Saturday, May 26, 2012

Kuis Sabtu: Lampung

Kalau Om Warm suka bikin kuis di hari Jumat, maka sekarang saya juga mau bikin kuis di hari Sabtu. Sayangnya, tidak ada jaminan apakah kuis ini bakal rutin saya gelar di hari Sabtu. Berhubung terbatasnya dana kan. Maklum masih pengangguran. Yah, kecuali ada yang mau menyumbang hadiah sih. :O

By the way, kuis perdana kali ini adalah... Mudah saja. Tidak susah kok. Serius! *halah*

Jadi begini, dulu waktu saya masih jadi mahasiswa baru dan kenalan sama teman-teman baru di kampus, tiap kali saya bilang kalau saya dari Lampung, reaksi pertama mereka (biasanya) adalah, "Lampung kan banyak gajah!" Dan saya cuma bisa tersenyum. :O

Nah, untuk kuis kali ini tidak jauh-jauh dari pengalaman saya sewaktu masih jadi mahasiswa baru. Hanya beda sedikit. Saya hanya ingin bertanya ke teman-teman semua, apa yang muncul pertama kali di benak kalian ketika kalian mendengar atau membaca "Lampung"? Mudah, 'kan? :D

Penggemar: Mudah banget, Kim! Ada hadiahnya nggak?

Jelas ada dong! Hadiahnya adalah satu bungkus keripik pisang--oleh-oleh khas Lampung. Soal rasa, tergantung nanti si pemenang mau rasa apa. Ada rasa cokelat, stroberi, melon, keju, susu, dan apalagi ya? Yah, tinggal pilih saja deh mau rasa yang mana. Teruss, biar kalian semangat pada mau ikutan kuis ini, satu bungkus keripik pisangnya bukan bungkus yang kecil lho ya... Tapi, yang isi 500 gram! Banyak kaaan? Makannya ntar bisa rame-rame. Makan bareng sekeluarga, bareng teman-teman, atau mau dimakan sendiri ya terserah. xD

So, tunggu apalagi? Silakan jawab di kolom komentar di bawah ini. Paling lambat saya tunggu jawaban kalian hari Jumat pekan depan. Pengumuman pemenang hari Sabtu tanggal 2 Juni 2012. Oiya, keputusan juri tidak bisa diganggu gugat ya! 

Penggemar: Halah, kau tuh, Kim. Gaya banget ada juri-juri segala. Paling juga menentukan pemenangnya dengan cara diundi. 

Hihihihihi... Ketahuan ya? *blush* :$ Yah, tidak masalah toh? Siapa tahu satu diantara kalian beruntung dapat keripik pisang gratis? :D

Sunday, May 20, 2012

Menikah(?)

Belakangan ini kakak saya yang nomor tiga, Ses Lidya, sibuk sekali ingin mengenalkan saya ke temannya. Katanya sih siapa tahu jodoh... Dan segudang promosi tentang si teman, ya sudah mapan lah, tabungannya sudah sekian lah, ini lah itu lah. Anehnya, saya tidak tertarik sama sekali. Untuk sekadar jadi teman saja dulu, seperti yang Ses Lidya bilang, saya ogah-ogahan. Karena saya sudah tahu niat awalnya dia mau mengenalkan saya ke temannya itu untuk apa: untuk ngejodohin.

Well, sejak sama mantan pacar yang terakhir, saya jadi belajar banyak. Setidaknya saya tahu satu hal kalau saya tidak suka yang namanya matchmaking. Ya, saya dengan mantan dulu saling tahunya karena dikenalin. Belajar dari pengalaman dan merenung *halah*, dipikir-pikir saya ini tidak suka dijodoh-jodohkan atau dikenal-kenalin gitu. Saya lebih suka dimulai dari pertemanan. Maksud saya ya memang pertama kenalnya dari pertemanan dulu, tanpa ada si matchmaker di balik layar. Mudahnya ya... teman dari sekolah, teman kuliah, teman kantor (ya kali kalau sudah kerja, kan), pokoknya yang benar-benar dimulai dari nol. Kalau dari pertemanan itu merasa cocok, kan bisa di-upgrade ke hubungan yang lebih tinggi. Pacaran maksudnya. Bagi saya kalau pacaran dimulai dari teman itu rasanya lebih nyaman karena kita kan sudah saling kenal.

Seperti pengalaman saya dulu... Eh, tidak sampai pacaran ding. Cuma bisa suka banget. Dan suka bangetnya itu masih terasa sampai sekarang. Halah.

Balik lagi ke kakak saya itu. Mungkin dia getol banget ingin mengenalkan saya ke temannya karena dilihat saya sudah berumur segini. Harusnya saya sudah menikah. Kakak-kakak saya itu menikah umur 24-26 tahun. Kok saya malah masih jomblo? Kok tidak mengikuti jejak mereka yang seharusnya pada umur sekian sudah menikah? Teman-teman saya saja ada yang baru awal 20-an sudah menikah. Teman-teman saya sekarang yang belum menikah pada kebelet menikah. Saya? Sekedar berpikir kata "pernikahan" saja sudah takut.

Saya bukan trauma pada kegagalan hubungan pacaran atau karena melihat di sekitar saya ada hubungan pernikahan yang kandas. Karena sesungguhnya di sekitar saya, mereka penganut menikah adalah sekali seumur hidup. Orangtua saya masih awet sampai sekarang setelah 44 tahun usia pernikahan mereka. Kakak-kakak saya juga masih dengan pasangannya masing-masing. Saya takut dengan pernikahan karena... saya sepertinya terlalu banyak melihat atau membaca cerita-cerita orang yang pernikahannya gagal. Entah itu karena hadirnya orang ketiga, faktor ekonomi, faktor berantem terus, atau karena yang lainnya. Di antara sekian banyak faktor itu, saya paling takut dengan yang namanya pengkhianatan. Saya benci dibohongi. Jadi, sebelum saya dibohongi atau dikhianati lebih baik saya menghindar kan? :P

Kebetulan banget waktu itu saya membaca tulisan Mas Hoeda di blognya. Selama membaca tulisannya yang panjang itu, tanpa henti saya mengangguk-angguk setuju. Saya juga takut dengan pernikahan karena saya sudah terlalu nyaman dengan situasi saya sekarang. Saya takut untuk keluar dari zona nyaman saya ini. Saya nyaman dengan orangtua saya, kakak-kakak saya, keponakan-keponakan saya, dan jikalau saya harus keluar dari sini untuk masuk ke lingkungan baru apa saya masih bisa nyaman? Menjadi istri seseorang, menjadi ibu seseorang, menjadi anak menantu seseorang, menjadi kakak atau adik ipar seseorang? Terlalu banyak orang baru di kehidupan saya bisa membuat saya stres sendiri.

Ibu saya mulai menyindir kapan saya menikah. Beliau bilang kalau saya sudah punya pacar jangan lupa dikenalkan ke keluarga. Jujur saja, meski ibu sendiri yang bertanya, saya merasa tidak nyaman untuk ditanya begitu. Kerabat keluarga pun beberapa sudah ada yang bertanya begitu. Beberapa teman juga. Untunglah ayah saya tidak ikut-ikutan mengurusi kehidupan pribadi saya. :D

Saya pernah bertanya ke Kitin kenapa kita harus menikah? Kenapa masyarakat kita "memaksa" kita untuk menikah? Menikah atau tidak itu kan sebenarnya pilihan kita, urusan kita, bukan urusan orang lain. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang hobi sekali mencampuri urusan orang lain. 

Penggemar: "Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang hobi sekali mencampuri urusan orang lain"? "KITA", Kim? Elu aja kali. Gue sih hidupnya di lingkungan orang-orang yang gak mau ikut campur urusan orang lain.

Oh, maaf deh. Saya pakai "kita" dengan maksud biar pembaca juga lebih menjiwai tulisan ini. *tsaaaah*

Lanjut lagi ya. 

Dari pertanyaan saya itu Kitin cuma bilang, "Pokoknya kalau mau menikah jangan karena social pressure." Tuh. Camkan baik-baik. Jangan hanya karena mendapatkan tekanan sosial, desakan dari keluarga, gunjingan tetangga maupun rekan sejawat, lantas kita terburu-buru menikah. Tapi, sesungguhnya saya mengerti berada di bawah tekanan sosial itu sangat berat, jendral!

Seperti yang Mas Hoeda tulis (mudah-mudahan orangnya tidak berkeberatan tulisannya saya kutip di sini):

Tapi saya tidak hidup sendiri di tengah hutan. Maksudnya, saya hidup di tengah-tengah masyarakat yang memiliki nilai-nilai dan standar moral tertentu yang—meski tidak tertulis—namun telah disepakati bersama. Dan salah satu kesepakatannya adalah kawin.

Pertanyaannya sekarang beranikah kita untuk berdiri melawan masyarakat? Bukan untuk mengajak perang, tentu saja. Tetapi untuk teguh memegang apa yang kita yakini. Dalam hal ini tentang pernikahan. Mau menikah, mau tidak menikah, atau memilih untuk kohabitasi itu adalah pilihan kita. Bukan urusan orangtua, keluarga, teman, apalagi masyarakat.

Sekarang kalau kalian tanya ke saya akankah saya menikah? Saya cuma bisa jawab: Nanti, kalau saya sudah berani. Kalau sudah bertemu orang yang membuat saya berani untuk menikah. Tentunya tidak dalam waktu dekat. 

Thursday, May 17, 2012

Random #4

... Jika kaum kapitalis itu bangsa Indonesia, tentulah kemiskinan dan kemelaratan tak akan sepedih itu, sebab sisa keuntungan yang sangat banyak itu mungkin dilemparkan kepada rakyat. Gaji buruh boleh jadi dinaikkan, pengajaran, koperasi rakyat, industrialisasi dan kesehatan mungkin diperhatikan dan diperbaiki. Sekarang tak terjadi, sebab untung yang berlipat ganda terus menerus diangkut dari Indonesia ke luar negeri. (Aksi Massa, hal. 85)

Buku ini ditulis Tan Malaka 86 tahun yang lalu. Tan Malaka punya mimpi yang besar dengan negara ini. Lihatlah kalimat yang saya tebalkan. Jikalau Tan Malaka masih hidup hingga saat ini, mungkin ia akan sedih. Mungkin sekarang ia sedang menangis di kuburnya. Kalau saja bisa bangkit dari kubur, mungkin ia kembali berjuang untuk rakyat. 

Monday, May 7, 2012

Social Media

You know, I've just some thoughts about our social media. I read somewhere that Facebook only make us more stressful or make us have lower self-esteem. That is because we read and see our friends' status and photos and think to ourselves that they are extremely happy and lucky. Then, we ask ourselves why don't we have a happy life just like them?

Now, I'm asking myself. Who wants to post personal sad photos on social media, like Facebook? Believe it or not, I think we want to give so much impression on others that we are happy, thus we post photos of our holiday, our birthday, our big-damn-luxurious house, our family, and so on. Or we write a status that tells people that now we are happy just because we have our brand new car, or we are having trips somewhere, and more.

Funny thing is, often for myself (probably you also), reading negative blogposts or tweets or Facebook status can make me miserable. Who doesn't anyway when you read about cursing, hating, and suffering? Like s/he is the only person that suffers in the world, that there is no one in this world understands him/her, that s/he is forever alone, that no one cares for him/her, that life is cruel to him/her. Now, THAT is what making me stressful. 

See, I do understand that social media is a place where you can write anything what you want. I, myself, have to be honest that I sometimes write in negative tone, too. But, to write negativity so intense? So frequently? Right. Give your readers a break, will you? Let them rest from reading your negative writing. ;)

Fans: But, Kim, you don't understand. Social media is a place where we can pour every thing out from our heart. Sadness, happiness, misery, every thing.

I know. 

But to think of it, I think it depends on our perception. If reading a happy status can make us have lower self-esteem while reading a sad one can make us stressful, which one should we read, then? Should we take an extreme way: delete all our social media accounts so we don't need to read any kind of status? 

The choice is in our hands. It depends on how we look at every thing (those happy and sad tweets/status/blogposts). It is up to us whether we want to happy after we read them or we let that negative aura influences us. We, as readers, also have a right whether we want to read it or to skip it. Just like we, as tweeps, Facebookers, bloggers, etc., whether we want to mourn all the time or spread positive spirit to every one around us in every time.

Saturday, May 5, 2012

Hidup Jujur

Suatu hari saya pergi ke ATM salah satu bank. Waktu itu saya butuh uang buat beli Snackit Pia 100. Eh, nggak ding. Di dompet saya waktu itu lagi kosong. Kata orang, dompet yang tidak ada isi (uang) itu tidak baik. Pamali. Ya sudah, maka pergilah saya ke ATM dan ambil Rp 100ribu saja.

Anehnya, uang yang keluar dari ATM bukan Rp 100ribu, melainkan Rp 200ribu. Saya hitung berkali-kali, tapi tetap ada dua lembar seratus ribuan, bukannya satu. Saya antara senang, takut, dan bingung. Senang karena itu artinya saya dapat rejeki lebih, takut karena takut ketahuan orang lain saya dapat uang lebih dari ATM, dan bingung karena uangnya perlu saya kembalikan atau tidak ke bank. 

Sepanjang perjalanan dari ATM ke rumah, saya berdebat dengan diri saya sendiri. Antara tidak rela mau mengembalikan uang Rp 100ribu dan nilai kejujuran yang selama ini ditanamkan ke dalam diri saya oleh orangtua saya. Buat pengangguran terdidik macam saya *ngok* uang Rp 100ribu nilainya besar. Bisa saya pakai buat beli buku. Toh, tidak ada orang lain yang tahu ini. Eh, tapi tadi di ATM ada CCTV-nya nggak ya? 

Sementara itu, sisi baik dalam diri saya protes. Mari kita namai "sisi baik" saya itu "Angel". *tsaaah*. Jadi, Angel ini bilang ke saya harusnya saya ini malu dengan diri sendiri. Selama ini saya berkoar-koar harus hidup jujur lah, mencemooh para koruptor yang keparat itu lah, ini dan itu, tapi baru dikasih godaan sedikit saja sudah mau menggadaikan nilai kejujuran yang saya anut selama ini. Bagaimana nanti kalau ada uang sebanyak ratusan juta hingga miliaran rupiah dilempar di hadapan saya, tapi saya harus berbuat curang demi mendapatkan uang tersebut? Entah itu menyunat dana pendidikan, uang untuk pengadaan alat kesehatan, atau saya harus memasukkan anak seorang relasi menjadi pegawai. Mungkin juga demi uang sebanyak itu, saya menjadi calo anggaran di DPR.

Maka Angel bertanya ke saya apa saya tidak malu? Hanya pandai berkata-kata, tapi tidak sesungguhnya saya meresapi nilai-nilai kejujuran itu dalam kehidupan saya? Dan, saya jadi malu.

Dengan timbulnya rasa malu itu apa lantas saya serta merta langsung memutar arah ke jalan menuju bank dan bukan pulang ke rumah? Tidak. Kenyataannya saya tetap pulang ke rumah.

Saya tahu kalau saya hanya diam dan tidak bercerita dengan orang lain, maka saya akan ditelan oleh nafsu saya. Saya akan kalah dan uang itu akan saya pakai. Tidak peduli dosa. Tidak peduli malu. Tidak peduli menjadi munafik. Maka sesampainya di rumah saya langsung cerita kejadian tadi ke ayah saya. Ayah saya dengan tegas meminta saya untuk mengembalikan uang tersebut. 

Mendapat penguatan seperti itu membuat hati saya mantap dan tidak bingung lagi. Saya memang harus mengembalikan uang itu ke bank. Bukan soal nominal uangnya yang bagi kalian mungkin kecil, tapi demi harga diri saya. Saya tidak mau harga diri saya tercoreng karena mengambil uang yang bukan hak saya, baik itu Rp 500 maupun Rp 500juta. Maling tetap namanya maling. Curang tetap namanya curang. Korupsi tetap namanya korupsi. Mau dibalut dengan bungkus seindah apapun, kalau isinya buruk ya tetap saja buruk.

Kejujuran itu dilatih dari kecil, dimulai dari kita sendiri. Kejujuran itu harus dibiasakan, seperti yang Aristoteles bilang. Untuk menjadi manusia berkeutamaan, menjadi manusia etis, yang mempunyai nilai-nilai moral, seperti kejujuran dan yang lainnya, kita harus membiasakan diri kita (Suseno, 2012)*. 

Orang yang mau mengembangkan keutamaan harus membiasakan diri untuk bertindak menurut keutamaan itu. Makin lama ia berusaha, makin gampang ia akan melakukannya. (Menjadi Manusia, halaman 40)

See? Menjadi jujur itu tidak mudah. Godaan bisa datang kapan saja dan dimana saja. Tetapi, kalau kita sudah terbiasa menjadi jujur, tentunya akan mudah menolak dan menghindari berbagai perilaku tidak jujur. Pertanyaannya sekarang: Sudahkah kita terbiasa berperilaku jujur?

*daftar pustaka
Suseno, Franz Magnis. (2012). Menjadi Manusia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Friday, May 4, 2012

Ke Salon Siang Tadi

Siang tadi sewaktu saya baru pulang ke rumah dari makan bakso upil (iya, namanya bakso upil. Tapi, bukan terbuat dari upil lah!), Salwa sudah di rumah orangtua saya sambil menangis. Suara tangisannya kencang pula. Apa pasal? Jarang-jarang lho dia menangis kencang begitu. Kalau menangis dengan air mata cuma keluar setitik sih sering ya. *eh* 

Ternyata stiker hiasan untuk kukunya tertinggal di rumahnya. Dia sih bilangnya ke saya, "Kutek Uwa ketinggalan di rumah Mama. Huwaaaaaa..." Nangisnya tetap bo' kencang. Sebagai tante yang baik saya merayunya begini, "Sudah, jangan nangis. Nanti kita ke salon ya. Kemarin kan Uncu sudah janji mau ngajak Uwa ke salon buat creambath. Sekalian aja nanti kita pasang kutek di salon. Oke?"

Singkat cerita, jadilah kami tadi ke salon. Kuku kaki dan tangan Salwa dikutekin dan rambutnya dicuci doang, meski dia bilang ke Mamanya kalau rambutnya di-creambath. :O Sementara saya juga tidak mau kalah. Rambut saya dikasih topeng. Maksudnya di-hair mask. Halah. Terus, badan saya dilulur cokelat dong. *endus-endus tangan sendiri*

Penggemar: Terus, siapa lagi yang ikut, Kim?

Ses Renny dan anaknya, Dewi. Meski kakak saya ikut, tetap saja deh saya bayar sendiri dan bayar punya Salwa. Padahal mah saya sudah mengharap banget kakak saya itu mau membayari. :c

Ya sudahlah, tak apa. Meski tidak dibayari kakak, tapi saya senang hari ini. Akhirnya saya sudah memanjakan tubuh sendiri dan membuat senang keponakan saya. Dan menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih itu membahagiakan diri kita ya. ^_^

Ini semacam mempererat hubungan kami dan sekaligus me-recharge "baterai" saya. Jadi, kemarin-kemarin saya yang sempat suntuk banget, sekarang sudah semangat lagi! :e

Insight dari cerita kali ini adalah sering-sering luluran biar kulitnya bersih. *loh* 

Thursday, May 3, 2012

Cemilan Favorit: Snackit Pia 100

Kalian pernah makan bakpia, kan? Pasti pernah. Saya juga pernah. Dulu. Setahunan yang lalu lah kira-kira terakhir kali makan bakpia yang asli Yogya. Kalau yang snack, belakangan ini saya makan terus. 




Ini namanya Snackit Pia 100. Rajin saya konsumsi tiga bulanan terakhir ini. Pertama kali tahu ada cemilan ini sewaktu saya dan keluarga sedang makan di The Food Festival Restaurant di Bandar Lampung. Keponakan saya tahu-tahu mengambil satu bungkus kecil Snackit Pia 100 yang rasa cokelat. Isinya cuma tiga biji. Pas saya cicip satu, wah enak juga ternyata. Cocok di lidah saya. Saya langsung minta satu bungkus Snackit lagi sama Mbak-mbak pegawai restorannya. 

Nah, berhubung saya ini kalau sudah suka sesuatu bakal beli terus sampai saya merasa bosan, ya jadilah Snackit Pia 100 ini rajin saya beli. Kalau di rumah tidak ada stok, pasti saya langsung kabur ke Indomaret dekat rumah buat beli. Pernah waktu itu di Indomaret, stok Snackit Pia 100 rasa cokelat habis. Adanya yang rasa kacang hijau. Keukeuh saya tidak mau beli karena saya cuma suka yang rasa cokelat, meski sebenarnya yang rasa kacang hijau dan rasa yang lain belum pernah saya coba sih. Saya sampai bela-belain ke Chandra Supermarket untuk beli Snackit rasa cokelat, tapi sayangnya juga habis... Saya langsung pulang ke rumah dengan kecewa. :(

Syukurlah, sejak saya pulang dari Singapura sekitar sebelas hari yang lalu, stok Snakit Pia 100 rasa cokelat sudah banyak lagi, baik di Indomaret dekat rumah maupun di Chandra Supermarket. Muhahahaha... :e

Sampai hari ini saya sudah beli dua bungkus besar (satu bungkus besar isinya enam buah) dan empat bungkus kecil Snackit cokelat. Sekarang tinggal satu biji pianya... *BRB mau makan pianya dulu*


Nah...
...
...
...

...Habislah stok Snackit punya saya. Untuk sekarang saya mau puasa dulu makan Snackit. Soalnya, jujur saja, saya sudah mulai merasa bosan makan Snackit rasa cokelat terus. Hihihihihi... :vD

Tuesday, May 1, 2012

Jalan ke Surga


Apa tujuan manusia dalam hidup? Apa tujuan kita dalam hidup? 

Tujuan saya dan tujuan teman-teman mungkin berbeda-beda. Saya punya tujuan saya ingin punya kerjaan yang bagus, hidup mapan, bisa membahagiakan orangtua, bisa menyenangkan keponakan-keponakan saya, karena dengan melihat mereka bahagia saya pun jadi bahagia. Bahagia. 

Tidak peduli seberapa rinci tujuan kita masing-masing, semuanya bermuara pada satu kata: Bahagia. Jadi, bisa dibilang tujuan akhir manusia adalah bahagia. Setidaknya itu menurut Aristoteles.

Kalau teman-teman tidak setuju dengan pendapat Aristoteles, ya monggo. Kalau kalian lebih melihat hidup ini dengan tujuan akhir kalian adalah surga, nirwana, atau menjadi kekasih Tuhan, ya silakan. Tapi, coba diperhatikan lagi. Masuk surga, nirwana, atau menjadi kekasih Tuhan membuat kalian bahagia tidak? Siapa yang tidak bahagia masuk surga?

Banyak jalan menuju Roma, begitu juga menuju surga. Banyak jalan ke sana. Ada yang jalan lurus langsung ke surga, ada jalan yang berliku-liku, mampir ke neraka dulu, baru kemudian masuk surga. Itu kata guru agama saya dulu. Sayangnya, kita tidak bisa tahu jalan mana yang bisa langsung mengantarkan kita ke surga tanpa harus transit ke neraka.

Ada yang bilang jihad di jalan Tuhan bisa langsung membawa kita ke surga. Jadi, ikhlas menjadikan diri sebagai “pengantin” dengan memasang bom di dada kemudian meledakkan diri di tempat umum dan melukai, bahkan membunuh, orang-orang tidak berdosa diyakini membuat dirinya bisa bertemu dengan Tuhan di surga. Atau, mengusiri orang-orang beraliran tertentu yang sedang beribadah karena mereka dianggap menyimpang dari ajaran agama yang sesungguhnya, mungkin juga dianggap jihad. Atau, menjadi bagian dari pemeluk agama mayoritas dan bertindak diskriminasi terhadap mereka yang beragama minoritas, dianggap jihad juga. Lah iya, mereka yang minoritas itu kan berbeda keyakinan dari si mayoritas. Jadi, dianggap kafir. Mereka yang minoritas itu perlu dibimbing ke jalan yang “benar”. Kalau ngeyel, darahnya halal kok. Kan ini jihad. Berjuang atas nama Tuhan. Menegakkan agama Tuhan. Demi mendapatkan kasih Tuhan. Demi menuju surga yang abadi.

Aristoteles bilang ke saya kira-kira begini, “Oke lah, Kim. Tujuan terakhir elo mungkin surga. Tapi, untuk ke surga itu mbok ya caranya yang benar. Perbuatan-perbuatan yang elo lakukan itulah, bukan surga yang elo kejar, kalau mau elo menikmati hidup.” Ng... Mungkin maksudnya “proses lebih penting ketimbang hasil”? 

Jalan ke surga kan bukan dengan cara membunuh mereka yang dianggap kafir, memusuhi mereka yang berbeda keyakinan dengan kita, atau cara bodoh lainnya. Mengurus orangtua yang lagi sakit bisa membawa kita ke surga. Membesarkan anak sendiri menjadi anak sholeh pun bisa membawa kita ke surga. Kalau kita meninggal, siapa lagi yang mendoakan kita kalau bukan anak kita? Kalau tidak punya anak, mengurus anak-anak yatim dan tidak mampu, memberi mereka pendidikan, memberi mereka makan, membuat mereka bahagia juga bisa membawa kita ke surga. Banyak cara menuju surga yang lebih bermoral ketimbang cara-cara tolol dan picik. Silakan renungkan sendiri cara-cara tolol dan picik itu yang seperti apa.

Franz Magnis-Suseno menulis begini di bukunya Menjadi Manusia:

Manusia hanya manusia apabila ia merefleksikan eksistensinya, apabila ia menghadapi kuasa yang ada--baik kuasa politik, maupun agama, ideologi, ilmu pengetahuan, dan lain-lain--secara dewasa, rasional, kritis, dalam perspektif penegakkan keadilan dan pemanusiaan kondisi masyarakat. (hal. 28)

Dalam hal ini, kalau mau ke surga, gunakanlah otak (akal dan pikiran) yang sudah Tuhan kasih ke kita. Maksudnya, berpikir deh matang-matang kalau buat perencanaan jalan mana yang mau ditempuh buat ke surga. Jangan cuma menerima begitu saja dari yang dikatakan orang-orang, baik itu orangtua, guru agama, guru ngaji, pemerintah, siapa saja. Bersikap dewasa, rasional, dan kritis. Oke? Kasihan itu otaknya kalau tidak dipakai.

Itu juga berarti apa yang saya tulis ini jangan ditelan bulat-bulat. Belum tentu saya benar. Kalau kalian lebih percaya dengan apa yang pacar kalian bilang, ya terserah. Tapi, kan, belum tentu juga dia benar. Halah, mbulet

Karena, begini... Pada akhirnya kalian lah yang bertanggung jawab atas diri kalian sendiri. Nanti di akherat (kalau ada), tidak ada itu yang namanya kalian minta perlindungan ke guru ngaji, guru agama, orangtua, kakek, nenek, suami, istri, presiden, atau ke siapa saja.

Iya, kan?

*tulisan ini dibuat karena terinspirasi setelah membaca buku dari Franz Magnis-Suseno berjudul Menjadi Manusia.