Monday, January 31, 2011

Postcrossing

Day 31. Post a Day 2011.

Masih ingat cerita saya tentang kerinduan saya akan sahabat pena? Saya sudah mengirimkan surat ke beberapa orang teman. Ternyata, sudah lama tidak menulis surat membuat saya tidak bisa menulis lama-lama dan panjang. Alasannya, tangan pegal dan tidak tahu harus menulis apa. ihikhik

Well anyway, surat sudah dibuat dan sudah dikirim. Tapi, saya tidak akan membahas tentang itu.

Penggemar: Lantas, membahas apa dong, Kim?

Saya mau bercerita sedikit tentang Postcrossing. Pertama kali saya tahu website ini dari Rise. Di tulisan saya tentang sahabat pena itu dia menyebut-nyebut Postcrossing. Saya penasaran apa itu Postcrossing? Soalnya belum pernah dengar, tapi kalau mau bertanya ke Rise saya gengsi. Jadinya, saya tanya ke mbah Google. ihikhik

Intinya sih Postcrossing itu memberikan kita alamat secara random untuk kita kirimi kartu pos. Benar-benar random! Saya sendiri dapat alamat di Australia, Cina, Finlandia, dan Amerika Serikat. Seru ya? Iya, seruuu... Rasanya gimanaaa gitu pas kemarin kirim kartu pos ke luar negeri. Agak-agak bangga dan heboh sendiri. *halah* Maklum lah, saya kan belum pernah kirim surat atau kartu pos ke luar negeri. jelir

Sepanjang perjalanan dari kos ke kantor pos membuat saya jadi bertanya-tanya sendiri. Bagaimana ya perasaan orang-orang yang saya kirimi kartu pos ini ketika menerima kartu pos dari saya (atau dari yang lain)? Ketika mereka pulang ke rumah dan mendapati kartu pos untuk mereka. Kartu pos dari orang asing yang tinggal di Indonesia (atau dari negara-negara lain).

Kalau saya sih, pasti girang banget. Lha wong, dapat surel dari penggemar saja saya senang apalagi dapat kartu pos dari luar negeri. *dikeplak* Pasti rasanya gembira bukan kepalang. Haha... Dasar katrok. Sepertinya saya ini hobi banget lebay ya? Hihi...

Penggemar: Tapi, Kim, kirim kartu pos ke luar negeri kan mahal. Apa nggak tekor tuh kamu?

Tidak juga. Kirim kartu pos ke luar negeri biaya perangkonya sama dengan biaya perangko kirim surat di dalam negeri. Serius deh. Perangko untuk kartu pos ke Amerika Serikat dan kirim surat ke Makassar, sama-sama Rp 4000. Sewaktu saya tanya ke mbak-mbak kantor posnya, katanya sih kirim kartu pos memang murah. Berarti bisa diteruskan lah hobi ini. Kalau mahal, saya sih jadi ogah buat melanjutkan. Cukup empat kartu pos ini saja yang saya kirim. Tidak akan ada lagi kartu pos-kartu pos berikutnya. *halah*

By the way, kalau saya pikir ya konsepnya Postcrossing agak-agak mirip dengan book swap-nya Bookmooch. Saya pernah menulis tentang Bookmooch di blog saya yang satunya. Sama-sama saling tukar barang (kalau yang satu kartu pos, nah Bookmooch ini buku), tapi alamatnya tidak dikasih random. Di Bookmooch, orang yang tertarik dengan buku kita akan mengirimkan kita pesan terlebih dahulu. Kalau kita setuju ya bisa kita kirim buku yang dia minta ke alamatnya.

Postcrossing dan Bookmooch juga sama-sama pakai poin (atau sejenis itulah). Di Postcrossing setiap kartu pos yang diterima akan diregister postcard ID-nya oleh si penerima kartu pos. Setiap lima kartu pos yang diregister, kita baru bisa dapat tambahan alamat. Kalau hanya empat, ya kita tidak bisa minta alamat lebih dari lima. FYI, untuk pendaftar baru maksimal hanya bisa kirim lima kartu pos ke lima alamat.

Nah, kalau Bookmooch itu setiap buku yang sudah kita kasih ke orang lain dan mereka mencatatnya di Bookmooch, kita dapat poin. Poin ini digunakan untuk kita meminta buku ke orang lain. Soalnya, kalau tidak pakai poin seperti ini nanti kita keenakan meminta buku ke orang sedangkan kita sendiri tidak mau kirim buku. Kan kalau begitu curang namanya.

Tapi... Saya sendiri belum pernah mempraktekkan book swap ini sih. *nyengir kuda* sengihnampakgigi

Soalnya saya masih sayang sama buku-buku saya. Sayang kalau mau dihibahkan begitu saja ke orang yang belum pernah saya lihat rupanya. Eh tapi, saya sudah sign up kok di Bookmooch. Sign up doang, tapi tidak aktif. Hanya jadi anggota pasif. ihikhik

Akhirul kalam, kalau teman-teman tertarik untuk dapat kartu pos dari luar negeri silakan daftar ke Postcrossing. Atau kalau teman-teman tertarik untuk tukar-tukaran buku, silakan jadi anggota Bookmooch.

Sekian dan terima kasih. *halah, resmi banget*

Sunday, January 30, 2011

[Book] Agama Saya adalah Jurnalisme

Day 30. Post a Day 2011.

Judul: Agama Saya adalah Jurnalisme
Penulis: Andreas Harsono
Penerbit: Kanisius (Cetakan I, 2010)
Tebal: 268 halaman
ISBN: 978-979-21-2699-0

Buku ini adalah kumpulan dari tulisan-tulisan Andreas Harsono yang ada di blognya. Tadinya saya kira buku ini adalah buku khusus yang memang sengaja dibuat, bukan kumpulan tulisan dari blog. Ternyata perkiraan saya salah. Buku ini adalah sebuah antologi.

Jujur saja, entah kenapa saya tidak terlalu sreg dengan buku-buku yang merupakan kumpulan dari tulisan di blog. Kurang spesial jadinya karena sudah dimuat sebelumnya. Saya juga masih bisa membacanya langsung di blog yang bersangkutan. Tapi, khusus buku ini adalah sebuah pengecualian karena saya baru-baru ini saja mengikuti blognya Pak Harsono. Dengan kata lain, tulisan-tulisan yang dipilih masuk ke dalam bukunya ini belum pernah saya baca.

Antologi ini dibagi ke dalam empat bagian, yaitu (1) Laku wartawan; (2) Penulisan; (3) Dinamika Ruang Redaksi; dan (4) Peliputan. Tulisan-tulisan dimasukkan ke dalam bagian yang dianggap sesuai. Tapi, saya tidak peduli dengan pembagian ini. Karena bagi saya sama saja. Tulisan-tulisan lepas meskipun dipisahkan dan digabung dalam bagian-bagian, tetap saja lepas. Maksud saya, antara satu tulisan dengan tulisan lain tidak nyambung. Tapi yah... mungkin ini untuk mempermudah saja atau istilah keren dari saya kategorisasi. sengihnampakgigi

Karena ini antologi, isinya pun bermacam-macam. Ada cerita pengalamannya menerima beasiswa Nieman Fellowship dimana Bill Kovach menjadi kuratornya, ada tentang byline dan tagline (saya baru tahu harian kita tidak memakainya), ada tentang investigative reporting, dan masih banyak yang lain.

Untuk saya yang tidak begitu familiar dengan dunia jurnalisme, buku ini adalah langkah awal untuk saya mengerti jurnalisme. Saya jadi tahu menjadi wartawan itu tidak semudah mengikuti kontes idola-idolaan. Ada yang masih ingat acara mencari pembaca berita untuk program berita di salah satu stasiun televisi swasta kita?

Menjadi seorang jurnalis yang baik butuh waktu dan pembelajaran terus-menerus. Kalau boleh saya simpulkan dari buku ini, seorang jurnalis itu harus pintar, berwawasan luas, kritis, logis, dan harus banyak membaca. Intinya, menjadi jurnalis yang baik itu tidak mudah. Kalau menjadi jurnalis semudah mencari ratu kecantikan, tak heran mutu jurnalis di Indonesia kurang bagus.

Kita butuh jurnalisme yang bermutu. Kalau kata Bill Kovach, "Makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, maka makin bermutu pula informasi yang didapat masyarakat bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang akan dibuat." (hal. 10) Singkatnya, semakin baik jurnalisme, maka semakin baik pula kehidupan masyarakatnya. Lantas, bagaimana cara kita mendapatkan jurnalisme yang bermutu? Ya, dari jurnalis-jurnalis yang bermutu. Memang dari mana lagi?

Untuk itu ada sembilan elemen jurnalisme yang perlu dipelajari dan didalami juga diimplementasikan oleh jurnalis mana saja. Kovach beserta rekannya, Tom Rosenstiel, yang mencetuskan sembilan elemen jurnalisme dalam buku mereka berjudul The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (hal. 15). Kesembilan elemen itu adalah:
  1. kebenaran
  2. tanggung jawab
  3. verifikasi
  4. independen
  5. memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas
  6. jurnalisme sebagai forum publik
  7. jurnalisme harus memikat sekaligus relevan
  8. wajib bagi wartawan menjadikan berita proporsional dan komprehensif
  9. etika dan tanggung jawab sosial
Kalau teman-teman mau tahu lebih banyak tentang sembilan elemen jurnalisme ini silakan baca buku Kovach dan Rosenstiel ini saya sendiri belum baca. Atau, kalau mau ringkasannya saja ya monggo bukunya Pak Harsono ini dibaca. sengihnampakgigi

Setelah membaca buku ini, saya semakin menghargai profesi jurnalis. Menjadi jurnalis yang baik dan independen itu tidak mudah. Sulit melepaskan diri dari amplop, bias kepentingan, dan lain-lain. Saya pribadi, sebagai bagian dari masyarakat, semakin berharap semoga saja jurnalisme di Indonesia akan semakin berkualitas. Karena seperti yang sudah ditulis di atas

"Makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, maka makin bermutu pula informasi yang didapat masyarakat bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang akan dibuat." (Bill Kovach)

Skala 1 - 5, saya beri nilai 4 untuk Agama Saya adalah Jurnalisme. Nilai 5 kalau saja dia bukan antologi dari tulisan-tulisan Pak Harsono di blog.

Saturday, January 29, 2011

Edisi Random #2

Day 29. Post a Day 2011.

Random 1

Tiga hari yang lalu saya membeli majalah Tempo edisi "Korupssi", dibacanya Korupsi PSSI. Termakan "iklan" di Twitter, saya yang jarang-jarang beli majalah (setahun belum tentu beli satu) tergoda untuk beli majalah Tempo edisi khusus tersebut. Apalagi dengan embel-embel "PSSI", plus "korupsi" pula. Klop lah sudah.

Dan tadi sore saya baru sempat membacanya. Langsung saya buka ke halaman 52, halaman laporan Tempo investigasi di PSSI.




Saya kira Tempo akan memberikan sesuatu hal yang baru, selain kasus suap wasit, pengaturan skor, dan pemain yang bisa "dibeli" oleh tim lawan. Ternyata tidak ada hal yang baru. Dan pembaca (saya) pun kecewa. Rp 25.000,- melayang percuma hanya untuk membaca lima belas halaman investigasi yang menurut saya kurang gigit.

Jujur saja, masih lebih gereget tweet provokatif dari @provokatrok. Tapi memang kalau dari tweetnya @provokatrok entah darimana dia memperoleh isu-isu tentang PSSI. Metodenya tidak jelas. Entah gosip, entah dia punya narasumber orang dalam, atau jangan-jangan dia sendiri bagian dari PSSI. ihikhik

Random 2

Dengar-dengar Twitter mau diblokir ya? Bapak Menteri kita itu suka sekali ya main blokir. Dikit-dikit blokir. Ini blokir, itu blokir. Nggak asyik, ah!

Atau, jangan-jangan yang dia tahu kerjanya cuma blokir-memblokir. Spesialisasi blokir. Job desc-nya pun hanya memblokir. sengihnampakgigi

Random 3

Hari Kamis kemarin saya membeli tiga buah buku. Masing-masing judulnya Agama Saya adalah Jurnalisme (Andreas Harsono), Eating Animals (Jonathan Safran Foer), dan Norwegian Wood (Haruki Murakami). Padahal saya sudah berjanji tidak akan beli buku lagi sampai saya sudah membaca habis semua buku yang dulu-dulu saya beli. Mana hari Rabu-nya juga saya beli buku Budak Pulau Surga karangan Soegianto Sastrodiwiryo. Itupun alasan membelinya karena buku Sastrodiwiryo tersebut diskon 60%.

Impulsive.

Entahlah kapan saya bisa membaca semua buku-buku baru saya itu.

Random 4

For Technorati, here is a unique code to verify that I am the author of this blog:

NFJRZ5XRKXUM

Random 5

Sebenarnya saya sudah punya ide mau menulis apa saja untuk 2 - 3 hari ke depan. Bodohnya saya tidak mencatat ide-ide itu di notebook saya. Alhasil, saya pun lupa. Jadilah tulisan hari ini random begini. xpasti

Friday, January 28, 2011

Film di Bulan Januari

Day 28. Post a Day 2011.

Bulan Januari ini saya menonton dua film, yaitu The Blind Side (2009) dan Creation (2009).

1. The Blind Side (2009)


gambar diambil dari sini


Filmnya lumayan membuat saya terharu. Saya sempat dibuat menangis karenanya. Yah... Itu sih memang faktor saya saja yang mudah tersentuh dengan hal-hal yang (menurut saya) sentimentil, jadinya keluar deh air mata. Tapi tidak cukup untuk membuat saya menangis sesenggukan sih.

Kalau ditanya ceritanya ya lumayan lah (ceritanya berdasarkan kisah nyata dari pemainfootball Michael Oher)... Tidak luar biasa, namun tidak buruk juga. Tipikal film drama Hollywood yang berakhir bahagia. Akting Sandra Bullock sangat kuat di sini. Wajar deh dia dapat piala Oscar. Sayang, saya tidak suka dengan make-up Bullock, membuat dirinya terlihat tua dan tidak cantik. Tapi, pakaiannya bagus-bagus. *halah*

Selain urusan make-up Bullock, hal lain yang mengganggu saya adalah yang menjadi anak laki-lakinya Sandra Bullock di film ini, S.J. Tuohy, yang diperankan oleh Jae Head. Berlebihan menurut saya aktingnya Jae Head ini.

By the way, hanya pikiran random saat saya menonton film ini sih. Saya berpikir keluarga Tuohy ini kok indah sekali ya? Finansial terjamin, rumah gedong, keluarga akur, dan membantu anak orang pula. Duh, american dream family banget lah ya.

Skala 1 - 5, saya beri nilai 3 untuk The Blind Side.

2. Creation (2009)


gambar diambil dari sini


Satu kata: membosankan. Durasinya panjang pula. Sampai saya bertanya-tanya sendiri film ini kok nggak selesai-selesai? Dari alur film berjalan lambat dan saya terombang-ambing dibuatnya. Nih, film maksudnya apa sih? ihikhik

Tapi akhirnya saya paham juga pesan yang ingin disampaikan. Itu... Si Charles Darwin (Paul Bettany) ternyata masih belum bisa ikhlas anak tertuanya meninggal. Hal itu mengganggu kehidupannya, hubungannya dengan istri dan anak-anaknya, dan pekerjaannya. Darwin begitu terpuruk sampai-sampai dia sakit dan mengabaikan orang-orang di sekelilingnya.

Selain itu, mengisahkan juga tentang pertentangan batin antara tetap melanjutkan menulis bukunya yang akhirnya terkenal seantero jagat, The Origin of Species, atau melupakannya saja karena dogma agama?

Seperti biasa Jennifer Connely, yang berperan sebagai Emma Darwin, bermain apik dan tetap cantik seperti saya. Malah pemeran utama prianya, Paul Bettany, aktingnya biasa-biasa saja. Mana dia terlihat begitu tua di film ini. Jadi tidak kelihatan gantengnya. Tuntutan peran kali ya? ihikhik

By the way, pikiran random saya untuk Creation adalah "Tumben ya Paul Bettany dapat peran utama. Jarang-jarang lho..."

Skala 1 - 5, saya beri nilai 2 untuk Creation.

Thursday, January 27, 2011

Untitled #10

Day 27. Post a Day 2011.

Tadi malam salah satu teman baik saya di dunia maya, Ical, mengirimi saya sms. Dia menawarkan saya blog yang self-domain dan self-hosting. Cool! Apalagi untuk tahun pertama katanya gratis, baru tahun berikutnya saya bayar sendiri. Lebih cool lagi kan?

Sebenarnya dari dulu saya ingin sekali punya blog dengan domain dan hosting sendiri, yang belakangnya .com, atau .web.id, atau apa saja lah terserah, dan bukannya .blogspot.com atau .wordpress.com. Kesannya di mata saya keren banget deh. Saya membayangkan kalau saya punya blog domain dan hosting sendiri pasti penggemar saya bertambah banyak. tumbuk *dihajar*

Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi pasti nanti ribet mengurus blognya. Saya kan tidak paham CSS, install widget ini itu, dan segala macamnya. Saya sudah kadung nyaman dengan yang gratisan. Tidak perlu pusing memikirkan kuota habis, menambah biaya untuk penyimpanan data, atau perpanjangan domain. Atau masalah yang lainnya.

Kalau nge-blog di tempat gratisan kan saya tinggal duduk manis saja. Kepusingan saya paling hanya terkait isi blog. Seperti, hari ini saya mau menulis apa ya di blog? ihikhik

Selain itu, kalau nge-blog di tempat gratisan, selama si penyedia jasa blogging-nya masih eksis di internet blog saya pasti eksis juga di internet. Kalau blog yang berbayar, misalnya saya mati besok dan belum perpanjang domain dan hosting, bagaimana? Hangus dong blog saya? Dan saya tidak yakin ahli waris saya mau mengurusi blog saya untuk membayar tiap tahunnya demi menjaga keeksisan blog saya itu. ihikhik *ngikik lagi*

Makanya dengan agak berat saya menolak tawaran Ical.

Untuk saat ini, saya masih lebih memilih untuk nge-blog di blogspot. Mungkin suatu saat nanti--entah kapan--saya berubah pikiran dan punya blog dengan self-domain juga self-hosting. Mudah-mudahan sampai saat itu nanti tiba, Ical masih menyimpan tawarannya. Oke, Cal? senyumkenyit

Wednesday, January 26, 2011

Cerita Masalah Kartu Kredit pun Telah Selesai

Day 26. Post a Day 2011.

Jika beberapa waktu yang lalu saya misuh-misuh dengan Bank Mandiri, sekarang Alhamdulillah urusannya sudah selesai. Tak adil rasanya jika saya hanya menulis kekecewaan kepada Bank Mandiri, namun ketika masalahnya sudah selesai saya tidak menuliskannya di sini.

Bagi teman-teman yang tidak mengetahui duduk perkaranya, saya persilakan teman-teman untuk membaca tulisan terkait:


Jadi, beberapa hari yang lalu saya mengecek tagihan kartu kredit saya melalui ATM. Alhamdulillah, tagihan saya sudah berkurang sesuai dengan uang saya yang kemarin memotong tagihan kartu kredit utama. Meskipun masih ada tagihan sisa (karena denda bunga. Dan soal denda bunga ini... Aish, sudahlah. Tidak usah dibahas. Makan hati.), setidaknya sudah berkurang satu masalah saya. Saya tidak perlu lagi pusing memikirkan kenapa tagihan saya tidak berkurang banyak padahal saya sudah bayar.

Permohonan saya untuk memisahkan pembayaran kartu kredit utama dan kartu kredit tambahan pun dikabulkan oleh Bank Mandiri. Jadi, besok-besok kalau saya bayar tagihan tidak perlu risau lagi uang yang saya bayar akan memotong tagihan kartu kredit utama, melainkan langsung memotong tagihan saya. Ah, senang!

Terima kasih, Bank Mandiri, telah mengurus masalah saya. Yah... Meskipun masih ada kurang di sana-sini sih sampai-sampai saya harus kirim surat pembaca ke Kompas.com dulu baru dapat perhatian dari Bank Mandiri. sengihnampakgigi

Semoga ke depannya saya tidak bermasalah lagi dengan Bank Mandiri ya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Salam! cium

Tuesday, January 25, 2011

Kita dan Kami

Day 25. Post a Day 2011.

Baik dalam percakapan sehari-hari maupun saat saya blogwalking, cukup sering saya menemukan kekeliruan dalam penggunaan kata "kita" dan "kami".

Misalnya waktu ngobrol-ngobrol sama teman:

X: Eh, Kim, kita kemarin nonton Margo Friday Night Jazz lho!
Saya: Kita? Lu aja kaliiii... Gue gak ngerasa tuh kemarin ikut lo pada nonton.

Atau saat saya blogwalking. Misalnya tulisannya seperti ini:

Jadi ceritanya kemarin itu kita khawatir banget deh. Takut di jalan terjadi apa-apa sama kita. Soalnya kita kan kemarin jalan jauh.

Lagi, komentar saya adalah "Kitaaaa? Maaf ya, kamu saja. Saya sih gak ngerasa ikut jalan sama kamu." Tapi, komentar saya ini cuma dalam hati. ihikhik

Sebenarnya apa sih definisi "kita" dan "kami"? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, "kita" adalah

ki·ta pron 1 pronomina persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yg diajak bicara; 2 cak saya;
-- orang cak kita;
ke·ki·ta·an n 1 yg bersifat atau berciri kita; 2 kesatuan perasaan antara kita: fungsi ideologi membangun sikap ~; 3 sifat mementingkan kebersamaan dl menanggung suka duka (saling membantu, saling menolong, dsb)

Sedangkan "kami" adalah

ka·mi pron 1 yg berbicara bersama dng orang lain (tidak termasuk yg diajak berbicara); yg menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca; 2 yg berbicara (digunakan oleh orang besar, msl raja); yg menulis (digunakan oleh penulis)

Dari definisi di atas harusnya sudah jelas dong ya? Seperti contoh pertama. Kalau teman saya itu nonton Margo Friday Night Jazz sama teman saya yang lain, sedangkan saya (sebagai orang yang diajak bicara) tidak ikut, harusnya dia menggunakan "kami". Jadi, kalimatnya "Kemarin kami nonton Margo Friday Night Jazz."

Begitu juga dengan contoh kedua.

Jadi ceritanya kemarin itu kami khawatir banget deh. Takut di jalan terjadi apa-apa sama kami. Soalnya kami kan kemarin jalan jauh.

Saya sebagai orang yang membaca blog itu kan tidak ikut si narablog jalan-jalan, jadi saya tidak terlibat dalam acara jalan-jalan tersebut. Lain hal kalau saya memang ikut jalan-jalan dengan si narablog baru deh bisa menggunakan kata "kita".

Misalnya nih ya anak-anak futsal FC08 sedang duduk-duduk istirahat kecapekan selesai latihan. Saya berbicara dengan teman-teman saya itu, "Eh, kita jalan yuuuuk... Nonton bareng kek, makan bareng kek, atau apa gitu." Saya dan teman-teman FC08 yang saya ajak bicara terlibat dalam pembicaraan saya itu.

Intinya apa? Intinya, kalau sedang berbicara dengan orang lain tapi orang yang diajak bicara tidak terlibat dengan kegiatan si pembicara, jangan pakai kata "kita" deh ya. Melainkan pakai kata "kami".

Hahaha... Kesannya saya sok pintar banget ya soal bahasa? Sebenarnya tidak juga sih, tapi saya cukup risih kalau mendengar atau membaca penggunaan "kita" dan "kami" yang tidak pada tempatnya. Sejauh yang saya tahu, konsep "kita" dan "kami" ini hanya ada di bahasa Indonesia.

"Kita" dan "kami" ini mengingatkan saya pada sebuah buku berjudul "Kita and Kami" karangan Fuad Hassan. Entah kapan saya bisa menamatkan membaca buku ini. Sepertinya tidak akan pernah bisa selesai deh bacanya. sedih


Kita and Kami. Njelimet deh bacanya.


By the way, pronomina persona itu kata ganti orang. Lebih jelasnya silakan baca di sini.

Monday, January 24, 2011

[Song] Saat-saat Menyebalkan

Day 24. Post a Day 2011.

Saya sekarang sedang senang mendengarkan lagu baru. Judulnya "Saat-saat Menyebalkan", penyanyinya Tipe X. Hihihihi... Keren kan yah selera musik saya? ihikhik

Pertama kali mendengar lagu ini kemarin sore di acara musik-nya RCTI. Apa namanya? Dahsyat ya? Yang pembawa acaranya Olga dan Raafi Ahmad itu lhooo...

Jadi, ceritanya kemarin itu saya sedang asyik menulis surat untuk Simbok Venus. TV kosan saya nyalakan untuk menemani saya. Maklum kosan sedang sepi sekarang. Teman-teman saya sedang pulang kampung, tinggalah saya sendirian di kos. Hiks...

Well anyway, saat saya sedang berpikir keras mau menulis apa untuk Simbok eh terdengarlah suara penyanyi yang tidak asing bagi saya. Saya meletakkan pena dan menatap layar TV untuk memastikan saya tidak salah tebak. Dan ternyata saya benar! Itu Tipe X! Aduh, Yaoloooo... Saya sudah tidak pernah dengar Tipe X lagi! Terakhir kali dengar waktu SMP (atau SD ya?). Maklum lah saya bukan fans Tipe X.

Tapi, tumben... Kok lagunya enak didengar ya?

Tadinya saya tidak tahu judul lagunya apa. Saya hanya tahu sedikit saja liriknya dari yang saya dengar. Penasaran dengan lagunya saya googling lah sebagian liriknya itu.

Aku... sekuat hatiku mencoba bertahan, mencoba melawan...

Ternyata judulnya "Saat-saat Menyebalkan".

Bagi yang belum pernah dengar lagunya, nih saya sematkan video klipnya dari Youtube.




Di sini sekalian saja saya copas ya lirik lagunya? Biar kalian tidak usah capek-capek googling.

Aku terpukul jatuh
Saat kau mengajakku
Dan saat kau kenalkan
Ku pada pacar barumu
Aku cuma terdiam
Tak sanggup ku bertahan
Karena dalam hatiku
Masih ada kamu

Reff 1:
Aku sekuat hatiku
Mencoba bertahan
Mencoba melawan
Dan harus kau tahu
Yang kuingin saat ini
Aku pergi

Reff 2:
Aku sekuat hatiku
Tak boleh menangis
Tak boleh bersedih
Dan harus kau tahu
Jika boleh jujur
Ingin kupukul pacarmu

Tidakkah kau rasakan
Betapa sakitnya aku
Meski ku laki yang jantan
Aku punya perasaan

*lirik lagu di-copas dari sini.

Kalau dari musiknya mah sepertinya lagu ini ceria ya? Tapi kalau diperhatikan liriknya, nih lagu lumayan ngenes. ihikhik

Ceritanya tentang Si Cowok yang masih cinta sama Si Cewek mantan pacarnya. Dia yang sok tegar begitu deh pas dikenalin sama Si Cewek ke pacar barunya. Padahal mah dalam hatinya... huh... Panas hati lah haaaayyyy... gelakguling

Terus tiba-tiba kok saya jadi teringat sama seseorang ya? Orang ini dulu sahabat dekat saya. Saya sempat lah punya rasa spesial tapi tidak pakai telur sama dia. Tapi sekarang dia sudah punya pacar. nangih Mana waktu itu ada wacana dari dia ingin mengenalkan saya ke pacarnya itu. Idiiih... Saya mah mana mau lah ya, tapi cuma bilang dalam hati sih menolaknya. Kalau bilang ke dia ya saya sih mau-mau saja asal ada waktu. Ceritanya saya sok manis depan dia. Padahal di dalam hati ini aslinya terasa sakiiiiit... sakiiiit sekaliiiiii! Halah, lebay. gelakguling

Penggemar: Itu kan dulu, Kim. Kalau sekarang kamu dikenalin sama pacarnya sahabat kamu itu, kamu mau enggak?

Tetap tidak mau. Soalnya... Soalnya... Karena... Ehm... Aish, sudahlah. Sekarang mari kita nikmati saja lagu sok tegar ini.

Akuuuu... sekuat hatiku mencoba bertahan, mencoba melawaaaaan...

Akuuuu... sekuat hatiku tak boleh menangis, tak boleh bersedih...

Sunday, January 23, 2011

Apa Tujuan Saya Nge-blog?

Day 23. Post a Day 2011.

Ada pertanyaan menarik dari Pak Joko Sutarto di blognya, yaitu menulis di blog itu untuk apa? Akan ada banyak sekali jawabannya. Jawaban saya tentu saja berbeda dari jawaban Pak Joko dan teman-teman semua.

Baiklah. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Apa tujuan saya menulis di blog? Waktu itu saya pernah menulis di postingan saya tentang resolusi tahun 2011 kalau saya ingin tenar dan blog adalah langkah saya menuju ke sana, kan? Well, that's a lie. Some of it. Nanti saya akan beritahu lebih jelasnya.

Pertama kali saya nge-blog tujuannya untuk coba-coba. Apa sih sebenarnya blog itu? Itu sekitar tahun 2006 dan blog pertama saya waktu itu di Friendster.

Saya pun menulis asal-asalan saja. Bercerita tentang keseharian saya dan yah... layaknya blog personal lah. Pembacanya pun hanya teman-teman kuliah saya yang waktu itu sedang rajin buka Friendster. Harus saya akui ketika saya tahu blog saya ternyata ada yang membaca saya senang, tapi itu bukan tujuan utama saya nge-blog.

Lantas, apa tujuan utama saya nge-blog? Sederhana saja. Saya butuh tempat untuk berlatih menulis. Menulis secara runut, logis, terarah. Intinya, saya ingin menulis lebih baik. Saya sudah pernah bilang kan bahwa semua orang bisa menulis tapi tidak semua orang bisa bercerita melalui tulisan? Nah, saya ingin menjadi yang terakhir. Saya ingin tulisan-tulisan saya bisa bercerita dengan baik dan lancar, juga pesannya bisa sampai ke pembaca.

Kemudian, Pak Joko kembali bertanya:

Kita menulis tujuannya adalah untuk berkomunikasi dengan pembaca atau orang lain. Betul? Terus terang kalau saya, entah kalau Anda, saya sedih kalau sudah capek-capek nulis, memapar tulisan di internet ternyata tak dibaca orang. Sedih. Apakah Anda tidak? Apakah Anda serius masih bilang menulis buat diri sendiri? Kenapa tidak nulis di diary offline saja yang hanya Anda sendiri yang baca kalau memang tujuannya begitu?

Saya pribadi, entah kalau teman-teman, tidak mempermasalahkan tulisan saya dibaca atau tidak. Karena tujuan utama saya tadi adalah berlatih menulis, kan? Dan kemudian saya me-publish tulisan saya di blog. Itu untuk apa kalau bukan untuk berbagi dengan orang-orang di luar sana, yang belum pernah saya lihat wujudnya? Untuk melatih keberanian saya menunjukkan hasil tulisan saya kepada dunia.

Kalau saya hanya menulis di buku harian dan pembacanya hanya saya, mau sampai kapan saya bisa beraninya? Saya ingat sekali waktu saya menerbitkan tulisan saya pertama kali di blog, saya ragu-ragu bercampur takut. Takut tulisan saya ternyata jelek, takut tulisan saya tidak ada yang suka, takut ini dan itu. Tapi, lewat blog saya belajar untuk berani. Saya biarkan tulisan saya dibaca orang banyak. Syukur-syukur ada yang suka dan ada yang mengevaluasi tulisan saya.

Sama saja seperti penulis novel. Ketika dia telah menyelesaikan tulisannya, setidaknya dia pasti meminta orang lain untuk membaca tulisannya kan? Bagus atau tidaknya. Karena saya bukan penulis novel, hanya penulis blog *halah, maksa*, ya saya menunjukkan tulisan saya di blog kepada teman-teman semua. Apa itu salah? Tentu saja tidak. sengihnampakgigi

Perihal ada yang baca atau tidak tulisan saya, saya tidak terlalu mempermasalahkan. Paling saya sebatas memberi tahu di Twitter dan di Plurk kalau blog saya sudah update, misalnya. Terlepas dari situ, ketika saya sudah mempromosikan blog saya, tetap tidak ada yang baca ya sudah. Kenapa harus dipermasalahkan?

Kalau ditanya sedih atau tidaknya tulisan saya tidak dibaca orang, ya saya biasa saja. Yang penting bagi saya adalah menulis, menulis, dan menulis. Karena itu tujuan utama saya nge-blog, bukan mengejar trafik. Trafik tinggi, banyak penggemar pembaca, banyak teman dari blog itu adalah bonus untuk saya, termasuk menjadi tenar. Makanya tadi yang saya bilang di paragraf pembuka kalau resolusi saya menjadi tenar itu sedikit bohong deh. Nge-blog dengan tujuan menjadi tenar bukan hal utama, tapi kalau selama perjalanannya ternyata saya beneran jadi tenar ya saya terima saja. *plaaaaak* tumbuk *dihajar*

Dan berbicara soal pembaca blog, saya percaya sesepi-sepinya blog seseorang, pasti ada yang baca. Entah itu karena menyasar dari Google atau dari blogwalking. Di Google Reader saya, ada beberapa blog yang tidak terlalu ramai trafiknya, tapi saya suka blognya. Kenapa? Karena sesuai dengan selera saya. Malah, ada blog yang trafiknya tinggi, pengunjungnya banyak, tapi saya tidak begitu suka dengan blognya. Kenapa? Karena bukan selera saya.

Intinya apa? Setiap blog pasti ada pembaca setianya. Seperti yang Bangaip pernah tulis (namun saya lupa tulisannya yang mana) di blognya: selalu ada pasar untuk segala sesuatu. Jadi, blog personal yang katanya isinya hanya curhatan, menulis untuk diri sendiri, menulis untuk berbagi cerita dengan orang lain, dll dst dsb pasti punya penggemarnya sendiri. Begitu pula dengan blog yang mengkhususkan diri membahas internet marketing, SEO, sepak bola, blog ilmu pengetahuan, dan blog yang lainnya. Masing-masing pasti punya fan base-nya sendiri. Dan masing-masing punya manfaatnya sendiri bagi pembacanya.

Saya tidak mempermasalahkan kalau ada narablog yang nge-blog untuk mengejar trafik tinggi, berbisnis di internet, atau yang lainnya. Terserah saja. Lha wong itu blog kalian kok. Terserah mau kalian isi apa dan terserah apa visi misi kalian dengan blog kalian. Karena saya percaya, sejak kita membuat blog kita sudah punya niat dan tujuan pribadi yang hendak kita capai melalui blog kita.

Kalau sudah begitu, kenapa kita masih mempermasalahkan, atau lebih tepatnya mempertanyakan, tujuan orang lain nge-blog?

Nah, kalau kalian sendiri, apa tujuan kalian nge-blog? Yuk, sharing! senyum

p.s.: OOT. Mohon maaf, bagi teman-teman yang berkomentar melalui form komentar asli Blogspot sepertinya komentarnya tidak akan muncul di Disqus. Untuk itu, saya mohon dengan kerendahan hati bagi yang ingin meninggalkan komentar agar menggunakan Disqus dan bukannya form komentar bawaan Blogspot-nya. Kalau Disqus-nya tidak muncul-muncul alias lemot, ditunggu saja ya. Di-refresh saja terus. Disqus memang rese. ihikhik

p.s lagi: lagi, melalui blog ini lah saya bisa berlatih mengeluarkan pendapat. Lihat saja tulisan ini. Tulisan ini adalah pendapat saya. Pendapat yang... entah benar entah salah. ihikhik Ah, yang penting saya sudah belajar menulis mengeluarkan pendapat. jelir

Saturday, January 22, 2011

Kerinduan akan Sahabat Pena

Day 22. Post a Day 2011.

Saya sehabis bermain di blognya Simbok dan membaca tulisannya yang berjudul "Surat yang Bercerita". Dari ceritanya Simbok yang kangen ingin berkirim surat, kok tiba-tiba saya rindu juga dan ingin ikutan untuk surat-suratan lagi ya?

Dulu waktu saya masih SD, saya punya sahabat pena. Cukup banyak. Lebih dari lima orang kalau tidak salah. Saya ingat sahabat pena saya pertama kali berasal dari Aceh Timur, tepatnya di Langsat. Sahabat pena saya itu tahu alamat saya dari majalah Bobo sewaktu pengumuman pemenang kirim sepuluh bungkus Chiki. Waktu itu saya dapat jam tangan Star Wars. Sekarang entah kemana jam tangan itu...

Well anyway, waktu pertama kali menerima suratnya saya kaget sekaligus senang. Orang dari Aceh mengirimi saya surat! Orang yang tidak saya kenal dan katanya dia ingin menjadi teman saya! Horeeee... Dan saya pun membalas suratnya. Kami kemudian saling berbalas surat. Cukup lama kami surat-suratan sampai akhirnya saya berhenti membalas suratnya. Alasannya karena saya cukup tersinggung dengan pantun yang dia buat untuk saya. Malah, saya tunjukkan suratnya ke ayah saya. Saya bilang, "Papa, teman Ayu masa' bikin pantun untuk Ayu kaya' begini?" Ayah saya tersenyum dan berkata singkat, "Ya, biarkan saja. Dia kan cuma bercanda."

Kalau saya pikir-pikir sekarang sih kok ya rasanya norak banget ya? Hahaha... Namanya juga anak SD.

Lanjut ke soal sahabat pena tadi. Di saat saya masih surat-suratan dengan sahabat pena saya yang dari Aceh itu (saya bahkan lupa namanya. Ya ampun!), saya juga mencari sahabat pena yang lain. Saya buka majalah Bobo. Saya cari di halaman surat pembaca. Biasanya di bagian ini ada yang memang sengaja menulis surat ke Bobo untuk mencari sahabat pena. Saya juga mencari sahabat pena dari buku Sahabat Pena yang dikeluarkan oleh PT Pos Indonesia. Bukunya saya pinjam dari sepupu saya. Selain di Langsat (Aceh Timur), saya pun punya sahabat pena di Sambas (Kalimantan Barat), Kuningan (Jawa Barat), Surabaya (Jawa Timur), dan ehm... dimana lagi ya? Saya lupa. Maaf, teman-teman. xpasti

Cukup lama saya menjalani hobi saya yang ini, dari SD hingga SMP. Awalnya saya sangat rajin berkirim surat. Dalam seminggu saya bisa kirim empat hingga lima surat dan dalam seminggu saya bisa menerima jumlah surat yang sama. Saya bahkan hafal berapa hari yang dibutuhkan untuk surat saya dari Bandar Lampung bisa sampai ke sahabat-sahabat pena saya itu.

Saya juga dulu sekalinya beli perangko langsung banyak. Dulu kan perangko masih murah ya. Perangko yang Rp 300 pun bisa sampai ke Langsat sana, yah... meskipun sampainya agak lama sih dibandingkan perangko yang nominalnya lebih tinggi. Tapi, semakin lama perangko semakin mahal. Pak Pos-nya tidak mau lagi menerima perangko Rp 300 (dulu saya menitip surat yang dikirim lewat Pak Pos yang datang ke rumah). Awalnya naik Rp 500, naik lagi Rp 700, naik lagi Rp 1000, dan terus saja naik. Sampai akhirnya saya merasa tekor. Ini hobi yang menguras biaya untuk ukuran anak SD/SMP, apalagi kalau sahabat penanya banyak. Belum lagi untuk biaya membeli kertas surat.

Kadang untuk menghemat, saya pakai kertas biasa dari buku tulis yang saya sobek tengahnya. Amplopnya pun amplop putih biasa. Tapi kan gengsi dooong... Sahabat pena saya itu kalau kirim surat ke saya pakai kertas surat yang bagus, masa' saya cuma kertas biasa? Makanya kalau sedang ada uang, saya beli kertas surat yang bagus.

Dari hobi menulis surat ini, saya juga jadi suka mengumpulkan perangko. Setelah membaca surat dari sahabat pena saya, kemudian saya menyimpan perangkonya. Ada yang saya robek begitu saja dari amplopnya, ada yang amplopnya dibasahi dulu baru dicabut pelan-pelan perangkonya, ada yang pakai air panas di mangkok kecil terus saya tutup mangkoknya dengan amplop bagian tertempel perangko menghadap ke dalam mangkok. Berhubung saya orangnya tidak rapi dan tidak telaten, perangko-perangko itu hilang begitu saja. Padahal ada sahabat pena saya yang sengaja kirim surat pakai perangko yang bagus ketika saya bilang ke dia kalau saya mengumpulkan perangko. Baik yah sahabat pena saya itu. sedih

Karena sahabat pena saya cukup banyak yang di dalam negeri, saya pun kepikiran ingin melebarkan sayap *halah*. Dulu saya ingin sekali punya sahabat pena di luar negeri. Bahkan saya sampai bertanya segala ke kakak sepupu saya yang katanya punya sahabat pena di Perancis. Tapi, saya tidak tahu mau cari dimana sahabat pena yang tinggalnya di luar negeri. Malah kata kakak sepupu saya itu perangkonya mahal kalau mau kirim surat ke luar negeri. Alhasil. sampai detik ini saya tidak punya sahabat pena di luar negeri.

Penggemar: Tapi, Kim, sekarang kan jamannya internet. Kalau mau cari sahabat pena di luar negeri mah mudah saja. Tidak perlu perangko pula. Cukup lewat e-mail. Mudah, cepat, murah.

Ng... Iya sih. Tapi, rasanya beda. Menulis suratnya, beli perangkonya, ke kantor posnya, dan mengirimkannya. Kemudian bertanya-tanya surat saya sudah sampai belum ya? Berapa lama sih surat saya bisa sampai? Kok surat saya belum dibalas ya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang tidak saya temui lagi di era internet seperti sekarang ini. Saya rindu masa-masa saya rajin berkirim surat.

Sekarang kalau melihat keponakan-keponakan saya yang menginjak usia remaja sudah terokupasi dengan ponsel canggih mereka dan netbook yang terhubung ke internet, saya kok jadi merasa kasihan dengan mereka. Anak-anak ini sepertinya tidak kenal dengan yang namanya kantor pos, boro-boro perangko. Mereka tidak merasakan nikmatnya punya teman yang ada di luar kota. Teman yang bisa diajak bertukar cerita tentang sekolah, hobi, atau yang lainnya selayaknya teman di sekolah.

Keponakan saya ini tidak merasakan sensasi ketidakpercayaan atas kotak pos. Kalau dulu saya takut dan ragu-ragu sekali kalau mau kirim surat lewat kotak pos (meski akhirnya surat saya sampai juga di tangan sahabat pena saya), sekarang mereka tinggal kirim pesan singkat saja lewat ponsel mereka. Dalam hitungan detik pesan sudah diterima. Pulsa pun hanya terpotong beberapa ratus perak saja.

Bukan berarti saya menolak teknologi. Saya malah senang internet dan ponsel diciptakan. Memudahkan kehidupan saya soalnya. Tapi, yah... Bukankah manusia senang bernostalgia? Mengingat-ingat pengalaman masa kecilnya dan merindukannya. Itulah yang sedang saya rasakan sekarang. Saya rindu menulis surat dengan tangan saya. Saya rindu sahabat-sahabat pena saya yang sekarang entah berada dimana. Saya rindu membeli banyak perangko. Saya rindu kantor pos. Saya rindu tukang pos.

Mungkin ada baiknya saya menjawab kerinduan ini dengan menulis sepucuk surat untuk keponakan saya di Bandar Lampung. Sekaligus mengenalkan kepada mereka ada lho yang namanya surat-suratan, pakai perangko, dan dikirim lewat kantor pos.

Friday, January 21, 2011

Happy Birthday, Coach!

Day 21. Post a Day 2011.

Hari ini pelatih (atau seringnya sih mengaku "hanya membantu melatih") tim futsal putri FC08 alias Psikologi UI berulang tahun! Namanya Teguh Limas Sarendra. Biasa dipanggil Tely. Mantan pacar teman seangkatan saya, Cethe, anak FC08 juga. Mereka putus karena beda agama. *loh, kok dibahas*


Tely

Semoga panjang umur, sehat selalu, murah rejeki, cepat lulus, dan yaaah... Semua apa yang Tely inginkan tercapai deh. Termasuk jadi kiper timnas ya, Tel? Amiiiiiiin... Ya Allah, kabulkanlah cita-cita Tely jadi kiper timnas. Amiiiiiiin, Ya Allah.

By the way, Tely ini pemain Liga Pro lho! Tapi, saya lupa nama timnya apa. Jatim Futsal kalau tidak salah.

Aiiih... Pokoknya bangga deh dilatih sama Tely. Pemain Liga Pro dan calon pemain futsal timnas (amin!). Dan yang lebih bikin bangga, Tely ini aslinya anak Sastra FC (futsalnya FIB UI) tapi bela-belain melatih FC08. Bayangkan, jadi pembelot melatih tim futsal fakultas orang! Alasannya apa coba? Tely bilang, "Karena gue cinta sama anak-anak FC08."

Aiiiisssh... Apa gak terharu coba ngedengernya? nangih Dan ini nih salah satu faktor saya rajin latihan (walaupun sebenarnya saya lebih sering malasnya sih, hihihi...) dan tidak bisa lepas dari FC08. Kalau ada orang luar yang sebegitu cintanya sama FC08 dan punya komitmen dengan FC08, kenapa saya gak bisa?

Dan bulan Januari ini tidak cuma pelatih saja yang ulang tahun. Mantan kapten FC08 juga ulang tahun tanggal 3 Januari kemarin. Namanya Jenggo. Lucu ya namanya? Selucu orangnya. ihikhik


ini yang namanya Jenggo


Apalah kurangnya Jenggo ini? Udah cantik, baik, pintar, main bolanya jago pula. Dan saya senang sekaligus bangga pernah main bareng dengan beliau ini. Dan, boys, kalau kalian naksir dengan Jenggo cukup jadi fans aja yah. Soalnya Jenggo sudah punya pacar. Hahaha... Maaf karena telah membuat hati kalian patah dengan memberi tahu hal ini.

Well anyway, selamat ulang tahun Jenggo (meskipun telat telat banget buat ditulis di blog) dan Tely. Wish both of you all the best. senyum

p.s.: sekalian #FF @cethzcynthia, @jenggo89, dan @telysarendra. Mereka-mereka ini atlit futsal kampus lho! Yah, kalau Tely sih sudah sampai tingkat nasional mainannya. sengihnampakgigi

Thursday, January 20, 2011

Random #1

Day 20. Post a Day 2011.


Random 1

Seperti yang sudah saya bilang di tulisan saya sebelumnya. Belakangan ini di Google Reader saya banyak yang menulis tentang cinta, tepatnya surat cinta. Ada yang bagus, ada yang norak, dan ada yang membuat saya menguap karena bosan membacanya.

Dan saya sadar diri. Kalau kemarin saya ikut-ikutan menulis tiap hari di Post a Day 2011 padahal jelas-jelas ini proyeknya si WordPress, bukan proyeknya Blogspot, sekarang saya tidak mau ikut-ikutan menulis surat cinta. Bukan apa-apa, saya tidak pandai menulis surat cinta. Kalau dipaksa mungkin bisa, tapi hasilnya bisa saja norak senorak-noraknya.

Tapi... Saya kan ababil alias abege labil *serius Kim umur segitu lo masih abege?*. Siapa tahu nanti suatu saat saya kesambet panahnya Cupid, jatuh cinta sama pria yang saya pertama kali lihat setelah terkena panah, terus malamnya menulis surat cinta. Pastinya ucapan terima kasih dalam surat itu akan saya tujukan kepada Cupid.

Terima kasih, Cupid, telah menembakkan panah asmaramu kepadaku. Kini aku menemukan pria yang kuharapkan menjadi tambatan hatiku.

Hoeks! See? Norak kan? gelakguling


Random 2

Oh iya, Gayus dihukum tujuh tahun penjara dan denda Rp 300 juta ya? Ehm... Tidak heran negara ini menjadi surga bagi koruptor. Wajar kalau banyak yang korupsi di negara ini. Koruptor tidak takut dengan hukum di Indonesia. Lah itu contohnya sudah jelas.

Tapi, saya tidak mau memusingkan itu ah. Bukan urusan saya.


Random 3

Sudah baca berita tentang Nurdin Halid yang mengklaim prestasi timnas adalah berkat andil Golkar? Saya ingin sekali tertawa ketika membaca berita tersebut. Satu pertanyaan saya untuk Golkar: Kok mau sih punya kader seperti Nurdin Halid? Begonya gak tanggung-tanggung.

Waktu final Piala AFF leg kedua kemarin saya sempat nge-tweet yang kira-kira isinya adalah saya dilema antara mendukung timnas untuk menang atau lebih memilih mereka kalah. Kenapa? Karena kalau menang, Nurdin Halid akan mengklaim, "Di bawah kepemimpinan saya lah timnas kita bisa juara. Prestasi kita meningkat." Dan kalau kalah, Nurdin akan menyalahkan Alfred Riedl dan bisa saja memecatnya.

Dan sekarang lihatlah apa yang terjadi...

Well, Mr. Nurdin Halid, you're incredibly funny and stupid at the same time.


Random 4

Sepertinya saya sudah keasyikan menulis pakai bahasa Indonesia. Sekarang sudah malas menulis dalam bahasa Inggris. Wah... Bahaya ini! Bahaya! Bahaya! *halah, lebay*

Wednesday, January 19, 2011

Kul-Twit

Day 19. Post a Day 2011.

Kalian pengguna Twitter? Sama dong, saya juga, meskipun tidak terlalu aktif nge-tweet sih. Jumlah tweets saya pun masih berkisar 4500-an, itupun dipotong sama Twitter dan tweets saya sekarang (saat saya menulis ini) tinggal 555 tweets. Ajaib.

Eh iya, bahasa Indonesia untuk tweet apa? Bercicit? Berkicau? Kalau saya lihat di kamus sih bercicit atau mencicit. Tapi, kok sepertinya lebih cocok berkicau ya? Ya entahlah. Saya bukan pakar bahasa. sengihnampakgigi

Nah, berbicara soal Twitter pasti tidak jauh dari urusan mem-follow. Biasanya saya mem-follow orang-orang yang saya anggap bisa memberikan saya banyak informasi dan saya pun jadi pintar karenanya. Haha... Seandainya jadi pintar itu semudah mem-follow orang di Twitter ya. ihikhik

Orang-orang pintar yang saya follow ini biasanya memberikan kul-twit di Twitter. Tahu kan kul-twit? Kuliah twit? Tweet-nya diindonesiakan jadi twit. Hihi... Kok jadi lucu ya? Well anyway, kul-twit ini semacam tweets serial yang dikicaukan oleh si pemilik akun Twitter dan membahas topik tertentu. Misalnya, topik Perang Dunia, puasa, kanker paru-paru, atau yang lainnya.

Awalnya sih saya senang-senang saja mengikuti kul-twit ini, tapi lama-lama kok ya kurang sreg di hati. Yang membuat kurang sreg itu ya Twitter kan hanya terbatas 140 karakter, pasti untuk meng-tweet serial begitu butuh penjelasan yang panjang dong dan 140 karakter itu tidak cukup. Maksud saya, satu tweet dengan 140 karakter menulis tentang puasa (contohnya) dan harus disingkat-singkat pula biar karakternya cukup. Memang sih bisa dilanjutkan dengan tweets berikutnya, tapi... apa itu cukup? Apa dengan 140 karakter itu bisa menjelaskan satu tweet yang telah dia kicaukan? Apakah satu tweet itu sesuai dengan maksudnya? Kan ada saja kemungkinan terjadi orang yang membacanya salah paham atas tweet tersebut.

Itu alasan pertama.

Alasan kedua, saya kan tidak buka Twitter 24 jam. Saya mana tahu kapan saja orang-orang akan memberikan kul-twitnya. Jadinya, saya lebih sering tidak mengikuti kul-twitnya deh. Bisa sih saya membacanya di garis masa (maksudnya timeline. Hihi...) si pemberi kul-twit. Kalau saya ketinggalan sejam sih masih mending, masih bisa dibaca. Lah tapi kalau saya ketinggalannya 7 jam atau 24 jam sudah pasti tweets-nya dia tenggelam ke dasar dan makin susah untuk dicari.

Saya pun jadi bertanya-tanya orang-orang yang suka memberikan kul-twit ini kenapa tidak menuliskannya di blog saja sih?

Kalau di blog kan enak, bisa menulis sepanjang apapun yang kita mau (itupun kalau pembacanya tidak menjadi bosan), dan tidak perlu menyingkat kata untuk menghemat karakter huruf. Orang yang membacanya pun menjadi lebih jelas. Kalau pun kurang jelas bisa bertanya lewat kolom komentar kan? Dan menjawab pertanyaan pun bisa lebih leluasa tanpa harus terbatas 140 karakter. Jadi, bisa lebih jelas juga jawaban yang diberikan.

Kalau di Twitter? Sejauh pengamatan saya, misalnya si X memberikan kul-twit lantas ada yang mention dia terus dijawab mention-nya terus dan terus lantas kemudian jadilah ajang diskusi. Tapi mungkin karena keterbatasan tempat *halah* jadinya ada yang merasa jawabannya kurang jelas lah, ini lah, itu lah. Dan saya tidak mengerti orang-orang yang menjadikan Twitter sebagai tempat diskusi. Masih mending diskusi di Plurk deh. Buat lah satu thread untuk diskusi di Plurk dan orang-orang akan membalasnya di thread tersebut. Bukan dengan mention dibalas dengan mention lantas tenggelam, tenggelam, dan makin tenggelam ke dasar timeline dan akhirnya pun susah dicari.

Kalau di blog kan mudah saja mencari tulisan kan? Ataupun misalnya tulisannya setahun yang lalu atau tiga tahun lalu masih bisa dicari kok. Cari saja di arsip tulisan blognya. Biasanya narablog ini memasang widget arsip blog di sidebar blognya. Komentar-komentar yang masuk pun tidak berserakan. Lebih rapi dan dibacanya pun enak dan jelas.

Penggemar: Tapi, Kim, kalau nge-tweet itu kan singkat. Gak butuh waktu lama. Kalau ngeblog kan lamaaa... Terus ribet pula. Lebih mudah nge-tweet ah kalau menurut gue. Lebih praktis.

Begini... Kalau si pemberi kul-twit ini ketika "jam kuliah"-nya berlangsung tidak membutuhkan atau tidak membaca referensi dalam rangka kul-twitnya, iya deh saya setuju nge-tweet itu lebih mudah dan lebih praktis. Tapi, apa iya mereka tidak memerlukan referensi ketika memberikan kul-twitnya?

Saya sih berpikirnya begini... Si pemberi kul-twit ini pasti sambil baca-baca referensi terkait tweets serialnya ketika "kuliah" berlangsung. Bolak-balik halaman buku, searching di internet, kemudian meng-tweet-kannya. Nah, kenapa tidak sekalian saja ditulis di dalam blog? Sama-sama butuh referensi, sama-sama butuh waktu (memangnya baca referensi itu tidak membutuhkan waktu? intinya sama-sama lama deh), tapi menulis di blog jauh lebih jelas dan bisa meminimalisir salah paham akibat keterbatasan dari 140 karakter.

Penggemar: Tapi, Kim, ada kok tweeps yang memberikan kul-twit yang setelah "kuliah" mengumpulkan tweets-nya itu dan menuliskannya kembali di blog.

Hihihi... Kalau begitu mah namanya kerja dua kali dan lebih banyak memakan waktu. Memangnya meng-copy paste tidak butuh waktu apa? Apalagi kalau tweets serialnya banyak. Ya, kecuali ada software khusus atau ada trik tersendiri yang bisa memindahkan tweets ke dalam blog tanpa harus capek-capek copy paste. Meskipun begitu, tetap saja menurut saya sih itu kurang kerjaan namanya. Ya sekalian saja dari awal menulis di blog. Tidak usah memberikan kul-twit deh kalau pada akhirnya mau dipindahkan ke blog juga. ihikhik

Belum lagi kalau misalnya ada yang minta untuk kul-twit dengan topik tertentu. Misalnya nih ya, "Mbak Kimi, saya request Mbak ngetweet membahas soal futsal dong!" Dan saya dengan arogannya menjawab, "Soal futsal ini sudah saya tweet-kan beberapa waktu yang lalu. Silakan baca saja di timeline saya." lalalalala... Dan si peminta topik itu pun hanya bisa kesal dalam hati. dudududu... Si peminta topik pun berkata dalam hati, "Mau cari dimana gue? Timeline lo udah kepenuhan! Kebanyakan ngetweet sih lo. Capek carinya tahu!"

Jadi, kesimpulan tulisan ini apa? Kesimpulannya Twitter itu menyenangkan kok (meski saya lebih memilih Plurk daripada Twitter). Di Twitter informasi bergerak dengan sangat cepat dan di Twitter pula saya sering kali mendapat isu-isu underground (ini istilah asal-asalan saya! Haha...) *halah* alias isu yang tidak dibahas di koran-koran atau di televisi. Tapi, kalau Twitter dijadikan alat untuk ceramah, diskusi, atau kuliah-kuliahan membahas topik tertentu (apalagi kalau topiknya sensitif, seperti anggota-anggota badan yang sensitif. *eh*)... Ehm... I don't think so.

Tuesday, January 18, 2011

Untitled #9

Day 18. Post a Day 2011.

Tulisan hari ini akan random. Karena sedang bingung mau menulis apa lagi. Haha... Baru hari ke-18 tapi sudah buntu ide.

Random 1

Setelah melakukan seleksi selama tiga tahap sejak tanggal 7 Januari 2011, akhirnya Alfred Riedl mengumumkan nama-nama pemain timnas U-23 untuk Pra-Olimpiade 2012. Sebanyak 26 pemain akan mengikuti pelatnas selama satu bulan terhitung tanggal 24 Januari 2011 sebelum mereka menjalani laga home melawan Turkmenistan.

Siapa saja yang berhasil masuk tim ini? Nama-nama pemainnya bisa dilihat di situs PSSI langsung.

Jujur saja, nama-nama yang masuk masih terasa asing bagi saya. Ya iyalah, saya kan tidak mengikuti liga sepak bola dalam negeri. Jadi, wajar kalau kurang mengerti. Dari 26 nama yang saya tahu hanya Okto Maniani dan Yongki Ariwibowo. ihikhik

Ngomong-ngomong ya, sejak seleksi untuk masuk timnas ini digelar dari sekian banyak berita yang saya baca baik di kompas.com, detik.com, maupun antaranews.com, seingat saya tidak ada yang memberitakan tentang pemain-pemain lokalnya. Ketiga portal berita tersebut kebanyakan memberitakan tentang (calon) pemain naturalisasi yang mengikuti seleksi tersebut. Mana pernah saya baca berita tentang pemain lokal kita bernama X misalnya punya kualitas bermain bolanya baik. Atau berita tentang siapa-siapa saja pemain lokal kita yang ketika mengikuti seleksi kemarin tampil mengesankan. Toh, pemain asing yang masuk seleksi hanya Ruben Warbanaran. Ini kan menunjukkan kalau pemain lokal kita bagus-bagus, tidak kalah sama pemain asing yang katanya merumput di Eropa atau Uruguay sono.

Jadi, menurut saya pemberitaannya berat sebelah. Eh tapi kurang tahu juga ding. Siapa tahu beritanya ada, tapi kebetulan saja saya tidak baca.

Mudah-mudahan saja tim ini nantinya tidak akan diganggu-ganggu lagi ya seperti timnas kita waktu di Piala AFF Suzuki kemarin. Baik media dan PSSI sendiri semoga tidak iseng dan memaksa untuk wawancara lah atau mengajak makan siang di rumah salah satu pejabat negeri ini. Semoga pihak-pihak tidak berkepentingan membiarkan Alfred Riedl dan asistennya melatih pemain-pemain muda kita ini dengan caranya tanpa adanya intervensi.

Semoga saja.


Random 2

Sejak blog ini dipasang form komentar yang baru, yakni Disqus, ada beberapa teman narablog yang mengeluh. Ada yang bilang lemot, login-nya lama, dan seterusnya. Mohon maaf ya, teman-teman... sembah

Saya sendiri harus mengakui pakai Disqus memang lemot dan tidak bersahabat untuk dibuka dari ponsel, tapi saya sudah kadung pakai sih. Ingin ganti lagi ke form komentar asli blogspotnya, cuma saya takut nanti semua komentar yang sudah masuk lewat Disqus tidak bisa diekspor ke blogspot. Jadinya, hilang deh komentar-komentar yang ada. Kan sayang.

Ya sudahlah. Sekarang saya hanya bisa pasrah menunggu Disqus akan terus meningkatkan pelayanannya jadi tidak lemot lagi dan bisa segera mobile friendly. Cuma tidak tahu sampai kapan harus menunggu. ihikhik

Oh iya, sedikit tips untuk teman-teman yang ingin memberi komentar. Kalau kalian malas login ke open ID (apa saja yang masuk ke dalam open ID? Bisa dicek di sini), twitter, atau yahoo dengan alasan apapun, kalian bisa loh berkomentar melalui opsi Guest. Di situ ada kolom nama dan e-mail yang harus diisi. Kalau kalian mau mencantumkan URL blog kalian, di bawah kolom nama ada opsi link to your website. Nah, tinggal diklik saja dan kalian bisa menuliskan URL blog kalian. Mudah kan?

Tapi saya mohon dengan sangat... Jangan anonim ya? Dan jangan memberikan e-mail palsu. Karena kesannya kalian ingin berkomentar, tapi takut menuliskan e-mail (alias tidak percaya sama saya). Tenang saja... E-mail kalian tidak akan saya salah gunakan kok. Kalau kalian tidak mau memberikan e-mail kalian tetapi kalian tetap ingin berkomentar ya login saja pakai open ID, twitter, atau yahoo.

Terima kasih atas perhatiannya. senyum


Random 3

Di Google Reader saya beberapa teman narablog menulis surat cinta dengan tagar (eh, benar kan ya bahasa Indonesia hash tag adalah tagar?) #30harimenulissuratcinta. Ingin sih ikutan. Kelihatannya seru. Tapi saya kirim surat cintanya untuk siapa ya? Saya kan jomblo... #kode

Yaaa... Suatu saat deh menulis surat cintanya. Tidak harus ke pacar kan ya? Kan tadi sudah dibilang saya tidak punya pacar. Tapi tidak janji selama tiga puluh hari berturut-turut menulisnya. Membayangkannya saja saya sudah capek tiap hari harus menulis surat cinta, apalagi kalau benar-benar menuliskannya. Ahahahahaha...

Nah, cukup sekian randomness hari ini. Terima kasih karena sudah membaca blog saya. Salam hangat dari saya. Cup cup muach! cium *lagi gak jelas banget sih. hihihi...*