Saturday, December 31, 2011

2011 Challenge

Day 149. Post a Day 2011.

Salah satu resolusi saya di tahun 2011 adalah membaca lebih banyak buku. Di situ memang saya tidak menuliskan seberapa banyak yang dimaksud dengan lebih banyak itu. Bisa saja kan dua puluh buku menurut saya banyak. Ya dua puluh memang lebih banyak ketimbang sembilan belas buku. *halah, mbulet*

Kebetulan Goodreads bikin semacam reading challenge. Selama satu tahun kita menantang diri kita sendiri mau baca berapa buku. Saya jadi tertantang ingin ikutan reading challenge ini. Seratus buku saya targetkan akan saya baca sepanjang tahun 2011.

Sempat khawatir saya akan gagal. Karena selama dua bulan (Oktober-November) saya tidak baca cukup buku untuk membuat saya keep on track. Syukurlah bulan Desember ini saya punya banyak waktu dan kesempatan buat bisa baca banyak buku. Muhahahaha... :v *meski seminggu terakhir ini saya lebih banyak baca komik* 

Alhamdulillah, reading challenge saya berhasil saya menangi! Selama tahun 2011, saya membaca 135 buku dari target seratus buku. 

Terpacu dari keberhasilan saya di reading challenge 2011, saya kembali ingin menantang diri saya di tahun 2012. Namun, kali ini tantangannya sedikit berbeda. Melihat buku-buku yang saya baca di tahun ini kebanyakan novel, tahun depan (yang dimulai sekitar tujuh belas jam lagi ketika tulisan ini sedang dibuat) reading challenge saya adalah membaca lima puluh judul buku nonfiksi.

Penggemar: Kim, kenapa lima puluh? Kenapa tidak seratus juga?

Alasannya sederhana. Saya membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan satu buku nonfiksi ketimbang buku fiksi. Apalagi kalau bukunya berat, ya berat fisiknya (baca: tebal) maupun berat temanya. Pasti otak saya butuh waktu yang lama untuk mencernanya. Kalau baca novel (apalagi baca komik) pasti kan lebih cepat selesainya. Yah, kecuali novelnya tebal, bahasanya sulit dimengerti, topiknya berat, semacam novel-novelnya James Joyce. 

Makanya saya tidak mau neko-neko pasang target seratus buku nonfiksi, misalnya. Pasang target tinggi itu bagus, tapi saya juga harus mengukur kemampuan diri saya. Apalagi target buku yang ingin saya baca topiknya lumayan berat (untuk ukuran saya sih), sehingga tidak bisa sekali buka bukunya langsung bisa selesai baca beberapa jam kemudian.

Nah, itu soal reading challenge. Sekarang saya mau ngomongin soal Post a Day 2011 challenge saya. 

*mulai nyengir kuda*

Bisa dibilang tantangan untuk menulis setiap hari di blog ini gagal. Dari 365 hari saya cuma bisa menulis selama 149 hari. Alasannya banyak, mulai dari konsentrasi menyelesaikan skripsi *ngok, gaya banget gue*, malas, ngambek, bapak sakit, dan memang tidak ada akses internetnya. Kasian yah? :c

Berbeda dengan reading challenge, tahun depan saya gak mau nulis lagi setiap hari. Kecuali saya sedang mood untuk nulis tiap hari, itu beda perkara. Maksudnya saya tidak mau bikin target post a day lagi selama setahun penuh. Berat. Butuh konsistensi tingkat tinggi. Saya salut dengan Mbak Ira yang konsisten banget dengan post a day challenge-nya. Tiap hari blognya update. *menjura* 

Ya sudah. Akhirul kalam, selamat tahun baru 2012. Selamat bikin resolusi, challenge, target, apapun itu. May we all have a wonderful year ahead! 


*gambar diambil dari sini

Friday, December 30, 2011

Resolusi 2012

Day 148. Post a Day 2011.

Tahun 2011 selesai sebentar lagi. Sekarang kita menyambut tahun 2012 dalam hitungan hari. Resolusi 2011 saya sebagian tercapai. Punya e-book reader, lulus kuliah, rajin menabung (dan bisa mengatur keuangan), dan membaca banyak buku, itu resolusi yang tercapai. Sementara sisanya, seperti rajin berolahraga, konsisten menulis di blog, menulis menggunakan bahasa Inggris, dan jadi tenar *ngok*, tampaknya belum tercapai. Tapi, tidak apa-apa. Sisa resolusi tahun 2011 yang tidak tercapai akan saya lanjutkan di tahun berikutnya.

Penggemar: Jadi, Kim, resolusi kamu di tahun 2012 apa?

Baru saja pagi ini saya membuat resolusi tahun 2012. Beberapa banyak hal baru bagi saya. Katanya sih kalau mau bikin resolusi jangan tanggung-tanggung. Buatlah yang bisa membuat kita keluar dari zona nyaman kita, cobalah hal-hal yang baru bagi kita, dan tulis alasannya kenapa kita ingin punya resolusi seperti itu.

Jadi, bisa berenang, bisa menyetir mobil, ikut latihan yoga, aikido, belajar Matematika, dan belajar bahasa asing (bahasa Jepang atau Mandarin) adalah resolusi saya di tahun 2012 yang katanya "hal-hal baru dan keluar dari zona nyaman". Mungkin harus ditambah: bisa memasak. *eaaa*

Sementara hal-hal seperti rajin olahraga, harus hemat dan rajin menabung, lebih disiplin soal keuangan, dan hidup sehat (harus lebih disiplin soal makanan), harusnya sih bukan sekadar masuk di daftar resolusi tiap tahun ya. Tapi, itu lebih dari "resolusi" saya kira. Itu sudah masuk ke dalam "daftar wajib" saya. *halah*

Saya pun punya resolusi tersendiri untuk blog ini. Tahun depan saya ingin rajin menulis dalam bahasa Inggris. Susah memang, saya tahu itu. Apalagi kalau rasa malas sedang timbul, susahnya bisa dua kali lipat. Buka kamus, mengecek grammar, rasanya seperti butuh perjuangan yang sangat berat. *lebay deh* Tapi, meski berat, saya percaya manfaatnya akan sangat besar untuk saya. Yah, minimal bisa meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya tentu saja. :)

Terus, mudah-mudahan di tahun 2012 saya bisa segera dapat pekerjaan yang bagus dan gajinya tinggi. Mengharap boleh dong? Hehehe... Mudah-mudahan juga blog ini menghasilkan uangnya bisa lebih banyak lagi. Amin.

Penggemar: Terus, soal jodoh gimana? Bukan resolusi?

*pentung satu-satu yang nanya*

Nah, itu resolusi saya di tahun depan, 2012. Saya memang tidak menulis rinci di sini, tapi saya menulis rinci di buku catatan saya. Detilnya setiap resolusi, alasan kenapa itu menjadi resolusi saya, dan lainnya.

So, bagaimana dengan kalian? Sudah buat resolusi belum? ;)

p.s.: kok ini jadinya semacam rencana dan harapan ya? Jadi apa bedanya dong dengan resolusi? Nggak tahu juga sih. *garuk-garuk kepala*

Thursday, December 29, 2011

[Book] Good Omens

Day 147. Post a Day 2011.


Judul: Good Omens: The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch
Penulis: Neil Gaiman dan Terry Pratchett

Alkisah dunia akan kiamat. Hari akhir akan segera tiba. Dunia ada di tangan bayi laki-laki yang lahir ke dunia, Anti-Christ, yang menentukan apakah dunia kiamat atau tidak.

Si malaikat Aziraphale dan si iblis Crowley bekerja sama mengawasi  Anti-Christ. Sampai saatnya tiba nanti Anti-Christ akan menentukan nasib dunia. Mereka meyakini bahwa manusia bisa berubah. Mereka percaya jika Anti-Christ di jalan yang "benar", maka dunia akan selamat. Dunia tidak akan mengalami kekacauan. Kecintaan Aziraphale dan Crowley terhadap manusia lah yang membuat mereka membangkang dari tugas mereka yang seharusnya.

Namun sayang, Aziraphale dan Crowley mengawasi anak yang salah. Warlock, nama anak yang mereka kira adalah Anti-Christ, ternyata hanyalah anak laki-laki biasa. Seharusnya yang mereka awasi adalah Adam Young.  

Young sendiri di usianya yang sebelas tahun tidak menyadari bahwa dia punya kekuatan. Ketika dia sedang mengobrol bersama komplotan kecilnya, apa yang dia ucapkan menjadi kenyataan. Dia ingin Bumi penuh dengan pepohonan, maka tumbuhlah pepohonan. Dia ingin orang Tibet menggali terowongan dan ada di tempat mereka, maka datanglah orang Tibet. Dia ingin ada makhluk UFO datang, maka datanglah UFO. Dan seterusnya.

Saya tadinya mengira Young yang egois dengan "idealisme"-nya, tanpa disadarinya akan menghancurkan dunia. Dia akan menciptakan peperangan antara kebaikan dan kejahatan, antara surga dan neraka. Karena berdasarkan ramalan Anti-Christ akan lahir dan dunia akan kiamat. Ternyata perkiraan saya salah. Adam Young tidak bertindak dengan apa yang sudah digariskan kepadanya. 

Terlepas dari ceritanya yang lucu, konyolnya Aziraphale dan Crowley, saya berpendapat buku ini (mungkin) berbicara soal determinisme dan free will. Adam Young yang sudah digariskan sebagai Anti-Christ, yang harus menciptakan kekacauan, menciptakan perang antara Surga dan Neraka, yang harusnya membuat dunia berakhir, malah lebih memilih dunia yang damai. Si iblis Crowley yang seharusnya jahat, merayu manusia agar selalu berbuat jahat, malah menyukai manusia dan ingin hidup damai di bumi, dan juga dia berteman dengan si malaikat Aziraphale. Aziraphale bahkan bilang bahwa dia merasa Crowley di dalam hatinya setidaknya memiliki sedikit kebaikan. 

Kita sebagai manusia punya kecenderungan yang sama besar untuk menjadi baik atau jahat. Semuanya tergantung pada pilihan kita untuk menjadi salah satu diantaranya.

Skala 1 - 5, saya beri nilai 4 untuk Good Omens: The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch.

Wednesday, December 28, 2011

I am the Charmed One!

Day 146. Post a Day 2011.

I'm the son and the heir
I am human and I need to be loved just like everybody else does

Ada yang ingat sepenggal lirik lagu di atas? Yup, itu lagu OST. Charmed, serial televisi waktu jamannya saya masih SMP. Anehnya, sekian tahun saya mengikuti serial itu baru kepikiran sekarang untuk mencari tahu lagu yang menjadi soundtrack-nya Charmed (baca: mengunduh lagunya). Mungkin pengaruh dari saya menonton ulang Charmed kali ya? Kan ceritanya kemarin saya dapat unduhannya dari season 1 - 7 dari Kak Moko. *siyul2*




Charmed ceritanya tentang tiga bersaudara (yang awalnya), yaitu Prue (Shannen Doherty), Piper (Holly Marie Combs), dan Phoebe Halliwell (Alyssa Milano). Di season 1 episode 1, Prue dan Piper masih menjalani kehidupan normal mereka sampai akhirnya Phoebe kembali pulang ke rumah mereka. Phoebe menemukan Book of Shadows dan membaca mantra, voila! Kekuatan mereka aktif dan mereka pun jadi penyihir. Prue bisa menggerakkan benda dengan pikirannya, Piper bisa freeze waktu, orang, dan benda, sementara Phoebe bisa melihat masa depan.

Sayangnya, Prue Halliwell tidak bermain sampai serial ini tamat. Di akhir season ke tiga, Prue-nya dibikin mati. Penggantinya Paige Matthews (Rose McGowan) ternyata saudara Piper dan Phoebe juga, satu emak tapi beda bapak.




Karakter favorit saya adalah Piper Halliwell, sementara teman-teman saya yang lain lebih suka Prue atau Phoebe. Dari pertama nonton Charmed, saya langsung suka sama dia. Memang sih dia tidak secakep Prue atau Phoebe, tapi saya suka saja. Saya suka sama kekuatannya tadinya. Kan keren tuh bisa freeze waktu, orang, dan benda-benda. Terus, kekuatannya semakin meningkat dan dia bisa meledakkan musuh-musuhnya. Tapi, lama-kelamaan saya tidak cuma suka dengan kekuatan Piper saja, saya suka dengan pribadinya, yang baik, yang bijak, yang perhatian, yang bagus-bagus dari Piper deh pokoknya. Kaya' saya banget. *halah* 

Sepertinya dalam beberapa hari ke depan saya bakal nonton Charmed terus nih. Season 1 - 7, bo'! Setiap season-nya ada dua puluhan episode. Satu episodenya sekitar 43 menit. Yah, mudah-mudahan saya punya waktu luang banyak deh, jadi bisa nonton sepuasnya dan tidak ada gangguan. Saya mau nonton khusyuk. Menonton serial favorit pertama, apalagi serialnya waktu jaman saya masih imut-imut (sekarang masih imut), itu memang butuh konsentrasi. Romantisme masa lalu namanya. *halah, kaya' apaan aja. lebay banget.* 

By the way, Charmed kan ada delapan season kan ya. Ternyata, saya cuma dapat tujuh season. Sisa satu season-nya saya unduh dimana? Ah, minta tolong sama Kak Moko saja buat unduhin season terakhir. *contoh adik tingkat kurang ajar* :r

p.s.: sewaktu baca-baca berbagai kutipan dari Charmed di sini, ada satu yang bikin saya ketawa-ketawa sendiri.

Cole: Phoebe, I love you. I don't know what's going on but maybe I can help. Would you like me to kill someone for you?

Yah, namanya juga cinta sih yaaaa... :O

*gambar pertama diambil dari sini dan gambar kedua dari sini

Tuesday, December 27, 2011

[Film] Sherlock Holmes: A Game of Shadows

Day 145. Post a Day 2011.




Sherlock Holmes: A Game of Shadows berkisah tentang detektif konsultan Sherlock Holmes dan rekannya Dr. Watson untuk memecahkan kasus pengeboman yang terjadi dimana-mana. Semua beranggapan bom diledakkan oleh negara musuh. Akibat dari pengeboman itu, dunia terancam perang. Seperti yang Dr. Watson katakan di narasi film, Sherlock Holmes punya teorinya sendiri.

Musuh Holmes kali ini adalah Profesor James Moriarty. Yang sampai pertengahan film saya tidak tahu apa tujuan Moriarty melakukan kejahatan-kejahatan itu. Ternyata yang melakukan pengeboman itu atas perintah Moriarty. Ia juga menguasai berbagai perusahaan di Eropa, mulai dari kapas hingga senjata. Setelah menguasai barang (supply), ia harus menciptakan permintaan (demand), yaitu melalui perang. Moriarty harus menciptakan perang dunia.

Film yang menarik. Di sini Holmes beradu kecerdikan dengan Moriarty. Ada saatnya Holmes melakukan kesalahan dan Moriarty berhasil mengelabui Holmes. Namun, tentu saja di akhir film Holmes berhasil memecahkan kasus tersebut dan men-skak mat Moriarty. :D

Film yang bagus, tapi tidak terlalu membuat saya merasa "wah". Entah kenapa Sherlock Holmes yang saya baca di novel berbeda dari Sherlock Holmes yang saya tonton di filmnya. Mungkin pengaruh dari cara Robert Downey, Jr. memerankan Sherlock Holmes. Saya melihat Holmes seperti orang yang cuek, egois, tapi jadinya malah seperti orang yang lucu. Beberapa kali penonton (yang kemarin nontonnya bareng saya *halah*) di studio 4 bioskop tertawa melihat tingkah Sherlock Holmes.

Yah, pokoknya adanya action-nya, ada komedinya, ada petualangannya, dan ada yang membuat saya terharunya tapi tidak sampai menangis kok.

Skala 1 - 5, saya beri nilai 3 untuk Sherlock Holmes: A Game of Shadows.

*gambar diambil dari sini.

Monday, December 26, 2011

Rumah Makan Pecel Lele

Day 144. Post a Day 2011.

Saya sekarang sedang di Depok. Hampir enam bulan saya meninggalkan kota ini, ternyata makin banyak tempat makannya. Kemarin saya diberi tahu teman saya, Puti, kalau sudah ada beberapa rumah makan yang baru, seperti Warung Pasta, Sushi Miyabi (atau apalah itu namanya), dan ada Pecel Lele Lela lagi! Saya bingung. Hah, nggak salah tuh Pecel Lele Lela buka lagi? Kan sebelumnya sudah ada Pecel Lele Lela yang di depan apartemen Margonda? Pecel Lele Lela yang baru buka itu letaknya di dekat Gramedia. Kurang tahu juga sih apa maksudnya kok dengan jarak yang tidak begitu jauh bisa ada dua Pecel Lele Lela. Yang jelas kemarin sore saya makan di tempat Pecel Lele Lela yang baru. Saya rindu ayam goreng saos padangnya!

Di Bandar Lampung bukannya tidak ada pecel lele. Malah sekarang sedang menjamur warung-warung pecel lele. Ada Pecel Lele Haji Fuad, ada juga Pecel Lele Lala. Yang terakhir ini bikin saya pengen ketawa ngakak. Kok ya cari nama untuk rumah makannya tidak kreatif. Warna catnya pun mirip-mirip dengan Pecel Lele Lela. Tapi, saya belum pernah coba makan di situ. Nanti deh kalau saya sudah pulang, saya coba makan di Pecel Lele Lala. Kebetulan tempatnya juga dekat dengan rumah saya. Jalan kaki pun jadi ke sana. :D

Sunday, December 25, 2011

Merry Christmas!

Day 143. Post a Day 2011.


Selamat Natal bagi teman-teman yang merayakan! Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua. :)

Saturday, December 24, 2011

Untitled #26

Day 142. Post a Day 2011.

Saya merebahkan diri di atas kasur. Bapak saya di samping saya. Saya memejamkan mata, ingin tidur. Tak lama kemudian, saya merasakan tangan bapak saya mengelus-elus kepala saya. Saya ingin menangis. Sudah lama sekali saya tidak dielus-elus oleh bapak saya waktu saya mau tidur.

Duh, sebut saya manja, kolokan, atau apa saja, terserah deh. Tapi, rasanya saya senaaaaaaang banget kepala saya dielus-elus bapak. :)

Thursday, December 22, 2011

[Book] Pembunuh di Balik Kabut

Day 141. Post a Day 2011.

Judul: Pembunuh di Balik Kabut (terj. Why Didn't They Ask Evans?)
Penulis: Agatha Christie
Alihbahasa: Mareta
Penerbit: PT Gramedia (terbitan I, Mei 1989)
ISBN: 979-403-588-2

Ketika Bobby Jones sedang mencari bola golfnya yang lenyap di bibir jurang, Bobby melihat onggokan hitam yang kelihatannya seperti baju. Ternyata onggokan hitam adalah seorang laki-laki. Ketika ditemukan oleh Bobby, pria itu masih bernapas meski pingsan. 

Saat Bobby sedang menunggu bantuan di samping pria itu, tiba-tiba pria itu membuka matanya dan mengucapkan sebuah kalimat, "Mengapa mereka tidak memanggil Evans?" Setelah mengucapkan kalimat itu, laki-laki tersebut mati.

Dari situlah petualangan Bobby dimulai. Ditemani teman masa kecilnya Lady Frances Derwent, yang nama kecilnya Frankie, mereka menyelidiki kematian laki-laki bernama asli Alan Carstairs itu. Cerita pun mengalir cepat. Dari dugaan awal Frankie bahwa laki-laki tersebut dibunuh, membawa mereka bertemu dengan keluarga Bassington-ffrench. Hingga akhirnya mereka menaruh curiga pada dokter Nicholson (dokter yang berpraktek di dekat rumah keluarga Bassington-ffrench) sebagai otak pelaku pembunuhan Alan Carstairs.

Seperti novel-novel Agatha Christie yang lain yang sudah saya baca, saya mencoba untuk menebak siapa pelakunya, tapi selalu gagal. Pembunuh di Balik Kabut memberikan beberapa tersangka, yang sejak awal cerita saya sudah menebak pelakunya, namun di tengah-tengah Agatha Christie men-twisted pikiran saya sehingga membuat saya ragu dan saya pun mengubah tebakan saya. Di akhir-akhir cerita baru ketahuan kalau tebakan awal saya itu ternyata yang benar. Kurang asem, Agatha Christie! *eh* 

Jujur saja, novel bergenre detektif, kriminal, misteri, dan sejenisnya sebenarnya bukan selera utama saya. Tapi, saya tidak menolak untuk membacanya. Saya senang membaca novel-novel seperti ini untuk mengisi waktu senggang, di saat saya ingin membaca tapi tidak tahu harus membaca apalagi. Atau di saat saya membutuhkan bacaan yang bisa cepat selesai saya baca. Atau di saat saya sedang bosan baca buku-buku "berat", novel bergenre detektif dkk-nya ini membantu saya menghilangkan rasa bosan itu. Apalagi toko rental buku dekat rumah saya novelnya kebanyakan karangan Agatha Christie dan Arthur Conan Doyle. Mau baca sejenis chick-lit atau teen-lit, saya malas.

Jadi, kesimpulannya adalah dari skala 1 - 5, saya beri nilai 3 untuk Pembunuh di Balik Kabut.

*By the way, dua paragraf terakhir kok nggak nyambung banget ya? Hahahahaha...

Wednesday, December 21, 2011

Divaksin Hepatitis

Day 140. Post a Day 2011.

Karena liver ayah saya dipotong 40%, saya jadi punya perhatian khusus untuk organ tubuh yang satu ini. Bukan berarti organ tubuh lain tidak penting, tapi saya belajar dulu lah satu per satu.

Dari buku yang saya baca, saya baru tahu peran liver itu sangat penting. Buku The Holford 9-Day Liver Detox bilang sih fungsi liver itu:

  • Breaking down and eliminating toxins.
  • Breaking down and eliminating excess hormones.
  • Balancing blood sugar.
  • Producing bile.
  • Storing nutrients, including iron, copper, vitamins A, B12, D, E, and K.

Tidak kebayang kalau liver saya rusak (amit-amit! Jangan sampe deh...). Memang saya tidak minum alkohol sih, tapi kan mana tahu makanan lain yang masuk ke tubuh saya gimana. Belum lagi kalau berbicara soal virus, bakteri, racun, beuh... ancaman untuk liver banyak banget ya? Semuanya di luar kontrol saya. Apalagi saya dengar banyak sekali sekarang ini yang terkena hepatitis. Dokter Saragih, yang kemarin saya temui, memperkuat pernyataan ini. Beliau bilang selama tiga puluh tahun beliau jadi dokter belum pernah beliau mengalami punya pasien yang sakit hepatitis sebanyak ini. Sayangnya beliau tidak memberi angka pasti berapa banyak pasien beliau yang sakit hepatitis. Beliau hanya bilang dari sepuluh kamar di rumah sakit, enam atau tujuh kamar dihuni pasien hepatitis.

Mencegah lebih baik mengobati. Saya selalu percaya itu. Jadi, saya korbankan dua hari saya kemarin (Senin dan Selasa) untuk ketemu dr. Saragih. Saya minta divaksin hepatitis. Kenapa dua hari? Kenapa gak satu hari aja? Obat untuk vaksin hepatitis A dan B-nya ternyata tidak ada di apotek. Mau tidak mau harus pesan dulu dan baru bisa diambil keesokan harinya. Ya sudah, saya pesan Twinrix hari Senin (19/12) dan saya ambil Twinrix hari Selasa (20/12) sekalian ketemu sama dokter lagi buat disuntik.

Sebelum divaksin, oleh dr. Saragih saya disuruh cek darah dulu untuk dilihat HBsAg, Anti Hbs, SGOT, dan SGPT. Kalau hasilnya bagus, baru bisa disuntik. Kalau gak bagus, ya gak bisa disuntik. Alhamdulillah, hasil lab bilang bagus. Itu artinya saya bisa divaksin hepatitis A dan B. :)

Penggemar: Kim, biayanya mahal gak?

Mahal itu relatif. Bagi saya sih mahal ya. Cek darah biayanya Rp 186.500, Twinrix harganya Rp 311.400, dan biaya dokter Rp 80.000. Total biaya Rp 577.900. Tapi, duit segitu mah gak sebanding kalau saya malah sakit. Jauh mahal biaya rumah sakit ketimbang vaksin. Gak cuma masalah biaya, mikirin sakitnya itu saya gak sanggup. Jadi, apalah arti uang Rp 577.900 demi menjaga kesehatan?

Oiya, kata dr. Saragih, vaksin hepatitis A dan B dilakukan tiga kali. Bulan pertama, bulan kedua, dan bulan keenam. Itu artinya jadwal vaksin saya berikutnya 20 Januari 2012 untuk vaksin kedua dan 20 Juni 2012 untuk vaksin ketiga.

Penggemar: Kim, ntar kalau udah vaksin ternyata masih sakit, gimana?

Ih, amit-amit! Jangan sampe deh. Ya tapiii, kalau emang udah vaksin, udah jaga kesehatan, ternyata masih sakit juga, ya apa boleh bikin. Yang penting saya sudah melakukan semaksimal saya untuk melindungi tubuh saya dan menjaga kesehatan. Seenggaknya penyakit gak mudah datang kalau saya menjaga tubuh saya. Ketimbang saya tidak melakukan apa-apa?

Bagaimana dengan kalian? Sudah divaksin hepatitis belum? :)

Tuesday, December 20, 2011

[Film] Mission Impossible: Ghost Protocol

Day 139. Post a Day 2011.

Kemarin siang, saya dan Indri (teman SMU saya) nonton Mission Impossible: Ghost Protocol. Saya tidak akan meriviu film itu di sini karena saya tidak bisa menulis riviu yang bagus atau memberikan spoiler-nya karena saya sedang malas mengetik panjang-panjang




Singkat cerita, menurut saya film terbaru Tom Cruise tersebut bagus. Meskipun memang banyak hal yang impossible-nya. Yah, selayaknya film-film action Hollywood lah. Hantam sana, tabrak sini, jatuh di sana, tapi Tom Cruise tetap keluar dengan gagah dan tetap tampan. Dan polisinya selalu datang belakangan pas musuhnya sudah mati dan mission accomplished

Tapi, sepanjang film saya berusaha mengabaikan pikiran-pikiran protes saya akan bagian-bagian film yang tidak masuk akal. Saya nikmati saja filmnya tanpa harus mengkritisi banyak hal *sok kritis banget deh gue*. Hasilnya, saya berhasil keluar dari bioskop dengan senyum lebar dan hati senang. Apalagi ada Agent Brandt (Jeremy Renner) yang bikin saya klepek-klepek sepanjang film. Udah mah ganteng, bodinya seksi pula. Bikin ngences. *eh* Yang saya sesalkan cuma satu sih, kenapa Josh Holloway cuma dapat peran sedikit? Mati pula. :c 

Skala 1 - 5, saya kasih nilai 4 untuk Mission Impossible: Ghost Protocol.

*Gambar diambil semena-mena dari sini.

Monday, December 19, 2011

Snow White

Day 138. Post a Day 2011.

Saya beli ponsel baru lagi. Eh, gaya banget ya saya beli ponsel mulu? :r 

Abisnya kan kemarin itu ponsel saya ponsel pinjaman dari kakak ipar dan saya gak biasa pinjam barang orang. Gak tenang gitu deh bawaannya. Daripada hidup gak tenang gitu *halah*, lebih baik saya beli ponsel baru aja. Gak usah beli ponsel yang mahal nan canggih. Selain masih ngumpulin duit buat beli Samsung Wonder, yang penting untuk sekarang ini saya bisa telpon dan sms.

Jadi, kemarin saya beli ponsel Cross lagi. Kalau tahun lalu saya beli Cross tipe GG53C, sekarang saya beli Cross GG58CT.




Untuk ponsel seharga Rp 275.000, sudah ada kamera, music player, analog tv, bluetooth, tapi gak ada kartu memorinya. Kalau mau ditambah kartu memori, harganya ditambah lagi. Karena saya ngerasanya gak butuh kartu memori, ya saya gak beli kartu memorinya.

Berhubung warnanya putih, saya kasih nama ponsel saya ini Snow White.

So, Snow White, jadilah sahabatku yang baik ya. Mudah-mudahan kamu gak dipinjam (dan gak dibalikin) orang seperti nasib saudaramu sebelumnya. Mudah-mudahan kamu setia menemaniku sampai akhir hayatmu. *tsaaah* :r

Sunday, December 18, 2011

Untitled #25

Day 137. Post a Day 2011.

Every time I read, watch, or see people who suffer (any kind of) cancer, it hits me so bad and painful to see that they look really suffer. Maybe it comes from cancer itself or from treatment they have. Or both. I don't know. 

I saw once a person suffered so badly because of chemotheraphy that he had. In fact, it almost cost his life.

But now, when I see my father, I don't see a person who has cancer. He looks healthy and isn't affected too much from his cancer. Of course it is a good thing, not the part that he has cancer for certain. 

I'm definitely certain if you see my father now you won't believe that he has cancer. He still walks for 10 minutes every day. He's still fussy. He still loves talking, laughing, socializing with our neighbors, and playing with his grandchildren. It seems there's no sign that shows he's sick.

Despite he's a very brave and a strong man, maybe it's because he gets the right treatment. Maybe it's because the cancer was in early stage when it's detected, even though it's metastatic cancer. I mean, his cancer doesn't spread too much inside his body. Let consider him lucky that it spreads only in his liver and lung. And let consider him extremely lucky that he found out it very very very early.

Just to let you know, my father had colon cancer two years ago. And it was already removed in surgery. But, because he stopped his chemotheraphy (he was trauma for chemo almost took his life), now we have to deal again with cancer. Guess all those remaining cancer cells don't die and spreading to my father's liver and lung.

So, what's the moral of this story? Love your body. Do regular check-ups. My father suspected his cancer was back from his blood test result. To prove it, he immediately went to his doctor and did a PET scan. As already suspected, the cancer was there.

If you know earlier your illness, it's easier to cure it. Find the right treament that suit your condition. In other words, find a good doctor. But, of course preventing is much much much better than curing.

Live a good life, folks. And stay healthy.

Saturday, December 17, 2011

RIP, Christopher Hitchens.

Day 136. Post a Day 2011.

Saya tidak kenal Christopher Hitchens. Saya tidak tahu dia sudah menulis buku apa saja. Saya cuma tahu bukunya yang berjudul God is Not Great, yang saya beli bertahun-tahun lalu dan bukunya sekarang sudah menguning.

Tapi, entah kenapa ketika kemarin saya membaca berita Hitchens meninggal, ada perasaan sedih muncul di dalam diri saya. Seolah-olah saya sudah kenal lama dengan Hitchens dan merasa kehilangan dia.

Entahlah.

Rest in peace, Mr. Hitchens. I will try to know you better. 

Friday, December 16, 2011

Welcome to Kimi's Library!

Day 135. Post a Day 2011.

Saya punya perpustakaan pribadi! Bukan... Bukan perpustakaan yang punya ruang sendiri, ada rak-raknya, bukunya banyak, tempatnya luas. Bukan itu... Melainkan perpustakaan digital. Ayo, mampir ke Kimi's Library! Isi e-book-nya masih sedikit. Koleksi e-book saya yang banyak ada di laptop lama. Sementara Sophie masih menampung sedikit koleksi e-book saya. Nanti deh saya pindahkan koleksi e-book saya dari laptop lama ke Sophie. Nanti saya tambahkan lagi ke Kimi's Library.

Psssst... E-book itu juga sebenarnya saya unduh dari website lain sih. :r

Biar keren saya ikut-ikutan saja bikin perpustakaan pribadi setelah membaca tutorialnya di forum Goodreads Indonesia. Saya coba ikuti langkahnya satu per satu dan ternyata gampang banget! Apalagi sebelumnya saya memang sudah install Dropbox dan Calibre di laptop saya, Sophie. Jadi, tinggal install Calibre2opds-nya untuk bikin katalog.

By the way, selain pakai Calibre saya juga pakai Adobe Digital Editions untuk e-book saya. Tadinya saya kira Calibre hanya untuk mengkonversi format e-book ke epub. Tapi, setelah saya bikin Kimi's Library, saya baru tahu kalau Calibre bisa langsung mengorganisir e-book berdasarkan pengarangnya. Jadi, terlihat lebih rapi dan saya tidak perlu capek-capek mengatur e-book A, B, C masuk ke folder mana. 

Beda kalau di Adobe Digital Editions. Dia tidak bisa otomatis mengorganisir e-book. Saya harus bikin folder sendiri untuk memilah-milah. Jadi, tiap kali saya menambahkan e-book di Adobe Digital Editions, saya harus segera memasukkannya ke dalam folder yang sudah saya buat biar nanti saya mudah mencarinya. Kalau tidak, bisa-bisa saya lupa dan jadinya berserakan deh file-file e-book saya.

Eh tapi, barangkali ada teman-teman yang tahu bagaimana caranya Adobe Digital Editions bisa otomatis mengorganisir file selayaknya Calibre? Soalnya, terus terang saja dari segi tampilan saya lebih suka Adobe Digital Editions ketimbang Calibre. ;)

So, sekali lagi, silakan mampir ke Kimi's Library. Kalau teman-teman sudah bikin perpustakaan digitalnya juga, silakan berbagi di sini. Mari kita berbagi e-book gratisan dan bajakan. *eh*

Thursday, December 15, 2011

Jenuh

Day 134. Post a Day 2011.

Tiga bulan terakhir saya bolak-balik ke negara seberang - kampung halaman. Ayah saya sedang sakit dan beliau berobat di sana. Selama itu pula saya tidak terlalu update dengan kabar terakhir dari Indonesia. Di sana saya tidak membuka internet. Sekadar membuka twitter tidak bisa, baca Google Reader pun tidak, apalagi kalau mau update blog. Otomatis lah saya seperti orang yang miskin informasi, miskin gosip, tidak tahu apa-apa.

Baru seminggu pulang ke rumah, baru mau update lagi gosip-gosip artis kita, eh saya sudah pergi lagi. Dan baru hari ini saya pulang ke rumah. Kemarin menginap dulu di Jakarta. Di hotel, saya nonton MetroTV dan melihat berita pembantaian tiga puluh orang di Mesuji karena rebutan lahan antara perusahaan dengan penduduk setempat.

Gila.

Belum lama dari itu, saya mendengar berita seorang mahasiswa, Sondang Hutagalung, membakar dirinya di depan istana negara. Aksi Sondang itu menunjukkan kekecewaannya terhadap rejim SBY.

Gila.

Saya bisa gila jika terus-terusan membaca, mendengar, melihat berita-berita seperti ini. Sepertinya masa depan negara ini suram sekali.

Rasanya mau tutup mata saja dan pura-pura tidak peduli. Tapi, saya tidak bisa membohongi hati nurani. Berminggu-minggu tidak tahu kabar negeri sendiri membuat saya rindu Indonesia. Tapi, begitu tahu kabarnya kok saya sepertinya mau kabur saja dan tinggal di luar negeri yang makmur, aman, dan sejahtera.

Masa bodoh dengan "mari berbuat sesuatu untuk memperbaiki negara ini" dan blablabla. Kalau presidennya saja tidak peduli, buat apa saya peduli? Buat apa saya peduli kalau saya malah jadi stres sendiri?

Ya ya ya, saya sedang jenuh. Jenuh dengan Bapak Presiden. Jadinya, saya terdengar apatis ya?

Ya sudah. Jadi kapan pemilu presiden? Bisa dipercepat gak?

Sunday, December 11, 2011

Halo, Sophie!

Day 133. Post a Day 2011.

Perkenalkan laptop baru saya. Namanya Sophie. :)


Halo, Sophie! :k


Sophie saya beli hari Kamis kemarin tanggal 8 Desember 2011. Laptop saya yang lama telah menemani saya selama 3,5 tahun terakhir. Sudah mulai ada tanda-tanda uzurnya *halah*, seperti sering nge-hang, kalau nge-hang ada warna ijo2-nya, baterai soak, dan lemot. Pastinya saya juga sudah bosan. Atas alasan utama kebosanan inilah saya membeli laptop baru. :r

Tadinya sih saya nggak mau pakai Acer lagi. Inginnya mencoba laptop merk lain, seperti Lenovo, Dell, HP, atau yang lain. Sudah sempat browsing juga dan ketemu satu laptop yang saya taksir dan sesuai dengan budget. Tapiiii... Pas saya ke toko komputer (dealer Acer resmi di kota saya), niatnya cuma mau lihat-lihat, eh keluar dari toko kok ya malah sambil pegang nota pembelian Acer Aspire 4755G. *tepok jidat*

Ini gara-gara si punya toko yang taktik jualannya keren banget bisa bikin saya tergoda. Ngomongnya pintar banget dah. Bilang ini itu yang akhirnya membuat saya menyerah dan, oke deh, mari pakai Acer lagi.

Tapi, sebenarnya saya juga yang cupu. Nih, saya kutipkan sedikit obrolan saya dengan Bapak yang punya toko:

Saya: Pak, bagusan mana Lenovo, Dell, atau HP?
Bapak yang Punya Toko (BPT): Gak ada yang bagus.
Saya: Terus, yang bagus apa dong?
BPT: Ya Acer dong. Atau Samsung.

Kemudian, saya baru sadar. Saya bertanya begitu ke dealer resmi Acer dan Samsung. :$

Ya sudah lah. Kartu debit sudah keburu digesek. Pembelian tidak bisa dibatalkan. Dari beberapa tipe dan model yang ditawarkan, saya memilih Acer Aspire 4755G-2432G64Mn warna coklat seperti foto di atas. Bagus kan? Awas kalau gak bilang bagus! *asah golok*

Dan ini spesifikasinya:

  • Intel Core i5-2430M 2.4 GHz with Turbo Boost up to 3.0 GHz
  • NVidia GeForce GT 540M, up to 2736 MB TurboCache
  • 14.0" HD LED LCD
  • 2 GB DDR3 Memory
  • 640 GB HDD
  • DVDSuper Multi DL drive
  • Acer Nplify 802.11b/g/n
  • 6-cell Li-ion battery

Oh iya, Sophie sudah termasuk Genuine Windows 7 Home Premium.

Semoga saya tidak salah beli (mengingat banyak yang bilang ke saya kalau Acer itu jelek). Semoga hubungan saya dan Sophie selalu awet. Amiiin...

"Dear Sophie, kamu jangan bandel ya. Bandelnya entar-entar aja kalau sudah lima tahun ke atas. :D "

Wednesday, December 7, 2011

Bye, Bing!

Day 132. Post a Day 2011.

Masih ingat dengan Bing (ponsel Blackberry) saya? Setelah saya merasa menyesal telah membeli Bing, akhirnya saya mengucapkan selamat jalan kepada Bing.

Bye, Bing!

Kakak ipar saya membeli paksa Bing. Tadinya sih saya tidak mau menjualnya. Karena saya pikir meski saya kurang suka dengan Bing, kalau saya jual nanti saya pakai apa? Mau beli ponsel android uangnya belum ada. Mau pakai si Mucu, lah Mucu-nya lagi dipakai kakak saya.

Mungkin saking kakak ipar saya ini naksir banget sama Bing, dia sampai bela-belain meminjamkan ponselnya ke saya! Ya sudah deh, apa boleh bikin. Saya jual saja Bing ke kakak ipar saya. Lumayan lah uangnya untuk nambah-nambah beli android nanti. :D *meski gak tahu sebenarnya kapan bakal bisa beli*

Sunday, December 4, 2011

Pengen Bikin Kartu Nama

Day 131. Post a Day 2011.

Percaya gak kalau saya pertama kali punya kartu nama waktu saya masih berusia sekitar tujuh tahun? Kurang kerjaan banget ya anak SD kelas satu sok-sokan sudah punya kartu nama segala? Entah apa yang ada di benak bapak saya sehingga beliau membuatkan saya kartu nama. Mungkin biar bisa saya pamer-pamerin ke teman-teman saya? Atau jangan-jangan kalau saya jalan dan tersesat, saya tinggal keluarkan kartu nama dan minta tolong orang untuk mengantarkan saya ke rumah. :r

Kartu namanya sederhana sekali. Kertasnya berwarna putih, tulisannya hitam, dan ada gambar perahu kecil berwarna biru. Keterangan yang ditulis pun cuma nama, alamat, dan nomor telpon rumah. Ya iyalah ya, anak usia tujuh tahun emangnya apa lagi yang mau ditulis di kartu namanya? Nomor ponsel? Lah, jaman saya SD kelas satu kan belum ada ponsel. E-mail? URL blog? Boro-boro. Saya baru bisa internet kelas satu SMP.

Dalam hitungan hari, kartu nama itu habis saya bagi-bagikan ke teman-teman saya. Sekarang sih saya agak menyesal kenapa tidak saya simpan satu saja sebagai arsip? *tsaaah, "sebagai arsip" istilahnya!* Untuk kenang-kenangan gitu. Tapi ya sudahlah. Dulu kan saya mikirnya kartu nama saya habis ya tinggal minta dibikinin lagi sama bapak. Eh gak taunya... Sampai sekarang gak dibikin-bikinin lagi. :c

Sekarang-sekarang ini saya kepikiran pengen punya kartu nama lagi. Di kartu nama itu nggak usah saya cantumkan alamat rumah dan nomor telpon. Saya cantumkan saja e-mail dan URL blog saya. Kan keren tuh kalau pas kopdar ketemu sama blogger-blogger lain, terus saya kasih kartu nama saya? Duileeee... Gaya banget dah gueeeee... :o

Nah, permasalahannya sekarang saya tak tahu mau bikin kartu nama dimana. Setelah klak-klik sana-sini akhirnya saya ketemu website Ridaco Offset & Design. Kalau dilihat di websitenya, Ridaco Offset & Design tidak hanya membuat kartu nama, tetapi juga ada kartu pos dan bookmark. Eh, bikin yang lain juga ding kaya' banner, brosur, leaflet, kartu ucapan, dan lainnya. Ah, tapi saya mah tertariknya pengen bikin kartu nama dan kartu pos.

Sayangnya di website Ridaco Offset & Design, saya tidak menemukan contoh-contoh desain kartu nama. Mau mendesain sendiri kan saya tidak bisa. Padahal kalau ada contohnya, saya kan bisa tinggal pilih saja. Atauuu... Bisa juga sepertinya minta tolong sama pihak Ridaco Offset & Design untuk mendesainkan kartu nama saya? Bisa kan ya, Mas-mas dan Mbak-mbak Ridaco? Pasti desainnya bagus deh! Dan harganya pasti murah! Iya kan? Kan? KAN? ;)