Saturday, March 31, 2012

[Book] Ronggeng Dukuh Paruk

Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan VII, November 2011)
ISBN: 978-979-22-7728-9
Harga: Rp 65.000

"Nanti kalau Srintil sudah dibenarkan bertayub, suamiku menjadi laki-laki pertama yang menjamahnya," kata seorang perempuan.  
"Jangan besar cakap," kata yang lain. "Pilihan seorang ronggeng itu jatuh pertama pada lelaki yang memberinya uang paling banyak. Dalam hal ini suamiku tak bakal dikalahkan." 
"Tetapi suamimu sudah pikun. Baru satu babak menari pinggangnya akan terkena encok." 
"Aku yang lebih tahu tenaga suamiku, tahu?" 
"Tetapi jangan sombong dulu. Aku bisa menjual kambing agar suamiku mempunyai cukup uang. Aku tetap yakin, suamiku akan menjadi pertama yang mencium Srintil." 
"Tunggulah sampai saatnya tiba. Suami siapa yang bakal menang. Suamiku atau suamimu." (halaman 38)

Kedua perempuan yang berbincang di atas sedang membicarakan Srintil. Srintil dipercaya telah kerasukan indang ronggeng. Bagi warga Dukuh Paruk, ronggeng dianggap dapat mengangkat harkat dan martabat dukuh kecil mereka. Memiliki ronggeng adalah kebanggaan tersendiri bagi mereka. Oleh karena itulah, sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng, menggantikan ronggeng yang mati dua belas tahun yang lalu, nadi kehidupan Dukuh Paruk kembali berdenyut.

Dukuh Paruk adalah sebuah pedukuhan yang kecil, miskin, dan terpencil. Tidak ada pendidikan formal di sana.  Mereka tidak bisa baca-tulis. Mereka bodoh. Juga tidak ada pelajaran moral. Maka tak heran kalau umpatan kasar, ucapan tidak senonoh, suami yang bercinta dengan istri tetangga dan dibalas dengan istrinya bercinta dengan suami tetangga, adalah hal yang biasa bagi mereka. Jadi, meski baru berusia sebelas tahun, biasa saja bagi warga Dukuh Paruk jika Srintil menjalani bukak-klambu, salah satu syarat untuk menjadi ronggeng. Tanpa bukak-klambu, tak mungkin Srintil bisa naik pentas dan memungut bayaran. Bukak-klambu sendiri semacam lelang keperawanan. Bayangkan, usia 11 tahun! :o

Srintil pun menjadi ronggeng yang dipuja dan dicinta. Dia banyak mendapat tawaran pentas dimana-mana. Semua pria ingin bersama Srintil. Pria mana yang tidak mau tidur bersama Srintil yang cantik dan masih muda? Berkat Srintil lah Dukuh Paruk menjadi terkenal. Namun, karena kebodohan warga Dukuh Paruk sendiri yang mudah diperdaya, mereka terseret arus politik di tahun 1965. Dukuh Paruk dibakar. Srintil dijebloskan ke penjara. Dukuh Paruk kembali terpuruk.

Dua tahun dipenjara, Srintil pun bebas. Kehidupan penjara membuatnya menyadari bahwa dia ingin meninggalkan kehidupan lamanya. Dia bertekad ingin menjadi wanita somahan. Tawaran untuk meronggeng ditolaknya. Ajakan untuk tidur juga ditolaknya, meski Srintil ditawari hadiah yang menggiurkan. Dia mempunyai mimpi baru: ingin menjadi istri seseorang dan mempunyai keluarga sendiri.

Ronggeng Dukuh Paruk adalah novel yang sangat menghanyutkan saya. Dari halaman pertama saya langsung jatuh hati. Sudah lama sepertinya saya tidak membaca novel dari penulis Indonesia yang bisa membuat saya larut dalam cerita. Deskripsi pedesaan yang dijabarkan Ahmad Tohari terasa sekali pedesaannya. Dengan mudah saya dapat membayangkan suasana pedesaan Dukuh Paruk yang miskin, kering, dan sengsara. 

Tokoh-tokoh digambarkan secara kompleks. Karakter Srintil tidak mentok di satu tempat. Dia berkembang. Dari gadis kecil sebelas tahun yang bangga akan menjadi ronggeng menjadi Srintil dewasa yang menyesal telah menjadi ronggeng. Karakter-karakter lain juga digambarkan dengan kompleks. Emosi mereka, lika-liku hidup mereka, pertentangan batin, semuanya sangat jelas dideskripsikan. Jadinya sangat terasa dan mengena di saya. Rasus, pasangan suami-istri Kartareja, Sakarya, Sakum, Bajus, dan lainnya meninggalkan kesan mendalam.

Meski Ronggeng Dukuh Paruk dikritik habis-habisan di sini, saya tidak mempermasalahkan hal-hal yang terlalu teknis begitu. Apa yang penting bagi saya Ronggeng Dukuh Paruk dapat saya nikmati. Karena tulisan Ahmad Tohari yang sangat bagus dan mengalir dengan lancar. Alurnya yang, menurut saya, meliuk-liuk seperti menggambarkan kehidupan tokoh utamanya yang penuh liku. Penuh kegetiran. Penuh kepahitan. Srintil dibawa ke puncak saat sedang tenar-tenarnya dia menjadi ronggeng, kemudian dia jatuh. Dalam sekali. Sempat dia diberi harapan tinggi, namun terhempas. Sampai di akhir cerita Srintil tidak bangkit dari jatuh. Dia semakin terpuruk. Saya jadi sedih. Siapa yang senang tokoh utama cerita dibikin sengsara di akhir cerita? Tapi, ada sebuah penghiburan dari Rasus. Membuat saya tidak terlampau sedih.

... Tetapi lidahku tiba-tiba kelu ketika petugas bertanya tentang hubunganku dengan Srintil.
"Istri?"
"Bukan. Aku masih bujangan."
"Adik?"
"Bukan. Hanya saudara."
"Hanya saudara?"
Aku diam dan menunduk ...
... Samar, samar sekali, kulihat petugas rumah sakit itu tersenyum. Pasti dia tidak mengerti ada gempa yang sedang mengguncang hatiku. Dengarlah kata-katanya yang seloroh.
"... Lalu maafkan aku, Mas. Dia bukan istri, bukan pula adik sampean. Maaf, pasien itu calon istri sampean barangkali?"
"Ya!" (halaman 402) 

Rasus akan menikahi Srintil. Rasus mau menerima Srintil justru di saat Srintil sedang terpuruk dalam sekali.

Skala 1 - 5, saya beri nilai 5 untuk Ronggeng Dukuh Paruk.

p.s.: Gambar diambil dari sini

Sunday, March 25, 2012

Susah Komentar

Belakangan ini saya baca di Google Reader beberapa narablog (khususnya mereka yang ngeblog di wordpress) mengeluh dengan peraturan baru dari wordpress. Saya sendiri sudah mengeluh semingguan terakhir, mungkin lebih. Gara-garanya, saya tidak bisa komentar di blog wordpress tanpa login terlebih dahulu. Rupanya e-mail yang biasa saya pakai untuk komentar itu sudah pernah saya daftarkan di wordpress dan gravatar. Wordpress berkeberatan untuk meloloskan komentar saya kalau saya belum login ke wordpress.

Masalahnya, saya kan tidak ngeblog lagi di wordpress. Memang saya masih ada blog di sana, tapi sudah malas saya update. Saya sudah terlanjur cinta dengan blogspot. Mau pegang dua blog, satu di sini dan satu di sana, rasa-rasanya malas sekali. Satu blog saja mau meng-update-nya susah, apalagi dua. Saya juga tidak tahu blog di sana mau saya isi tentang apa. Jadi, lebih baik saya pegang satu blog saja lah. Biarkan isinya campur-campur. Mau isinya curhatan, sok-sokan riviu film dan buku, maupun sekadar kejadian sehari-hari, ya biarkan saja lah. Dengan begitu, saya jadi lebih terfokus pada satu blog. Dengan satu blog pula, para penggemar saya nanti tidak bingung. Coba bayangkan kalau saya punya blog lebih dari satu. Kasihan mereka harus ke sana kemari hanya untuk membaca blog saya. *plaaaaak*

Balik lagi ke soal wordpress.

Pertama kali saya tahu soal ini dari tulisannya Bang Alex di sini. Tapi, waktu itu saya tidak begitu ngeh. Saya baru ngeh banget waktu mau komen di blog siapa itu ya. Halah, kok jadi lupa sendiri. Yah, pokoknya setelah klik tombol "submit comment", tahu-tahu malah muncul ini:

That email address is associated with an existing WordPress.com (or Gravatar.com) account. Please click the back button in your browser and then log in to use it.

Dasar katrok! Padahal saya komentar kan biar url blog saya bertebaran dimana-mana! Kalau url blog saya dimana-mana kan nanti lama-lama blog saya makin tenar dan saya jadi seleb! Dan saya bisa dapat banyak job untuk menulis paid review! #ngok :r 

Apa boleh bikin. Demi eksistensi sebagai narablog, saya bikin lagi e-mail baru khusus untuk komentar di blog-blog wordpress. Dengan catatan, tanpa daftar ke gravatar lagi. Konsekuensinya, avatar saya yang gambarnya cewek cantik pakai bando dan kacamata, terus tali tank topnya warna hitam terlihat, tidak bisa muncul lagi. :( Sedih sih avatar saya tidak muncul setiap saya komentar, tapi ya apa boleh buat... Ketimbang tidak bisa komentar di blog wordpress. :c

Penggemar: Halah, Kim. Baru tidak bisa komentar saja, kamu sudah sedih begitu. Coba deh tanya ke diri kamu sendiri, sudah ada berapa orang yang protes ke kamu mereka tidak bisa komentar di blog ini gara-gara Disqus?

Ng... Iya sih... Jadi malu sendiri deh... :$

Mohon maaf ya, teman-teman, kalau merasa kesulitan untuk komentar di blog saya yang cool ini. Salahkan saja Disqus yang katrok! Jangan salahkan saya ya... Ya salah saya juga sih kenapa mau pakai Disqus. :O

Wednesday, March 21, 2012

Ribetnya Masuk Sekolah

Ses Renny, kakak saya nomor dua, sekarang sedang sibuk-sibuknya menyiapkan anaknya yang bernama Dewi masuk SMP. Tahun ini dua keponakan saya akan masuk SMP. Dengan catatan kalau mereka lulus UAN ya. *eh* Selain Dewi, keponakan saya satu lagi Haikal juga masuk SMP. Iya, Haikal yang ngambek ke saya karena saya tidak membelikan dia Blackberry. :r

Sebagai adik dan tante yang baik, saya menemani kakak saya ke mana saja dia meminta saya menemaninya. *halah, lebay* Dia meminta saya menemaninya ke sekolah yang diincar untuk anaknya, saya turuti. Ke sini ke sana ke situ, pokoknya kemana saja selama ada upah makannya pasti saya temani. Tidak cuma biar dapat makan gratis sih, saya juga merasa saya harus memberikan semangat dan dukungan ke keponakan saya. Saya memberikan mereka pandangan saya mengenai sekolah-sekolah yang sudah diincar kakak saya untuk mereka. Saya juga ingatkan mereka bahwa masuk SMP sekarang susah dan persaingannya sangat ketat. Jadi, mereka harus berusaha sungguh-sungguh kalau mereka mau masuk SMP yang mereka inginkan.

Saya jadi ingat waktu saya sekolah dulu. Sepertinya, masuk SMP tidak seribet sekarang ya? Dulu hanya ikut ujian nasional, lulus, dapat NEM (Nilai Ebtanas Murni. Benar kan ya?), terus daftar deh. Kebetulan SD saya dulu mendaftarkan siswa-siswanya secara kolektif ke SMP. Jadi, saya terima beres saja. Dari pihak sekolah saya cuma diminta mengisi formulir dan ada satu pertanyaan saya mau masuk SMP mana saja. Dulu kami diberi dua pilihan SMP. Kalau tidak masuk SMP pilihan pertama, masih ada yang pilihan kedua. Kalau tidak masuk dua-duanya, ya salah sendiri kenapa pilih SMP yang syarat masuknya NEM yang tinggi. :O

Sekarang ini kalau melihat syarat-syarat pendaftaran masuk SMP kok sepertinya susah sekali. Nilai rapor lima mata pelajaran kelas 4 (semester 1 dan 2), kelas 5 (semester 1 dan 2), dan kelas 6 (semester 1), yaitu Matematika, IPS, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, minimal nilai rata-ratanya harus sekian per bidang studi. Masih ada tes akademik dan tes potensi akademik. Oke, itu mungkin masih biasa ya. Ada di salah satu sekolah yang persyaratannya menurut saya sudah seperti mau melamar kerja jadi PNS. Dua persyaratannya adalah melampirkan surat berkelakuan baik dari SD-nya dan surat pernyataan bahwa si calon siswa memang anak kelas 6 SD. Nah lho!

Pertama, surat berkelakuan baik itu untuk apa? Sewaktu saya pertama mendengarnya otomatis saya kepikiran mau minta di kantor polisi. Kok repot banget sih? Ternyata mintanya dari SD si calon siswa toh. Tetap saja saya bingung. Untuk apa? Di benak saya jadinya menuduh kalau sekolah SMP tersebut hanya mau menerima anak baik-baik saja, yang tidak bandel, menurut kepada bapak dan ibu guru. Halah. Kalau pihak sekolah SD tidak mau memberi surat berkelakuan baik, bagaimana? Si calon siswa tidak bisa daftar masuk SMP dong? Tapi ya itu berarti jahat juga pihak sekolah kalau sampai tidak mau memberi surat tersebut. Hihihihi...

Kedua, surat pernyataan bahwa calon siswa memang kelas 6 SD. Ini seperti meminta kartu kuning yang menyatakan kita memang mencari pekerjaan. Lagi, untuk apa? Kalau mau masuk SMP harus yang sudah lulus SD kan? Kalau mau ikut ujian kelulusan SD harus kelas 6 dulu kan, tidak bisa masih kelas 5 tahu-tahu ikut UN? Atau jangan-jangan sebelumnya pernah terjadi penipuan sehingga syarat seperti ini harus dibuat? o_O

Penggemar: Kimi, kamu ini rewel sekali sih! Namanya persyaratan, ya ikuti saja! Kalau tidak mau, ya keponakanmu jangan disuruh daftar di sekolah itu!

Wah, kalau soal itu mah jelas bukan wewenang saya. Pastinya itu haknya orangtua keponakan saya lah. :D

Sebenarnya sih saya mau iseng tanya ke panitia penerimaan siswa baru SMP tersebut. Tapi, takutnya panitianya tidak terima saya tanya macam-macam dan keponakan saya langsung dicoret. :r

Sunday, March 18, 2012

Where Can I Get Cheap Books? But, I Prefer Free Ones.

Ever since I've known Gigapedia (now known as library.nu, but I prefer the old name), I fell in love with that website. It helped me a lot to find books I need and want, from novel to psychology textbooks. From Stephenie Meyer to Carl Sagan. Yes, I know what I did, which was downloading e-books illegally, was against the law. I feel wrong also, but problem is do you have any idea how much book price now, especially textbooks? It's expensive! I can't afford to buy it no matter how long I've been saving my money.

Getting materials--movies, songs, e-books, etc.--for free from internet is tempting, for sure. You can get entertained, gain knowledge, all for free! But, of course, there are parties who don't like that. All their hard works were in vain. They don't get money from all their works which we've stolen (read: illegal download). They have rights to protest, after all. They are right to fight to get what they deserve.

I can understand that. Totally understand.

I know it is really hard to write a book. From getting an idea, to write it, to work on it, it could take months, even years. And when it's published, the next day we can get the softcopy on internet. Again, for free! Same goes with songs, games, films, etc. 

But, as I've told you earlier, I don't have money to buy ALL books that I want, considering their expensive price, so download them ilegally from internet is the best option that I have. It's a sad thing, I know. :(

And since I can't access Gigapedia anymore because this SOPA-PIPA thing, it really is breaking my heart to pieces. They shut Gigapedia down. It really makes me frustrated. Where the hell I can get another free e-books, heh? Okay, I can be fine without reading novels, so I don't really need to download them. I still can read novels by renting them from a book rent near my house. But, non-fiction books? Textbooks? All books with my preference themes, like psychology, philosophy, evolution, popular science, etc.? Where can I get them?! HAH?! From bookstores in my hometown? Oh, don't make me laugh. From libraries in my hometown? Oh, don't make me crying out loud.

And, please, don't tell me to buy them from bookstores outside my hometown or from book online shop. I KNOW THAT. I'd gone to Kinokuniya in Singapore. When I checked their price, it made me gasp! Their price were ranging from SGD 20, 30, 40, 50, 60, 70, and rising and rising, like skyrocket went to outer space. 

Knowledge should be free. If you--publishers--can't give it for free, well at least, can you give us a very reasonable price that we all don't mind to take money from our purse and buy your books? I need to read those books, dear publishers. There are still many questions are unanswered and I have to find all the answers from those books. I still want to learn... 

Please, be kindly enough to give us back our Gigapedia. 

p.s.: Here is good opinion about the Gigapedia shuttingdown. And now I hope they don't shut down another remaining file-sharing websites. *fingers crossed* 

Saturday, March 17, 2012

[Song] Spark

First time I'd heard this song when I was in four/fifth grade in elementary school. I immediately fell in love with it. I loved its music. The music was so sweet. I think the piano made it sweet. And I love Tori Amos' vocal. Her voice just added more sweetness in "Spark". 

To all of you who never hear the song, here I insert the video clip. I hope you don't mind to click 'play' and listen this beautiful song. :)






Funny thing is even though this is one of my most favorite songs of all time, the urge to find what's the meaning behind the lyrics only came recently. After fourteen years! Hah! 

So, before I tell you what the song means, let me give you the song lyrics first for you to sing. Or maybe you want to interpret it on your own. 




She's addicted to nicotine patches
She's addicted to nicotine patches
She's afraid of the light in the dark
6:58 are you sure where my spark is
Here, here, here

She's convinced she could hold back a glacier
But she couldn't keep Baby alive
Doubting if there's a woman in there somewhere
Here, here, here

You say you don't want it again
And again but you don't don't really mean it
You say you don't want it
This circus we're in but you don't don't really mean it
You don't really mean it 


If the Divine master plan is perfection
Maybe next I'll give Judas a try
Trusting my soul to the ice cream assassin
Here, here, here

You say you don't want it again
And again but you don't don't really mean it
You say you don't want it
This circus we're in but you don't don't really mean it
You don't really mean it


How many fates turn around in the overtime
Ballerinas that have fins that you'll never find
You thought that you were the bomb yeah
Well so did I
Say you don't want it
Say you don't want it
Say you don't want it again
And again but you don't really mean it
Say you don't want it
This circus we're in
But you don't you don't really mean it
You don't really mean it

She's addicted to nicotine patches
She's afraid of the light in the dark
6:58 are you sure where my spark is
Here



This song actually is about Tori's loss of her baby. She had a miscarriage. She denied herself that she didn't want the baby. She kept saying "You say you don't want it", but actually "You don't meant it". She'd toughen herself by denying. 

For me the most sad lines are:




She's convinced she could hold back a glacier
But she couldn't keep Baby alive



:c 

And my favorite lines are:




If the Divine master plan is perfection
Maybe next I'll give Judas a try
Trusting my soul to the ice cream assassin



I'm not quite sure what those lines actually meant. I read somewhere that "the ice cream assassin" refers to God. Well, if that's true then my guess is those lines were about Tori had been cynical to God or religion. She trusted her soul (or maybe "her soul" here means her baby's life?) to God, but in the end God had disappointed her. She lost her baby, remember? 

God should not make mistakes. God is perfect. Maybe that what "If the Divine Master plan is perfection" means. God should've protected her baby, not let the baby died. And for Tori that was the Divine Master plan is not perfect. To put it simply, she was angry with God.

To be honest with you, after I've found out the meaning of this song, I feel goosebumps every time I hear this song. Sad, but also I have respect for Tori. I admire her struggle after miscarriage. She fought her anger. She made this song, didn't she? And from this song I've learnt that losing a baby must be a tough call for all mothers out there. I can't imagine if that happens to me. For Godsake, please do not let that happen.

I don't have my own kids. Not yet. But, I can feel mother's love. I mean, I have four nieces and six nephews, and I love them all. I often have this imagination that they're all my children. Other times I imagine that how much I want to raise them by myself. And, I don't want to lose them. So, if my love for my nieces and nephews is that much, I wonder how much love I will give to my own children?

Okay, now out of the topic. Another insight about this song is now I wish I could write songs, sing, and play musical instruments. I wish God gave me a music talent. I mean, if I had talent in music, every time I had problems or when I was sad, happy, histerical, or anything, I could make songs. To pour my feelings into lyrics and music. How awesome is that?! Just like Tori Amos did with "Spark". Or other musicians with their works.

Now, suddenly I have my own interpretation about "If the Divine Master plan is perfection". Seriously.

Saturday, March 10, 2012

Untitled #30

I don't know what my subconscious is trying to tell me. I've had dreams about you. Four dreams in three months.  And they all ended in a sad way. :c 

Are they supposed to mean something? Or is it you that is trying to tell me something? Maybe you were thinking of me but didn't know how to reach me, then you used a telepath way. You came in my dreams. Hah! I think I've been watching movies too much.

I kinda miss you, you know. Too be honest, I never forget you completely. I never can. It's been seven years already, but you're still in my dreams. I guess my love for you is too deep. But, I don't want to call that "love" since you are never mine. 

Friday, March 9, 2012

Juke Si Mobil Idaman

Selama ini saya tidak pernah ribut-ribut soal mobil. Beda dengan ayah saya yang hobi dengan mobil. Kalau ada mobil yang disuka, murah, dan uangnya ada, kemungkinan besar beliau akan beli mobil itu. Entah sudah berapa kali saya melihat ayah saya gonta-ganti mobil. Saya tidak pernah berminat untuk ikut campur setiap kali ayah saya mau beli mobil. Bagi saya, ada mobil bagus ya Alhamdulillah. Kalau tidak ada mobil pun kan masih bisa naik angkot. Apalagi saya punya prinsip punya mobil pribadi turut berkontribusi pada kemacetan. Bayangkan kalau satu keluarga punya--setidaknya--dua mobil. Terus, semuanya keluar di jalan. Sudah jalanan di kota Bandar Lampung ini kecil, tidak ada tol, lalu semua orang sini punya mobil. Mau semacet apa coba kota kecil ini? Belum motor, belum angkot, duh... membayangkannya saja saya sudah mules duluan.

Saya selalu bilang ke ayah saya kalau tidak ada peraturan yang mengontrol pembelian mobil, dalam beberapa tahun ke depan pasti Bandar Lampung macet parah. Semua orang mau beli mobil dan kalau mereka mampu kenapa tidak? Iya, kan? Tapi, dampaknya ya itu... Siap-siap macet parah di Bandar Lampung. Sekarang saja sudah macet dimana-mana, khususnya tiap pulang jam sekolah.

Lah, kok jadi ngomongin macet ya? Semacam lost focus begini... 8|

Balik ke topik awal. Dulu saya memang tidak peduli dengan mobil apapun. Mau sebagus apapun dan mau semahal apapun, saya tidak terlalu peduli. Bagi saya semua mobil itu sama saja. Tapi, itu dulu... Sekarang ini saya sedang tergila-gila dengan Juke keluaran terbaru dari Nissan.


Juke tampak depan (gambar diambil dari sini)


Juke tampak belakang (gambar diambil dari sini)


Keren banget kan? Tiap kali saya melihat mobil ini di jalan raya, saya tak bisa melepas pandangan saya sampai mobil ini hilang sendiri dari pandangan. Sebegitu terhipnotisnya saya.

Saya tahu pertama kali ada Juke sewaktu sedang bermacet-macet ria di salah satu jalan tol di Jakarta. Waktu macet itu, mata saya langsung tertuju ke mobil warna merah yang bentuk belakangnya lucu banget. Saya penasaran mobil apa itu kok lucu? Mau baca merknya yang ada di belakang mobil itu tidak terbaca karena saya rabun. Untunglah jarak mobil kami dan si mobil merah lucu itu semakin dekat sehingga saya bisa membaca JUKE. Langsung saya simpan dalam memori saya dan berharap saya tidak akan pernah lupa. Tapi, bagaimana mungkin bisa lupa kalau begitu berkesan?

Begitu saya pulang di Bandar Lampung, ternyata mobil yang saya taksir sudah ada di kota ini! Saya melongo. Itu kan mobil baru! Di Bandar Lampung kok sudah ada yang punya sih? Hahahaha... Ndeso sekali saya ini. Di Bandar Lampung kan ada juga orang kaya dan up to date. Barangkali mereka itu senang mengikuti perkembangan mobil jadi tahu ada Juke kemudian tertarik untuk membeli. Atau memang mereka didekati penjual mobil sehingga tahu dan berminat dengan Juke. Atau memang sayanya saja yang cupu tidak tahu apa-apa. Sepertinya sih kemungkinan terakhir ini yang paling besar kemungkinannya. *halah*

Lucunya, sejak ada Juke saya seperti anak-anak ABG yang sekarang sedang ngefans dengan SuJu atau SM*SH. Tiap kali mobil ini lewat di depan saya, saya spontan bilang, "JUKE!" Bahkan, saking senangnya saya sampai iseng menghitung tiap kali saya melihat Juke. Waktu hari pertama saya melihat Juke di Bandar Lampung, sudah ada lima mobil yang berseliweran. Kurang tahu juga kalau sekarang sudah ada berapa Juke di sini. Sudah semakin banyak sepertinya... Dan saya belum punya Juke... :c

Penggemar: Kim, memangnya kamu pikir beli mobil semudah beli kacang rebus? Harganya mahal tahu!

Iya, saya tahu harganya mahal. Namanya juga kepengenan. Mana tahu ada di antara penggemar saya atau pengunjung blog ini yang kebetulan mampir yang cukup berbaik hati atau gila untuk membelikan saya Juke. Ya barangkali saja, kaaaaaan? Kita tidak pernah tahu, kaaaaan? Iya, kaaaaan? *pasang muka memelas biar dibelikan Juke*

Sambil menunggu seseorang membelikan saya Juke, untuk sekarang cukup lah saya elus-elus saja gambarnya.  Sabar ya, Juke, suatu saat nanti kamu pasti ada di garasi rumahku. *cium-cium gambar Juke*

By the way, cuma mau ngasih tahu saja sih. Saya melafalkan 'Juke' sama seperti saya melafalkan 'JuPe'. Serius. #penting #duniaharustahu

Monday, March 5, 2012

It's My New Bad Habit

I can say in my family I am the only one who loves reading, besides my father. Since I was a child, if my mind serves me right, my parents didn't give me any influence to love books. If some people say, their love for books was first begun when they were kids, when their parents left them in a bookstore, their parents read them stories every night, or their parents always gave them books, it didn't go like that for me. My parents rarely took me to a bookstore, they never gave me books, nor they read me stories before I went to bed.

I started to fall in love with books when I was in junior high school. My first novel to read was Harry Potter and the Chamber of Secrets. I fell in love with Harry Potter immediately, and I fell in love with books ever since. Every time I opened a book, I couldn't put it down before I finished reading it. I could read Harry Potter and the Order of Phoenix 18 hours straight without sleeping. I only closed the book when I needed to pee or to eat. Okay, 18 hours maybe a little bit exaggerated. :D

Then, this reading hobby continues. Until now. And the last 5-6 years, my love for books is getting deeper and deeper. *halah* 

Unfortunately, based on my own observation, my reading pace now is soooo slow! In fact, it's too slow. I used to finished reading a book in a day, but now if I could finish reading a book in 3 days, that would be WOW! I mean, I'm bringing my book every where I go. It feels awkward if I don't have a book in my hands. But, I don't read it seriously. Usually I only read fifty pages maximum when a lazy feeling comes. Then, I put my book down and never open it again until the next day or two days later. Or until I remember that I'm reading a book. Besides that, now I've got problems with concentration. I can't concentrate when I'm reading. I'm easily distracted with anything. For example, I'm reading for five minutes then I stop to play games in my handphone for, like, one hour. So, I don't need to be surprised if I can finish reading a book in 1-2 weeks, maybe in a month for a 300-pages book. 

Because now I'm already used to this slow-reading pace, it's difficult for me to break that bad habit. I need to change. I need to focus, to concentrate, to be serious in reading books. I mean it seriously if I want to make it as my new habit. And if I want to succeed my 50-nonfiction-reading challenge this year.