Tuesday, February 22, 2011

Letter #18: Siapa Saya?

Day 49. Post a Day 2011.

Tuhan,

Pernah saya bertanya kepada diri saya sendiri, "Bagaimana saya tahu kalau saya ini adalah "saya"? Bahwa saya adalah Kimi dan bukannya Angel (teman kuliah saya)? Bagaimana saya bisa yakin kalau nanti setelah saya bangun tidur saya tetap Kimi dan tidak berubah menjadi Natalie Portman?"

Pernah juga saya bertanya, "Siapa sih saya ini sebenarnya? Iya, saya Kimi. Saya perempuan, suku saya Lampung, saya anak ke-lima dari lima bersaudara, saya (masih) mahasiswa, saya tidak begitu pintar, dan bisa saja lanjutkan sampai berpuluh-puluh lembar kertas A4. Tapi, apa itu semua sudah menjawab pertanyaan saya sebelumnya? Oke, katakanlah sudah menjawab, kemudian apa? So, what's next?"

Pertanyaan itu dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, "Saya sudah tahu saya sesungguhnya. Lalu, apa makna hidup ini sesungguhnya? Kenapa Engkau memberi saya kehidupan? Apa yang harus saya lakukan di dunia ini untuk membuat saya dan dunia ini jadi lebih baik?"

Suatu pertanyaan yang kerap terlontar dan mudah ditanyakan, tapi butuh waktu seumur hidup untuk mencari jawabannya. Dan untuk mendapatkan jawabannya dibutuhkan perjalanan panjang yang saya sendiri tidak pernah tahu dimana ujungnya.

Yes, I'm on my journey to find my true self. Hope You will guide me along the way.

p.s.: saya menulis surat ini sambil ditemani Paramore dengan lagunya berjudul "The Only Exception."

Friday, February 18, 2011

Letter #17: Blokir

Day 48. Post a Day 2011.

Tuhan,

Kemarin aku melewatkan satu hari tanpa menulis surat kepada-Mu ya? Maafkan aku tidak dapat menepati janji. Kemarin aku lelah sekali setelah seharian jalan bersama orangtuaku. Siang sampai sore jalan ke Pasar Baru kemudian ke Melawai, kemudian pulang ke hotel tempat orangtuaku menginap. Dan aku--orang yang mudah sekali lelah--langsung saja tidur. Jangankan untuk menulis surat, membuka laptop saja rasanya aku malas sekali.

Sekali lagi maafkan aku ya, Tuhan? Dan ada kemungkinan ini adalah surat terakhirku untuk-Mu di bulan Pebruari ini. Ada hal-hal yang harus aku kerjakan dan aku takut aku tidak sempat lagi untuk menulis surat untuk-Mu setiap harinya selama bulan Pebruari ini.

Tapi, sebelum itu aku ingin bercerita sesuatu kepada-Mu, Tuhan.

Tadi sewaktu aku membuka akun Facebook-ku, aku iseng mengecek akun Facebook keponakanku yang tertua (tahun ini umurnya akan menginjak 14 tahun). Ternyata, seperti yang telah kuduga, aku tidak menemukan akunnya! Kemungkinannya ada dua: 1) dia memblokir akunku sehingga aku tidak bisa lagi melihat akunnya; 2) dia menghapusku dari daftar temannya. Sepertinya, opsi pertama itu yang lebih dapat diterima. sengihnampakgigi

Aku jadi heran sendiri. Salahku apa sampai aku diblokir sama keponakanku itu? Aku kan tidak menghinanya, mem-bully-nya, atau apalah. Aku juga jarang sekali menyapanya di Facebook atau mengomentari status-statusnya. Lah wong, buka Facebook saja jarang. Lagipula, aku bukan tipikal orang yang demen stalking alias diam-diam mengecek profilnya.

Tidak hanya keponakanku yang memblokirku, kakak aku sendiri memblokirku di Facebook. Iya, kakak kandung lho. Apa pasalnya hanya Engkau dan kakakku sendiri yang tahu.

Sekali lagi aku bertanya: apa salahku sampai-sampai keluargaku sendiri memblokirku? Kenapa tidak dari awal saja jangan meng-add aku menjadi temannya di Facebook kalau dia takut semua kegiatannya di Facebook ketahuan olehku?

Menurutku, memblokir seseorang tanpa alasan yang jelas (tolong dicatat kalau aku tidak pernah menyerang, berkata kasar, menghina keponakanku dan kakakku itu di Facebook) adalah suatu tindakan yang kekanak-kanakan. Jikalau mereka takut aktivitasnya di Facebook diketahui khalayak ramai, untuk apa pula eksis Facebook? Toh, masih ada media Twitter, Plurk, atau bikin baru lagi akun Facebook tapi di-protect akunnya. Jangan memintaku untuk menjadi teman mereka. Dan silakan saja beraktivitas apa saja di Facebook. Mau joget-joget, mau pacaran, mau ketawa-ketiwi. Silakan. Bukan urusanku.

Tolong dicatat pula, dengan aku masih menjadi teman mereka pun di Facebook apa saja yang mereka lakukan di Facebook juga bukan urusanku. Aku tidak ambil pusing dan tidak peduli.

Atau sekalian saja jangan bikin akun Facebook. Toh kalau mau berhubungan dengan teman-teman mereka kan ada ponsel atau instant messenger?

Come on. Memblokir orang lain hanya karena dia takut tindak-tanduknya ketahuan di Facebook? Tiba-tiba aku ingin tertawa terbahak-bahak.

Wednesday, February 16, 2011

Letter #16: Tired

Day 47. Post a Day 2011.

Dear God,

As for today, I don't know what to write. I'm feeling tired and sleepy while I'm writing this letter.

Do You ever feel tired, God? I mean with us--human kind--act so snobbish, kill each others in the name of You, hate each others, make damage on Earth, etc. don't You ever feel tired looking at us? Because to me, I'm tired looking at my own kind behave that way.

Ah, now I'm sleepy. Good night, God. Let me have a sweet dream, yes? Thank You. senyum

Tuesday, February 15, 2011

Letter #15: 8 Hal Tentang Aku

Day 46. Post a Day 2011.

Tuhan,

Tiga hari yang lalu ketika aku sedang membaca Google Reader, aku merasa ter-summon. Ada yang menyebut-nyebut namaku di tulisannya. Rupanya Mbak Mauritia menganugerahiku sebuah penghargaan. Namanya "Stylish Blogger Award". Atas dasar apa Mbak Mauritia memberikan award tersebut ke aku, jujur saja aku tidak mengerti. Mungkin Mbak Mauritia senang membaca tulisan-tulisanku *uhuk* atau sebenarnya dia adalah penggemarku tapi dia tidak mau mengakuinya *plaaak*.

Sudah cukup lama juga aku tidak menulis award-award begini, Tuhan. Beberapa tahun yang lalu pemberian award seperti ini sempat booming, kemudian melempem. Tapi, belakangan aku kembali menemukannya. Sering sekali. Aku sempat merasa award seperti ini sebenarnya kurang penting. Hanya nge-link blog seseorang (atau beberapa orang) kemudian meminta mereka menuliskan kembali award itu di blog mereka. Dan begitu saja seterusnya.

Tapi, setelah kupikir-pikir lagi oke juga sih sebenarnya. Ada rasa senang namaku disebut-sebut sebagai penerima award walaupun award-nya hanya berupa gambar dan bukan hadiah sungguhan. Itu berarti eksistensiku diakui oleh narablog lain. Itu berarti aku semakin dikenal oleh narablog lain. Itu berarti link blogku dipajang di tulisan mereka. Itu berarti blogku akan semakin ramai didatangi!

BTW, kemarin-kemarin sih pernah dapat beberapa award tapi aku malas luar biasa untuk menulisnya. Duh, semoga saja orang yang pernah memberiku award--tapi tidak pernah aku pajang--tidak dongkol ya sama aku? Amin.

Tapi... Kenapa aku tergerak untuk menuliskan award ini, sedangkan yang lain tidak aku tulis? Sederhana saja alasannya. Salah satu aturan di award ini adalah menuliskan delapan hal tentang kami si penerima award. Nah, aku akan menulis ke delapan hal tersebut biar Engkau lebih mengenal diriku, Tuhan. Jangan cuma Engkau yang harus dimengerti olehku, tapi Engkau juga harus mengenal dan mengerti aku. Biar kita sama-sama saling mengerti satu sama lain. Kalau begitu kan adil jadinya. *dihajar massa*

Nah, kita langsung saja ya, Tuhan?

Kata Mbak Mauritia ada aturan main dalam award ini. Aturannya:

1. Thank and link to the person who awarded you this award.

Terima kasih kepada Mbak Mauritia yang telah memberiku penghargaan ini. Terima kasih.




2. Share 8 things about yourself

a. Futsal

Aku suka main futsal. Di kampusku posisiku sebagai kiper. Awalnya aku bukan kiper, tapi pemain biasa. Menjadi kiper itu suatu faktor ketidaksengajaan. Jadi, ceritanya di kampus ada turnamen "antarklub". Tentu saja klub-klubnya dari anak-anak Psikologi sendiri. Nah, aku yang sebelumnya memang sudah tergabung di FC08 sebagai pemain (dan waktu itu tendanganku katrok sekali. Passingku lemah, tendanganku tidak ada power, dan main pun cuma sebagai penggembira alias lari-lari nggak penting) diajak gabung ke timnya kakak tingkatku. Nama timnya waktu itu "Timtam", singkatan dari "Tim Tanpa Nama". Sebagai junior, aku sih mau-mau saja gabung ke timnya. Apalagi yang main di tim seniorku itu jago-jago.

Nah, ketika mengiyakan gabung, kakak tingkatku itu nanya aku mau jadi pemain biasa atau kiper? Aku mikir, lah emang kiper bukan pemain biasa ya? Berarti kiper itu pemain luar biasa dong? Ya sudah, aku bilang ke kakak tingkatku itu kalau aku mau jadi kiper saja. Biar aku masuk ke kategori pemain luar biasa.

Tapi, itu bohong. Hahahaha... Alasan sebenarnya adalah karena pemain-pemain yang tergabung di Timtam itu pemain yang jago-jago deh. Jauh jagonya dibandingkan aku yang waktu itu menendang bola pun sulit. Jadi, aku berpikir daripada aku merusak permainan tim lebih baik aku jadi kiper saja. Berdiri di depan gawang dan mencegah bola tidak masuk ke gawangku. Keuntungannya, aku bisa melihat pemain-pemainku berebutan bola sedangkan aku bisa santai di belakang menonton mereka. *kiper pemalas*

Debut awalku sebagai kiper pun tidak terlalu mengecewakan. Karena aku merasa aku cocok jadi kiper dan merasa jago jadi kiper maka aku teruskan saja di posisi ini. :D

Menjadi kiper itu enak. Bisa magabut, apalagi kalau timku jarang diserang. Capeknya baru terasa kalau tim lawan jago dan rajin menyerang gawangku. Saat itulah aku sebagai kiper mulai bekerja keras dan capek mengatur bek juga capek menjaga gawang. Konsentrasi harus tinggi. Kalau nggak, bakal bisa kebobolan bodoh.

b. Prokrastinasi

Ini masalah abadiku. Aku ini seorang prokrastinator. Senang sekali menunda-nunda pekerjaan. Kalau ada tugas kuliah yang dikumpul satu bulan dari sekarang, niscaya aku baru kelabakan seminggu sebelum tugas dikumpul. Dan baru benar-benar efektif mengerjakan satu malam sebelum tugas dikumpulkan. Alhasil tugas tidak maksimal dikerjakan. Sesudahnya aku jadi menyesal sendiri. "Seandainya saja aku tidak prokras ya pasti aku bisa maksimal dan tugasnya jadi jauh lebih baik." Ya, seandainya saja...

Mungkin karena inilah skripsiku tidak selesai-selesai. Oh Tuhan, bantu aku!

c. Minus kacamata

Maksudnya, mataku ini rabun jauh. Kalau melihat yang jauh-jauh pandangannya kabur. Sering ada yang menyapaku dari jarak beberapa semeter-dua meter, kemudian aku menjawab sapaannya, "Siapa ya?"

Seharusnya sih aku pakai kacamata. Aku punya kacamata, tapi jarang aku pakai. Aku tidak suka kacamataku itu. Kalau dipakai terasa berat, membuatku pusing, dan kacamatanya suka melorot sendiri. Tidak steady dipakainya. *halah* Mau beli kacamata baru kok ya sayang uang. Habisnya kemarin lensanya baru diganti dan cukup menguras uang tabungan. Mau pakai lensa kontak juga malas. Aku tidak telaten orangnya harus rajin copot-pasang terus rajin membersihkan. Meh.

d. Penggemar imajiner

Bagi pembaca yang sudah cukup lama mengikuti blogku, pasti tahu kebiasaan menulisku yang terkadang menyisipi perkataan-perkataan "penggemarku". Aku yang mengaku-ngaku punya banyak penggemar lantas mengaku-ngaku pernah berdialog dengan mereka. Yah, Engkau Maha Tahu lah, Tuhan, sesungguhnya itu adalah dialog imajiner antara aku dan penggemar imajinerku. Hahaha...

e. Tidak bisa menyetir

Di umurku yang sudah segini, sudah setua ini, aku tidak bisa menyetir mobil dan tidak bisa menyetir motor juga (eh, kalau motor itu "menyetir" atau "mengendarai" sih?). Kadang aku malu dan iri sama teman-teman yang bisa membawa mobilnya sendiri tanpa disupiri. Atau bisa naik motor sendiri tanpa diboncengi. Lah aku boro-boro bisa menyetir mobil atau motor, naik sepeda saja tidak jatuh itu sudah bagus.

f. Mudah menangis

Kalau marah, aku menangis. Kalau nonton film sedih, aku menangis. Kalau baca cerita sedih, aku menangis. Kalau ada yang baik sama aku, aku bisa menangis. Kalau ada yang jahat sama aku, aku menangis sambil menyumpah-nyumpahi orang yang sudah jahat sama aku. Hihihi... Intinya aku cengeng. Aku ini gampang sekali menangis. Sungguh. Bagaimana caranya biar tidak mudah menangis ya? Kan capek...

g. Ababil

Aku ini masih abege. Selayaknya abege pada umumnya, rata-rata abege itu kan masih labil ya? Nah, begitu pula aku. Makanya aku bilang aku ini ababil alias abege labil. Mudah sekali berubah-ubah pendiriannya. Seperti kemarin waktu aku beli Pinkyfloyd-ku. Perlu waktu beberapa menit sendiri untuk menentukan mau pilih warna pink atau silver. Tadinya aku sudah ambil yang warna silver, eh di tengah-tengah malah jadi warna pink. Terus, berubah lagi. Sampai akhirnya aku bilang, "Sudah ah! Warna pink aja! Tasku kan warnanya merah, hpku juga warnanya merah. Pink aja biar matching!" I know... Kelewat maksa memang. :D

Mungkin ini sebuah pertanda aku berjodoh dengan Dimitar Berbatov? Kan Berbatov dijuluki Om Ayah Air sebagai Berbabil alias Berbatov labil. Soalnya, menurut Om Ayah, Berbatov itu mainnya labil, kadang bagus kadang jelek. Nah, karena aku labil dan Berbatov labil, mungkin saja kami jodoh. Who knows? Eh, Engkau yang Tahu ding, Tuhan. :D

h. Manchester United

Awal mula aku suka MU adalah karena Mas Cristiano Ronaldo. Aku suka CR7 bukan karena wajahnya yang kata cewek-cewek dia itu ganteng (padahal menurutku dia nggak ganteng) atau karena skill-nya yang mumpuni, tapi karena tanggal lahir kami sama! Aku juga baru tahu kalau Carlos Tevez ulang tahunnya ternyata berbarengan dengan aku dan mas CR7. Jadilah aku semakin cinta MU. Kan Tevez pernah main di MU. *halah, apa sih maksa banget*

Tapi, bukan berarti CR7 dan Tevez pergi dari MU lantas aku kemudian mendukung Real Madrid dan Manchester City. Nggak lah... Soalnya aku sudah terlanjur cinta sama MU. Biarkan saja mereka pergi dari MU. Toh, tanpa mereka pun MU tetap hebat.

Lanjut lagi ya.

Awal mula suka MU itu bukan berarti aku langsung mengikuti sepak terjang MU di kancah persepakbolaan Inggris *hadeuh, apalagi ini bahasanya*. Aku cuma mengikuti sekilas saja. Oh, MU menang Liga Champion. Oh, MU menang BPL. Oh, MU kalah lawan Barca. Hanya terbatas itu. Tapi, sejak musim ini aku mulai serius mengikuti MU. Ternyata seru juga ya kalau punya klub sepak bola favorit itu?

Tapi, aku agak menyesal juga sih tidak mengikuti MU dari dulu. Sekarang aku hanya bisa mendengar dari cerita-cerita orang betapa hebatnya Peter Schmeichel, Ryan Giggs, Paul Scholes, Gary Neville, Ole Gunnar Solskjaer, dan yang lainnya. *menangis sedih* Ah, tapi tidak apa-apa! Mulai sekarang aku akan setia menjadi pendukung MU. Aku akan menjadi saksi kisah hebat perjalanan MU di masa mendatang!

Oh iya, aku kurang suka lho kalau ada yang sesama penggemar klub sepak bola yang sama merendahkan penggemar yang lain. Misalnya, "Kan elo juga baru sih ngikutin MU. Gue nih ya sudah lama jadi penggemar MU. Gue ini lebih MU daripada elo." Well, hanya mengeluarkan uneg-uneg saja kok, Tuhan. :D

Wah, ternyata suratku hari ini panjang juga ya? Semoga Kau tidak menguap bosan karena membacanya ya!

Harapanku setelah Engkau membaca ini Engkau semakin memahamiku. Aku tahu Kau Maha Mengetahui, tapi tidak ada salahnya juga kan Kau memakai "cara manusia" untuk memahami hamba-hamba-Mu?

Monday, February 14, 2011

Letter #14: Kenapa E-book Reader?

Day 45. Post a Day 2011.

Tuhan,

Aku seringkali mendengar nasihat yang bilang "Buy what you need, not what you want"--belilah barang-barang yang memang kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan. "Butuh" dan "ingin" memang berbeda ya. "Butuh" kan karena kita memang benar-benar perlu barang tersebut, sedangkan "ingin" kan ya cuma nafsu saja. Misalnya, aku sedang jalan-jalan di mall terus lewat toko ponsel, aku membatin, "Duh, aku ingin Blackberry! Aku ingin Samsung 551!". Lantas, aku masuk ke toko itu dan beli ponsel-ponsel yang aku inginkan. Padahal ponselku yang ada sekarang masih bagus, belum rusak, tidak terlalu bermasalah, intinya masih bisa dipakai lah sampai dua tahun ke depan.

Toh, ponsel-ponsel yang aku inginkan itu paling nantinya penggunaan utamanya tetap pada telpon dan sms. Kalau Blackberry, okelah bisa BBM dan push e-mail, tapi aku rasa aku juga tidak akan terlalu memaksimalkan fitur ini. Kalau Samsung 551? Karena dia menggunakan OS Android? Lah terus kalau pakai Android memangnya kenapa? Lain halnya kalau ponselku sekarang memang sudah rusak atau hilang, wajar deh aku beli Samsung 551 atau Blackberry ini. Karena selain aku memang butuh ponsel, aku juga ingin sih. ihikhik

Hal ini membuatku jadi berpikir lagi, Pinkyfloyd/pinkeen/pinkponk/pinkbook (e-book reader-ku yang baru kubeli dua hari yang lalu. Aku masih gamang mau memberi namanya apa. *halah, penting banget sih*)-ku itu aku beli karena aku memang benar-benar butuh ataukah karena aku sekadar ingin? Toh, kalau mau baca e-book bisa di ponselku atau di laptop. Cukup memasang aplikasi Mobipocket Reader di ponsel, aku bisa baca e-book. Di laptop, cukup buka file e-book-nya saja dan aku sudah bisa membacanya.

Iya, toh? Benar, toh?

Apalagi beberapa temanku ada yang tidak mendukungku membeli e-book reader. Sebagian besar sih alasan mereka, "Ngapain lu beli e-book reader? Kalau kata gue mah tanggung. Beli gadget itu ya kalau bisa yang bisa dipakai untuk macam-macam, yang fungsionalnya banyak tidak terbatas pada satu kegunaan saja." Ujung-ujungnya entah mereka menyarankan aku untuk membeli Samsung Galaxy Tab, Ipad, atau komputer tablet yang lain. *jujur saja, aku sendiri tidak terlalu tahu Samsung Galaxy Tab itu masuk kategori apa, apa spesifikasinya, apa fiturnya, dan aku tidak berminat untuk mencari tahu juga sih*

Di satu sisi, alasan teman-temanku itu benar juga. Masalahnya, laptopku sekarang masih bagus kok. Masih bisa berfungsi dengan baik, paling baterainya saja yang soak. Lah, kalau aku beli Samsung Galaxy Tab itu untuk apa dong? Karena biar lebih mudah dibawa kemana-mananya? Lah, memang aku se-mobile apa sih? Toh, kerjaanku sekarang cuma diam bertapa di kos. Terus, kalau aku beli Samsung Galaxy Tab hanya untuk baca e-book apa nanti nggak sayang tuh fitur-fitur yang lainnya tidak aku pakai? Rugi di uang dong sudah beli mahal-mahal kalau cuma buat baca e-book mah.

Kalau dipikir-pikir lagi ya, untuk apa juga aku beli Pinkyfloyd (atau berbagai nama lain yang aku berikan untuknya) kalau toh aku bisa baca e-book di laptop atau di ponselku? Uang Rp 1,5 juta itu lebih baik aku tabung saja untuk biaya menikah. Iya, toh? Benar, toh? Maksimalkan saja penggunaan gadget yang aku punya sekarang.

Tapi, aku pernah tuh ya baca e-book Darren Shan 1 - 12 di laptop nonstop alias tanpa henti! Aku membacanya maraton dari pagi ketemu pagi. Hal yang sama aku lakukan saat aku membaca Percy Jackson 1 - 5. Alhasil, mataku terasa lelah dan kepalaku pusing. Siapa sih yang tidak capek matanya kalau harus lama-lama menatap layar laptop? Apalagi membaca e-book terus-terusan. Mau istirahat baca, tapi aku terlanjur penasaran dengan ceritanya. Jadi, aku teruskan saja membacanya sampai ceritanya tamat. sengihnampakgigi

Sejak itu aku jadi jarang baca e-book di laptop lama-lama. Lama-kelamaan jadi malas baca. Mau baca e-book di ponsel, layarnya kekecilan. Kurang nyaman juga jadinya. Mau beli bukunya, tidak bisa terus-terusan beli buku juga kan? Uang bisa habis dalam sekejap. Kalau sudah begitu, besoknya aku makan apa? Makan buku?

Jadi, aku pertimbangkanlah untuk membeli e-book reader. Bukankah e-book reader diciptakan dengan teknologi e-ink dan tanpa backlight untuk membuat nyaman mata pembacanya? Katanya sih baca e-book di e-book reader itu selayaknya baca buku biasa, cuma beda media saja. Yang satu media konvensional (buku), yang satu media kontemporer (e-book reader). *halah, ngaco* Yang setelah aku praktekkan ternyata memang benar demikian adanya. Baca e-book di Pinkyfloyd itu senyaman aku membaca printed books.

Nah, kalau sudah begini siapa butuh Samsung Galaxy Tab, Ipad, atau berbagai pad/tab lainnya yang sampai saat ini sejauh yang aku tahu masih pakai backlight? Mungkin orang lain yang butuh, yang mobilitasnya tinggi, atau memang perlu gadget tersebut dengan berbagai macam alasannya. Bukankah kebutuhan (dan keinginan) tiap orang beda-beda? Kebutuhanku tidak bisa disamakan dengan kebutuhan teman-temanku yang menyarankanku untuk beli Samsung Galaxy Tab itu.

Atau seperti yang Kitin kemarin bilang, "Kecuali... Kecuali ya, Kim, Samsung Galaxy Tab itu punya teknologi yang bisa men-switch ke opsi tanpa pakai backlight dan dia pakai teknologi e-ink serta bisa otomatis mengaktifkan e-ink-nya." Nah, kalau Samsung Galaxy Tab sudah bisa seperti ini bolehlah aku pertimbangkan untuk membelinya.

Jadi, untuk sekarang aku sudah puas dengan Pinkyfloyd dan aku tidak menyesal sama sekali membelinya. Aku puas dengan Pinkyfloyd. Dan Kau tahukah, Tuhan, di akhir ketika aku mengetikkan surat ini (ya, sebentar lagi surat ini selesai kok) aku semakin yakin kalau aku memang butuh e-book reader, tidak hanya sekadar ingin. Apalagi setelah melalui proses panjang sebelumnya yang aku browsing dulu cari tahu apa itu e-book reader, e-ink, backlight, lalu mencari e-book reader merk apa yang bagus dan murah sebelum akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada Bookeen Cybook Opus.

Nah, sekian dulu surat dariku untuk hari ini ya. Semoga Kau tidak bosan membacanya. Terima kasih sudah membaca suratku ini, Tuhan. senyum

Sunday, February 13, 2011

Letter #13: Perpisahan

Day 44. Post a Day 2011.

Tuhan,

Setiap ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Aku sangat tahu itu. Aku senang ketika ada perjumpaan, tapi aku tidak suka perpisahan. Perpisahan itu menyebalkan, Tuhan. Ia menyakitkan sekaligus menyedihkan. Sungguh. Terutama jika perpisahan itu harus terjadi dengan orang-orang yang aku kasihi.

Seperti tadi. Aku berjumpa dengan teman dekatku. Kami janjian di dekat Gang Kober. Rencananya kami mau jalan ke Giant Margo, kemudian mencicipi cheesecake di Harvest, lalu makan pempek di Pempek Pak Raden. Jalan-jalan yang menyenangkan, bukan?

Aku selalu senang setiap berjumpa dengan temanku itu. Orangnya lucu, menyenangkan, dan enak diajak ngobrol juga diskusi. Kalau ngobrol sama dia itu bisa panjang sekali. Bahasannya bisa luas. Dari yang awalnya ngobrol soal ebook reader, bisa ditutup dengan ngomong-ngomong soal agama. Atau yang tadinya ngobrol soal film, sambil jalan pulang ke kosan bisa berubah jadi ngobrol soal pernikahan.

Kadang obrolan kami pun absurd. Aku sih tepatnya yang absurd. Ketakutan-ketakutanku yang tidak jelas itu aku ceritakan. Aku takut ini takut itu temanku itu pasti tahu. Aku merasa nyaman cerita apa saja ke dia karena dia tidak akan menghakimiku atau men-judge diriku. Bukankah dalam suatu hubungan pertemanan itu yang penting?

Ketika mengobrol dengan dia, aku banyak sekali mendapat insight. Wawasanku bertambah luas, pikiranku semakin terbuka, dan yang aku suka lewat obrolan-obrolan itu tanpa disadari olehku sebenarnya dia mengkritikku, membuatku jadi lebih baik. Mungkin dia juga tidak menyadari hal ini, tapi kalau aku renungkan dari obrolan-obrolan kami itu sepertinya itu yang terjadi.

Dia tidak pernah secara frontal menyerangku dan berkata, "Kamu itu salah, Kimi. Seharusnya itu begini blablabla..." Tidak, dia tidak pernah seperti itu. Entah bagaimana caranya dia mengoreksiku. Ini yang aku suka. Yah, mungkin karena aku tidak terbiasa menerima kritikan secara langsung, walaupun sebenarnya aku juga tidak masalah sih menerima kritikan.

Pokoknya, aku senang punya teman seperti dia. Aku senang menghabiskan waktu bersamanya, meski itu hanya menemaninya jalan-jalan di Giant Margo beli kangkung kemudian menemaninya pulang sambil dia menenteng laptop baru. sengihnampakgigi

Seperti yang sudah kubilang tadi, kami berjumpa sore tadi di Gang Kober dan kami berpisah di angkot ketika aku harus turun di gang dekat kosku. Biasanya aku tidak takut untuk berpisah dengan dirinya. Karena aku tahu besok-besok aku pasti bisa bertemu dengan dirinya lagi meski hanya untuk makan bubur ayam atau jogging dua putaran (atau dua menit) lalu jalan keliling UI.

Tapi tadi aku takut sekali berpisah dengan dia. Tiba-tiba aku merasa sedih harus turun dari angkot tadi. Kalau waktu bisa di-pause saja barang beberapa jam, aku pasti senang karena itu berarti aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan dia dan bisa ngobrol lebih banyak dengan dia.

Mungkin tadi ekspresi wajahku datar-datar saja ya ketika dia bilang Sabtu depan akan pulang ke Jogja. Aku hanya bilang, "Yah... Cepat banget disininya? Katanya sampai Maret?" Ya sudah, hanya itu. Aku berusaha tidak menunjukkan kesedihan di depannya. Aku juga berusaha untuk tidak membicarakan soal kepulangannya ke Jogja. Tapi, sebenarnya dalam hati aku sedih. Aku sedih harus berpisah dengan dia tadi. Aku sedih harus berpisah dengan dia dan mungkin butuh waktu lama untuk bisa sering-sering ketemu dan jalan-jalan seperti sebulan terakhir.

Tuhan, seperti yang aku bilang tadi aku senang perjumpaan, tapi aku benci perpisahan. Aku senang berjumpa dengannya, berteman dengannya, tapi aku benci harus berpisah dengan dirinya.

Meskipun begitu, terima kasih, Tuhan, Engkau telah mempertemukan kami. Terima kasih, Engkau, telah mengenalkan dia kepadaku. Aku titip dia kepada-Mu, Tuhan. Tolong jaga dia baik-baik ya.

Terima kasih, Tuhan.

Saturday, February 12, 2011

Letter #12: My New E-book Reader!

Day 43. Post a Day 2011.

Tuhan,

Aku baru saja pulang dari Plaza Indonesia. Aku berangkat pagi tadi pukul 9 dan sampai kosan sekitar pukul 4 sore. Aku istirahat sejenak, mandi, kemudian langsung menulis surat untuk-Mu. Aku abaikan rasa lelah yang masih tersisa karena aku ingin menceritakan sesuatu kepada-Mu.

Hari ini aku senang! Setelah sekian lama aku hanya mampu memendam keinginan akhirnya aku bisa memiliki e-book reader-ku sendiri! Horeeee! Sungguh, aku senaaaang sekali! Memang sejak lama e-book reader adalah barang yang aku idam-idamkan, tapi baru kesampaian hari ini. senyum

Aku berterima kasih kepada ayahku yang mau membelikan e-book reader untukku. Memang sih beliau hanya memberikan uangnya dan aku yang jalan sendiri (bersama teman kosku ding) ke Plaza Indonesia. Katanya ini sebagai hadiah ulang tahunku. Engkau pasti tahu kan, Tuhan, kalau minggu lalu aku ulang tahun? Ulang tahunku kan berbarengan dengan Cristiano Ronaldo dan Carlos Tevez. Hahaha... Iya deh, ini nggak penting banget.

Oiya, sebelumnya aku memang sudah lama searching soal e-book reader. Tadinya aku kepingin Sony PRS yang touch screen itu. Seri 500 atau 600 ya? Aku lupa. Tapi, setelah aku cek harganya mahal sekali. Lalu, aku cari-cari lagi merk yang lain. Ketemu iRiver Cover Story. Kalau dilihat dari spesifikasi sih iRiver Cover Story atau iRiver EB05 ini keren banget deh. Aku jadi kesengsem berat.

Aku tetap browsing sana-sini mencari harga termurah. Maklum lah, namanya juga masih mahasiswa. Kalau bisa cari yang semurah mungkin, tapi barangnya oke. sengihnampakgigi Akhirnya aku mampir ke situs Papataka.com. Aku kaget kok disitu harga e-book reader-nya murah-murah ya dibandingkan di tempat lain? *well, mungkin ada yang lebih murah, tapi aku belum ketemu aja tempatnya*

Bayangkan, iRiver Cover Story kalau di tempat lain bisa 3jutaan. Kalau di Papataka, Rp 2,5 juta! Terus, ada e-book reader Booken Cybook Opus. Itu ya harganya Rp 1,5 juta kurang sepuluh ribu, meeeeen!!! Setahuku ini e-book reader yang paling murah, yah selain yang dari Cina yah. Untuk lengkapnya boleh lho lihat-lihat di web Papataka langsung.

Aku pun bertekad kalau aku harus nabung buat beli e-book reader! Nggak dapat iRiver EB05 nggak apa-apa deh, Booken Cybook Opus pun jadilah.

Dan, Tuhan, Engkau mengabulkan doaku. Tanpa harus capek-capek menabung, dua hari setelah hari ulang tahunku ayahku berbaik hati memberiku sejumlah uang yang nominalnya pas banget untuk beli Booken Cybook Opus. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Papa. senyum

Oiya, ini e-book reader baruku. Namanya Pinkbook. Dari warna pink dan Booken. Aku sungguh pintar ya kalau mencari nama? gelakguling




Alasanku memilih warna pink dan bukannya warna silver (tadi di Papataka Booken-nya tinggal warna pink dan silver) adalaaaah... karena tas MU-ku kan warnanya merah, terus hp Nokia E71-ku juga warnanya merah. Nah, biar mirip-mirip aku pilih e-book reader-nya yang warna pink deh! Masih satu keluarga lah ya dengan warna merah? ihikhik

Sekali lagi, terima kasih Tuhan dan terima kasih Papa untuk kado e-book reader-nya. sengihnampakgigi

p.s.: aku baru baca tweet dari @papatakadotcom. Tanggal 14 Pebruari 2011 besok ada promo diskon 27% untuk iRiver EB05. Aaaaahhhh... Sial! Tahu begitu aku tunggu saja dengan sabar hari Senin. sedih Eh tapi, mudah-mudahan Papataka membolehkan aku menukar Booken-ku ini dengan iRiver ya? Aku tambah sedikit nggak apa-apa kok...

Friday, February 11, 2011

Letter #11: Miss These Kids

Day 42. Post a Day 2011.

Dear God,

I was browsing photos in my laptop when I found this one:


from left to right:
Haikal, Jihan, Dewi, and Fajri


These kids are my nephews and nieces. The photo was taken in 2004 in one hotel's parking lot in Solo. We were waiting our cars to bring our back to our home in Bandar Lampung. While waiting, I had my cellphone and snapped their picture.

They were cute, weren't they? By the time the photo was taken, Haikal was five years old, Jihan was seven, Dewi was four, and Fajri was six years old.

And now seven years have flown by. Time goes so fast. Now, they're grown ups and become teenagers. They start to know what love is and crush on their friends. Even Jihan now has boyfriend at the age thirteen! My oh my... Kids these days grow up so fast.

Oh, God, now I miss times when they were kids and younger than they are now. They were so cute. I wish I could stop time and never let them to grow up. I want them to be kids forever.

I know, I know, that's selfish.

By the way, yesterday my youngest niece, Salwa, asked me why I didn't go home. She asked twice! One when she woke up in the morning and another one when she asked in the afternoon. She called me and said, "Uncu, why you don't go home? Don't forget to bring donuts, please. And chocolate, too!"

And this morning, my father called me and said that Salwa had asked about me again. Dear God, now I terribly terribly miss her. nangih


this is Salwa. She's 3.5 years old now


Do You know what I truly want right now? I want to be in my home and play with Salwa. Please, God, make it happen soon. Thank You, God. senyum

Thursday, February 10, 2011

Letter #10: Norwegian Wood

Day 41. Post a Day 2011.

Tuhan,

Hari Minggu yang lalu saya selesai baca Norwegian Wood-nya Haruki Murakami. Sebuah nama yang baru saya dengar beberapa bulan belakangan. Itupun tahunya dari Twitter karena ada orang yang saya ikuti akun Twitternya seringkali menyebut-nyebut Haruki Murakami. Katanya novel-novel Murakami ini bagus. Saya pun jadi penasaran. Maka ketika saya sedang ada uang, saya bela-belain ke TM Bookstore Depok dan membeli Norwegian Wood.

Dan saya tidak kecewa. Novelnya bagus! Saya suka. Ceritanya memang sederhana tentang cinta antara Watanabe, Naoko, dan Midori. Naoko yang merupakan cinta pertama Watanabe dan tidak dapat dilupakan begitu saja. Naoko selalu merasuki pikiran dan hati Watanabe sampai akhirnya Midori hadir di dalam kehidupan Watanabe.




Meski ceritanya sederhana, deskripsi ceritanya sangat kuat dan saya rasa inilah kekuatan dari novel ini. Murakami bagus sekali dalam mendeskripsikan perasaan masing-masing tokohnya. Sangat detil, tapi tidak membosankan. Terbantu dengan terjemahan yang bagus membuat saya sangat menikmati novel ini.

Kisah bermula dari Watanabe yang berusia 37 tahun sedang berada di pesawat. Dia sedang mengingat Naoko kembali. Kenangannya yang sudah berusia dua puluh tahun. Ada janji yang terucap oleh Watanabe bahwa dia tidak akan melupakan Naoko sebagaimana Naoko memintanya demikian.

(Naoko) "Aku ingin kau mengingatku. Maukah kau terus mengingatku bahwa aku ada dan pernah berada di sampingmu seperti ini?" (halaman 13)

Tapi, seiring berjalannya waktu kenangan akan Naoko mulai memudar. Watanabe mengakui hal itu dan dia tidak mau mengingkari janjinya kepada Naoko.

... Kenangan tidak sempurna itu, yang sudah memudar dan sekarang pun sedikit demi sedikit terus memudar, kusimpan di hati dan aku terus menuliskan kalimat-kalimat ini dengan perasaan seolah menggerogoti tulang. Untuk memenuhi janjiku terhadap Naoko, tidak ada cara lain kecuali seperti ini. (halaman 15)

nangih

Sedih ya? Watanabe tidak dapat melawan waktu. Kenangan akan hilang sedikit demi sedikit jika kita tidak bisa menyimpannya dengan baik.

Intermezzo sedikit. Saya sekarang mencoba untuk mengingat-ingat kenangan waktu SMA. Saya lupa sebagian besar. Hanya sekelebat beberapa episode yang teringat dan muncul. Itu pun tidak jelas dan kabur. Sayang sih sebenarnya, apalagi ada kenangan indahnya bersama... Aish, sudahlah. Yah, mungkin inilah pentingnya catatan harian, blog, foto, dan yang lain untuk mencatat rangkaian perjalanan hidup saya agar tidak tercecer. Jika terjaga dengan baik, bisa lah nanti saya tunjukkan ke anak-cucu. sengihnampakgigi

Balik lagi ke novel.

Sampai dimana kita tadi, Tuhan? Ah ya... Sampai Watanabe yang menulis kembali kenangannya demi menepati janjinya kepada Naoko.

Dari situ cerita bergulir. Watanabe masuk kuliah, bertemu kembali dengan Naoko, berkenalan dengan Nagasawa-san, sampai akhirnya dia bertemu dengan Midori. Cerita sangat mengalir dengan lancar dan terasa nuansa sedihnya. Wajar sih ya soalnya kan ini kenangan Watanabe tentang Naoko, gadis yang dia cintai namun sayangnya si gadis tidak mencintai Watanabe. Not even a little.

Saya ingin menyebut novel ini sebagai kisah nelangsa, ngenes, sedih, karena ya memang itu kenyataannya. Kisahnya tidak berakhir bahagia. Ng... Tapi, saya jadi bertanya-tanya sendiri sih di usianya yang ke 37 tahun, Watanabe sendiri tidak dijelaskan akhirnya bersama siapa. Dengan alasan kebahagiaan pribadi, biarkan saya membuat kesimpulan sendiri, yakni Watanabe bahagia bersama Midori. setan

Mudah-mudahan nanti kisah cinta saya tidak ngenes seperti kisah Watanabe ya. Amin... Dan, terima kasih, Tuhan, sudah membaca surat saya hari ini. senyum

p.s.:

Judul: Norwegian Wood (judul asli: Noruwei no Mori)
Pengarang: Haruki Murakami
Penerjemah: Jonjon Johana
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) (cetakan V, November 2009)
Tebal: iv + 552 halaman
ISBN: 978-979-91-0033-7
Harga: Rp 60.000,00

Wednesday, February 9, 2011

Letter #9: Blog GSKBI

Day 40. Post a Day 2011.

Tuhan,

Kemarin saya me-repost press release-nya GSKBI yang digagas Mbak Rima Fauzi dan temannya ya? Di bawah surat kemarin, saya juga menanyakan setelah GSKBI lalu apa langkah selanjutnya? Mbak Rima bilang:

Kim, spreading awareness aja dulu, kalau gue coba via fb, via twitter, menggiring teman2 utk cool headed dan jangan saling terpancing isu SARA, agar tidak emosional dan mencoba utk bahkan berpikir bahwa kemungkinan besar ada pihak2 tertentu dengan motif politik (?) yang sedang mencoba memecah belah umat beragama di indonesia. Karena umat Indonesia sebetulnya tidak sebodoh dan sepicik ini, ini pasti ada pihak ketiga yg membakar, memprovokasi sehingga terjadi semacam ini..

Baiklah, saya setuju. Setidaknya kami harus menyadarkan teman-teman terlebih dahulu untuk tenang dan tidak terpancing emosi *yah, meski jujur saja kemarin saya agak terpancing emosi juga sih*. Isu SARA ini memang sangat sensitif, tidak semua dapat menerima dengan kepala dingin dan berhati besar.

Jika ada orang-orang yang sengaja memprovokasi untuk melakukan anarkisme, tidak ada salahnya kami juga melawan dengan "memprovokasi" untuk tenang, tidak emosional, dan mengajak untuk berpikir jernih. Lebih jauh, kami juga ingin "memprovokasi" orang-orang untuk lebih meningkatkan lagi toleransi antarumat beragama. Perbedaan itu indah kok. Keberagaman itu membuat hidup lebih berwarna.

Oleh karena itulah, saya usul ke Mbak Rima untuk membuat blog Gerakan Solidaritas Kebebasan Beragama di Indonesia. Blog yang berisi tentang keberagaman agama, harapan untuk selalu damai antarumat beragama di Indonesia. Siapapun bisa menulis di sana. Caranya mudah saja. Cukup kirim tulisan teman-teman ke e-mail solidaritasberagamaindonesia [at] gmail [dot] com. Cara lainnya, teman-teman bisa menyebarkan gerakan ini ke orang-orang terdekat. Ke berbagai situs media sosial juga boleh kok. senyum

Saya juga telah menulis suatu ajakan untuk berkontribusi. Mari bergabung di GSKBI! Mari suarakan hati kita. Mari sebarkan pesan perdamaian. Mari sampaikan kepada dunia bahwa hidup dalam perbedaan itu sebenarnya indah asalkan kita mau saling bertoleransi. senyum

Semoga saja semakin banyak yang berkontribusi dalam gerakan ini ya, Tuhan. Dan semoga pesan dalam gerakan ini sampai ke semua orang di luar sana.

Semoga Engkau memudahkan niat baik kami, Tuhan, dan melancarkan jalannya. Terima kasih ya. senyum

Tuesday, February 8, 2011

Letter #8: GSKBI

Day 39. Post a Day 2011.

Tuhan,

Saya membaca tulisan Mbak Rima Fauzi di blognya dan saya tergerak untuk me-repost tulisannya di blog ini. Berikut isinya:

Press Release Gerakan Solidaritas Kebebasan Beragama di Indonesia (GSKBI)

Kepada Yth;

Bpk/Ibu/Teman Sevisi GSKBI

GSKBI lahir di Senin hitam pada tanggal 7 Februari 2011 menyusul pembunuhan tiga warga Ahmadiyah yang telah dibantai oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab di Desa Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Peristiwa ini menandai permulaan dari kehancuran dasar negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika dan makin pudarnya solidaritas kebebasan beragama di Indonesia yang telah lama menjadi model dunia untuk toleransi dan harmoni dalam kehidupan antar umat beragama yang berbeda tetapi dapat menemukan titik persamaan sehingga mampu hidup berdampingan dalam kedamaian.

Gerakan ini dimaksud untuk mengajak Bapak, Ibu dan teman-teman yang prihatin dan memiliki visi yang sama dengan kami, yaitu mendukung kehidupan damai dan tentram bagi semua rakyat Indonesia beragama apapun seperti yang diinginkan oleh para pelopor NKRI dan yang masih kita semua inginkan sekarang, 65 tahun kemudian.

Silahkan Bapak, Ibu dan teman-teman apabila ingin menyebarluaskan pesan dari gerakan ini yang intinya untuk menanamkan kembali atau mengingat dan menjalankan kembali kehidupan toleransi antar umat beragama yang dulu selama bertahun tahun kita nikmati dan saat ini sudah semakin hilang dikarenakan teror dari pihak tertentu yang menunggangi ini, yang ingin merusak NKRI dan mengubahnya demi kepentingan golongannya sendiri.

Berikan arti bagi kepergian tiga warga Ahmadiyah sebagai permulaan gerakan penolakan kontrol dan tirani para teroris kebebasan beragama di Indonesia dan juga gerakan penyadaran diri para penguasa Negara yang terus diam menyaksikan kejadian demi kejadian brutal yg telah menjadikan rakyat Indonesia semakin merasa takut dan tidak aman tinggal di negaranya sendiri, di rumahnya sendiri.

Cara-cara yang dapat Bapak/Ibu/Teman-teman dapat lakukan untuk penyebaran pesan GSKBI antara lain adalah:

a. membuat profile picture di facebook atau jaringan sosial lainnya dengan gambar yang tersedia disini: http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs048.snc6/167834_10150374795675162_775165161_17201025_4463416_n.jpg

atau


b. Mengubah status facebook menjadi “Mari dukung Gerakan Solidaritas Kebebasan Beragama di Indonesia – GSKBI” atau sebarluaskan via twitter pesan yang sama dan memakai hashtag #GSKBI

c. Menulis dalam blog-blog apabila memiliki blog, mengenai gerakan ini dan juga ajakan kepada para pembaca blog anda semua untuk melakukan hal yang sama.

Silakan email (Nama, Alamat,Telp/HP) ke kami melalui alamat email solidaritasberagamaindonesia@gmail.com apabila Bapak/Ibu/ Teman-teman memiliki ide yang lain atau sekedar dukungan atau shoutout kepada kami agar kami tahu bahwa kami tidak sendiri dalam hal ini.

Terima kasih atas perhatiannya, kami tunggu kehadiran anda semua dalam penyebaran pesan GSKBI dan semoga melalui gerakan ini ada perubahan di Negara kita tercinta, sekecil apapun perubahan itu tetapi itu sangat berarti bagi kelangsungan toleransi kehidupan beragama di Indonesia.

Mengapa gerakan ini penting sekali? Karena hari ini korban teror dan kebejatan ini adalah warga Ahmadiyah tetapi apabila kita diam membisu terus menerus, besok korban berikutnya bisa jadi salah satu di antara kita, atau siapa saja warga Republik Indonesia yang seharusnya memiliki hak yang sama sebagai warga RI.

Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya, Ide dan sumbang saran setiap saat kami tunggu, demi menuju ke Indonesia yang lebih baik.

Brussel, 7 Februari 2011,




Rima Fauzi & Imelda Tenyala

Pemrakarsa Gerakan Solidaritas Kebebasan Beragama di Indonesia - Brussel, Belgia

E-mail: solidaritasberagamaindonesia@gmail.com

Tapi, sekarang saya bingung. Sesudah menulis ini, lantas apa lagi kelanjutannya? Apa langkah berikutnya yang bisa diambil? Any ideas, Mbak Rima?

Dan... Tuhan, ada ide kah? Mohon pencerahan ya... sengihnampakgigi

Monday, February 7, 2011

Letter #7: Mengapa Ini yang Terjadi?

Day 38. Post a Day 2011.

Tuhan,

Terima kasih atas berkah yang hari ini Engkau berikan. Hari ini Engkau masih memberikan kesempatan kepada saya bertemu dengan orangtua saya. Kami masih bisa makan enak di Sushi Tei Plasa Senayan dan menghabiskan waktu dengan bercerita dan bercengkerama.

Namun, di samping kebahagiaan saya juga merasakan kepedihan. Kemarin penganut Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, diserang. Dalam serangan itu tiga orang tewas. Saya tidak tahu bagaimana kronologi sesungguhnya, tapi Engkau Maha Mengetahui, bukan? Engkau pasti tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Tapi, kenapa Engkau tidak mencegah penyerangan itu, Tuhan? Bukankah tiga orang yang tewas itu adalah hamba-Mu juga?

Harus berapa lagi nyawa yang hilang karena perbedaan, Tuhan? Harus berapa lagi nyawa yang dikorbankan untuk mencapai keseragaman sehingga tidak ada lagi korban atas dasar perbedaan? Sampai semua minoritas punah kah? Atau sampai Engkau harus turun tangan sendiri?

Peristiwa yang terjadi kemarin itu bukan yang pertama kalinya, tapi yang kesekian kalinya. Dan saya bertanya seperti ini karena Pemerintah telah gagal melindungi warganya sendiri. Jika Pemerintah saja sudah gagal dan tidak bisa lagi diandalkan, kepada siapa lagi kami harus menaruh asa selain kepada-Mu?




tiada yang salah dengan perbedaan
dan segala yang kita punya
yang salah hanyalah sudut pandang kita
yang membuat kita terpisah

karena tak seharusnya
perbedaan menjadi jurang

bukankah kita diciptakan
untuk dapat saling melengkapi
mengapa ini yang terjadi

mestinya perbedaan bukan alasan
untuk tak saling memahami
harusnya kita bisa memberi jalan
tuk satukan semua harapan


Tuhan, maukah Engkau bersama saya mendengarkan lagu ini? Dan maukah Engkau memeluk saya dan memberikan kedamaian serta ketenangan kepada saya setelah peristiwa penyerangan terhadap Ahmadiyah kemarin?

Terima kasih, Tuhan. senyum

Sunday, February 6, 2011

Letter #6: [Book] Eating Animals

Day 37. Post a Day 2011.

Tuhan,

Saya ingin curhat. Mudah-mudahan Engkau sudi ya meluangkan waktu sebentar dan membaca surat ini? Semoga.

Beberapa hari yang lalu saya menamatkan membaca buku Eating Animals karya Jonathan Safran Foer. Bagi saya bukunya menyeramkan. Tidak kalah seram dengan film-film seram yang pernah saya tonton.




Eating Animals adalah buku nonfiksi. Kalau kata Foer sendiri proses pembuatan buku ini butuh waktu sekitar tiga tahun untuk risetnya sendiri. Semacam buku investigasi mungkin? Mungkin saja ya.

Nonfiksi tentang apa? Ehm... Nonfiksi tentang hewan. Bagaimana perjalanan hewan-hewan yang dagingnya biasa kami--manusia--makan. Mulai dari peternakan, rumah jagal, hingga tersaji di atas piring kami.

Menyeramkan, Tuhan. Sungguh.

Sebagian besar pejantan ayam petelur dimusnahkan dengan cara disedot melalui serangkaian pipa ke satu lempengan beraliran listrik. Anak ayam petelur lain dimusnahkan dengan cara lain, dan mustahil menyebut mereka lebih atau kurang beruntung. Sebagian dimasukkan ke dalam wadah-wadah plastik besar. Yang lemah terinjak-injak di bawah dan mati kehabisan napas, pelan-pelan. Yang kuat mati kehabisan nafas pelan-pelan di atas. Yang lain dimasukkan, hidup-hidup ke maserator (bayangkan blender diisi anak ayam). (halaman 47)

Kan, saya bilang juga apa. Menyeramkan. Itu baru satu contoh. Masih banyak yang lain.

Sebagaimana di pabrik jenis apapun, keseragaman sangat penting. Anak-anak babi yang tidak tumbuh cukup cepat dianggap pemborosan dan tidak punya tempat di peternakan. Kaki mereka digenggam lalu mereka dibanting--kepala duluan--ke lantai beton. Praktik umum ini disebut "thumping". "Kami lakukan 'thumping' sampai 120 kali sehari," kata seorang pekerja dari satu peternakan Missouri. (halaman 181)

Saya jadi bertanya-tanya sendiri dimana sih letak hati nurani para peternak hewan itu? Kok ya tega sekali menyiksa hewan-hewan demi mengejar keuntungan pribadi. Hewan-hewan ternak (sapi, ayam, babi, dan lainnya) dimasukkan berjejal-jejalan ke dalam ruangan sempit dan tidak bercahaya. Semakin banyak hewan, semakin bagus. Itu pertanda semakin banyak daging yang bisa dijual dan berarti keuntungan semakin besar.

Hewan-hewan ini tidak dibiarkan keluar dari kandangnya. Mereka terus terkurung di dalam ruangan hingga waktunya nanti mereka disembelih. Mereka buang kotoran di situ, menginjak tahinya sendiri, tidak bisa bergerak dengan bebas. Jadi, jangan salahkan mereka kalau mereka sebenarnya hewan berpenyakitan. Lha wong, mereka hidup dengan kotoran mereka sendiri di kandangnya. Terbayang tidak, ada berapa kuman penyakit mengancam hewan-hewan ternak tersebut? Yang parahnya, hewan-hewan ini kami yang makan, Tuhan.

Serangkaian antibiotika, hormon, dan obat-obatan lain dalam pakan babi akan menjaga sebagian besar di antara mereka tetap hidup sampai waktu disembelih, meski kondisinya buruk. Obat-obatan itu paling diperlukan untuk melawan masalah pernafasan yang marak di peternakan pabrik babi. Kandang yang lembab, hewan berdesak-desakkan dengan sistem kekebalan yang dilemahkan stres, dan gas beracun dari tumpukan tahi dan kumpulan air kencing membuat masalah itu praktis tak dapat dihindari... (halaman 182)

Saya yang membacanya saja jadi ikutan stres, apalagi hewan-hewan itu ya? Lantas, Froer kembali melanjutkan masih di halaman yang sama:

Dalam dunia peternakan pabrik, harapan dijungkirbalikkan. Dokter hewan bukan bekerja untuk mencapai kesehatan optimal, melainkan keuntungan optimal. Obat bukan untuk menyembuhkan penyakit, melainkan pengganti sistem kekebalan yang rusak. Peternak tidak berupaya menghasilkan hewan sehat. (halaman 182)

Saya jadi semakin takut.

Tapi, setidaknya ada secercah harapan. Menurut Foer, masih ada beberapa peternakan yang masih bertahan dengan konsep peternakan tradisional. Hewan-hewan dibiarkan keluar dari kandangnya, menghirup udara bebas, diberi makanan yang layak. Hewan-hewan yang ada dibatasi sebatas kemampuan peternakan merawatnya, tidak boleh lebih, meskipun permintaan daging ke peternakan-peternakan ini sangat tinggi. Harga dagingnya memang jadi lebih mahal, tapi konsumen tidak peduli. Mereka percaya daging-daging yang berasal dari peternakan tradisional jauh lebih sehat daripada daging dari peternakan pabrik. Sayangnya, masih sedikit peternakan yang beroperasi dengan sistem ini. Kebanyakan sekarang adalah peternakan pabrik yang sudah saya baca seperti apa kekejamannya.

Iya, buku ini hanya membahas peternakan di Amerika Serikat. Ia tidak mengupas peternakan di Indonesia. Saya juga tidak tahu bagaimana peternakan di Indonesia sesungguhnya. Cuma setidaknya buku ini memberikan gambaran kepada saya bagaimana kehidupan peternakan sesungguhnya.

Jadinya kesan saya setelah membaca buku ini: saya ingin jadi vegetarian saja. Ya ya, saya tahu itu terlampau ekstrem. Kan itu kesan setelah membaca. Tidak mungkin pula saya menjadi vegetarian dalam waktu semalam. Toh, saya juga kurang tahu pola makan vegetarian itu seperti apa. Saya masih harus banyak tanya dan riset kalau ingin jadi vegetarian. Tapi, paling tidak yang bisa saya lakukan adalah mulai sekarang mengurangi makan daging.

Sekian surat curhat saya untuk hari ini, Tuhan. Semoga keadaan semuanya menjadi lebih baik ya. Terima kasih sudah membaca surat saya, Tuhan. senyum

p.s.:

Judul: Eating Animals
Pengarang: Jonathan Safran Foer
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (Cetakan I, 2010)
Tebal: x + 318 halaman
ISBN: 978-979-22-6328-2
Harga: Rp 60.000,00

Saturday, February 5, 2011

Letter #5: Death

Day 36. Post a Day 2011.

Dear God,

I fear death. Because to me death means all my connections to world are cut off. All kinds of worldly pleasures I can't enjoy anymore. I can't eat good food, watch good movies, listen to Frank Sinatra's songs, read good books, and many others. I also can't play with my three-year-old niece.

Yes, I'm afraid I'll be dead.

I'm afraid that later in my grave my smooth skin will be eaten by worms, maggots, and their friends. I'm scared that later soil and darkness are the only my friends that I have.

I do fear death, God. It chills me every time I think that You may put me in hell instead of heaven, even though I don't cheat, steal, kill, or do any malicious actions. Just because of small mistakes that I make, You put me in hell. So, what's the point any good deeds that I've done then?

But here I do not mean to sue You about hell and heaven, or protest about sin or merit concept. They are Your creations. It's up to You to which one place You're going to put people later in Judgment Day, whether it will be heaven or hell.

All I want to say is I'm afraid of death. In other words, I'm afraid of getting old. I hate getting old each day, each week, each month, each year. It means by getting old is getting closer I'll be to death. Not to mention all these wrinkles that I will have through years.

Thus, I don't mind being a vampire. I don't mind exchanging my life I have now and convert it in to immortality. Sounds selfish, huh? I know, but that is the truth.

So, God, until the day I die finally will come, at least let me enjoy today as fun as I can without getting worried too much about being-burried thought.

Let me finish this letter with a serenity prayer:

God, grant me the serenity to accept the things I cannot change, courage to change the things I can, and wisdom to know the difference.

Amen.

Thank You for reading my letter, God. senyum

Friday, February 4, 2011

Letter #4: Teleportation

Day 35. Post a Day 2011.

Dear God,

Sometimes I wish I could turn back time. There were times in the past that I would like to change. Some things I did and I wasn't proud of myself because of them. I regret them. Especially times in my senior high school years.

I was so stupid back then. Unnecessary mistakes had been made, sloppy attitude I had had, I was rude, etc. But, the most thing I regret is the moment I let my (ex) bestfriend found his own girlfriend. How could I be so blind that actually he fell in love with me? How could I not see that? And now I leave myself wonder what would my life be if he and I were a couple?

Oh, how I really wish to go back in year 2002 - 2005.

So, God, if You let someone invents a teleportation machine or a teleportation application for smartphone, I would be so happy. I would go back to my years in senior high school and set things right.

I know there is no guarantee that our relationship might go last, but at least there were days I would've spent with him. And that is something I won't regret for my whole life.

But then again. Regret is futile.




no regrets, they don't work
no regrets now, they only hurt

p.s.: And, God, I don't know what's wrong with me but last few days I keep thinking about him. Is that supposed to mean that I miss him?

Thursday, February 3, 2011

Letter #3: Takut

Day 34. Post a Day 2011.

Tuhan,

Baru saja saya membaca sebuah tulisan yang menyayat hati. Tulisan tentang kepedihan seorang anak yang baru ditinggal ibunya. Saya membacanya di sini.

Sedih saya rasakan ketika membaca tulisan tersebut. Sudah terasa air mata hendak keluar, tapi saya tahan. Sampai akhirnya saya kalah. Air mata pun keluar dan saya menangis sedih. Dada saya ikut terasa sesak. Sungguh.

Tulisan itu mengingatkan saya akan orangtua di kampung halaman. Ketakutan saya yang paling besar, yaitu kehilangan orang-orang yang saya cintai semakin memuncak. Ketakutan yang saya coba tekan ke dasar hati dan berpura-pura melupakan. Menganggap ketakutan itu tidak pernah ada.

Namun, tulisan dari Bang Alex Hidayat tersebut seperti memantikkan kembali api ketakutan saya. Rasa takut itu muncul lagi sekarang. Tangan dan kaki saya mulai terasa dingin. Buah dari rasa ketakutan? Entahlah.

Saya memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam. Hembuskan. Mencari ketenangan dan membuang ketakutan.

Tuhan,

Ijinkanlah orangtua saya berumur panjang. Berikanlah saya kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtua saya.

Terima kasih, Tuhan.

Wednesday, February 2, 2011

Letter #2: A Year and a Half Ago

Day 33. Post a Day 2011.

Dear God,

About a year and a half ago, there was something devastating happened in my family. My father almost lost his life. He was hospitalized because he couldn't take his chemotherapy's effect. My father got an intestine cancer. He survived the surgery, but chemotherapy affected his health. He became weaker and weaker every day, until one fine Sunday afternoon he lost his conscious. His body got yellow. He was so thin.

A nurse put a tube to my dad's body. His doctor pumped it and blood was flowing through it. I knew the doctor actually got panicked. He left our room and not so long after that he told my sister that my father had to be in ICU to get intensive care.

Then all of us who were in the hospital at that time got panicked. We all were afraid that we might lose my dad. One of my uncles left the room and You, God, knew what he was doing. He said he couldn't cry in front of us, so he needed his privacy. My other uncle was crying with his back against the wardrobe. While me... Well, I went to a bathroom and cried there.

I was afraid. Really really afraid. I was in despair. I bet You know how I truly felt that day, right? Fear, regrets, and all other feelings were mixed up. I couldn't think clearly.

I know my father and I often disagree with each other about some things. With all our disagreement--like any other fathers in the world--I know he wants the best for me and my siblings.

I know he loves me so much. I can feel his love for me. I feel his care for me.

So, at that time suddenly I realised that losing my dad (or losing my other beloved ones) was my greatest fear. It still is.

Then I came to You. I prayed that You would be kindly enough to save my dad's life. I begged You. I wasn't ready to lose him. I loved him so much. And about a week later the doctor allowed him to leave ICU. He survived another near-death life experience. He was a survivor. Thanks to You.

God, since that day I keep forgetting how actually You've been gracious to me. You saved my dad's life, You give him a good health now, and I'm not grateful for that. I'm sorry, God. I never intend to.

Now, I'm writing You this letter and hoping that You understand then forgive me for my impudence. I'm deeply sorry, God. Really sorry. And thank You. Many many thanks. Well, I guess I never could stop thanking You for saving my dad, right? sengihnampakgigi

Again, thank You, God.

Oh one more thing, please send my lots of love to my old man. Please tell him that I love him so much and tell him that I'll graduate this year. Last but not least, please take a good care of him for me, will You? I know You will.

Tuesday, February 1, 2011

Letter #1: Try to Love You

Day 32. Post a Day 2011.

Dear God,

Are You busy? Do You have time to read my letter? Well, I know You are busy, but at least You have time, right? You're God after all. I hope You'll read my letter for the next one month.

Today is the first day of February. People say February is a month of love because it has Valentine's Day. So, this is my main reason to write You a letter. Each day. For the whole February. To show you that I love You, or try to love You.

I guess You don't mind receiving my letters and reading them, do You?

For beginning, I want to say I'm sorry. I'm sorry for keeping a distance from You, for we're not being close anymore. I don't want to say that I lose my faith, since I still believe hell and heaven. But, it's just... Ah, let's just say that I'm in crossroads.

God, let me be honest with You. Even though You know even the smallest thing in people's heart (that's what people said to me), but there is no harm I'm saying this to You, I think.

Here's the thing. I have to admit that being close to You is just as hard as being away from You. I mean, there were my religious times (when I couldn't separate myself from You and always thought about You) but in the end I was getting tired of myself. Too much dogmas, sermons, and such that don't fit me. They are against my conscience.

But, being away from You, I feel tired also. I'm tired of this guilty feeling. I'm tired getting chased by sins.

My point is I don't live in comfort. I don't really enjoy my life anymore.

So, God, if You do exist and now You are reading this letter somewhere, sitting in Your throne, I beg You... Please, show me Your light... and mercy. I want to love You. I want to try to love You again. I really do.