Saturday, June 25, 2011

Writing a Review

Day 85. Post a Day 2011.

Some of my readers may still remember what my resolutions in 2011 are. Considering that I'll try to write in English twice or thrice a week, I make a schedule for it. Every Fridays to Sundays is the English time!

Since my readers are mostly from Indonesia, I'm sorry for the inconvenient. I know some of you don't like reading posts in English, but I need your understanding. I believe everyone has his/her own purpose in writing a blog. One of my purposes is I make my blog as a place for practicing English. So, if you feel that you don't like reading my English blogposts, that is fine by me. Feel free to close this blog and you can continue reading blog elsewhere. You can come back again visiting this blog on Mondays to Thursdays! :D

By the way, the last two blogposts are reviews. One is a movie review and the other is a book review. They are not my first reviews. I've made reviews before, books, movies, songs, etc. Although I've written reviews before, I can say that write a review isn't easy. In fact, I don't really like writing a review. It is really hard for me.

For me, writing a review needs a special skill. It is different from writing any kinds of other blogposts, let say like writing your trip, your school days stories, etc. I can cockily say that I'm quite good in writing blogposts (especially the trashes ones), but I'm so bad in writing a review. I can say that one book or a movie is really good, but I can't really describe what makes it a good one. I guess I have a problem either in expressing my thoughts or I have lack of vocabularies. Or both. :))

I don't know how to attract readers to read my reviews and hope that they will like them. If you read my review, you will see that my review is so plain and so rigid. It's like there is no fun. So gloomy. I know it's a review, not a comedy story. I write an opinion about that books and movies. People need my subjective opinion. They don't need my witty personality to make them laugh reading my review. But, If I can put some souls to make my reviews more lively, I'll be so happy. To make it less serious. You know, to make my review is more engaging to read.

I know I don't need to be a critic or an expert in movies or books or any other fields to write a review. But, sometimes I think being one is an advantage. I mean an expert knows theories, right? An expert can write a review and can relate it to one of theories. I think that can make one review is a rich one. But hey, it is a book or movie review not an academic paper.

So, I googled how to write a good review and I landed on this page and this one. Nice tips! I will try to put it into practice next time I write another reviews.

Well, after reading those I think I don't need to be sad or put too much expectation in myself to make a good review. Practice makes perfect, doesn't it? I have to write again and again to make a good writing, including writing a review. And it will be benefit for me if I read a lot of people's reviews. I can learn from them. Read more and more and gain knowledge. Is that so?

p.s.: a review here isn't limited to a book or a movie only, but also any kinds of reviews.

Friday, June 24, 2011

[Book] Michael Strogoff

Day 84. Post a Day 2011.


Title: Michael Strogoff: The Courier of The Czar
Author: Jules Verne
*an e-book which you can download here

Michael Strogoff is a 30-year-old man. One day he got a duty from the Tsar of Russia to send a message to his brother, the Grand Duke who was the Governor-General of Siberia. The message was a warning that a traitor, Ivan Ogareff, might infiltrate his territory by being undercover and would destroy the city by cooperating with rebels from Tartar.

Journey itself was not easy. From Russia to Irkutsk was a long distance and many hindrances were already laying ahead. Extreme cold weather, difficult grounds to be traversed, spies, and the Tartar. But since Michael Strogoff was a native of Omsk, he was accustomed to the weather and the regions between Russia and Siberia. He was strong and built man. He could endure extreme pain and any kinds of torture. In short, he was the perfect man for this duty. He was the iron man!

This book was about the journey of Michael Strogoff. About any obstacles he faced along the way to Irkutsk. On his way, he met Nadia whom later became his travel companion and he met Ivan Ogareff himself! Before reaching Irkutsk he met Tartar many times. The first time he was detained and became the prisoner. Luckily, he could escape. But, unfortunately he became blind because of torture from the Tartar. After that he and Nadia met Tartar several times and lucky for them for they escaped from Tartar again and again.

Michael Strogoff offers you a suspense. I was thrilled reading his journey, especially when he got chased by Tartar or when his eyes were burnt by Tartar. I was moved when he and Nadia continued their traverse, Michael was blind and Nadia was the eyes for Michael. And I became so happy when finally they made it to Irkutsk! But, I was so upset when I knew Ivan Ogareff was in Irkutsk, too. Huh!

Jules Verne was a brilliant writer. He writes details without being long winded. This is what I conclude after reading Michael Strogoff. In details Verne described all the region that was traversed by Michael Strogoff and that made me could imagine it perfectly. And that what makes this book is worthed to read.

From 1 - 5, I give 5 for Michael Strogoff.

p.s.: The picture was taken from here.

Thursday, June 23, 2011

[Film] Serdadu Kumbang

Day 83. Post a Day 2011.


gambar diambil dari sini*


Sebuah film dari Alenia Pictures bertemakan pendidikan di tengah gempuran film hantu dan wanita-wanita seksinya. Berkisah tentang Amek dan dua sahabatnya Umbe dan Acan di Desa Mantar, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Amek dan teman-temannya diceritakan sedang berjuang untuk lulus Ujian Nasional.

Seperti biasa Ari Sihasale menyuguhkan pemandangan yang indah di setiap filmnya. Di film ini kita akan sering sekali melihat alam Sumbawa, seperti padang rumputnya, pegunungannya, bahkan rumah-rumah penduduk asli pun disajikan untuk kita. Film ini seolah ingin menunjukkan kepada kita bahwa alam Indonesia sungguh indah dan sepatutnya kita bersyukur dianugerahi keindahan alam yang tiada tara itu.

Dalam hal ini Ari berhasil membuat saya takjub.Ya, Indonesia banyak sekali tempat-tempat yang indah dan eksotis. Wajib untuk dikunjungi. Mungkin Ari, melalui film ini, juga bertujuan untuk mempromosikan Sumbawa sebagai daerah wisata? Bagus lah. Karena saya pun jadi ingin mengunjungi Sumbawa.

Tapi, bagaimana dengan cerita?

Well, sama seperti film Tanah Air Beta, sepanjang film saya dibuat bertanya-tanya apa sebenarnya inti cerita film Serdadu Kumbang ini? Ingin menyoroti pendidikan di daerah terpencil? Soal guru yang memberikan hukuman fisik ke murid-muridnya? Soal Ujian Nasional yang menjadi momok murid-murid dan sekolah? Soal kemiskinan? Entahlah. Tapi, jika dibandingkan dengan Tanah Air Beta, saya lebih memilih Serdadu Kumbang. Menurut saya, Serdadu Kumbang lebih bagus dibandingkan Tanah Air Beta dilihat dari alur cerita yang lebih baik dam akting pemainnya pun lumayan bagus lah.

Terlepas dari cerita yang kurang fokus, saya menghargai usaha Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen yang getol sekali memproduksi film untuk anak-anak. Belum lagi syutingnya selalu mengambil latar belakang alam Indonesia. Indah sekali. :-)

Skala 1 - 5, saya beri nilai 3 untuk Serdadu Kumbang.

*gambar saya ubah sedikit disesuaikan dengan kebutuhan :D

Wednesday, June 22, 2011

Mobipocket Reader

Day 82. Post a Day 2011.

Dulu sewaktu saya belum punya Pinky, saya baca e-book di laptop atau di ponsel saya. Kalau baca di laptop langsung saja buka e-book yang ingin dibaca. Namun, terkadang saya malas buka laptop kalau hanya untuk baca e-book. Jadinya saya baca e-book juga di ponsel.

Ponsel saya dulu belum ada fasilitas langsung bawaan dari ponselnya untuk membaca e-book. Dibutuhkan aplikasi dari pihak ketiga untuk membaca e-book. Dari situlah saya tahu yang namanya Mobipocket Reader.

Pertama-tama saya unduh dulu Mobipocket Reader di laptop saya. Gunanya Mobipocket Reader di laptop bisa untuk menyimpan dan mengorganisasi e-book yang kita punya, juga untuk mentransfer e-book dari laptop ke ponsel. Cukup menggunakan kabel data ponsel untuk menyambungkan ponsel ke laptop, saya sudah bisa mentransfer e-book yang ingin saya baca di ponsel saya. Mudah, 'kan? Oiya, Mobipocket Reader bisa digunakan di ponsel-ponsel Blackberry, Windows Mobile dan ponsel-ponsel yang OS-nya Symbian dan Palm.

Mobipocket Reader tidak hanya mengorganisasi e-book kita dan mentransfernya, melainkan juga tempat berjualan e-book. Saya sendiri belum pernah mencoba membeli e-book di sana (atau dimana pun). Sekilas saya lihat harga-harga e-book di Mobipocket Reader mahal-mahal. Eh tapi, bukannya harga e-book sekarang memang masih mahal ya? Harganya sebelas-dua belas lah dengan buku cetak.

Anyway, sebelum bisa dibaca atau ditransfer melalui Mobipocket Reader, harus dipastikan dulu format e-book adalah *.prc. Ketika mengimpor file e-book ke Mobipocket Reader, ia akan secara otomatis mengkonversi file e-book menjadi *.prc. Format file yang bisa secara langsung diimpor ke Mobipocket Reader adalah file yang berformat office document, pdf, html, text, CHM, dan epub.

Mobipocket Reader ini tidak hanya untuk di ponsel. Dia juga bisa digunakan di e-book reader seperti si Pinky dari Bookeen. Saya pernah iseng mencoba mengganti software Pinky yang aslinya menggunakan epub menjadi prc. Saya tadinya berpikir di laptop kan sudah ada Mobipocket Reader, kalau si Pinky juga bisa baca file dengan format prc kan berarti saya nggak usah capek-capek mengkonversi file ke epub dong ya? Soalnya dulu saya belum tahu ada converter keren bernama Calibre.

Setelah dicoba, eh nggak tahunya epub dan prc tidak bisa seiring sejalan. Kalau pakai software Mobipocket Reader, file berformat epub tidak akan terbaca. Begitupula sebaliknya, kalau pakai software Adobe DRM (alias epub), file berformat prc tidak akan terbaca. Jadi, harus pilih satu mau pakai yang mana: prc atau epub?

Nah, sekian sedikit informasi tentang Mobipocket Reader. Semoga bermanfaat dan selamat membaca! :D

Tuesday, June 21, 2011

Curhat yang Menyebalkan

Day 81. Post a Day 2011.

Saya tahu memaafkan orang lain itu sangat susah. Apalagi kalau orang tersebut menyakiti kita lahir dan batin. Rasanya mau memaafkannya itu nggak mudah. Pasti mikirnya, "Enak aja. Dia udah nyakitin gue, masa' semudah itu gue maafin dia? Sori sori, jek." Kira-kira begitu.

Tapi, saya percaya hidup kita jika dipenuhi dengan rasa dendam juga tidak akan maju-maju. Kita akan selalu dipenuhi pengalaman dari masa lalu yang menyakitkan sehingga menahan kita untuk bergerak maju. Kita selalu menangisi masa lalu. Seolah-olah berkata dunia ini tidak adil. Orang lain kenapa selalu jahat sama kita? Kenapa kita harus selalu mendapatkan pengalaman pahit? Apa salah kita sehingga orang lain berbuat jahat sama kita? Seolah-olah kita ini adalah manusia yang paling nelangsa sedunia, paling tersiksa sedunia.

Padahal kalau mau peka sedikit saja, masih banyak kok orang di luar sana yang masa lalunya jauh lebih pahit dari kita dan mereka bisa survive. Mereka tidak menangisi masa lalu, tidak menyalahkan orang-orang yang telah menyakiti mereka, melainkan mereka terus maju mengalahkan masa lalu mereka yang pahit. Atau kalau mau lebih pahit, lihat deh di sekeliling kita masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih sengsara dibandingkan kita, tetapi mereka tetap berusaha untuk survive.

Kita kan tidak hidup di masa lalu. Kita kan hidup di masa sekarang. Selalu terkenang masa lalu tidak akan membawa kebaikan apa-apa ke kita. Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Selalu menangisinya pun tidak akan membuat nasib kita menjadi lebih baik. Jadi, saya rasa percuma juga sih buat orang-orang yang selalu meratapi nasibnya dengan menyalahkan masa lalunya. Maksud saya, eh BANGUN DEH LU! Kamu itu hidup di masa sekarang, bukan di masa lalu. Masa lalu ya masa lalu. It stays behind. Kalau kamu ingin mengubah nasibmu ya ubah sekarang! Lakukan detik ini juga. Jangan melulu menangis dan menyalahkan masa lalu (dan orang-orang yang terlibat di dalamnya).

Penggemar: Tapi, Kim. Lo kan gak tahu apa yang mereka rasain. Apa yang mereka alami.

Iya, saya memang tidak tahu. Terus, kalau saya tahu saya harus bagaimana? Ikut menangis juga sama mereka? Kan tidak menyelesaikan masalah ya. Saya hanya bisa menjadikan pengalaman orang lain (dan tentu saja pengalaman sendiri) sebagai pembelajaran hidup.

Terus, inti tulisan kali ini apa? Cuma mau cerita kalau saya nggak suka dengan orang-orang yang selalu curhat ke saya yang isi curhatnya SELALU menyalahkan orang lain, selalu mengingat-ingat masa lalunya yang penuh dengan kesengsaraan, seolah-olah orang yang paling tersiksa seantero jagat ini cuma mereka. Kalau untuk dengar pertama kali curhatnya, saya kasihan. Tapi kalau tiap curhat selalu itu-itu saja yang diceritakan? Oh dear, get a life.

Demikian lah. Sekian dan terima kasih.

Monday, June 20, 2011

Si BB Baru

Day 80. Post a Day 2011.

Entah apa yang ada di otak saya yang membuat saya semalam tiba-tiba ingin punya ponsel baru. Ingin punya ponsel baru memang keinginan saya dari dulu karena tergoda kanan-kiri, tapi biasanya selalu dapat saya tahan keinginan tersebut. Saya berpikirnya, "Ngapain sih beli ponsel baru? Toh yang lama masih bagus kan. Nokia E71 baru 1.5 tahun dipakai. Nggak ada masalah apa-apa."

Tapi yaaa lama-lama saya nggak tahan godaan juga. Pertahanan antigodaan saya pun akhirnya jebol semalam. Sehabis makan malam saya langsung pergi ke mall Depok Town Square (biasa disingkat Detos *halah, gak penting*). Tergoda antara Samsung Gio dan Blackberry Curve 9300, akhirnya pilihan jatuh pada Blackberry Curve 9300 warna Opal Pink.




Ini sungguh absurd. Absurd sekali hidupku. Sekaligus random. Nggak ada angin, nggak ada hujan, tahu-tahu beli ponsel baru. Proses pembeliannya pun kilat. Datang ke toko, tanya-tanya, pilih-pilih, lihat-lihat, terus bayar. Dari datang ke tokonya sekitar pukul 9 malam kurang, keluar dari Detos sekitar pukul 9.30 malam.

Uang di tabungan saya pun jadi berkurang banyak. Sekarang isinya tinggal sedikit. Ya sudah, besok-besok saya makannya dua kali sehari saja untuk menghemat uang bulanan biar saya bisa menabung lagi. Biar uang saya di tabungan jadi banyak lagi. Kalau perlu saya puasa Daud saja (puasa yang sehari puasa dan sehari tidak puasa) biar saya semakin hemat nggak perlu keluar uang banyak buat makan. Padahal ya baru bulan Desember 2010 kemarin kan saya beli Si Mucu.

Mau tahu nggak yang membuat hidup saya jadi lebih absurd? Keinginan saya beli ponsel baru ini semakin diperkuat gara-gara charger ponsel Nokia saya dipinjam kakak saya yang sekarang sedang menemani ayah saya check-up kesehatan di luar sono. Tuh, absurd banget kan? Padahal mah kalau hanya sekadar mau meng-charge ponsel tinggal pinjam saja sama teman kosan atau beli saja charger palsunya. Paling harga charger bajakan hanya Rp 35000. Cuma bukan Kimi namanya kalau hidupnya nggak absurd atau random. *halah*

Sekarang saya jadi bingung sendiri. Ponsel saya sekarang jadi kebanyakan. Berasa jadi juragan ponsel. Ponsel mana yang mau dijual, saya pun jadi bingung. Ternyata ribet juga kalau punya banyak ponsel.

p.s.: Saya belum menemukan nama yang pas untuk ponsel baru saya ini. Ada ide?

Sunday, June 19, 2011

Untitled #15

Day 79. Post a Day 2011.

"... I had never prayed for anything before, had never been taught or told to, but I decided, given the circumstances, that it was something I should do." (Interpreter of Maladies)

Sering banget menemukan kata-kata seperti ini di buku atau di film. Intinya apa? Intinya sih manusia pasti butuh doa ya. Manusia ketika dihadapkan pada masalah pasti dia berharap masalahnya cepat selesai, harapannya tercapai, atau yang lainnya. Salah satu cara consolation-nya, menenangkan diri, dsb lewat berdoa kan ya? Ini mah ceritanya saya sotoy saja. Hihihihi...

Thursday, June 16, 2011

Kecewa dengan Telkomsel

Day 78. Post a Day 2011.

Saya pengguna Telkomsel dari jaman saya masih SMP. Meski saya gonta-ganti nomor, tapi saya tidak pernah berpaling dari Telkomsel.

Sekarang saya memakai KartuHalo sejak tiga tahun lalu di ponsel Nokia E71 saya. Karena saya senang browsing internet dari ponsel, saya pun berlangganan paket volume based dari Telkomsel yang Rp 20.000 (35 MB). Nah, ketentuannya kalau dalam masa aktif paket 35 MB-nya sudah habis, maka pelanggan akan dikenakan tarif Rp 1/kb.

Paket 35 MB saya sudah habis dari jaman kapan tahu. Karena saya merasa tarifnya Rp 1/kb ya saya tetap aja browsing dari Opera Mini. Hari Minggu yang lalu (11/06) saya iseng mengecek pemakaian terakhir setelah saya browsing. Ternyata untuk 188 kb saya dikenakan Rp 940! Itu berarti saya dikenakan tarif internet normal Rp 5/kb. ASTAGA!

Saya pun langsung komplain ke 111. Kata Mbak CS-nya (saya lupa namanya) keluhan saya akan dibantu buat laporannya dan saya diminta untuk tidak browsing internet dulu selama 3 x 24 jam (maksimal). You know what, barusan saya mencoba internet dari ponsel saya dan ketika saya mengecek pemakaian terakhir di *887# saya dikenakan biaya Rp 240 untuk 48 kb! Tarif internetnya masih Rp 5/kb. ASTAGA!!

Ini sudah kesekian kalinya saya dikecewakan Telkomsel terkait pelayanan internetnya. Waktu itu saya iseng-iseng mencoba paket internet berlangganan WhatsApp unlimited (karena katanya gratis) di *303*1#. Eh, nggak tahunya tiap kali saya pakai WhatsApp saya tetap dikenakan tarif internet normal.

Berikutnya, saya pakai paket Opera Mini Unlimited. Saya dikenakan tarif Rp 30.000. Anehnya setiap saya browsing dari Opera Mini 5, saya tetap dikenakan Rp 5/kb. Ketika saya komplain melalui akun twitter @Telkomsel, saya dikirimi DM berupa pemberitahuan ketentuan paket Opera Mini Unlimited. Katanya Unlimited tidak termasuk:
  • Jika sedang berada di luar Indonesia (international roaming)
  • Mengakses website/url dengan browser selain Opera Mini 5
  • Handset digunakan sebagai modem
  • Melakukan download file size > 15 Mb
Jika pemakaiannya di luar ketentuan di atas maka pelanggan akan dikenakan tarif normal Rp 5/kb dan ketika pelanggan tersebut sedang berada di luar wilayah Indonesia maka akan dikenakan tarif GPRS negara yang bersangkutan. Bisa dijamin kalau saya masih di dalam Indonesia, saya pakai Opera Mini 5, saya tidak menjadikan ponsel saya sebagai modem, dan saya tidak pernah mengunduh file (pemakaian internet saya normal kok. Hanya untuk ngetwit, baca-baca berita, dan cek surel).

Terakhir, admin @Telkomsel bilang, "Mohon dipastikan client Opera Mini 5 di download sesudah berlangganan paket Opera Mini dan Chat, maka tidak akan dikenakan tarif Rp 5/kb (alias gratis). Terima kasih." Ketentuan yang terakhir itu saya anggap lucu. Beneran deh lucunya. Tapi karena kapasitas saya hanya sebagai pelanggan ya saya terpaksa nurut saja dengan ketentuannya dari Telkomsel.

Kecewa, iya. Karena saya sudah dikenakan Rp 30.000 dan juga dikenakan tarif GPRS normal. Karena kecewa saya langsung berhenti berlangganan paket tersebut. Lucunya lagi, satu bulan kemudian (ketika saya memasuki bulan tagihan baru) secara otomatis Telkomsel mengaktifkan paket Opera Mini Unlimited saya! Aneh kan? Padahal saya ingat banget saya sudah berhenti paket tersebut.

Sekarang saya harus dikecewakan lagi dengan kejadian terbaru ini. Ingin berhenti saja pakai Telkomsel, tapi nggak dibolehin sama ayah saya. :((

p.s.: saya rajin lho komplain ke 111, tapi yaaaa... begini deh. Ujung-ujungnya saya disuruh datang ke Grapari Telkomsel (terutama kalau ingin komplain tagihan). Padahal nomor saya bukan nomor Jakarta dan nomor saya ini pakai nama ayah saya. Repotnya yang punya nama ini yang harus datang ke Grapari Telkomselnya. Meh.

p.s. lagi: tulisan kali ini berasa surat pembaca ya. :))

Wednesday, June 15, 2011

Semi-anonim

Day 77. Post a Day 2011.

Dulu waktu saya awal-awal mengeblog, saya menggunakan nama asli saya. Teman-teman perbloggingan saya di masa awal saya mengeblog tahu nama asli saya, tahu foto saya, tahu saya kuliah dimana, dan blablabla...

Lama-lama saya menemukan ketidaknyamanan dengan menampilkan jati diri saya yang asli. Makanya perlahan saya mulai membatasi hal-hal yang saya bagi di blog saya. Saya hanya menampilkan nama panggilan saya "Kimi" dan membuat avatar baru. Saya tidak lagi memasang foto asli saya. Di semua akun socmed yang saya punya, saya pasang avatar yang sama dan dengan nama yang sama (kecuali Facebook, dengan alasan Facebook untuk terkoneksi dengan teman-teman sekolah dan saudara-saudara saya).


Kimi


Makanya saya sekarang menyebut diri saya sebagai narablog semi-anonim. Saya tidak anonim 100% karena beberapa teman narablog ada yang telah mengenal saya jauh sebelum saya memutuskan untuk merahasiakan identitas pribadi saya.

Dan oleh karena itu, untuk teman-teman yang telah mengenal saya dengan baik, saya mohon dengan sangat untuk tidak menuliskan nama lengkap saya dimana pun (blog, notes facebook, dll) dan tidak memasang foto saya tanpa seijin saya. Terima kasih atas perhatian teman-teman semua.

Sunday, June 12, 2011

My Story on 1 June 2011

Day 76. Post a Day 2011.

Last night, my friend and I were having a discussion. We're discussing about her undergraduate thesis. I'm not gonna say that I critized her thesis, but it was like I asked her every thing from her thesis that was confusing me. In the end, it sounded like she's having a thesis-defend simulation with me asking her this and that.

You know what, this morning when I just woke up she told me that after our discussion last night, she didn't sleep well. Her heart beat so fast when she slept last night. She admits there are some questions from me which she doesn't know the answers yet. I told her that's good. I also told her to prepare for the worst. When she knew those questions she had had time to find the answers, right? She has to prepare herself. So, when the thesis-defend day comes, she will know what to do, what to say, and what to answer.

I have passed that stage on June 1, 2011. One night before I had to defend my thesis, I practiced how to present my thesis. I stood in front of the mirror and practiced presentation. And long long before that I already had prepared questions that might be asked by "dosen penguji" (what do you say "dosen penguji" in English?).

And the day came. I was nervous at first, but then I became more relax. Thanks God, my two "dosen penguji" were so nice. They asked me questions, made corrections for my thesis here and there, without ruining me and making me defenseless. You know what I mean, don't you?

That makes me feel that a thesis-defend isn't horrific. It's not something I (and you) should be afraid of. I set my mind to see a thesis-defend was actually a discussion. I would discuss my thesis with two people that hadn't heard about my thesis before and it was my task to tell them what my thesis was about. I set my mind to think that two "dosen penguji" were my bestfriends. So, I didn't need to feel fear and nervous. I became more relax, cozier with myself and the situation, and I felt my confidence grew. And it did feel like I was having a chit-chat with my bestfriends. :-)

And, I thought that I succeeded in giving my presentation. My supervisor said that, too. She said that I was good in presenting my thesis. I was really happy when I heard that from her.

Setting your mind in a positive way is important before you defend your thesis. You don't believe me? Look at my experience. I thought in positive and it affected my cognitive, emotion, and behavior. And it turned out that the atmosphere in my thesis-defend was positive. I could think clearly, I was in good emotion, and I was in good behavior (I smiled a lot in that room and made one or two jokes). :D

Well, but I also have to say that I'm so lucky to have two nice, kind, and constructive lecturers as my "dosen penguji". :D

To all of you who are now nervous facing your a thesis-defend day, I wish you good luck! You do not need to be nervous. What you do need is sleep and eat well. ;))

Saturday, June 11, 2011

Jakarta oh Jakarta

Day 75. Post a Day 2011.

My relationship with Jakarta is in neutral state. We don't have love or hate relationship. Jakarta hasn't given me any memorable memories, either a good one or a bad one. So, I can't say I love it or I hate it. But one thing for sure, I will not live in Jakarta if I can. For good.

This city leaves so deep impression in me, in a negative way. Therefore I have my own perception about Jakarta. I see Jakarta is too crowded. It is densely populated. No wonder it has its own problems, such as traffic jam, too many crimes, water is becoming scarce, and many more. With all those problems, I don't want to work here or live here. I prefer working in my hometown to working in Jakarta. But, my mother prohibits me. She'd rather ask me to stay and work in Jakarta. When my parents ask me something, I don't have any power to argue.

It's true that job opportunities are more available in Jakarta. You can find any jobs here. Not merely jobs, but also you have opportunities to develop your career. That's what important, right? When you have a job, you don't want to be stagnant. You want to develop. You want your skills and your hardwork to be appreciated by getting your job paid well and getting a promotion.

Now, I'm thinking. If more and more people in Indonesia move to Jakarta to find a better living, can you imagine what Jakarta will be? It will be more crowded and more problems will follow. And Jakarta will be more inconvenient to live in. And if more and more people move to Jakarta, who will build their hometown?

Jakarta. A city which I've tried so hard to avoid, yet I will live in it. *sigh*

Friday, June 10, 2011

"Follow My Blog 'Cause I've Followed Yours!"

Day 74. Post a Day 2011.

I love reading blogs, especially good ones. And I love blogwalking, too. Wandering from one blog to another in order to find good blogs that I haven't subscribed yet in my Google Reader.

Usually I visit blogs from people who leave comments here. If the commentator is new comer in my blog and I don't know him/her, I will visit back his/her blog. And, if I like his/her blog, in 10 seconds I will subscribe that blog in my Google Reader. I don't use "follow this blog" feature from Blogger. I use Google Reader to subscribe blogs. So, you don't need to say to me to visit back your blog or follow you back just because you have just followed my blog. Do I make myself clear?

For me followers are just number. Many followers mean you have many readers, whereas few followers mean you have few readers. Here I can't decide how many is "many" and how few is "few". Thirty followers are many according to me, but to some people that is soooo small numbers.

I never worry about this follower-thing. There is no point you've got many followers, but your followers never leave comment or you never interact with your followers.

So, that is a quick update from me. Have a nice day, fellow readers! :D

Thursday, June 9, 2011

Menulis Diari

Day 73. Post a Day 2011.

Sekarang sudah pertengahan tahun. Bagaimana resolusi saya untuk tahun 2011 ini?
  1. Lulus kuliah, sudah.
  2. Punya e-book reader, sudah.
  3. Banyak-banyak baca buku, lumayan banyak deh buku yang sudah dibaca sekarang.
  4. Bisa menyimpan uang setiap bulan, Alhamdulillah masih ada yang bisa disimpan.
  5. Rajin update blog, ng... masih bolong-bolong.
  6. Rajin menulis pakai bahasa Inggris, ng... gitu deh.
  7. Rajin olahraga, ng... malas.
  8. Rajin menulis diary, ng... sekarang mulai rajin menulis! :D

Dalam tulisan kali ini saya ingin menyoroti resolusi saya yang rajin menulis diari itu.


gambar diambil dari sini


Saya pernah menulis sebelumnya kalau saya punya online diary, sebuah blog yang saya buat jadi privat dan hanya saya yang punya akses untuk membacanya. Online diary tersebut sebagai media pengganti buku harian konvensional. Sebenarnya, alasan saya saja yang malas menulis menggunakan tangan. Lebih enak mengetik.

Mengingat saya yang ababil alias abege labil, saya membeli buku harian biasa untuk dijadikan diari saya. Alasan saya waktu itu menulis menggunakan tangan terasa lebih personal, bisa lebih terasa dekat dengan si diari. Alasan berikutnya, bisa jadi suatu saat nanti saya susah mengakses internet sehingga saya tidak bisa menulis di buku harian online saya itu. Makanya saya membutuhkan buku harian biasa yang bisa saya tulisi kapan saja saya mau.

Tetapi, keraguan mulai timbul. Bagaimana kalau saya lagi apes buku harian saya dibaca orang? Atau buku harian saya rusak--jadi nggak ada kenang-kenangannya? Nah, kalau menulis di online diary kan bisa menghemat kertas, menulis juga lebih cepat (eh, mengetik ding), bisa simpan foto, dan tidak perlu khawatir buku harian jadi rusak (kan pakai blog, bukan kertas). Tetapi, kalau blog privat saya di-hack bagaimana?

Huuaaaa... Ternyata baik buku harian biasa maupun blog ada plus-minusnya ya. Saya pun jadi bingung mau menulis dimana. *halah, lebay* Jadinya saya memutuskan untuk menulis di dua media itu lah. Ya menulis di buku biasa dan menulis juga di blog. Tergantung mood lagi ingin menulis dimana ya di situlah saya akan menulis. ;))

Nah, memasuki bulan ke enam di tahun 2011 ini, buku harian saya sudah hampir penuh saya tulisi! Hore! Sebentar lagi habis kertasnya saya tulis! Itu menandakan saya rajin menulis diari, 'kan? Biasanya kalau saya punya diari tidak pernah habis sampai lembar terakhir saya tulis, eh bukunya sudah saya robek dan buang. Tapi, sekarang beda doooonggg... Sekarang saya lebih rajin menulis!

By the way, salah satu momen menyenangkan dari menulis diari adalah ketika saya kembali membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya. Membaca dari halaman pertama di buku saya tertanggal 2 Januari 2011, kemudian terus bergerak maju. Ternyata banyak pengalaman pribadi yang berhasil saya rekam jejaknya melalui tulisan. Saat saya menemani Kitin membeli laptop barunya, saat saya kesal dengan ayah saya, saat saya mengalami kebingungan dengan skripsi, saat saya dikejar-kejar tenggat waktu pengumpulan skripsi...

Saya tersenyum membacanya. Saya mengalami semua itu. Saya melewatinya! :-)

Memasuki bulan ke enam, setelah cukup rajin menulis diari saya merasakan cukup banyak manfaatnya. Satu diantaranya saya merasa lebih percaya diri. Entahlah ada hubungan langsung atau tidak antara menulis diari dengan meningkatnya kepercayaan diri. Bisalah ini dijadikan topik penelitian. *halah*

Manfaat berikutnya saya menjadi terbiasa berpikir runut, teratur, terarah. Dengan menulis diari saya menuliskan dari awal saya menjalani hari hingga malam atau saya menuliskan masalah saya dimulai dari penyebabnya. Menulis blog juga sebenarnya membantu untuk berpikir runut, tetapi kalau ditambah dengan menulis diari jadi lebih mantap lagi kan latihan berpikir runutnya?

Pastinya dengan menulis diari, saya merasa memiliki teman dekat yang bisa saya percaya. Saya bebas "mengobrol" apa saja dengan "teman" saya itu. Tanpa dipotong pembicaraan saya, tanpa saya diprotes, "teman" saya itu akan dengan setia meminjamkan "kuping"nya untuk mendengarkan cerita saya. Saya bebas mengeluarkan opini saya, uneg-uneg, kekesalan, kebahagiaan saya, semuanya! Saya akan merasa beban saya terangkat jika saya telah curhat dengan diari saya. Rasanya lega sekali setelah menulis diari. Dan saya percaya tidak seperti manusia kebanyakan, diari tidak akan mengkhianati saya.

Nah, cukup itu dulu manfaat yang saya rasakan dari menulis diari. Soalnya yang baru terpikir itu. Mungkin suatu saat bisa saya tambahkan lagi. :D

Bagaimana dengan teman-teman? Kalau menurut kalian apa saja manfaat menulis diari?

p.s.: Bagi yang tidak menulis diari, coba deh menulis. Tidak ada ruginya kok, malah banyak manfaatnya! :D

Wednesday, June 8, 2011

Etika Ngeblog Versi Kimi

Day 72. Post a Day 2011.

Teman saya, Iman, meninggalkan komentar di tulisan saya yang ini. Komentarnya berupa pemberitahuan bahwa saya di-tag di tulisannya. Saya dan beberapa narablog lain diminta oleh Iman untuk menuliskan tentang etika mengeblog.

Well... Bukan suatu hal yang mudah ketika saya diminta untuk menulis tentang etika mengeblog versi saya. Selama ini apa yang disebut "etika mengeblog" itu hanya ada di benak saya. Tidak ada rumusnya, tidak ada versi tercatatnya. I just know it.

Ketika berbicara tentang etika mengeblog ini, yang ada di benak saya adalah tugas-tugas kuliah/akademik. Maksudnya, saya menyamakan etika mengeblog dengan ketika saya mengerjakan tugas kuliah. Sesederhana itu.

Pertama, tentu saja tidak boleh melakukan plagiarisme. Di sini saya persempit saja plagiarismenya ke hal tidak boleh menyalin mentah-mentah tulisan orang lain dan mengklaim tulisan tersebut sebagai tulisan diri sendiri, tanpa mencantumkan link tulisan asli atau tanpa memberi tahu siapa penulis pertama tulisan tersebut (seandainya si copycat menyalin tulisan dari buku, jurnal, koran, atau media cetak lainnya).

Plagiarisme ini masalah serius. Menurut saya, orang-orang yang melakukan plagiarisme adalah orang-orang yang inferior. Dalam hal ini, mereka tidak percaya diri akan kemampuan mereka sendiri untuk menulis blog. Mereka mencari tulisan-tulisan lain yang dianggap bagus dan mengklaim bahwa tulisan tersebut adalah hasil pemikiran mereka. Saya kasihan dengan orang-orang seperti itu.

Memang tidak atau belum ada (atau jangan-jangan sudah ada?) peraturan hukum yang melindungi hak cipta narablog di internet, entah itu tulisan, ide pemikiran, foto, atau yang lainnya. Oleh karena itulah, dalam hal ini kita memerlukan etika. Tanamkan ke dalam diri masing-masing untuk menghargai karya orang lain, sekecil apapun karya tersebut. Kalau memang tulisan, ide, foto, atau yang lainnya itu bukan dari otak kita yang berpikir, cantumkanlah dari mana kita mendapatkannya.

Saya setuju kalau ada yang bilang di dunia ini tidak ada yang 100% original. Kita bisa mendapat inspirasi dari mana saja. Kita bisa meniru gaya tulisan X, Y, atau Z, atau malah menggabungkan ketiganya. 100% orisinalitas itu susah, namun bukan berarti tidak mungkin. Tapi, ketika menulis dan mendapat inspirasi dari X, Y, atau Z tersebut tidak ada salahnya kan kita mengakui bahwa kita mendapat inspirasi dari orang lain? Tulis saja, misalnya "Gue terinspirasi dari gaya nulisnya Raditya Dika."

Kedua, meminta ijin. Kalau kita ingin menulis di blog (atau di mana saja) tentang seseorang, ada baiknya kita meminta ijin dari orang tersebut. Mungkin saja orang tersebut berkeberatan kisah atau pengalaman pribadinya menjadi konsumsi publik atau mungkin dia hanya meminta namanya jangan ditulis lengkap cukup inisial saja.

Penggemar: Kalau orangnya di sekitar kita, sih, mudah untuk minta ijinnya. Lah, kalau ternyata kita mau menulis kisah orang-orang terkenal bagaimana? Cara minta ijinnya gimana coba?

Ng... Kalau itu sih susah ya. Tapi, saya rasa kalau ingin menulis kisah orang-orang tenar beda perkara lah. Hihihi... *ngikik*

Ketiga, jangan menyebar fitnah dan kebencian. Blog sangat mudah diakses. Siapapun bisa membaca tulisan kita. Siapa tahu tulisan kita bisa mempengaruhi orang lain? You never know. Jadi, ada baiknya menulis di blog jangan tentang gosip atau fitnah yang menjatuhkan orang lain. Apalagi tanpa ada bukti yang kuat. Eh, meski ada bukti kuat bukan berarti kita bisa dibenarkan untuk menulis gosip, fitnah, kebencian--atau apa lah namanya--lho ya. Misalnya, kita melihat teman kita mencontek pas ujian. Lantas, kita menulisnya di blog kita kalau teman kita itu mencontek, bahkan kita menulis nama lengkapnya! Atau kalau mau lebay kita menulis alamat rumahnya, e-mail, nomor telponnya, sampai ke nomor sepatunya.

Berikutnya... Ehm, apalagi ya? Ah, untuk saat ini saya rasa cukup tiga hal itu dulu deh. Namanya juga etika, susah kalau mau dirumuskan ke dalam bentuk tertulis. Saya pikir masih banyak hal lain terkait etika mengeblog ini yang sekarang belum terpikir oleh saya.

Mungkin ada teman-teman yang ingin menambahkan?

Tuesday, June 7, 2011

TabunganKu

Day 71. Post a Day 2011.

Beberapa hari terakhir saya berlibur di kampung halaman. Niat untuk update blog tiap hari pun buyar. Pasalnya liburan kemarin saya tidak membawa "peralatan tempur" saya alias laptop dan modem. Mau ke warnet malas. Alhasil, blog ini pun kembali terbengkalai.

Mumpung kemarin saya ke kampung halaman, saya pun menyempatkan diri ke salah satu cabang BCA di dekat rumah. Sudah dari lama saya punya niat ingin buka rekening TabunganKu. Tahu kan TabunganKu? Itu lho produknya BI dari "Gerakan Indonesia Menabung" yang dicanangkan oleh Pemerintah.




TabunganKu ini sendiri sebenarnya menyasar masyarakat kalangan menengah ke bawah yang belum memiliki tabungan. Biaya administrasi tabungan di bank-bank kan biasanya cukup besar ya dan itu yang memberatkan. Nah, TabunganKu ini bebas biaya administrasi. Harapannya sih dengan bebas biaya administrasi, TabunganKu akan mampu menarik nasabah dari masyarakat kalangan menengah ke bawah untuk menabung. BTW, TabunganKu mengingatkan saya sewaktu SMA dulu. Waktu SMA dulu saya menabung di tabungan khusus pelajar di Bank Niaga (sekarang jadi CIMB Niaga, ya?). Tabungan khusus pelajar ini tidak ada biaya administrasi dan bunganya juga kecil.

Karena tidak ada biaya administrasi, jangan berharap akan mendapat bunga yang tinggi. Untuk saldo Rp 0 - Rp 500.000,- tidak mendapat bunga, Rp 500.000,- sampai Rp 1.000.000,- mendapat bunga 0.25%/tahun, dan saldo tabungan di atas Rp 1.000.000,- bunga per tahunnya sebesar 1%. Ini suku bunga yang di BCA lho ya... Saya tahunya dari brosur TabunganKu yang saya ambil waktu saya lagi mengantri di BCA. Hihihi...

Bunga TabunganKu memang kecil. Kalau dilihat untung-rugi sih tidak bakal untung ya menabung di TabunganKu (atau menabung di produk tabungan apa saja). Bunganya tidak seberapa dan tidak mampu melawan inflasi. Nilai uang yang kita simpan akan kalah dengan inflasi. Tapi, saya rasa tujuan Pemerintah meluncurkan produk TabunganKu adalah menumbuhkan kesadaran menabung di masyarakat. Itu yang terpenting, 'kan?

Alasan saya sendiri untuk buka rekening TabunganKu bukan untuk cari untung (karena sudah pasti tidak akan untung), melainkan saya ingin membuat tabungan khusus dana hura-hura. Maksudnya, dari dana tabungan dana hura-hura ini nanti bisa saya gunakan untuk membeli ponsel baru, misalnya. Atau untuk jalan-jalan. Atau untuk apa sajalah, tergantung uang yang berhasil dikumpulkan seberapa banyak. Jadi, tabungan ini tidak akan tercampur dengan tabungan khusus simpanan (untuk dana darurat) dan tabungan yang memang untuk keperluan sehari-hari.

Nah, untuk TabunganKu BCA punya ketentuan tambahan dari BCA-nya, yaitu (dikutip dari situsnya langsung):
  • Kartu ATM TabunganKu hanya bisa tarik tunai maksimal Rp 5 juta per hari, sedangkan transfer ke sesama rekening BCA maksimal Rp 15 juta
  • Transaksi pendebetan maksimal empat kali dalam satu bulan (baik dari ATM maupun dari teller)
  • Belum ada fitur klikBCA, m-BCA, SMS BCA, Debet, dan Tunai BCA

So, bagaimana, teman-teman? Tertarik untuk membuka rekening TabunganKu di cabang-cabang bank terdekat? :D

*berasa jadi duta TabunganKu deh* ;))

Sunday, June 5, 2011

Untitled #14

Day 70. Post a Day 2011.

Semenjak saya punya si Pinkyfloyd, saya semakin rajin cari-cari e-book yang berformat epub. Meski si Pinky katanya bisa baca ebook berformat pdf, txt, atau yang lainnya, menurut saya format standar e-book untuk di e-book reader itu ya epub. Saya pernah coba baca pdf di Pinky, nyatanya tidak nyaman. Harus geser kanan-kiri untuk bisa baca pdf, jadinya ya repot.

Untuk menyiasati koleksi e-book saya yang kebanyakan pdf, berarti e-book saya itu harus di-convert ke format epub dong ya? Nah, ada converter pdf ke epub yang gratis namanya Calibre. Terima kasih kepada Calibre karena sekarang saya tinggal convert saja e-book yang ingin saya baca di e-book reader saya dari pdf ke epub. Saya pun tak perlu pusing-pusing lagi! :D

Karena skripsi sudah selesai (eh, masih ada revisi ding), sekarang mari saatnya membaca buku banyak-banyak!

Wednesday, June 1, 2011

Officially Jobless

Day 69. Post a Day 2011.

I have defended my undergraduate thesis this afternoon. Congratulations to me! So, what now?

Now, I am officially jobless. ;))