Friday, February 24, 2012

Tetap Semangat dan Percaya

Sekitar dua minggu yang lalu saya menemani ayah saya kemo di klinik Dr Tan Yew Oo di Gleneagles Hospital, Singapura. Saya bertemu dengan ibu-ibu dari Surabaya. Mari kita panggil beliau dengan Ibu Afika karena nama "Afika" sedang ramai di jagat twitter. Suami Ibu Afika kena kanker lagi di paru-parunya. Padahal terakhir kali kami bertemu sekitar dua bulan yang lalu, beliau bilang suaminya dinyatakan sudah bersih dari kanker. Maka mengobrol lah kami, tak jauh topiknya dari kanker.

Ada satu perkataannya yang masih saya ingat sampai sekarang. Kata-katanya itu membuat saya menangis dua hari. Ibu Afika bilang begini:

"Kalau sudah kena kanker stadium 4, tidak bisa yang namanya sembuh total. Tinggal tunggu mati saja."

Saya terdiam. Agak kaget juga mendengar Ibu Afika bisa secablak itu bicaranya.

Sebelumnya saya memang sudah tahu kalau kanker itu penyakit kambuhan. Meski sudah dibilang sembuh, sewaktu-waktu dia bisa datang lagi. Tapi, mendengar Ibu Afika berbicara secablak itu mau tak mau membuat saya kepikiran juga. Tidak bisa sembuh total. Tinggal tunggu mati saja. Siapa yang tidak kepikiran setelah mendengar dua kalimat tersebut?

Saya dan kakak saya yang mendengar ini sepakat untuk tidak menceritakannya ke ayah saya. Kami tidak mau ayah saya malah jadi kepikiran. Saya tidak mau ayah saya jadi down. (Dan untuk siapa saja saudara-saudara saya yang mungkin kebetulan menyasar dan membaca blog saya ini, mohon dengan sangat untuk tidak menyampaikan ke ayah saya ya? Terima kasih. :) ) Tapi, kok malah saya yang jadi down ya? xo

Seharusnya saya mencontoh ayah saya. Ayah saya itu pejuang sejati. Semangat hidup beliau dan daya juangnya luar biasa besar. Beliau tidak mau kalah dari penyakit ini. Dan beliau punya keyakinan tinggi bahwa beliau akan sembuh dari kanker. Saya percaya semangat dan keyakinan beliau turut membantu penyembuhan beliau. Siapa pun yang melihat ayah saya selalu berkomentar ayah saya tidak seperti orang yang sedang sakit. Beliau tetap gagah, tetap ganteng. :D

Seperti yang Fitria pernah bilang ke saya, "Kematian itu sudah ada yang mengatur." Memang benar. Hidup dan sehat kita di tangan Tuhan. Tapi, bukan berarti kita pasrah dan menyerah dengan keadaan. Kalau kita sakit ya pergi berobat biar sembuh. Dan harus punya keyakinan bahwa kita akan sembuh. Ah, saya harus berterima kasih ke ayah saya karena telah mengajari saya hal ini.

Tuesday, February 21, 2012

Doa

Semalam dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung ke rumah, saya berdoa, "Tuhan, jauhkanlah aku dari penyakit sariawan." Eh sesudah berdoa begitu kok saya jadi berpikir kalau saya berdoa seperti itu apa itu berarti saya tidak berkeberatan kalau penyakit-penyakit yang lain malah berdatangan? Kan itu doanya terlalu spesifik. Tidak mau sakit sariawan lagi, bukan berarti saya mau sakit yang lain juga kan? Berarti saya berdoanya jangan hanya minta dijauhkan dari penyakit sariawan, tetapi juga dijauhkan dari penyakit kanker, jantung, diabetes, dan sebagainya deh. Saya tidak tahu sudah ada berapa jenis penyakit sampai tulisan ini dibuat.

Penggemar: Kalau begitu, Kim, kenapa tidak berdoa saja secara general? Misalnya, "Tuhan, jauhkanlah aku dari segala macam penyakit. Sehatkanlah selalu jiwa dan ragaku."?

Iya sih. Tapi, kalau yang saya dengar-dengar katanya kalau berdoa ke Tuhan itu minta yang spesifik. Seperti sekarang ini saya lagi sariawan ya saya berdoanya semoga sariawan saya cepat sembuh dan juga minta jangan sariawan lagi selamanya. Sudah bosan saya sariawan melulu dari kecil. Kalau sudah sariawan, mulut saya bisa penuh dengan sariawan. Akibatnya saya jadi susah ngomong, susah makan, dan susah minum. Kalau dipaksakan untuk makan, air mata bisa keluar. Serius. :~

Bahkan saking stresnya saya, saya sampai berdoa di media sosial segala. Berdoa dengan menulis status di Facebook, kadang-kadang di Twitter. Dengan harapan kalau Tuhan tidak mendengar doa saya sehabis sholat, sewaktu saya mau makan, sewaktu saya menangis karena sariawan, atau dimana saja saya berdoa, mudah-mudahan Tuhan mau membaca status saya. Hah! Macam Tuhan punya akun Facebook dan Twitter saja. 

Tapi ya saya kembali lagi berpikir saya berdoa minta supaya jauh dari sariawan bukan berarti saya tidak mau juga dijauhkan dari berbagai penyakit lain. Seharusnya doa saya itu ada kelanjutannya ya? "Tuhan, jauhkanlah aku dari penyakit sariawan dan berbagai macam penyakit yang lain. Amin."

Eh tapi, bukannya Tuhan Maha Tahu ya? Meski saya tidak menambahkan doa, seharusnya Tuhan sudah tahu isi hati saya kan? Dia tahu saya inginnya apa. Tuhan tahu saya tidak ingin sakit apapun (lagian memangnya ada orang yang mau sakit?). Jadi, baik doa yang spesifik banget maupun doa yang general banget ataupun doa yang (bagi kita manusia) absurd banget, seharusnya Tuhan tahu kan maksud hati saya apa? Halah, jadi njelimet begini.

So, kalau saya berdoa sapu jagad, "Tuhan, Engkau tahu apa yang aku mau. Kabulkanlah. Amin." seharusnya Tuhan oke-oke saja. Tapi, terkadang yang tidak "oke-oke saja" itu malah orang lain. Kalau saya cerita saya berdoa begitu ke teman-teman saya (ngapain juga kali ya saya cerita-cerita ke orang lain saya berdoa apa? Gebleg.), pasti ada satu atau beberapa yang menegur saya. Mereka pasti bilang,  "Kalau doa itu mbok ya yang spesifik, yang jelas kamu maunya apa." Lah, maunya saya banyak. Kalau ditulis bisa berlembar-lembar kertas ukuran A4. Apa setiap kali saya berdoa saya harus membawa catatan doa saya itu biar ingat semua doa saya--yang jadi maunya saya--biar saya tidak lupa? Namanya juga manusia, ingatan manusia kan terbatas. Kadang ya, sudah saya catat pun saya mau berdoa apa, sudah selesai berdoa tetap deh ada yang ketinggalan. Contohnya nih, "Aduh, harusnya tadi saya juga berdoa kalau saya juga ingin punya selingkuhan seperti Jeremy Renner dan Adam Levine! Jangan cuma minta doa ingin punya pacar seperti Rafael Nadal!" Perihal doa itu bakal dikabulkan atau tidak, itu urusan lain. Yang penting kan sudah berdoa. *eh*

Jadi, untuk berjaga-jaga daripada ada doa yang tertinggal, lebih baik doa sapu jagad kan? :O *ditimpuk bata sekampung*

Ya, begitulah kira-kira renungan saya semalam yang saya tuliskan di pagi ini. Sayang kalau tidak dituliskan. Anggap saja sebuah pengingat bahwa saya pernah berpikir seserius ini. Jarang-jarang lho saya mikir serius. Seringnya berpikir yang tidak serius-serius. Saya mah seringnya berpikir yang menyenangkan hati saja lah pokoknya. Jadi agak bangga juga saya bisa mikir serius. *halah* 

Eh tapi, jangan kalian anggap ini terlalu serius ya. Tak baiklah bagi kesehatan kalian. Halah.

Monday, February 20, 2012

Random #3

Kadang saya iri kalau melihat blog-blog sebelah yang isinya jelas, temanya jelas. Si empunya blog sudah tahu dia ingin menulis apa di blognya. Jadinya, blognya terarah, visi dan misinya jelas. Halaaaaah... kok jadi ngomongin visi misi ya? Berat banget. :O

Tidak seperti blog ini yang tidak jelas isinya tentang apa. Gado-gado. Kadang terlalu personal, kadang ngeriviu film dan buku, kadang ocehan tidak jelas. Kadang bingung sendiri juga mau menulis apa di sini. Padahal niat baik saya sih saya ingin menulis terus di blog ini, kalau bisa setiap hari. Kalau beberapa hari atau minggu atau bulan tidak menulis di sini rasanya seperti ada yang kurang. Tapi, yang jadi kendala itu pas ada niat mau menulis sayangnya saya tidak tahu mau menulis apa. Seperti sekarang ini. Saya lagi bingung mau update apaan di mari. :O

Tiba-tiba saya kepikiran kenapa tidak saya tuliskan saja pengalaman saya di hari Sabtu kemarin dan cerita saya hari ini? Saya tidak bisa janji ceritanya bakalan seru sih. Tapi yaaa tidak ada salahnya berbagi cerita, kan?

Cerita 1

Cerita pertama kejadiannya hari Sabtu tanggal 18 Pebruari 2012 kemarin. Hari itu saya, Ses Renny, dan Papa pulang ke Bandar Lampung. Kami naik pesawat Garuda pukul 08.30 dari Bandara Soekarno-Hatta. Berhubung jam di tangan baru menunjukkan pukul 07.10 kami bertiga memutuskan untuk duduk-duduk saja dulu di lounge, tepatnya di lounge B*I. Karena Papa punya kartu kredit bank tersebut jadi beliau tidak bayar. Sementara saya dan Ses Renny kalau mau menumpang di lounge tersebut harus bayar karena kami kan tidak punya kartu kredit B*I.

Berikut percakapan antara Papa saya dan Mbak-mbak yang bertugas:

Papa Ganteng (PG) : Jadi berapa, Mbak, bayarnya untuk dua orang?
Mbak-mbak Cantik (MC) : Rp 150ribu, Pak.
PG mengeluarkan uang dua lembar Rp 100ribu dan MC mengembalikan satu lembar Rp 50ribu. 
PG sambil memasukkan uang kembalian ke dalam dompet : Voucher-nya mana, Mbak?
MC langsung terlihat gupek. Grasak-grusuk gak jelas. MC menyerahkan dua lembar voucher lounge dan uang Rp 30ribu. Tertera angka di voucher tersebut sebesar Rp 60ribu. Jadi, untuk dua orang seharusnya Rp 120ribu, bukan Rp 150ribu.

Berarti kalau Papa saya tidak menanyakan voucher kami, uang Rp 150ribu itu masuk ke kantong Mbak-mbak itu dong ya? Anehnya tiap kali kami ke lounge tersebut kalau kami tidak minta voucher lounge-nya, niscaya kami tidak akan diberi vouchernya. Kejadian ini sudah dua kali terjadi pada kami.

Cerita 2

Cerita kedua baru saja kejadiannya pagi tadi. Pagi tadi saya menemani keponakan saya, Jihan, ke dokter mata karena matanya sebelah kiri bengkak. Di Bandar Lampung sudah ada rumah sakit khusus mata, jadi kami pergi ke sana.

Sewaktu bayar obat di apoteknya yang juga di rumah sakit mata tersebut, saya disuruh bayar Rp 545ribu. Tidak ada struk pembayaran. Jadi saya tidak tahu obat-obat ini masing-masing harganya berapa. Sebagai konsumen di apotek itu harusnya saya berhak tahu dong ya rincian harga obat yang saya beli? Awalnya saya suruh Jihan untuk minta rincian harga, tapi oleh Jihan saya cuma dikasih kwitansi pembayaran. Dengan sopan saya samperin lah Mas-mas di kasir apotek.

Kimi Cakep (KC) : Mas, saya mau minta rincian harga obatnya. Nggak bisa ya?
Mas-mas Jutek (MJ) : Gak bisa, Mbak. Kalau mau paling bisanya sama kopi resepnya.
KC : Harusnya kan ada rinciannya, Mas. Ada struknya. Di struknya itu tertulis rincian masing-masing obat harganya berapa. Ini kan hak saya.
MJ : Iya, Mbak. Tapi, kami tidak ada. Masa' semua yang beli obat di sini kami kasih rinciannya begitu.
KC : Lah, Mas, saya beli obat di apotek mana aja ada struknya dan ada rinciannya.
MJ : Tapi, kami tidak ada.

Sampai di sini saya mau semprot Mas-mas itu dengan bilang makanya diadakan dong. Masa apotek tidak punya struk dan rincian pembayaran. Tapi, saya cuma bilang begini:

KC : Ya sudah. Ditulis di kertas aja gak bisa, Mas? Ayah saya kalau soal beginian cerewet banget. Dia mau tahu rinciannya. Biar jelas dan biar saya gak dioceh-ocehin beliau karena saya gak ngasih rincian harganya.
MJ : Oke. Sekarang saya mau nulis dimana?
KC : Masnya gak punya kertas? Mau saya beliin kertas?

Oke, kalimat terakhir "Mau saya beliin kertas?" itu hanya di benak saya saja. Tadinya mau saya bilang begitu, tapi Mas-masnya sudah berhasil menemukan kertas dan nulis deh rincian harga obatnya di kertas itu. Mas-masnya tetap jutek dan senyum sinis gitu deh. Biar tidak semakin jutek, saya minta maaf berkali-kali kalau merepotkan dia. Tapi, teteeeeep deh Mas-mas itu tetap jutek. Ya sudah, saya sih masa bodoh. Mau dia jutek, mau dia mengumpat-ngumpat di belakang saya, selama saya dapat apa yang jadi hak saya, ya saya cuek aja.

Ya begitulah dua cerita saya di tulisan kali ini. Semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. #ngok *dikeplak beramai-ramai* 

Sunday, February 19, 2012

Untitled #29

Sebelas hari yang lalu saya kembali membuka e-book novel dari Charles Dickens. Saya ingin kembali mencoba untuk membaca novelnya, setelah dulu--entah kapan--saya gagal menyelesaikan membaca novelnya yang saya sendiri lupa judulnya.

Sebelas hari saya mencoba membaca A Tale of Two Cities, tapi tidak selesai-selesai saya baca. Saya menyerah. Saya tidak sanggup melanjutkan membacanya dan saya tidak berniat untuk membaca lagi karya-karya Dickens yang lain. Bagi saya diksinya Dickens tingkat dewa, bukan tingkat amatir seperti saya. Gaya tulisannya pun "ajaib" bagi saya. Jangan tanya apa yang saya maksud dengan "ajaib" itu. Satu paragraf saya baca berkali-kali baru bisa saya cerna maksudnya apa. Kalau begitu terus, sampai kapan baru bisa selesai saya baca A Tale of Two Cities sementara masih banyak buku lain yang ingin saya baca? Apa boleh bikin, saya tutup saja dan tidak saya buka-buka lagi A Tale of Two Cities.

Sekarang saya mau jadi pembaca yang jujur saja lah. Maksudnya kalau saya memang tidak mengerti buku yang saya baca (entah itu karena bahasanya, gaya menulisnya, atau yang lain), saya tidak akan capek-capek untuk menamatkan membacanya. Tutup saja bukunya dan cari buku yang lain yang lebih mudah dibaca. Selesai perkara. Kalau memang saya tertarik betul dengan buku tersebut, namun sudah serius baca tapi tetap tidak mengerti lebih baik saya tanya dengan yang lebih mengerti saja deh. Atau baca riviunya, atau baca wikipedianya saja. *halah*

Dan pastinya saya tidak mau berpura-pura menyukai suatu penulis atau buku tertentu. Saya tidak akan ikut-ikutan baca suatu buku kalau kenyataannya saya memang tidak suka. Berkaitan dengan tulisan kali ini, saya cuma mau bilang saya tidak suka Charles Dickens. 

Monday, February 6, 2012

Selamat Ulang Tahun!

Dulu bagi saya setiap ulang tahun itu menyenangkan. Setiap malam sebelum ulang tahun saya pasti akan terjaga sampai tengah malam. Menunggu pukul 00.00. Menanti sms pertama ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman. Dan ponsel pun tidak pernah jauh-jauh dari genggaman. Setiap saat melihat layar ponsel untuk mengecek ada sms baru dari teman saya atau tidak. Biasanya saya baru melepas ponsel saya kalau hari di saat saya berulang tahun telah berakhir. 

Dulu saya bisa mendapat banyak ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman sekolah saya. Inbox saya bisa penuh. Oke, itu agak lebay sih. Tidak sampai penuh, tapi cukup banyak lah. Maklum, dulu kan teman saya (cukup) banyak. Dulu saya masih rajin bersosialisasi dengan teman-teman. Masih sering ngobrol, ngegosip, ngejelek-jelekin orang. Masih juga sering main bareng mereka. Teman-teman yang dulu dekat dengan saya itu ingat tanggal lahir saya dan tiap tahun mereka pasti mengucapkan selamat ulang tahun.

Sekarang gimana? Sekarang masih ada sih yang mengucapkan selamat ulang tahun ke saya, tapi tidak sebanyak dulu. Yang mengucapkan malah teman-teman baru. Beberapa ada juga teman lama yang mengucapkan. Sayangnya, teman-teman yang dulu dekat dengan saya sepertinya sebagian besar sudah lupa tanggal lahir saya. Ya tidak apa-apa sih. Mungkin karena saya sejak kuliah saya sudah tidak lagi smsan, nelpon, atau bertemu dengan mereka. Jangankan untuk ngerumpi, sekadar menanyakan kabar pun tidak. Perlahan jarak pun tercipta diantara kami. Jadinya lambat laun mereka melupakan saya. Sama seperti saya yang juga melupakan mereka. *eh* 

Kalau dulu setiap malam sebelum ulang tahun saya begadang menunggu sms ucapan dari teman-teman, sekarang setiap malam sebelum ulang tahun baru pukul sembilan saya sudah pergi tidur. Kenapa dulu saya begitu antusias menyambut ulang tahun, tapi sekarang malah lempeng saja? Entahlah. Kalau dulu saya senang mentraktir teman-teman di hari ulang tahun saya, tapi sekarang mau nraktir? Ih, lagi bokek. Sori ya. Sekarang kalau ada yang minta ditraktir, jawab saya, "Makan-makannya di rumah masing-masing saja ya." :D *pelit*

Tapi, bukan berarti saya tidak senang ada yang mengucapkan selamat ulang tahun ke saya. Saya senang banget malah. Itu artinya mereka ingat sama ulang tahun saya. Itu artinya mereka peduli sama saya. Tapi ya, lebih senang lagi kalau ada yang ngasi kado ke saya. :d

Penggemar: Kalau tahun ini bagaimana, Kim? Yang pertama mengucapkan "Selamat ulang tahun, Kimi." siapa?

Kalau tahun ini, yang pertama mengucapkan Fitria lewat Facebook. Itupun kecepatan beberapa jam. Hihihi... Tapi, tak apalah. Yang penting Fitria ingat ulang tahunku. :)

Kemudian berikutnya orangtua, kakak-kakak, dan keponakan-keponakan, juga teman-teman yang lain.

Penggemar: Kalau kado? Ada yang ngasih gak?

Ada dong. Kakak saya tercinta, Ses Renny, ngasih saya handuk dua biji! Entah apa maksudnya Ses Renny ngasih saya handuk. Menyuruh saya secara halus biar rajin mandi kali ya? :|


Bungkus kadonya lucu ya? :k 


Dan Papa ngasi saya kado televisi baru buat di kamar saya. Ish ish ish, kalau Papa mah selalu ngasi hadiah ke saya. Mau ulang tahun atau gak, kalau Papa sedang ada rejeki dan sedang baik hati pasti beliau ngasi saya sesuatu.

Ah, sebenarnya saya mah tidak mengharapkan kado yang gimana-gimana. Cukup ayah saya sembuh total, beliau dinyatakan bersih dari kanker, dan selamanya kankernya tidak datang-datang lagi sudah menjadi kado terindah buat ulang tahun saya. Sekarang kami semua hanya masih bisa berdoa dan berharap. Dan saya suka banget wish-nya dari Mario (eh, tidak apa-apa ya aku tuliskan di sini, Mar?):

Wish-nya untuk tahun ini buat bapakmu aja ya. Semoga beliau tabah dan tambah sehat...dan semoga Kimi juga sabar menemani beliau.

Eh  tapi, saya tidak menolak sih kalau dikasih ipod, iphone, macbook, harddisk eksternal, ebook reader terbaru. Dikasih Rafael Nadal juga tidak akan saya tolak. *kalem*


So, selamat ulang tahun Cristiano Ronaldo, Carlos Tevez, dan siapapun yang berulang tahun di tanggal 5 Pebruari! Pokoknya semoga semua keinginan kita tercapai ya. Semoga semua doa yang bagus-bagus dikabulkan Tuhan. Amin.

Sunday, February 5, 2012

Nephew oh Nephew

When I want something so bad, I barely can get it out of my head. I always think of it all the time. Like few years ago. I was in a mall when I saw a cheap handphone. I didn't know why I wanted to buy that handphone at that moment. But, I tried to forget it and I walked pass by that handphone shop. And I went home.

On my way home, that handphone was always on my head. I thought about it until I got home. Okay then, maybe it was a sign that I should buy it. They say when you want something wait until you get home. If you're already at home and you're still thinking about it that means you really want it. And that happened to me. So, believe it or not, I went back again to the mall and I bought that cheap handphone. It only cost me around IDR 200,000.

When I was in my senior year in high school, I really really wanted to study at University of Indonesia. There is a story behind it (why I wanted so much to study there), but it's not about it. I put my best effort to get there. I studied hard. And all my hardworks were paid off when finally I could make my dream came true. 

Ain't I cool? I really persevere when I want something. Oh, wait, does it include wanting an android phone? Errr... I think it does. :D

*Please, don't protest me when I use word "persevere" when I'm talking about my desire on material things. :P

I sold my Blackberry because I was bored with that not-so-smartphone. Besides, I was tempted with android. So, I sold Bing and I saved my money to buy an android phone. Om Galeshka suggested me to buy Samsung W. Thanks to him, since he suggested me Samsung W, I was thinking about it all the time. Seriously. I wanted Samsung W sooooo bad. I really wanted it! But, I couldn't buy it straight away after selling my Blackberry. I didn't have money. Surely IDR 3 millions is a lot of money for a jobless person like me. My plan was got a job and bought Samsung W immediately after getting my first salary. Question is: when will I get a job? 

Unfortunately, I couldn't bear that want anymore. I didn't have anymore patience. I said to myself, "Okay, screw it. I don't care if I have to spend all my saving to buy that damn phone!" So, on January 30, 2011 I bought Samsung W. Finally! 

I know I am such a compulsive person. On that day, without anymore considering thoughts, I asked my nephew, Haikal, to go with me to Mall Kartini (MoKa). I didn't tell him at first that I wanted to buy a new handphone. I wanted to keep it as a secret. There is no secret in my house, you know... Even walls in my house can't be trusted.

So, I went to MoKa with Haikal. I didn't know what in his mind was. When we're leaving my house, he looked like as usual the way he look. I mean, with his cool face, small eyes, and not much talking how can I guess what he's thinking? Okay, maybe I'm the one who can't read people's face. Or lack of sensitivity to know people's feeling.

Next thing I know while we're in the handphone shop, Haikal looked upset. He put his both arms on the glass table and covered his face. I asked him if he wanted ice cream or drink, he only gave me short answer, "No." I asked him for his opinion about Samsung W, he only said, "Good."  Before I dropped him off in his house, I thanked him for accompanying me. His answer was only closing the door car.

Fine. There must be something wrong with him. I could sense it, even though he didn't tell what was going on. And my sense was right. His mother, who also my sister-in-law, told me that Haikal was upset with me because I didn't buy him a Blackberry. I was bewildered. What was my fault?

My sister-in-law said when I asked Haikal to go with me, he thought I was going to buy him a Blackberry like I'd promised him before. So, when his expectation wasn't fulfilled, he got mad at me. He didn't want to talk me. Oh my, my, my...

Well, I did make a promise to Haikal that I would buy him a Blackberry. But, not on the day I bought my Samsung W. I promised him that because his cousins (my other nephew and niece), Fajri and Dewi, were given Blackberrys from their aunt. Clearly not from me, since I don't have money to buy two Blackberrys, but from their aunt from their father's side.

I understand Haikal's feeling. Seeing his cousins have Blackberrys, he must have wanted to have it also. Many his friends at school also have Blackberrys in their hands. I understand what social pressure must feel like. Although he never asks for it, I can tell that he wants Blackberry, too. So that's why I made that promise. 

But still I don't understand why he got mad at me because I bought my own handphone. Does he know that my saving quickly dropped its number after buying my Samsung W? Maybe he thought I should have bought him Blackberry first before I bought my handphone. I have promised him after all... Well, maybe he's right that I should keep my promise before I keep my personal interest. 

Well, he doesn't need to worry. I'm a person with her words. I will keep my promise. Just be patient, okay, Haikal? But, if you keep your attitude this way, it'll only make me break my promise to you.

Saturday, February 4, 2012

Untitled #28

Dear readers, first of all I'm so sorry if my posts lately are too personal. And I'm so sorry if you're bored with that. I only want to share my feelings with you through this blog. And it appears lately I only want to talk about my father.

I've just come back home from Singapore. Next Sunday on February 12 I'll be leaving again to the country. Too be honest, it's very tiring. Can you imagine how tired I am now? And every two weeks I must go there accompanying my father. Unfortunately it's not a holiday trip or travelling for fun. 

In 2009 when my father got his first cancer in colon, I wasn't really there for him. Thinking about it now makes me feel really sorry. I was too busy with my college at that time. I prefer college to my father! Can you imagine that?! Oooohhh I'm soooo damned! But I have to admit here, that I wasn't really close with my parents. I wasn't really care with them. Until I don't know how or why or when I was starting to change. 

I want to be close with my parents. I want to love them with all my heart. I've been pondering more and more. I'm trying to fathom everything, including my parents. All of this is leading to one point that I actually love my parents. No matter what I have to make them happy and proud of me.

So, when my father asked me to come back home after I'd finished my study, I said yes. He wanted me to take care of him--at least until his chemo will finish, I said okay. Even though there are doubts, egoistic thoughts. Thoughts like "I want to find a job now" or "I'm tired already" keep coming in my mind, I'll always try my best to put them aside. 

Please let me tell you this. It's not only the sick one that needs support, but we (as his/her family or loved ones) need support also. Since my father is sick June last year, I had been stress. I had cried. I was in one state that I wanted to go leaving my family behind. To be exact, that was when we're in Singapore for almost two months. My father was hospitalized and I wasn't going along really well with my mom and my big sister. Thank God, now I'm not like that anymore (but sometimes I often feel tired though). I'm not complaining nor whining. All I'm saying is taking care of our loved ones needs big effort and sacrifice. And it will be a lot easier when all family members are united and supporting each other. 

My friend once said to me that taking care of our parents will get big big big rewards from God. Maybe now God will be thinking to forgive all my sins and He will send me to heaven in Judgment Day. I don't care about that. Since I have decided to be with my father for time being, not in the slightest bit in my mind I ask for rewards. Either from God or from mere mortal human. I'm simply doing all of this because I love my old man. I'm afraid I don't have a chance to take care of him. I don't know how long my father will live. I don't know how long I will live. So, as long as there is a chance to take care of my father, I'm taking it and doing it as best as I can.