Friday, April 27, 2012

[Blog] Otakkukusut

Mungkin seperti yang teman-teman sudah tahu bahwa saya suka blogwalking. Saya suka mencari-cari blog yang (menurut saya) bagus untuk saya langgan di Google Reader saya. Perburuan blog itu bisa dari twitter, narablog yang memasang tautan blog lain, dari BlogCatalog, dari mana-mana deh.

Nah, dari perburuan itu *njir, "perburuan"* beberapa bulan ini saya mulai rutin mengikuti satu blog yang dengan segera menjadi salah satu blog favorit saya. Blog itu adalah Otakkukusut. Pertama kali mampir ke blog Mbak Nayarini ini waktu beliau jadi narablog tamu di blog Mas Donny Verdian. Setelah membaca tulisan Mbak Nayarini berjudul "Kawin Campur" di blog Mas Donny, membuat saya tertarik untuk mengklik tautan ke blognya.

Lupa juga apa tulisan pertama yang saya baca di sana. Pokoknya cukup untuk membuat saya yakin untuk memasukkan Otakkukusut ke Google Reader saya. Dan sesudahnya saya tidak menyesal sudah berlangganan blog Mbak Nayarini. Halah, "tidak menyesal". Macam membeli barang saja. :O

Tulisan-tulisan Mbak Nayarini enak dibaca dan mudah diikuti. Meski topik tulisannya berat, tapi dibuat ringan jadi enak dibacanya. Bahasa yang dipakai membumi, down to earth banget deh. *halah* Maksud saya, biasanya kalau tulisan dengan tema berat, bahasanya pun berat. Banyak jargon yang pembacanya belum tentu mengerti. Ya wajar sih, bukan tulisan ilmiah juga ya. Seperti yang Mbak Nayarini pernah ungkapkan dimana gitu yaaa (ini terbatas pada ingatan saya) blognya itu sebagai tempat untuk menumpahkan pikiran-pikirannya yang membuat otak Mbak Nayarini sampai kusut begitu. Wahihihihi... *langsung dikeplak sama yang bersangkutan* 

Saking membuminya, kadang tulisan Mbak Nayarini jadi panjang begitu. Untungnya nih ya... Karena asyik, tulisannya mengalir, meski panjang, saya tidak bosan membaca tulisan Mbak Nayarini. Meski tulisannya panjang, pasti akan saya baca sampai habis. Biasanya sih kalau sudah ketemu tulisan panjang begitu, saya menyerah. Satu-dua paragraf masih saya ikuti. Tapi, semakin saya scroll down dan sepintas saya lihat masih banyak paragraf di bawahnya, I give up. Kalau sudah begitu, saya akan bertanya-tanya sendiri, "Ini kapan selesainya saya baca dah?" Bukannya apa-apa, tulisan panjang, satu paragraf terdiri banyak sekali kalimat, dan tidak asyik dibaca, juga membosankan, untuk apa saya teruskan membacanya? Iya, toh?

Ya sudah. Akhirul kalam, silakan mampir ke blog Mbak Nayarini Otakkukusut. Kalau suka, boleh lah langsung berlangganan blog beliau di reader kalian masing-masing. ;)

Thursday, April 26, 2012

Untitled #33

Pernah tidak kalian mengalami apa yang saya alami sekarang? Maksudnya begini... Sekarang ini saya merasakan keinginan yang luar biasa besar *halah, lebay* untuk meng-update blog. Tapi, yang membuat tidak keren adalah saya tidak tahu mau menulis apa. Pokoknya ingin menulis saja di blog. Jadinya ya beginilah... Tidak jelas juga ini tulisan apa. Yang penting update blog.

Ya sudah. Biar sedikit jadi lebih jelas tulisan ini, saya mau promo photo blog saya. Silakan mampir. Mohon maaf kalau foto-foto saya di sana jelek. Maklum, bukan tukang foto. Cuma asal jepret saja. Ya siapa tahu kalau saya sering jepret sana-sini, lama-kelamaan hasilnya semakin bagus meski cuma bermodal kamera saku dan kamera ponsel. Siapa tahu...

Tuesday, April 24, 2012

[Book] Kisah Langit Merah

Seperti yang sudah saya janjikan di sini, kali ini saya mau menulis buku yang sudah saya baca, yaitu Kisah Langit Merah

Inti ceritanya biasa saja sih. Standar. Cinta, mengejar cita-cita, berpetualang. Tidak ada yang baru. Tapi, yang menarik bagi saya dari buku ini adalah cara berceritanya. Meski alurnya maju-mundur, tak jelas di tahun berapa setting ceritanya sehingga membuat saya menebak-nebak, dan meski sering terjadi pengulangan kalimat-kalimat di beberapa tempat, saya menyukai buku ini. Meski standar inti ceritanya, tapi tidak mudah ditebak kelanjutan ceritanya.  Konflik yang dibangun berwarna, jadi tidak bosan bacanya. Menurut saya sih, premis cerita pasti itu-itu saja. Tapi, yang membuat suatu cerita itu menarik ya konfliknya, cara membangun ceritanya, dan gaya tulisannya. Ini sih menurut pendapat sotoy saya. Nah, Bubin Lantang ini dari ketiga hal yang baru saya sebut tadi beliau  bagus di ketiga hal itu. Jadinya asyik aja gitu baca bukunya.

Dan, ini alasan paling subyektif. Saya suka buku ini karena disebut-sebutnya (sedikit meski tidak banyak) kota kelahiran saya: Bandar Lampung. Plus, daerah yang ditulis Bubin Lantang seperti Kampung Sawah dan sekitarnya itu adalah tempat saya tumbuh dan berkembang. Rumah saya (sekarang ditempati kakak tertua saya) di daerah Kampung Sawah! Bangga deh rasanya Kampung Sawah masuk novel. Hihihihi... :O

So, dari skala 1 - 5, saya kasih nilai 4 untuk Kisah Langit Merah.

Info Buku:

Judul: Kisah Langit Merah: Keberanian Untuk Terus Melangkah
Penulis: Bubin Lantang
Penerbit: Gagasmedia (cetakan I, tahun 2009)
Tebal: vi + 318 halaman
ISBN: 978-979-780-303-2

Monday, April 16, 2012

Untitled #32

One day Om Warm told me one name: Bubin Lantang. The first thing that came to my mind was, "What is Bubin Lantang?" Of course, I didn't say this to him. I didn't want to give him an impression that I was... ehm... clueless. 

So, it turned out that Bubin Lantang isn't a thing, it is a person. He is a writer, Om Warm's most (I think so) favorite writer. Do you know what next thing came to my mind? Well, I thought what kind of name Bubin Lantang was. I never heard a name like that before. Of course, again, I didn't tell this to Om Warm. :D

Om Warm told me vehemently that Bubin Lantang wrote good novels. His novels had Bandar Lampung (yes, my hometown) as their setting. I was shocked. Okay, I have to admit that I never heard or read a novel with Bandar Lampung as its setting. I mean, Bandar Lampung. A small city that is never really caught people's attention. A small city that is not popular compare to other cities in Indonesia. A small city when every time I mention it to my new friends in campus, they raised their eyebrows and said, "Bandar Lampung? An elephant city, right? It still has many jungles, right?" Right. :|

What Om Warm had just told me made me curious enough that I wanted to read Bubin Lantang's books. A writer put Bandar Lampung as his novel's setting. Yes, I am curious. Put aside my curiosity, I think I have to say thank you to Bubin Lantang. Big thanks. Because he wrote Bandar Lampung in his novels. What he did actually helped Bandar Lampung to be known by many people. He promoted Bandar Lampung through his novels.  At least, people who read his works will aware that there is a city named Bandar Lampung. Well, thank you for that, Mr. Bubin Lantang.

So, now I'm reading Kisah Langit Merah by Bubin Lantang. I've just started to know him. I know it's only a few pages now that I've read, but I already can tell that it has a good story. I think I will like it. Later when I've finished reading it, I'll write about that book here.

And thank you, Om Warm, for introducing me to Bubin Lantang. 

Sunday, April 15, 2012

Panik di Tanggal 27 Maret 2012

Sekarang saya mau berbagi cerita dengan teman-teman semua. Cerita tentang ayah saya. 

Jadi begini ceritanya...

Tanggal 27 Maret lalu, kami pergi ke Singapura. Ayah saya ada jadwal kemo tanggal 28 Maret. Biasanya kami memang pergi ke sana satu hari sebelum jadwal kemo. 

Dari rumah ayah saya sudah mengeluh demam. Suhu badannya tinggi. Sewaktu dibawa ke dokter langganan di Bandar Lampung, ayah saya diberi Sumagesic. Kata dokter ayah saya demam biasa. Sesampainya di salah satu hotel di Singapura, tiba-tiba saja ayah saya menggigil hebat. Kalau dipegang badannya panas, tapi ayah saya malah menggigil. Saya dan kakak saya melakukan apa yang bisa kami lakukan untuk membantu ayah kami. Membuatkan teh panas, memijatnya, memberikan minyak angin, tapi tidak ada perubahan yang berarti. Ayah saya tetap menggigil.

Saya menelpon klinik Dr Tan Yew Oo, tempat ayah saya menerima kemonya. Asisten Dr Tan, Miss Mala, ternyata sudah memesan kamar di rumah sakit. Saya langsung mengajak ayah saya ke rumah sakit, tapi beliau menolak. Katanya besok saja, sekalian kemo. Toh, beliau bilang kondisinya sudah membaik. Dan memang dia tidak seberapa menggigil, tapi tetap badannya masih terasa panas.

Apakah dari sini keadaannya sudah mulai membaik? Belum. Ternyata malah lebih parah.

Tak lama dari ayah saya bilang kondisinya dirasanya membaik, beliau mau ke kamar mandi. Dari sini saya mulai merasa panik dan takut. Ayah saya seperti orang linglung. Jalannya pelan, bicaranya mulai kacau, dan bahkan tidak tahu letak kamar mandi di mana. Kakak saya pun menuntun ayah saya masuk kamar mandi. Di kamar mandi entah ayah saya bicara apa. Tidak jelas. Saya dan kakak hanya bisa menjawab, "Iya, Pa. Iya..."

Keluar dari kamar mandi, saya semakin panik dan takut. Saya melihat perubahan yang luar biasa dari ayah saya. Beliau jalan tertatih-tatih dan... bahunya seperti menempel di dagu. Bisa dibayangkan, kan? Beliau jadi bongkok. Juga bisa dibayangkan, kan? Keluar dari kamar mandi, ayah saya langsung duduk di kasurnya. Menyandarkan badannya ke tembok. Kami memang memesan tempat tidur yang twin bed dan ayah saya memilih kasur yang menempel di tembok.

Saat itu ayah saya sudah tidak bisa lagi diajak bicara. Beliau seperti hilang kesadaran. Saya dan kakak mencoba mengajak ayah saya berkomunikasi. Reaksi beliau hanya diam atau tertawa. Saat itu kami tahu bahwa kami harus segera ke rumah sakit. Saya segera menelpon resepsionis hotel untuk minta bantuan. Anehnya, sebelumnya saya tidak menangis meski melihat ayah saya sudah seperti itu keadaannya, tapi ketika menelpon resepsionis air mata saya langsung jatuh. Saya cuma bisa bilang tolong segera kirim orang ke kamar, ayah saya sakit, dan kami mau ke rumah sakit sekarang. 

Pikiran saya sudah macam-macam. Jangan-jangan kanker ayah saya sudah menyerang otak. Jangan-jangan ayah saya sudah dementia. Yes, thoughts like that.

Saya tidak bisa berpikir dengan jernih bagaimana membawa ayah saya turun dari lift. Saya sudah membayangkan ayah saya harus digotong pakai tandu segala. Padahal, ada yang namanya kursi roda. Tapi, tidak terpikir sama sekali oleh saya. Jelas saya tidak kuat membopong ayah saya keluar dari kamar, turun ke lobi hotel, dan masuk taksi. Apalagi ayah saya saat itu bandel sekali. Dalam artian, apapun yang kami minta untuk beliau lakukan, seperti memintanya untuk berdiri, jalan, duduk, tidak mendapat respon sama sekali dari beliau. Beliau hanya diam. Seolah-olah tidak mendengar kami. Seolah-olah kami tidak ada di sana. Ayah saya sibuk dengan dunianya sendiri. 

Masuk taksi pun kami mengalami kesulitan. Ayah saya masih belum bisa diajak komunikasi. Beliau tetap "bandel". Butuh tiga orang untuk membuatnya masuk taksi. Baru kami bisa ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, ayah saya masih "bandel". Beliau tidak mau turun dari taksi. Padahal sudah disiapkan kursi roda untuk membawanya langsung ke kamar. Mungkin ada sekitar 10-20 menit ayah saya berhasil dibujuk untuk naik kursi roda. Fiuh, sungguh perjuangan...

Sesampai di kamar, obat-obatan dan infus sudah siap semua. Ayah saya langsung diinfus. Masuk kamar di rumah sakit, ayah saya sudah bisa diajak berkomunikasi. Kami ajak beliau ngobrol, beliau sudah menjawab. Saya sudah mulai tenang. Sudah bisa tertawa. Sudah bisa becanda dengan ayah saya. Saya bilang, "Pa, Papa ingat gak nama Papa siapa? Ingat gak kenapa kita ke sini?" Sungguh anak yang kurang ajar saya ini. :O

Dokter favorit ayah saya, Dr Tay Khoon Hean, datang ke kamar. Beliau ngobrol dengan ayah saya, bahkan ayah saya tertawa dengan Dr Tay. Ya tanya-tanya juga semacam: "Pakcik ada makan tak?", "Kenapa tak mau makan?", dan lainnya.

Melihat kondisi ayah saya semakin baik, saya disuruh kakak saya pulang ke hotel. Kakak saya yang jaga ayah saya di rumah sakit. Saya pun pulang ke hotel dengan sedikit tenang. Ayah saya sudah di tangan yang profesional kok. Pasti mereka bisa menjaga dan mengobati ayah saya. Tapi, tetap saja saya tidak bisa tidur dengan tenang di malam itu. Saya sering terbangun dan langsung mengecek ponsel saya takut ada panggilan tak terjawab dari kakak. Takut terjadi apa-apa dengan ayah saya. Untunglah, sampai pagi tidak ada telpon dari kakak. Berarti ayah saya aman-aman saja. Alhamdulillah.

Pagi-pagi saya sudah ke rumah sakit dan pertama yang diucapkan kakak saya ketika melihat saya adalah, "Kim, Papa tadi nanya kenapa Papa ada di rumah sakit. Kapan Papa masuk rumah sakitnya?" Saya bengong. Lah, kan tadi malam ngobrol dan tertawa dengan Dr Tay? Masa' tidak ingat? Tidak hanya soal itu, kami pulang ke rumah pun ayah saya tidak ingat kalau beliau sudah di CT scan dada dan perutnya. Beliau malah tanya kapan beliau di-scan? Duh, padahal ya waktu beliau di-scan itu beliau mengobrol dengan saya dan kakak. :|

Penggemar: Jadi, Kim, ayahmu sakitnya apa?

Ternyata dari hasil tes darahnya ada infeksi di tubuh ayah saya (meski hasil scan tidak menunjukkan ada bakteri di liver dan di paru-parunya). Saya jadi tahu infeksi bisa separah itu. WOW. Dan yang bikin saya lebih WOW lagi adalah dokter di Bandar Lampung cuma memberi ayah saya Sumagesic karena kata dokter itu ayah saya demam biasa. :|

Saya langsung bilang begini ke ayah saya, "Berarti, Pa, kalau yang akan datang Papa sudah demam lagi, badan panas dan gak turun-turun panasnya, Papa langsung tes darah aja. Mungkin itu infeksi lagi."

Begitulah cerita saya kali ini. Pesan yang ingin saya sampaikan dari cerita ini adalah kalau sakit, cari dokter yang bagus. Dan cari second opinion.

Friday, April 13, 2012

Demi Kesehatan Jasmani dan Rohani

Pasti kita semua pernah merasakan yang namanya bosan. Bosan makanan yang itu-itu saja, bosan dengan tempat nongkrong yang itu-itu saja, bosan dengan pacar atau pasangan hidup yang itu-itu saja. *eh* *abaikan yang terakhir* Dan pastinya pernah bosan dengan kehidupan yang itu-itu saja.

Nah, sekarang saya lagi bosan dengan hidup saya yang sekarang ini. 

Penggemar: Kenapa bosan, Kim?

Ya, bosan. Tahu-tahu sore tadi ketika saya baru sampai rumah dan merebahkan badan saya di kasur, saya merasakan kebosanan itu. Saya bosan. Lelah juga. Setiap hampir dua minggu pergi menemani ayah berobat. Dan selama menunggu jadwal keberangkatan yang berikutnya, saya hanya diam di rumah. Pergi keluar dari rumah hanya untuk menemani orangtua atau kakak saya yang mengajak jalan. Hiburan saya hanya Salwa, The Voice, buku, dan internet. 

Dulu kalau saya bosan biasanya saya atasi dengan nonton film. Cukup sewa dvd di toko rental dekat rumah. Sekarang saya sudah jarang nonton. Bisa dibilang sudah tidak biasa lagi nonton. Mau nonton film saja sudah ada pikiran "Malas ah" duluan. Aneh kan? Nonton film saja malas. :|

Sekarang kalau saya sedang bosan, saya biasa melakukan self-talking. Saya ngomong ke diri saya. Saya bicara jujur dengan hati sendiri. Apa sebenarnya yang membuat saya bosan? Kenapa saya bisa bosan? Semacam refleksi diri gitu deh. Kadang self-talking ini saya lakukan melalui tulisan. Ya, menulis di buku harian atau di buku harian digital (baca: blog yang diprivat). Kadang ya lewat renungan. Seharian merenung, mungkin berhari-hari. Bergelut dalam pikiran sendiri. Kadang kalau sudah tidak tahan lagi ya saya ngomong ke orang lain, "Cuy, gue bosan. Bisa bantuin gue biar gak bosan lagi?"

Terkadang saya suka lupa bahwa sebenarnya saya ini masih punya teman, meski sedikit. Tapi, meski sedikit kan tetap saja namanya teman ya. Kalau temannya baik, pasti mau dong kalau saya curhatin. Masalahnya kalau saya perhatikan, belakangan ini (entah sejak kapan pastinya), saya sudah agak malas kalau mau cerita-cerita ke teman. Padahal, saya ini sebenarnya termasuk orang yang "senggol sedikit langsung tumpah". Tapi, belakangan ini untuk memulai cerita ke orang lain tuh butuh usaha yang luar biasa besar.

Mungkin sudah ada perasaan sombong di dalam diri saya yang bilang kalau saya ini sebenarnya tidak butuh orang lain. Bahwa saya tidak butuh teman dekat. Best friends, good friends, who needs that? Kenalan, oke lah. Teman, oke lah. Sahabat? Errr... Gitu deh.

Ya, saya tahu saya perlu untuk belajar membuka diri dengan orang lain. Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjadi sahabat saya. Belajar lagi untuk mempercayai orang lain. Karena punya banyak sahabat itu (katanya) penting. Punya hubungan interpersonal yang baik dengan orang lain itu penting. Demi kesehatan jasmani dan rohani.

Friday, April 6, 2012

Roda Kehidupan

Pasti kalian pernah dengar petuah yang bunyinya kira-kira begini:

"Hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah."

Saya setuju di dalam kehidupan ini kita terkadang di atas, dengan kata lain hidup kita enak. Nah, yang dimaksud dengan "di atas" ini saya juga sebenarnya bingung. Maksudnya kita kaya raya banget atau masuk ke #KelasMenengahNgehe sudah bisa dibilang "di atas"? Tapi, untuk memudahkan tulisan ini mari kita sepakati bersama yang dimaksud dengan "di atas" minimal kebutuhan sandang, pangan, dan papan tercukupi deh. Sementara, yang dimaksud dengan "di bawah" ini berarti tidak bisa atau cukup kesulitan memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Haduh, kok interpretasi saya atas petuah itu materialistis sekali ya? Padahal kan bisa saja maksudnya "di atas" hidup yang tanpa ada masalah yang terus-terusan datang, sedangkan "di bawah" maksudnya kita selalu diterpa musibah. Tiada henti.

Penggemar: "Kita", Kim? Elu aja kali. Gue mah ogah masuk ke dalam bagian "kita selalu diterpa musibah".

Ya, terserah deh. Pokoknya yang saya maksud begitu.

Ngomong-ngomong, kok saya jadi meribetkan diri dengan "di atas" dan "di bawah" ya? >.<

Padahal sebenarnya saya cuma mau mengajak berandai-andai.

Jadi, begini. Sebelum Maghrib tadi tahu-tahu aja kepikiran petuah di atas. Saya jadi mikir kalau petuah tersebut diucapkan oleh orang yang hidupnya dimulai dari nol, merangkak sedikit demi sedikit, akhirnya menuju puncak, pasti petuah tersebut kena banget ya. Dulu hidupnya susah banget, tapi karena dia bekerja keras mengubah nasibnya maka jadilah dia orang yang hidupnya enak banget. Misalnya, seperti kisah nomor satu berikut ini:

"Dulu saya ini tidak punya apa-apa. Dulu saya ini diejek orang-orang karena saya miskin. Tapi, sekarang coba lihat saya. Tanah saya dimana-mana. Rumah saya ada di tiap pulau besar di Indonesia. Uang saya banyak banget. Emas saya berkilo-kilo. Hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Dulu saya di bawah, sekarang saya ada di atas."

Sekarang mari kita bandingkan dengan kisah nomor dua:

"Lihat tuh si Fulan. Dulu mah dia hidupnya senang banget deh. Tinggal ongkang-ongkang kaki duit ngalir ke dia. Bisa beli mobil lima, kaya' beli kacang aja ye. Tapi, coba lihat sekarang. Hidupnya jadi gelandangan begitu. Tuh ya dengerin, yang namanya hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah."

Saya jadi mikir lagi kalau petuah yang sama diucapkan pada orang yang seperti di atas petuahnya kena banget juga pasti ya. Semacam menohok begitu. Makjleb istilah kerennya.

Nah, terakhir saya mikir saya tidak mau nanti saya ketika digunjingkan orang-orang saya jadi contoh kisah nomor dua. Pasti saya jadi malu. Malu banget. Sombong ya saya?

Bukan berarti saya sombong atau mau melawan takdir sih. Mungkin ada yang bilang kalau itu adalah ujian dari Tuhan. Ya, ngerti. Cuma maksud saya, siapa yang senang saat hidup kita di bawah? Takutnya saya tidak kuat kalau suatu saat nanti dikasih cobaan banget. Hidup saya yang terbiasa enak begini, tahu-tahu besok jadi gak enak, misalnya. Ya, mudah-mudahan jangan sampe.

Tapi, kan tidak mungkin hidup kita selamanya lempeng-lempeng, datar-datar aja. Pasti ada fluktuasinya. Halah, fluktuasi. Kaya' harga di pasar aja. 

Saya sih inginnya kalau nanti memang hidup saya harus di bawah, ya jangan di bawah banget lah. Biar nanti bisa cepat naik ke atasnya. Gaya banget saya pakai acara nawar segala? :vD

Atau gampangnya gini deh. Mulai sekarang persiapkan diri sebaik mungkin. Saya tidak pernah tahu kapan cobaan itu datang. Jadi, pas dikasih cobaan saya sudah siap. Siap mental maksudnya. Jadi, saya bisa dengan segera mencari cara untuk mengatasi cobaan dan hidup saya bisa on track lagi. Perlahan-lahan hidup saya bisa naik ke atas. Jadi, kalau saya ngobrol sama orang-orang, saya bisa mencontohkan diri saya seperti kisah nomor satu di atas.

Sekian perenungan saya sebelum Maghrib tadi. Dipikir-pikir saya ini jadi manusia sombong banget ya?

Thursday, April 5, 2012

RIP Pikapa

For the last one year, I have bought three gadgets that I consider as my most favorite things that I have ever owned. First, my e-book reader. Second, my (second) laptop. Third, my new android handphone. I really love these three things. There is no regret after I bought them. The feeling which left inside my heart is satisfied.

Yes, I'm satisfied and happy with them. I feel like just by owning Pikapa (my e-book reader's name), Sophie (my laptop's name), and Alejandro (my handphone's name), I don't want any other gadgets that may have more advanced technology than theirs. For me, they are enough. I won't bother look for another gadgets until one day that they're old enough, broken, lost, or stolen. 

But, it seems now that I have to buy a new e-book reader. :|

Pikapa is broken.




This morning I pressed Pikapa's power button to turn it on. I wanted to charge him (yes, Pikapa is a "he". I decided him to be a "he"). Unfortunately, he didn't want to turn on. But, his indicator light was red. That was indicating that he was charging. I had unplugged his battery and pressed his reset button, but no result. He's still silent.

I'm sooooooo sad! What make me sad is Pikapa was a birthday present from my father. He gave me Pikapa last year on February 12, 2011. Well, not literally he gave Pikapa to me. But, he gave me money to buy Pikapa. :P

Just to let you know, I didn't name my e-book reader "Pikapa". I named him first "Pinkbook". I changed Pikapa's name from Pinkbook because I didn't feel comfortable with "Pinkbook". Kak Moko came up with "Pikapa" which stands for "Pintar Kaya' Papa". I immediately changed my e-book reader's name to Pikapa!

I'm still sad. Really sad. But, thank God I don't shed a tear on my cheeks. But, still... Sad. Pikapa. A birthday present from my father. Pikapa's dead. :c

May you rest in peace, Pikapa. Thank you for all your hard work to let me read e-books through you. Thank you for all your time that has been spent to accompany me in happiness and sadness. I hope I can buy another e-book reader to replace you. Soon. 

p.s.: Which one do you think is cooler between Nook Simple Touch and Sony PRS-T1?

Wednesday, April 4, 2012

Bandar Lampung and My Complaints

As you may already know I live in Bandar Lampung. For some of you who may have never heard of Bandar Lampung before, maybe you want to take your time to read Wikipedia here

Done? Already read that article? Okay. I know you may still don't really know about my city. Neither do I. I don't really understand my city, either. :O

In this post, I will not write to give you details about Bandar Lampung, like its history, its economic, its government, etc. You can find about that in any other websites. Go search for yourself. Besides, I don't quite master those areas. Do you know what I'm really good at? Complaining.

Fans: So, this post is about your complaint, Kim?

Yes, it is.

I'm complaining that this city is getting more and more crowded. In 2010, population in Bandar Lampung was 881.801 people. For a city with area total is only 197,22 km2, Bandar Lampung is densely populated. Every time I'm inside my car and I go around the city, often--very often--I'm wondering where do these people live? With all that scarce land and stuff, where do these people build their houses? Take for example a newlywed. Where will they live? Will they buy a house or rent a house? It is not a problem if Bandar Lampung still has many vacant land. They can buy a land and build a house, or buy a house in housing. Problem occurs now with land is scarce already. As far as my eyes can see, all land here are built ruko (rumah toko). I don't know what ruko is in English. (Ruko is a building which usually has two or three floors. In the first floor is where people use it for business and the upper floors are used as their homes.) There are too many rukos. Too many until you can see that some of rukos are wasted, inhabited, and neglected.

It is a problem that we're facing now. I can't imagine in the next two, five, ten years, when babies are more born and more couples will be getting married. Okay, I think I can't breathe now. Somebody, please, gives me CPR. I prefer a handsome young man, by the way.

You may give solutions to our Mayor Mr. Herman HN, who selfishly wants to participate in Lampung Governor election in 2013. Let say, you're suggesting him to build apartments instead of rukos. Good point. But, of course, we hope our lovely local government will give us subsidy. So, people from low-middle class can afford it.

That is one point I'm complaining. I still have plenty of complaints, actually. But, for this post I think two complaints are enough.

So, we move on to complaint number two: Bandar Lampung has too many vehicles.

About five or six years ago a traffic jam is something that still rare for me to see in Bandar Lampung. But now, I see cars and motor cycles are every where. With all roads here are small, plus numbers of vehicles are plenty, no wonder traffic jam becomes common now for us, Bandar Lampung citizen.

Based on this article, in 2010 there were 5.472 cars and 47.487 motor cycles. WOW! That was in 2010. The numbers must be rising now after two years. Even though every year vehicles are increasing, but I don't see from local government to do something significant about it (to overcome traffic jam). For example, build highways and more roads, and cheap public transportations.

I believe, if we have cheap public transportation, and of course comfortable, people without a doubt will put their cars and motor cycles in their garages and they will take public transportation. And, for highways and roads, if you have ever come to Bandar Lampung, you know exactly what I mean. Ever since I was born and living here, I don't see any road constructions to add roads or to make roads here wider. But, it's my question actually,  whether is it possible or not to build highways in Bandar Lampung, technically?

Okay. Two complaints are already delivered to you. I hope you enjoy reading it! \m/

Fans: By the way, Kim, who wants to enjoy reading about your complaints? :|

You, absolutely. ^_^

Tuesday, April 3, 2012

Dear Bloggers

Dear Bloggers,

With all due respect, please consider to change your RSS feed blog from summary feed to full feed. For your information, I read your blogs from my Google Reader. If your RSS feed is in summary feed, what is the point I'm subscribing your blogs? You push me to hit "read more" and direct me to your blog. At the end of the day, I don't click "read more" and it means I don't read your posts until finish. I only read what Google Reader provides me to read. So, what is the point you write posts but only some people will read them until last word, while some other people choose to skip reading your posts?

Well, the choice is yours. Either you want to change your RSS feed to full feed or keep it in summary feed. But, as your reader, I also have a choice. Either keep your blogs subscribed or unsubscribed in my Google Reader. So simple.

Maybe you ask me, if it is so simple, why do I bother write this letter to you? Answer is I do still want to read your beautiful blogs. I love your writings, that's why I subscribe your blogs in the first place. But, this summary feed  really annoys me. I'm sorry, but that's the truth.

So, after you read this, oh how I hope so much that you really consider my plea. 

Thank you.

Sincerely,

Your (maybe-not-so) loyal reader.

Monday, April 2, 2012

Mayor Now, Governor Later. Okay, Sir?

About a few weeks ago, I read a local newspaper. It's so rare for you to see me reading a newspaper. I don't really like reading newspapers. Yes, they keep me updated with what's so hype lately. But, sometimes I find myself become distress when I read a newspaper. Seriously. I think newspapers only give us negative news, e.g. never ending corruptions in Indonesia, crimes, bad government, Rafael Nadal loses all the time from Novak Djokovic, etc. That's why I don't want to read newspapers. Why would I want to read something if in the end I become a distressful person? That's why I keep my distance from newspapers, news television, magazine.

Back to what I read. 

I read news that Bandar Lampung's new elected Mayor, Drs. Hi. Herman HN, would go for Lampung Governor election that will be held in 2013. He's gotta be kidding, right? I mean, he's just elected in 2010. It means he becomes a mayor for just two years! How come he wants to leave his position now to become Lampung Governor? 

In my stupid opinion, it only shows to me that Mr. Herman HN is just another man who is hungry of power. He's selfish. He's ignoring his Bandar Lampung citizen who already gave their votes to choose him as mayor. I think, he's betraying their trusts. 

Why don't he runs his office until his reign is finished in 2015? If he wants so badly to be a governor, he can nominate himself for the next governor election in 2018. He will have plenty of time to prepare himself, to campaign. Plus, if he is good in leading Bandar Lampung, it will be his remarkable point, right? People will remember that he's a good leader, that he's capable in leadership. Without a doubt, at least Bandar Lampung citizen will give their votes to Mr. Herman HN.

Well, that's my stupid opinion, though. I'm sorry if some of you feel offended. I write this because I see Mr. Herman HN as a good mayor. There are some progress here in Bandar Lampung under his rule. And, I think it's very unfortunate if Mr. Herman HN leaves his position now to pursue his ambition to become Lampung Governor. I want to see he continues his programmes, instead of taking on furlough to take part in governor election

Sunday, April 1, 2012

Untitled #31

This morning I attended my relative's wedding party. Food was great, decoration was awesome, but unfortunately I didn't like the wedding singers. Do you want to know my reason? Well, a wedding day is supposed to be a happy day, right? But, why on earth the wedding singers sang plenty of sad songs? While I was on the party, I couldn't help myself for thinking, "Is this a wedding party or a heart-breaking announcement?" Just for your information, they sang Adele's "Someone Like You", Celine Dion's "To Love You More", Agnes Monica's "Karena Ku Sanggup". Sorry, that's all that I can remember. I should've written all songs title that they sang just to tell you how desperate the singers were.

I made a conspiracy theory. I think, the wedding singers were hijacking my relative's wedding party. They wanted to tell the whole guests that they're either had just recently been left or been betrayed by their boyfriends or husbands. Or maybe, they didn't like my relative and his wife to be happy, so they sang those sad songs. By singing sad songs, maybe they're praying my relative and his wife to be sad. Were they so numb or what? Couldn't they feel happines coming from my relative? 

That's my theory, though. 

I just can't understand why people sing sad songs in a wedding party? Please, tell me. Unless you are the  groom's/bride's ex-boyfriend/girlfriend and you're still in love with him/her, and you sing a sad song, I can understand that.

p.s.: Now, I'm listening to a sad dangdut song from my neighbour's party. A wedding party. I hear the lyrics were something like "kau khianati akuuu..."