Wednesday, July 14, 2010

Balada Skripsi #1

Satu setengah bulan sejak terakhir saya bertemu dengan Pembimbing Skripsi (untuk seterusnya mari kita singkat menjadi PS) untuk berkonsultasi. Hingga detik ini skripsi saya tidak ada kemajuan sama sekali.

Kalau kemarin alasannya adalah saya tidak sreg dengan topik yang ada sehingga saya memutuskan untuk ganti PS dan ganti topik, maka sekarang kendalanya adalah rasa malas dan tidak fokus. Bayangkan, 1.5 bulan saya membuang waktu saya percuma begitu saja! Yang seharusnya dalam 1.5 bulan itu saya sudah menyelesaikan bab 2, tapi ini saya baru bab niat. Blah! Padahal topik yang sekarang saya angkat adalah minat saya. Jurnal yang terkait dengan topik saya bertebaran. Jadi, kalau mau dibilang saya kekurangan referensi itu berarti saya bohong! Karena sebenarnya adalah saya malas mencari.

Dan, hasrat saya untuk pulang kampung semakin besar. Disaat-saat seperti ini saya butuh keluarga. Saya kangen rumah dan bau-baunya. Terutama sekali, saya rindu ayah saya. Saya teringat waktu saya masih kecil dan masuk rumah sakit, ayah saya membacakan cerita di majalah bobo untuk saya. Hiks.

Bolehkah saya menjadi anak kecil yang cengeng dan manja? Mencari-cari ibunya untuk dipeluk sambil menangis? Mencari-cari ayahnya untuk berkeluh kesah dan bercerita bahwa dirinya butuh dukungan dari ayahnya?

Ya, saya tahu ini berlebihan. Terserahlah dengan apa yang kalian pikirkan.

Friday, July 9, 2010

An Elusive Ideal

What are your criteria in looking for a partner? Is it smart? Beautiful? Handsome? Rich? Or what? And if you already have one, what are you looking at him/her that make you fall in love with that person?

A romantic relationship involves two persons. Both of them do and experience what every one in the world does in any romantic relationships: loving and being loved. But, has it ever occured to your mind that actually more than two persons involve in your relationship? Don't get me wrong. If you think that I approve cheating then you're wrong.

I don't want to say or approve that it is okay to have another person in your life when you're already having someone special. I decry any form of affair. Whatever the reason is. But here, I just want to point out--based on my question in the first paragraph--that, as a matter of fact, we all have our dream of partner. Using Robert J. Sternberg's term is the elusive ideal.

Even though we already have a partner, we still have our ideal partner in our mind. Consciously or not. If your partner meets almost the criteria you have in mind, then this your ideal partner in mind will not intrude your relationship. But, what if your partner doesn't correspond your criteria? According to Sternberg (1988), your elusive ideal may enter into your relationship and start to interfere it. Your elusive ideal may not exist in physical form, but it may hunt your mind and disrupt the relationship that you've built with your partner.

For example, a man who adores Barbie so much may crave a girl who just looks like Barbie. Let say, his lover now doesn't meet his criteria but he still stays in the relationship. Next thing, in a subtle way (or unconsciously), he asks his partner to dress like a Barbie or to act like a Barbie. *please don't laugh. it's only an example, by the way.*

Point is, when we don't get our expectation or if there are too much gaps between our dream partner and our real partner, we tend to drive our real partner into our dream land that we have created. When this happens, problems start to emerge.

It is not a bad thing to have our elusive ideal. But rather, we need it to evaluate our relationship with our partner. According to Sternberg (1988):

In evaluating your relationship with another it is important to take into account that person's ideal as well as his or her feelings toward you. (Robert J. Sternberg, "Triangle of Love", p. 30)

And if I may add, according to me, we need elusive ideal as our standard to find the right one for us. :-)

These standard of a perfect match for us must not to be set too high or too low. If you set the standard too high, you probably will not meet someone in your entire life. Thus, you will not be happy. And otherwise, if you set the standard too low, you will be easily fall for someone that may not even match with you. Thus, you will end up miserable.

So, listen to what Sternberg had said!

Thus, the goal is to set a realistic ideal and then to seek it in your life.

And listen to what I will say!

Don't get blinded by love. If you love someone, before you get into more serious in your relationship, take a moment to evaluate every thing.

Happy creating an elusive ideal and happy searching, folks!

Thursday, July 8, 2010

Film: A Moment to Remember

Saya bukan tipe orang yang gemar tidur larut malam. Bukan pula tipe orang yang jarang tidur. Malah sebaliknya, saya ini tukang tidur. Mau pagi, siang, sore, maupun malam saya mudah sekali mengantuk. Ujung-ujungnya ya mudah banget tidur. Contohnya aja, hari ini saya tidur jam 4 pagi dan baru bangun jam 11 siang. Eh, sorenya saya tidur lagi dong dari jam 3 sore sampe jam setengah 7 malam. Dan, percaya atau tidak ketika saya sedang menulis postingan ini rasa kantuk sudah mulai saya rasakan. Hahahaha... *buka aib sendiri* gyahahaha

Nah, makanya waktu tau pertandingan Jerman vs Spanyol dilangsungkan pukul 1.30 pagi, saya bela-belain nginep di tempat kost teman saya, Riska. Saya tahu kalau saya nonton sendirian pasti ujung-ujungnya saya tertidur dan pertandingan semifinal semalam pun terlewatkan. Saya butuh partner in crime buat teriak-teriak mengomando pergerakan permainan Jerman melalui sisi layar tivi *halah*, buat mengingatkan juga kalau pemain bek Jerman mulai keteteran atau teledor menjaga daerahnya *cih*, buat marah-marah ke pemain depan Jerman kalau mereka menyia-nyiakan kesempatan emas untuk ngegolin *hasyah*, dan tentunya untuk memaki Iker Casillas yang tidak membiarkan gawangnya dijebol pemain-pemain Jerman *asyem!*.

Tapi, alasan sebenarnya sih, saya butuh teman untuk membuat saya tetap terjaga. ketawasetan

Tapi lagi... Tulisan kali ini tidak akan membahas soal kekalahan Jerman tadi malam. Sudah cukup banyak berita di koran, internet, dan blog yang membahas soal ini. Dan saya tidak akan menambah satu tulisan lagi mengenai itu. Cukup sudah! Ciiiiyyyyyaaaaaattttt...!!!
*mengekspresikan kekesalan dengan menendang-nendang bola*nendangbola2nendangbola2nendangbola2nendangbola2

Penggemar: Lantas, kali ini kamu menulis tentang apa, Kim?

Ng... Saya mau cerita sedikit sih tentang film yang semalam saya tonton dengan Riska. sengihnampakgigi

Jadi ceritanya, semalam itu saya nonton film yang judulnya A Moment To Remember.

gambar dari sini.


Film drama Korea yang sukses membuat saya menangis tersedu-sedu. Meskipun pemeran pria utamanya, Woo-sung Jung, ganteng dan cool abis, tetap tidak mampu menahan airmata saya keluar. Justru... Justru karena beliau lah saya semakin kencang menangis. nangis


gambar dari sini.

Penggemar: Cup...cup...cup... Tenang, Kim... Tenang... Sini...sini... aku peluk...

Hiks... Terima kasih, penggemar setiaku... nangis *melanjutkan menangis di pundak Mesut Ozil*

Penggemar: Emang filmnya sedih banget ya, Kim?

Iya, filmnya sediiiiiiiih banget. Ditambah saya orangnya yang mudah sekali menangis dan sangat emosional, jadi terbawa deh emosinya oleh film itu.

Lagian, siapa sih yang gak sedih ketika tahu pasangan kita ternyata mengidap penyakit Alzheimeir? Mau sesayang apapun kita sama pasangan kita, tidak peduli bagaimanapun juga kita menunjukkan rasa cinta dan sayang kita ke pasangan, pada akhirnya lambat laun pasangan kita tidak akan mengingat kita sedikit pun. Bahkan, nantinya dia tidak tahu bagaimana memakai baju, pipis sembarangan. Yang pada akhirnya jiwa pasangan kita akan mati dan secara perlahan fisiknya pun akan mati.

speechless

Dan kalian, wahai penggemar setiaku, ingin tahu apa yang membuat saya terharu sehingga menangis?

Cheol-su (Woo-sung Jung) menerima keadaan Su-jin (Ye-jin Son), bahkan ia mau merawat Su-jin meskipun nantinya Su-jin tidak ingat Cheol-su sebagai suaminya. Cheol-su yang dengan sabar mengajari Su-jin untuk mengingat alamat rumah mereka, bahkan menempelkan kertas-kertas di segala sudut rumah yang bisa dilihat oleh Su-jin kalau-kalau Su-jin mulai lupa siapa dirinya.

Saya tahu. Sungguh tipikal film drama. Seorang pria yang begitu mencintai seorang wanita sehingga mau melakukan apa saja meskipun si wanitanya itu sakit parah. Begitu dahsyatnya kekuatan cinta di film-film drama.

Such a fairy tale.

Saya juga tahu itu hanya di film yang mungkin sulit sekali ditemukan di kehidupan nyata. Mungkinkah itu alasan utama saya menangis? Saya begitu sangat mendambakan sosok pria seperti Cheol-su untuk mencintai saya? Seorang pria urakan, cuek, tapi pintar. Seorang pria yang tidak pernah menghabiskan waktunya dengan berkata-kata "cinta" dan "sayang", tapi langsung menunjukkannya dengan tindakan nyata. Seorang pria yang tidak banyak omong, yang tidak bisa ditebak hati dan pikirannya, tapi begitu menyayangi seorang wanita maka ia menyayangi wanita tersebut dengan sepenuh jiwa dan raganya. Seorang pria yang punya komitmen.

But hey... Itulah salah satu manfaat menonton film kan? Untuk menjaga mimpi saya. Jadi, tak ada salahnya dong ya saya mengharapkan pria seperti Cheol-su jadi pacar saya? sengihnampakgigi

Saturday, July 3, 2010

Film: Tanah Air Beta

Kemarin sore, saya chatting dengan teman saya, Riska. Ngobrol ngalur-ngidul kesana-kemari akhirnya sampailah pada kesimpulan dia mengajak saya nonton Eclipse. Sebenarnya saya ogah nonton tuh film, soalnya kapok setelah nonton film Twilight-nya. Sampah banget. Saya pikir, novelnya aja ceritanya basbang gitu, apa yang bisa membuat filmnya tiba-tiba menjadi film bagus?

Namun, saya heran. Kenapa Twilight saga ini--baik novel maupun film--bisa laku keras? Apa sih yang ditawarkan dari ceritanya, selain wanita mortal yang jatuh cinta dengan seorang vampir--si makhluk abadi, dan dibumbui cinta segitiga dengan manusia serigala? Basi.

Apa karena kita-kita ini sebagai manusia mendambakan kisah cinta indah seperti kisahnya Bella? Diperebutkan vampir dan manusia serigala tampan? Lantas, kita berharap pria-pria tampan di luar sana yang mengejar-ngejar kita? Gak cuma tampan, tapi kaya, baik hati, setia sama kita hingga mau mempertaruhkan nyawa, seperti Edward Cullen. Oh, well.

Terus, soal filmnya. Si Kristen Stewart yang kalau ngomong kaya' kumur-kumur (dan gak tahan dengan tampang songongnya), terus si Robert Pattinson yang ngomong ditahan-tahan kaya' ngeden, dan si Taylor Lautner yang emang ganteng dan seksi pisan! *eh*

Terus... film kaya' gini bisa laris di pasaran? Blah. Bahkan teman saya, Riska, lebih memilih untuk menonton Eclipse dibandingkan film karya anak bangsa, seperti Tanah Air Beta? Ah. Dimana rasa nasionalisme-mu, Kawan? *halah, ga nyambung*

Tapi syukurlah saya tidak jadi nonton film itu. Ketika saya ke mbak-mbak bioskopnya mau pesan dua tiket Eclipse, beruntunglah saya karena tiket untuk jam 17.20 dan 19.45 sudah habis dan masih ada sisa untuk jam 22.10. Tentu tidak mungkin demi Eclipse saya rela pulang malam ke kosan dan melihat wajah jutek Mas Mumu (penjaga kosan) saat membukakan pintu untuk saya. Enak saja! Alhasil, Riska akhirnya sepakat nonton Tanah Air Beta.


Tanah Air Beta, film yang diproduksi Alenia pictures, bersetting di Nusa Tenggara Timur. Ceritanya bermula dari Tatiana dan anaknya, Merry, yang mengungsi ke NTT dari Timor Leste setelah jajak pendapat disana.

Saya tidak akan spoiler disini. Apa serunya juga spoiler? Menghilangkan rasa penasaran kalian dan tidak mau membuang uang untuk menonton film ini? Bukan tujuan saya. Tapi, saya cuma mau bilang film ini mengecewakan. Yang dijual oleh film ini hanya pemandangan kering kerontang NTT. Oh iya, dan rumah-rumah tradisionalnya. Eh, pantainya juga ding (satu scene ga penting saat Pak Dokter sedang menghadiri pesta resepsi pernikahan di pinggir pantai).

Penggemar: Dari segi cerita bagaimana, Kim?

Jujur, sampai akhir film saya malah bertanya-tanya, "Inti cerita film ini apa ya?"

Oke, saya mungkin mendapatkan apa pesan yang ingin disampaikan oleh film ini:
  1. Membuka mata kita tentang masalah pengungsi eks warga Timor Leste di daerah perbatasan.
  2. Menyadarkan kita bagaimana kehidupan masyarakat di daerah tertinggal.

Bagus sih pesannya, tapi cerita film ini tentang apa? Tentang Merry yang selalu ribut dengan Carlo, tentang Merry yang ingin bertemu dengan kakaknya, atau tentang apa?

Kalau, misalnya, inti cerita Tanah Air Beta adalah perjalanan Merry dan Carlo ke daerah perbatasan ingin menemui kakaknya Merry, menurut saya kurang dieksploitasi. Jadinya kurang greget ceritanya. Beneran deh. Sepanjang perjalanan yang panjang itu (delapan jam naik kendaraan bermotor, bisa dibayangkan berapa jam jalan kaki?), hanya menunjukkan Merry yang lapar, Merry yang haus, dan Carlo yang setia menemaninya... dan, voila! Sampailah mereka ke daerah perbatasan. Basi banget gak sih?

Dan banyak gak masuk akalnya juga. Misalnya aja waktu si Merry kelaparan di jalan dan Carlo yang rela mencuri ayam untuk mereka makan. Terus, tiba-tiba mereka bisa bakar ayam dong. Lah, itu pisau buat motong ayamnya mana? Kayu bakarnya dapat darimana? Belum lagi, kok tiba-tiba mereka bisa ketemu sama kakaknya Merry hari itu juga. Padahal kan sebelumnya mereka gak janjian lewat twitter atau facebook mau ketemuan di daerah perbatasannya hari apa dan jam berapa. Hebatnya lagi, mereka tidak tersesat!

Saya sih bukannya tidak suka mereka sampai dengan selamat, cuma... jalan kaki berjam-jam, tidak ada bekal, tidak ada uang, ah... sudahlah. Nonton aja langsung filmnya ya biar tahu apa yang saya maksud. :-D

p.s. : gambar diambil disini.

Friday, July 2, 2010

Relationships are constructions that decay over time if they are not maintained and even improved. A relationship cannot take care of itself, any more than a building can. Rather, we must take responsibility for making our relationships the best they can be, and constantly work to understand, build, and rebuild them. (Robert J. Sternberg, "The Triangle of Love: Intimacy, passion, commitment.", p. 83)
Setuju, Pak Sternberg. :-D