?

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, jangan melihat orang lain dari tampilan luarnya. Ya, anggap sajalah kita harus bisa pandai-pandai menilai orang. Lagian, bukankah kita, manusia, selalu ingin mengimpresi orang lain? Kita ingin mendapatkan perhatian. Juga pengakuan. Sehingga, untuk memperolehnya kita akan melakukan apa saja termasuk menipu diri sendiri dan orang lain... dalam hal ini bagaimana cara kita berpakaian.

Oh, lupa satu hal. Pakaian yang kita kenakan bukankah termasuk "topeng" untuk menutupi keadaan kita sesungguhnya?

Foolish Games



You took your coat off and stood in the rain,
You were always crazy like that
I watched from my window,
always felt I was outside looking in on you
You were always the mysterious one with dark eyes and careless hair,
You were fashionably sensitive, but too cool to care
Then you stood in my doorway, with nothing to say
besides some comment on the weather

Lucu rasanya ketika mengetahui cinta bisa hadir secara tiba-tiba... dengan begitu mudah.

Well in case you failed to notice,
In case you failed to see,
This is my heart bleeding before you,
This is me down on my knees

Lucu rasanya ketika mengetahui cinta bisa begitu buta sehingga membuat orang lain dan diri sendiri terluka.

These foolish games are tearing me apart
Your thoughtless words are breaking my heart
You're breaking my heart

Lucu rasanya ketika mengetahui cinta menjadi sebuah permainan bodoh yang menghancurkan hati seseorang.

You were always brilliant in the morning
Smoking your cigarettes, talking over coffee
You philosophies on art, Baroque moved you,
You loved Mozart and you'd speak of your loved ones
As I clumsily strummed my guitar
You'd teach me of honest things
Things that were daring, things that were clean
Things that knew what an honest dollar did mean
So I hid my soiled hands behind my back
Somewhere along the line I must've gone off track with you

Lucu rasanya ketika mengetahui cinta dapat menimbulkan rasa superioritas atas orang lain.

Excuse me, think I've mistaken you for somebody else
Somebody who gave a damn,
Somebody more like myself

Lucu rasanya ketika baru menyadari bahwa orang yang selama ini kita pikir kita cintai, ternyata adalah orang yang tidak tepat untuk kita. Setelah sekian lama.

These foolish games are tearing me apart
Your thoughtless words are breaking my heart
You're breaking my heart

Dan tidak akan lucu rasanya jika permainan bodoh ini tidak segera dihentikan.

Sunday, June 27, 2010

Stop It!

Dear Keluarga dan Handai Taulan beserta teman-teman sebangsa dan setanah air,

Bisakah kalian berhenti bertanya:

"Sudah lulus kuliah?" atau,
"Kapan lulus?" atau,
"Skripsi sudah sampe mana?"

Berhentilah bertanya seperti itu. Karena, sungguh pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya semakin tertekan alih-alih bersemangat.

Terima kasih.

Friday, June 25, 2010

Toy Story 3


Setelah membaca riviu Toy Story 3 disana-sini, akhirnya saya berkesempatan juga menonton film ini sore tadi di Pejaten Village. Terima kasih kepada kakak saya tercinta yang telah membayarkan karcis bioskopnya untuk saya. (girlkiss)*

Sebenarnya sejak beberapa hari yang lalu saya merayu kakak saya untuk nonton Toy Story 3. Awalnya sih kakak saya agak malas. Namun, syukurlah saya didukung dua anaknya yang juga merengek ingin nonton film yang sama.

Fajri (keponakan 1) : "Ma, ayo sih nonton..."
Dewi (keponakan 2) : "Iya sih, Ma... Nonton Toy Story sih, Ma... Bagus tau..."

Dan demikianlah. Rayuan kami bertiga pun membuahkan hasil.

Kakak : "Tapi, nonton yang murah dimana ya?"

Saya bingung. Gak tau harus jawab apa. Saya kan jarang nonton, baik nonton tipi maupun nonton di bioskop. Saya gak tau bioskop mana yang harga karcisnya murah. Maka, berbekal info dari seorang teman saya mengusulkan ke kakak saya agar nonton di Pejaten Village saja.

Saya : "Kata teman Ayu, di sana nontonnya cuma Rp 25.000,-. 3D pula. Murah kan?"

Oke, kami pun sepakat. Pejaten Village akhirnya kami tuju sore tadi.

Dan ternyata, Sodara-sodara... Ada baiknya mencari info akan sesuatu hal itu secara lengkap. Jangan setengah-setengah. Memang sih harga tiketnya Rp 25.000,-, tapi untuk hari Senin - Kamis. Hari Jumat harga karcis naik jadi Rp 35.000,-. Hari Sabtu - Minggu lebih dahsyat lagi: Rp 50.000,- (kalau tidak salah).

Ya sudahlah. Tidak apa-apa. Anggap saja rejekinya tuh bioskop kami nonton Toy Story 3 disana. Sekalian anggap saja sebuah pengalaman pertama akhirnya kesampaian juga saya bisa main ke Pejaten Village. Ihiiiyy!!

Info gak penting : Di Pejaten Village, ada Heritage lhooo... (ninja)*

Lanjut lagi ya.

Pas beli tiket itu, iseng saya pingin nanya ke Mbak-mbaknya, "Mbak, kacamata 3D-nya kapan dipinjemin ya?" Tapi, saya urungkan niat saya itu. Saya gak mau ketauan cupu-nya saya ini. Karena toh ternyata jawabannya sesuai dengan tebakan saya: kacamatanya dipinjamkan saat masuk ke studionya. Tebakan yang sungguh jitu, kan? Hahahaha... *tertawa bangga*

Maka, kacamata 3D pun dipakai. *sungguh, saya terlihat sangat keren memakai kacamata itu. Sayang tidak ada skrinsyutnya*

Saya pun duduk dengan santai seraya berharap Toy Story 3 sesuai dengan harapan saya. Disamping saya duduk keponakan saya yang bernama Dewi. Saya gak tahu apa yang ada di benak dia saat sebelum film dimulai. Mungkin dia masih berharap untuk bisa juga nonton Karate Kid setelah nonton Toy Story 3.

Akhirnya film pun mulai.

Saya sempat bingung. Ini apa maksudnya kok tiba-tiba Mr. dan Mrs. Potato Head jadi jahat? Terus, kenapa itu Woody, Buzz Lightyear, dan Jessie diserang sama monyet-monyet merah?

Hohohoho... Ternyata Andy sedang bermain rupanya! Dan setelah itu film pun mengalir dengan lancar.

Sejak menit pertama hingga akhir, emosi saya dicampur aduk. Saya dibuat tertawa terbahak-bahak. Beneran, saya tertawa ngakak. Tuh film lucu banget! Saya juga dibuat tegang, bahkan air mata hampir menetes saat adegan Woody cs bergandengan tangan menghadapi maut (untunglah mereka lolos dari maut). Di akhir film, saya menangis. Benar-benar menangis, bukan hanya sekedar air di ujung mata yang nyaris keluar. Pipi saya basah dan saya harus menyeka pipi saya berkali-kali untuk menghapus air mata saya. :-(

It is a really touching movie. Sungguh menyentuh. Mengajarkan kepada saya artinya persahabatan, entah itu persahabatan antar manusia, antar mainan, atau antara manusia dengan mainan. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain memiliki sahabat yang selalu setia bersama kita kan? Kapan saja akan selalu menolong kita, bahkan mau berkorban untuk kita. Ah, saya ingin punya sahabat seperti Woody dan Buzz. :-)

Memiliki sahabat itu mudah, namun menjaga persahabatan itu juga susah. Andy dan Bonnie mengajarkan saya menjaga persahabatan itu sangat penting. Bagaimana mereka menjaga sahabat-sahabat mereka (dalam hal ini adalah mainan mereka) dengan sangat baik. Mereka pun sangat menyayangi mainan mereka dan memperlakukan mainan mereka dengan baik. Dari sini saya sadar, jika dengan mainan saja kita harus bersikap baik, bagaimana dengan sesama manusia? Harus lebih baik lagi tentu.

Dan akhirnya saya harus sepakat dengan riviu-riviu yang telah saya baca disana-sini itu. Toy Story 3 is a great great great movie! Well done, Pixar!

* adalah emot yang ada di Plurk.

p.s.: gambar dicomot dari sini.

Friday, June 18, 2010

Patah Hati. Lagi.

Kata Saphira di dalam Eldest, "Life is both pain and pleasure." Saya setuju. Dan jikalau boleh menambahkan, saya ingin menambah kalimat tersebut dengan, "Love is also both pain and pleasure." Saya rasa, sampai disini kita semua sepakat. :D

Bagi sebagian orang, cinta itu menyenangkan. Cinta mampu menghapus semua duka yang diderita dan membawa kebahagiaan (yang sepertinya) selamanya. Namun, bagi sebagian yang lain cinta itu tak lebih dari penyakit. Kalau sudah sakit gara-gara cinta, ya semuanya kena. Entah itu sakit hati, depresi, sampai sakit jiwa. Bahkan, bisa membawa angan-angan ingin membunuh orang. Sampai disini kita masih sepakat kan? :P

Tapi saya tahu, ada sebagian lagi yang menganggap cinta itu biasa saja. Ada cinta ya syukur, tidak ada cinta ya sudah lah. Tidak memberi pengaruh apa-apa ke dalam kehidupan beliau-beliau.

Lalu, mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya: saya termasuk dalam kelompok mana? Ehm... Kalau saya sih termasuk dalam kelompok "Love is both pain and pleasure."

Bagi saya, cinta itu tidak melulu isinya senang-senang saja. Telpon-telponan dari malam sampai pagi, kencan makan malam, nonton di bioskop, jalan-jalan ke Puncak, dan seterusnya. Anda bisa menambahkan sendiri. Cinta bisa membuat kita ribut dengan pasangan di dalam mobil, berantem via YM, tidak bertegur sapa selama tiga hari, atau... mudahnya saja membuat kita menangis berhari-hari.

Cinta juga tidak melulu menghujani kita dengan kata-kata "Aku sayang kamu", "Aku cinta kamu", "You are my everything", atau berbagai kata romantis (atau bullshit?) lainnya. Cinta bisa membuat kita bersumpah serapah, berkata kasar, memaki, bahkan menyudutkan Tuhan dan menyalahkan-Nya.

I've been there, I've done that.

Penggemar: Termasuk menyudutkan Tuhan dan menyalahkan-Nya, Kim?

Iya, termasuk yang satu itu.

Dulu, kalau teman saya datang ke saya sambil curhat tentang kisah cintanya--yang bisa sampai menangis dan begitu lembek--saya hanya bisa menatapnya dengan penuh iba. Suara saya berkata, "Sabar ya... Mungkin dia bukan yang terbaik untuk kamu." Lalu, dalam hati saya menjadi kesal sendiri. "Ya udahlah, cuy. Cari yang lain. Masih banyak ikan di laut. Get a life!"

Saya tidak akan menjadi orang yang sesombong itu kalau saya tahu saya akan mengalaminya sendiri.

Baru-baru ini saya mengalami yang namanya patah hati. Lagi. Kasian yah saya? Iya, kasian memang. Tapi, gak apa-apa. Gak apa-apa (waktu itu) saya tidak tidur selama 36 jam, tidak makan, dan menangis berminggu-minggu. Gak apa-apa (waktu itu) badan saya jadi kurus kering. Gak apa-apa juga (waktu itu) saya sampai jatuh sakit. Saya sudah terbiasa dengan sakit (sakit secara fisik dan sakit hati), dan apalah artinya patah hati kali ini? Biasa saja. *tersenyum pongah*

Gak apa-apa kan, ya? :P

Saya kan manusia kuat. Saya gak mudah hancur hanya gara-gara masalah picisan macam ini. Justru saya semakin menjadi kuat! Jadi, untuk jadi manusia yang kuat, saya gak usah capek-capek makan biskuat. Kriuk... *garing banget sih*

Ga percaya?

Buktinya, saya tetap kuat kok berada disamping dia hingga saat ini. Saya masih dengan setia mendengarkan cerita-cerita dia. Saya juga berusaha menenangkan dia di kala dia sedang dirundung masalah, seperti sekarang ini.

Penggemar: Huanjrit. Gila banget lo, Kim! Kok bisa sih udah disakitin tapi masih bisa berbuat baik segitunya sama dia?

Well, kalau mau mikir sakitnya sih ya sakit. Siapa yang gak sakit begitu tahu orang yang kita sayang dan masih dekat dengan kita, ternyata akan menikah dengan orang lain? Tapi yaaa... Kalau hanya mau mengingat sakitnya, ya... gak bakalan maju-maju dong? Hidup ini kan tidak hanya seputar "kisah patah hati". :D

Oke, saya sempat menyumpahinya. Saya memakinya. Kemudian, apa? Apa yang bakal saya dapatkan jika saya terus-terusan menyumpahinya, memakinya, bahkan membencinya? NOL. Saya tidak mendapatkan apa-apa, selain penyakit hati yang membuat hati saya semakin kotor. Saya hanya bisa menjadi manusia penuh dendam dan benci. Dan kita semua tahu bahwa dendam dan benci itu mengkonsumsi kita hidup-hidup. Jiwa kita akan mati secara perlahan.

Toh, selama saya bersama dia, kami tidak melulu punya kenangan yang buruk. Kami memiliki kenangan yang indah juga. Kenangan indah itu lah yang saya gunakan sekarang untuk bangkit dari rasa sakit ini. Saya tidak mau membenci dia, ataupun orang lain, selama saya hidup. Itu prinsip saya.

Dan saya harus berterima kasih dengan kenangan indah itu. Karena dialah sekarang saya belajar untuk memaafkannya. Saya belajar untuk melepasnya. Saya belajar untuk menjadi teman baiknya.

Saya tahu itu tidak mudah, tapi saya percaya saya bisa. Saya percaya saya punya cukup kekuatan untuk mempelajari itu semua dan membuat hubungan kami menjadi lebih baik dari sebelumnya. Yang lebih penting, saya percaya saya bisa menjadi manusia yang lebih baik dan lebih kuat.

Saya pun termenung sekarang. Apa ini yang dimaksudkan oleh Dewi Lestari dengan "Cinta yang membebaskan"? Entahlah.