Friday, June 29, 2012

Katanya Wajib

Beberapa hari ini kepikiran soal ikhlas. Katanya beribadah itu harus ikhlas karena Tuhan, yah terlepas soal urusan pahala-dosa dan surga-neraka ya. Sholat, puasa, zakat, pakai jilbab bagi yang perempuan, dan sebagainya.

Penggemar: Itu kan wajib, Kim. Harus dilakukan!

Iya sih. Tapi pertanyaan saya adalah ketika kita melakukannya lantas kita tidak ikhlas bagaimana? Ambil contoh soal jilbab. Sebut saja namanya Bunga. Dia dipaksa memakai jilbab oleh orangtuanya. Dalam hatinya sebenarnya dia memberontak meski dia tahu pakai jilbab itu wajib bagi perempuan yang sudah akil baligh. Dengan sangat terpaksa pakailah dia jilbab demi orangtuanya yang memintanya. Dia tidak mau menyakiti hati kedua orangtuanya. 

Sekarang apa enaknya melakukan sesuatu kalau tidak ikhlas? Pakai jilbab tiap hari tapi hati ngedumel. Untuk apa? Demi menyenangkan orangtua dan takut azab Tuhan? 

Contoh lainnya sebut saja namanya Kembang. Kembang sangat bersemangat mau pakai jilbab karena alasannya satu: buat menutupi rambutnya yang ketombean. Bukan karena Tuhan, bukan karena disuruh orangtua, tapi karena dia tidak pede disebabkan ketombe. Setidaknya dia pikir pakai jilbab itu solusi praktis. Bisalah menutupi rambutnya yang berketombe barang sebentar. Soalnya Kembang sudah pakai shampo anti ketombe merk apa saja, tapi ketombenya masih muncul. Mungkin kita harus suruh dia untuk pergi ke dokter. :O

Satu contoh lagi ya. Soal puasa nih. Kita puasa atau tidak memang tidak ada yang tahu selain diri kita sendiri dan Tuhan. Mari kita sebut namanya Pohon. Okelah dia berpuasa, tapi kalau dia tidak ikhlas bagaimana? Entah apapun alasannya kita berpikir puasa itu sebenarnya untuk apa? Tidak penting. Hati nuraninya mulai mengkritisi nilai-nilai yang selama ini dianutnya. Peperangan batin lah istilah kerennya. Kalau sudah begitu bakal sampai tidak puasa Pohon itu ke Tuhan?

Nah, kalau sudah tidak ikhlas begini bagaimana? Mau dipaksakan bagaimana juga ya tetap seperti ada yang menyangkut di hati. Tetapi, katanya wajib. Jadi, pilih mengikuti hati nurani atau mengikuti "katanya wajib"?

Thursday, June 28, 2012

[Book] Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer

Judul: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (cetakan VII, Juni 2011)
Tebal: ix + 248 halaman
ISBN 13: 978-979-91-0363-5
Harga: Rp 48.000,-

Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer bercerita tentang perempuan-perempuan Indonesia yang bernasib buruk pada masa penjajahan Jepang. Jepang menyebarkan pengumuman--tentu saja bukan pengumuman resmi--akan menyekolahkan remaja perempuan Indonesia ke Jepang. Tentu banyak yang menyambut antusias janji Jepang tersebut. Namun, banyak pula yang tidak mau pergi ke Jepang dan meninggalkan keluarga. Rupanya, diizinkan keluarga atau tidak, tentara Jepang tetap datang ke rumah-rumah untuk mengambil paksa anak perempuan dari keluarganya. Dan sebagaimana akhirnya kita tahu bahwa perempuan-perempuan yang masih remaja itu tidak pergi ke Jepang dan disekolahkan sebagaimana mereka dijanjikan, melainkan mereka menjadi pemuas nafsu seks tentara Jepang.

Pramoedya Ananta Toer mencatat kisah-kisah beberapa perempuan malang yang ditemuinya langsung selama dia menjadi tapol di Pulau Buru, maupun dari cerita orang-orang. Meski buku ini bukan buku fiksi, tetapi saya membacanya selayaknya sebuah novel. Tidak jauh berbeda saya membacanya seperti membaca novel-novel Pram lain yang sudah saya baca.

Perempuan-perempuan itu yang ketika buku ini ditulis mereka sudah tua tetap merindukan kampung halamannya, namun karena mereka berada dalam suatu adat budaya yang tidak memungkinkan mereka untuk pergi meninggalkan Pulau Buru secara leluasa, mereka terpaksa memilih untuk tetap berada di tengah-tengah suku Alfuru. Selain karena keadaan, mereka juga malu untuk kembali kepada keluarga mereka. Bagaimana tidak, mereka yang dijanjikan akan sekolah ke Tokyo rupanya dijadikan budak seks tentara Jepang. Ketika Jepang kalah perang pun, mereka tidak lekas kembali ke kampung halaman karena selain tidak tahu jalan, mereka juga tidak punya uang. Ya, Jepang (dulu) memang sejahat itu. Menjadikan remaja-remaja perempuan sebagai pemuas nafsu tentaranya, kemudian menelantarkan mereka begitu saja. Meninggalkan mereka dengan luka batin yang sangat dalam.

Pram ingin menggugah perasaan kita terhadap mereka yang menjadi korban. Untuk itulah buku ini ditulis. Supaya kita merasakan kepedihan mereka. Karena Pram pun, juga teman-temannya sesama tapol, merasakan kepedihan mendalam ketika tahu perempuan-perempuan Indonesia dijadikan budak seks tentara Jepang. Kepedihan ini dapat kita rasakan terutama di bab terakhir ketika teman Pram, Sarony, sengaja berjalan jauh lebih dari dua puluh jam, naik turun bukit hanya untuk mencari Mulyati, perempuan yang juga menjadi korban Jepang. Menariknya, di bab terakhir ini saya tidak hanya membaca perjuangan untuk mencari Mulyati, melainkan juga kehidupan suku Alfuru di Pulau Buru. Saya seperti membaca buku etnografi. Pertemuan dengan Mulyati-nya sendiri hanya dituliskan sekilas.

Setelah selesai membaca buku ini, dapatlah saya menyimpulkan kalau buku ini lebih mirip buku etnografi ketimbang buku yang mencatat kisah keji perbudakan seks jaman penjajahan Jepang. Terlepas dari itu, sentuhan khas Pram membuat buku ini mempunyai nilai lebih.

Skala 1 - 5, saya beri nilai 3 untuk Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.

Thursday, June 21, 2012

[Book] Canting

Judul: Canting
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan III, Oktober 2007)
Tebal: 408 halaman
ISBN 10: 979-22-3249-4; ISBN 13: 978-979-22-3249-3
Harga: Rp 40.000,-

Canting, simbol budaya yang kalah, tersisih, dan melelahkan.

Canting berkisah tentang keluarga Pak Bei, lengkapnya Raden Mas Daryono Sestrokusuma atau Ngabehi Sestrokusuma, pemilik usaha batik tulis merk Canting. Secara garis besar, Canting dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berkisah seputar Pak Bei di tahun 1960-an, sebelum dan sesaat setelah Ni, putri bungsu Pak Bei, lahir. Bagian kedua berkisah ketika Ni sudah jadi sarjana farmasi dan ingin melanjutkan usaha batik keluarganya, meski ditentang habis kakak-kakaknya.

Sebuah buku dengan tema budaya lokal ini adalah buku yang bagus. Mengangkat canting menjadi tema sentral buku ini. Batik tulis yang dulu berkuasa, sekarang harus terpaksa mengalah dengan batik cap. Dan karena alasan ingin membalas budi kepada buruh-buruh batiknya dulu, Ni ingin menghidupkan kembali Canting, perusahaan batik milik keluarganya.

Terus terang saja ketika saya membaca di sampul belakang buku ini saya menjadi bingung. Di sampul belakangnya tertulis begini:

... Ni menjadi tidak Jawa, menjadi aeng--aneh, untuk bisa bertahan. Ni yang lahir ketika Ki Ageng Suryamentaram meninggal dunia, adalah generasi kedua, setelah ayahnya, yang berani tidak Jawa.

Bagaimana tidak bingung ketika di awal-awal cerita Pak Bei seperti di cerita-cerita dengan tema Jawa lainnya? Seorang priyayi yang menyerahkan urusan bisnisnya ke istrinya, sementara dia santai saja di rumah. Sesekali melakukan pertemuan dengan bangsawan Jawa lainnya, yang kadang pertemuan itu diselingi judi dan wanita?  Sementara istrinya, Bu Bei, patuh dan setia dengan suaminya. Dimulai dari menyiapkan air hangat untuk suaminya hingga berjualan batik di Pasar Klewer karena suaminya menyerahkan bisnis ke tangan Bu Bei. Dimana letaknya Pak Bei "berani tidak Jawa"?

Di bagian pertama inilah saya tetap mencari-cari penjelasan Pak Bei yang berani tidak Jawa. Alurnya terasa lambat sekali. Saya seperti membaca jadwal kegiatan seseorang. Misalnya begini, hari ini ke Pasar Klewer, besok pertemuan Jumat Kliwon, nanti mengurusi hewan peliharaan. Begitulah kira-kira. 

Namun rupanya, semakin dibaca semakin saya bisa mengerti kenapa Pak Bei dikatakan berani tidak Jawa.  Satu bukti nyata yang sangat jelas adalah Pak Bei berani menikahi Bu Bei yang tak lain adalah bekas buruh batiknya sendiri. Seorang priyayi berani menikahi buruh? Jaman dulu priyayi mana yang berani menikahi rakyat jelata? Juga melalui percakapan-percakapannya yang panjang lebar, saya bisa menyimpulkan untuk ukuran seorang priyayi Pak Bei punya pemikiran yang memang lain daripada yang lain. Wawasannya luas, hatinya baik, dia sayang keluarga, dan dia memang aeng.

Sikap aeng Pak Bei ini menurun ke putri bungsunya, Ni. Meski Pak Bei sendiri meragukan Ni adalah anak kandungnya--dan sampai akhir cerita pun tidak dijelaskan Ni anak kandung Pak Bei atau bukan--namun Pak Bei tetap menyayangi Ni. Di saat ibunya dan kakak-kakaknya menentang rencana Ni untuk melanjutkan usaha keluarga, Pak Bei dengan petuah-petuahnya memberikan semangat dan dukungan kepada Ni agar terus maju. Pak Bei mendorong Ni untuk percaya kepada diri sendiri. Oleh karena itu, Pak Bei tidak akan menghalangi niat Ni. Pak Bei ingin Ni sendiri datang ke dirinya dan memberi tahu apakah Ni gagal ataukah Ni berhasil.

Meski Ni digambarkan sebagai orang yang berani menjadi tidak Jawa, berkemauan keras, bertindak semaunya dia, yang seharusnya pembaca dibuat kagum dengan kepribadian Ni, namun saya biasa saja dengan Ni. Maksud saya, saya sudah terbiasa menemukan tokoh seperti Ni ini di cerita-cerita lain. Bukan suatu hal yang luar biasa. Sesungguhnya saya justru kagum dengan Pak Bei. Di awal-awal cerita saya tidak simpatik dengan Pak Bei, karena saya pikir dia tidak berbeda dari priyayi-priyayi lainnya. Rupanya di tengah dan akhir cerita Pak Bei selalu memberikan kejutan-kejutan kecil. Secara perlahan Pak Bei menjelaskan siapa dirinya melalui ucapan-ucapannya yang berbau filosofis dan sarat makna. Sampai akhirnya saya berani menyimpulkan Pak Bei adalah orang yang bijak. Pak Bei mempunyai caranya sendiri untuk menjelaskan kenapa dia begini kenapa dia begitu.

Skala 1 - 5, saya beri nilai 5 untuk Canting.

Monday, June 18, 2012

Happy Birthday, Papa!

Every time I read about cancer, they are mostly about cancer patients hopefully survive longer and live a quality life. Emphasize on "survive longer". It implies cancer patients can't be cured completely. Cancer is a malignant disease. It is horrific. Even though a doctor says a patient is clean from cancer, he still gets a threat from cancer cells. He's not healed completely. It's only remission. Because cancer will haunt him for the rest of his life. The threath is still there.

But, I believe every cancer patients will accept it. They try to befriend with this disease. And they will hold a firm believe that they will be cured one day. Just like my father does. He always believes that he can defeat his cancer. When the first time his doctor told him that his cancer was back, he was shocked. He couldn't believe it. He thought--we all thought--that his cancer had gone away. Gone for good. Apparently, we were wrong. But now he already fully accepts it. And he fights it so hard. Wishing that one day he is clean from cancer cells.

Days have gone by. Months have gone by. Now it's been a year since my father was diagnosed with metastatic cancer. Time flies by. After all those obstacles my father has faced, started from a liver surgery, after surgery complication, a slow recovery from surgery, getting infected from bacteria, until countless hospitalizations, he's still standing stoutly. He beats them. He survives. He is a survivor. Not to mention three years ago when we almost lost him. He is a true survivor. He won't ever give up so easily. Even to his cancer.

Yesterday while I was reading from my Google Reader, I was moved when I read yesterday's Sunday Secrets from PostSecret. And this one had successfully made me shed a tear or two.




I know how it feels to watch a person you love is sick. You watch his pain. You watch he cries. You watch he struggles. You watch every thing until you can't bear to watch anything anymore. 

What you can do only pray to God. You pray may Him gives your loved one health. Pray may Him eases pain from your loved one. Pray may Him gives you a chance to make your loved one happy. You pray for everything. And you pray may Him listen to your prayers.

So, Papa, on your birthday, I pray to God may Him gives you health, takes your disease away, and may Him gives me chances and chances to make you happy. Happy birthday, Papa! I love you so much.

Sunday, June 17, 2012

[Book] Rp 3Jutaan Keliling India dalam 8 Hari

Judul: Rp 3Jutaan Keliling India dalam 8 Hari
Penulis: Rini Raharjanti
Penerbit: Penerbit B-First (PT Bentang Pustaka) (cetakan I, Juni 2010)
Tebal: viii + 160 halaman
ISBN: 978-979-24-3897-0
Harga: Rp 10.000,-

Buku tentang travelling pertama yang saya miliki. Sebelumnya saya tidak pernah tertarik untuk membeli buku-buku travelling. Bukannya saya tidak ingin jalan-jalan dan membeli buku-buku travelling sebagai panduan perjalanan, tapi saya pikir untuk apa? Toh, saya tidak akan pergi dalam waktu dekat. Toh, harga bukunya juga mahal. Sayang. Lebih baik saya beli buku dengan tema favorit saya. Toh, akhirnya saya beli juga buku travelling. Soalnya harganya murah. Cuma Rp 10ribu!

Sesuai dengan judul bukunya, buku ini tentang jalan-jalan keliling India dalam delapan hari hanya dengan menghabiskan uang Rp 3jutaan. Rp 3,6juta tepatnya. Belum termasuk ongkos pesawat dan biaya visa.

Selama saya membaca buku ini berhasil membuat saya tergoda ingin pergi ke India juga. Mengikuti jejak Rini Raharjanti menghabiskan waktunya selama di India. Ke Varanasi, New Delhi, Jaipur, Ajmer, Pushkar, dan Kolkata. Sekadar ingin lho. Karena, ya itu tadi, saya belum berencana berangkat dalam waktu dekat. Yah, seraya menunggu rencana itu datang, mungkin ada baiknya sekarang saya menyisihkan uang untuk dimasukkan ke dalam tabungan khusus travelling. Halah, kok jadi curhat?

Rini cukup jelas menuliskan daerah tujuan jalan-jalannya, lengkap dengan memberikan opsi biaya hostel dan biaya transport. Biaya makannya juga ditulis rinci oleh Rini. Biaya lengkap perjalanannya di tiap kota ditulis di akhir bab. Bisalah menjadi gambaran kita soal biaya makan, transport, dan lain-lain selama di tiap kota.

Pastinya juga Rini menuliskan pengalaman-pengalamannya selama travelling di India. Yang paling saya ingat adalah ketika dia dibujuk seorang calo sutra untuk melihat barang dagangannya. Rupanya Rini dibawa ke rumah si calo di gang yang sepi. Ada empat orang pria bertampang garang yang "mengepung" Rini di rumah itu sehingga Rini tidak bisa langsung kabur. Membaca bagian ini, saya jadi deg-degan sendiri dan mempertimbangkan keinginan saya untuk ke India. Saya takut! Bagaimana kalau saya jalan ke sana sendirian? Siapa yang akan melindungi saya di sana kalau terjadi apa-apa? Halah, jadi curhat lagi.

Secara keseluruhan, menurut saya buku ini cukup bagus. Ia jelas merincikan dari itinerary-nya selama Rini di India.

Skala 1 - 5, saya beri nilai 3 untuk Rp 3Jutaan Keliling India dalam 8 Hari

Thursday, June 14, 2012

[Book] Gadis Pantai

Judul: Gadis Pantai
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara (cetakan VII, September 2011)
Tebal: 272 halaman
ISBN 13: 978-979-97312-0-3
Harga: Rp 50.000,-

Gadis Pantai berkisah tentang seorang gadis muda yang lahir dan tumbuh di kampung nelayan. Namanya Gadis Pantai. Ia baru berumur 14 tahun ketika ia "dinikahi" Bendoro, seorang pembesar santri dan juga seorang Jawa. Ia menjadi Mas Nganten, tidak bedanya dengan seorang gundik. Bendoro datang pada Gadis Pantai hanya jika ia membutuhkan seks. 

Seperti yang tertulis di sampul belakangnya, roman ini memang menusuk feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan tepat langsung di jantungnya yang paling dalam. Bagaimana tidak, Gadis Pantai dididik untuk patuh dan takluk dengan Bendoro. Bendoro disembah. Ia ditakuti. Mengapa terhadap suami sendiri ia harus takut dan menyembah? Mengapa ia selalu menjawab suaminya dengan, "Sahaya, Bendoro."? 

Gadis Pantai sudah membius saya dari halaman pertama. Ia seperti menarik saya masuk ke dalam dan melihat sendiri suasana Jawa pada saat itu. Nuansa feodalismenya sungguh terasa. Membuat hati saya sakit dan meringis melihat Gadis Pantai diperlakukan semena-mena oleh Bendoronya. Gadis Pantai tidak dianggap istri. Ia dianggap hanya sebagai pemuas nafsu seks. Yang ketika Bendoro bosan, ia bisa mencari Mas Nganten yang baru. Atau ketika Mas Nganten-Mas Ngantennya sudah melahirkan anak-anak dari Bendoro, maka mereka akan segera dicerai dan Bendoro akan kembali mencari perempuan kampung lainnya untuk dijadikan "istri". 

Gadis Pantai pun tak luput dari keputusan pahit Bendoro. Bendoro yang tadinya digambarkan selalu berkata halus dan lembut, dalam sekejap langsung berubah menjadi murka dan jahat kepada Gadis Pantai. Hanya karena Gadis Pantai melahirkan bayi perempuan! Bendoro juga langsung menceraikannya. Ia membuang Gadis Pantai. Menyuruhnya untuk kembali ke kampungnya dan memerintahkannya jangan pernah kembali ke kota. Ia memisahkan Gadis Pantai dari bayi perempuannya sendiri.

Sangat menyakitkan. Pun menyedihkan. Di akhir halaman ketika saya sudah selesai membaca paragraf terakhir, ada rasa ketidakpuasan dalam diri saya. Bukan, saya bukannya tidak puas dengan Gadis Pantai. Saya tidak puas karena saya ingin cerita ini terus berlanjut. Karena seperti Penerbit Lentera Dipantara sudah tulis di pengantarnya: 

Gadis Pantai adalah roman yang tidak selesai (unfinished). Sejatinya, roman ini merupakan trilogi. Disebabkan oleh vandalisme Angkatan Darat, dua buku lanjutan Gadis Pantai raib ditelan keganasan kuasa, kepicikan pikir, dan kekerdilan tradisi aksara. (halaman 5)

Rupanya tidak hanya golongan ekstremis yang takut dengan buku-buku yang beredar sehingga mampu membuat penerbit besar membakar buku terbitannya sendiri, Pemerintah pun bisa takut. Tapi, ini cerita lama sebenarnya. Dan ketakutan ini memberikan dampak yang besar. Kita kehilangan kesempatan untuk membaca dua cerita lanjutan dari Gadis Pantai. Sungguh sebuah kerugian yang tidak ternilai.

Pramoedya Ananta Toer sudah tidak diragukan lagi berhasil mengkritik feodalisme yang pernah terjadi di Jawa. Feodalisme ini menyakiti perempuan. Sayangnya, feodalisme itu tidak berhenti dan tidak ikut terkubur dalam-dalam dengan Bendoro-bendoro jahat itu. Hingga saat ini kita masih bisa melihat "feodalisme" dimana-mana. Ketidakadilan, laki-laki yang merasa lebih berkuasa dari perempuan, kejahatan terhadap perempuan. Di seluruh penjuru bumi ini dapat kita dengar berita kekerasan terhadap perempuan. Beruntunglah kita, perempuan, yang tidak lahir di saat feodalisme masih mengakar kuat dan tidak lahir di tempat yang masih merendahkan perempuan.

Skala 1 - 5, saya beri nilai 5 untuk Gadis Pantai.

Saturday, June 9, 2012

[Book] Etika

Judul: Etika
Penulis: K. Bertens
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan XI, Oktober 2011)
ISBN: 978-979-22-7705-0
Harga: Rp 65.000,-

Pertama kali saya baca buku Etika sewaktu saya masih kuliah. Ada satu mata ajaran yang buku pegangannya menggunakan buku yang ditulis K. Bertens ini. Kuliahnya sendiri membosankan (berkali-kali saya harus keluar kelas untuk mencuci muka biar tidak ngantuk), bahkan saya tidak ingat saya dapat nilai apa untuk mata ajaran ini. *uups*


Tapi, saya terkesan dengan buku teks ini. Kan jarang saya bisa terkesan dengan buku teks. Sampai-sampai saya membeli edisi barunya karena buku saya hilang dipinjam adik tingkat. Eh bukan hilang sih. Saya saja yang lupa buku tersebut dipinjam siapa. Si peminjam juga tidak mengembalikan pula! Hilang saja begitu dari radar saya. Tidak ada ba-bi-bu. Setelah pinjam buku, sampai saya diwisuda pun dia tidak datang ke saya untuk mengembalikan buku saya. Padahal kan saya suka buku ini... Kok dia tega sih tidak mengembalikan buku saya?

Halah. Kok malah jadi curhat. Kembali ke topik.

Jadi, yang membuat saya terkesan adalah buku ini untuk ukuran buku teks kuliah tidak kaku. Bahasanya renyah dan mudah dicerna. Apalagi untuk sebuah buku yang membahas soal etika, moral, kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma, dan lain-lain. Memang apa yang dibahas tidak begitu rinci dan mendalam. Tetapi, bagi pemula buku ini cukup lah sebagai gerbang pertama untuk masuk mempelajari ranah etika. Kalau mau belajar lebih dalam, tentu saja hanya membaca satu buku ini tidak akan cukup. Silakan untuk menelusuri daftar pustaka yang tercatat dalam buku ini jika kita berminat untuk memperdalam mengenai etika atau filsafat moral.

Skala 1 - 5, saya beri nilai 4 untuk Etika

Sunday, June 3, 2012

Bioskop Monopoli Kuadrat

Siapa di sini yang sudah nonton Men In Black III? Saya sudah nonton beberapa hari yang lalu. Nontonnya di Hollywood XXI. Kebetulan kemarin itu saya ke Jakarta dan menginapnya di Hotel Kartika Chandra. Di samping hotel kan bioskop tuh, ya sekalian saja saya nonton MIB III. Harga tiketnya murah pula. Cuma Rp 20ribu. Dan tidak sia-sia uang Rp 20ribu itu keluar karena filmnya bagus. Saya suka! Saya sampai punya niat kalau sudah sampai di Bandar Lampung, saya mau nonton lagi film itu.

Sekarang saya sudah pulang. Saya pun berencana melaksanakan niat saya itu, tapi saya langsung kecewa kelas berat. *halah, lebay* Apa pasal? Pasalnya kata teman saya, Intan, di bioskop sini MIB III cuma ada di jam 9 malam. Gebleg! Mana bisa saya keluar malam hanya untuk sekadar nonton film. Kenapa coba MIB III harus ditayangkan malam? Kenapa gak yang jam siang atau sore? Memangnya film apa saja sih yang tayang siang-sore? Kok sampe segitunya bisa bikin MIB III digeser di jam malam? Intan bilang filmnya The Avengers, Brokenhearts, Kakek Cangkul, dan Sule Ay Need You. Arrrggghhh!

Tidak cuma saya yang kesal, Intan juga. Dia curhat sama saya di Whatsapp. Katanya udah mah tiket harganya mahal, film gak update, sekalinya update jadwal tayangnya aneh. Ini efek monopoli, kata Intan. Saya setuju banget dengan Intan. Mari berangus praktik monopoli! *halah*

Penggemar: Bukannya bioskop yang itu memang monopoli ya?

Memang iya sih. Dulu kan pernah kisruh ya soal monopoli ini. Sampai MPAA sono ngambek dan gak mau menyuplai film lagi ke mari dan perusahaan importir filmnya diblokir sama Ditjen Bea dan Cukai. Tapi, di sini saya tidak membahas itu. Saya hanya mau mengeluarkan uneg-uneg soal bioskop yang di Bandar Lampung. Kebetulan aja bioskop itu satu grup dengan 21. 

Jadi begini, susahnya tinggal di kota kecil seperti Bandar Lampung itu miskin hiburan. Baru beberapa tahun belakangan ini Bandar Lampung mulai ramai dengan pusat perbelanjaannya, dengan ruko-rukonya (yang sekarang jadi rumah makan, bengkel, mini market, dan lain-lain), dengan franchise seperti J.Co., Oh La La, Breadtalk, dan sebagainya. Tapi, bioskop di sini hanya ada satu. Yang sayangnya, seperti sudah Intan keluhkan di atas, harga tiketnya mahal, film tidak update, dan sekalinya update jadwal tayangnya aneh.

Harga tiket yang Rp 25ribu di hari Senin-Kamis, Rp 30ribu di hari Jumat, dan Rp 35ribu di hari Sabtu/Minggu/Libur, jelas mahal untuk ukuran masyarakat sini. Belum lagi kalau yang 3D. Harga tiketnya Rp 30ribu di hari Senin-Kamis, Rp 35ribu di hari Jumat, dan Rp 50ribu di hari Sabtu/Minggu/Libur. Yang saya tidak habis pikir, harga tiket di Hollywood XXI saja bisa lebih murah kok. Cuma Rp 20ribu di hari Kamis. Ini bioskop di Bandar Lampung kok ngalah-ngalahin yang di Jakarta? Tapi, berhubung bioskop cuma satu, tidak ada pilihan lain, ya apa boleh buat. Bioskopnya tetap ramai didatangi kami-kami ini yang haus akan hiburan.

Itu baru dari sisi tiket. Dari sisi film, duh, kalau kalian datang ke sana kalian akan melihat banyak poster film di bawah bacaan "Coming Soon". Kalau kata Intan sih, "Film coming soon yang sayangnya tidak coming2." :r Dan Intan memang benar. Film dari jaman kapan tahu tuh ya masih aja di bawah label coming soon, tapi ya itu tidak coming2. Aneh kan. Belum lagi soal film yang tidak update. Kecuali, filmnya diramalkan bakalan ramai penonton, niscaya film-film di bioskop adalah film-film jadul. Ini aja kebetulan The Avengers dan MIB III langsung cepat ditayangkan. Biasanya mah nunggu berapa bulan dulu gitu baru naik layar bioskop. :O

Ini yang saya bilang monopoli kuadrat. Sudah mah dari sananya grup 21 memang monopoli, ini ditambah di Bandar Lampung cuma ada satu bioskop. Semakin semena-mena lah dia mengatur harga tiket dan film apa saja yang akan ditayangkan di bioskopnya.

Yah, nasib tinggal di kota kecil begini lah. Mudah-mudahan besok saya bisa jadi pengusaha bioskop. Biar bioskop yang sekarang ada di Bandar Lampung ada saingannya. Jadi, dia tidak seenaknya monopoli kuadrat. *halah, bahasa apa itu "monopoli kuadrat"?


Update.


Baru saja dapat kabar dari Intan bahwa bioskop 21 di sini sudah bikin pengumuman mau menaikkan harga tiket.

Mulai tanggal 6 Juni 2012, harga tiket 21 Central Plaza weekdays Rp 30ribu, 3D Rp 35ribu. Jumat dan sebelum hari libur Rp 35ribu, 3D Rp 40ribu. Sabtu, Minggu, dan Libur Rp 40ribu, 3D Rp 50ribu.

Okeh! Mantap!

Saturday, June 2, 2012

Pemenang Kuis Sabtu Edisi Lampung

Sudah satu minggu berlalu sejak kuis Sabtu yang pertama. Sekarang saatnya pengumuman pemenang! Horeeee...!! 

By the way, sebelum saya memberi tahu pemenangnya, saya cuma mau bilang saya senang banget deh yang ikutan kuisnya lumayan banyak menurut ukuran saya. Dua belas orang! Hihihihi... Terima kasih ya buat teman-teman sekalian yang sudah berkenan meramaikan kuisnya. Sayangnya, hadiahnya cuma untuk satu pemenang ya... Pengennya sih semua yang sudah ikutan jawab saya kasih keripik pisang, tapi berhubung dana terbatas... Ya sudah lah. Mudah-mudahan nanti suatu saat saya punya rejeki banyak, baru deh saya bikin kuis lagi dan tiap pesertanya saya kasih hadiah. :D

Untuk kuis kali ini yang jadi jurinya alias yang mengundi adalah keponakan tercinta saya, Salwa.



dua belas nama dalam gulungan kertas ini



Salwa siap-siap mengundi



Nama pemenang sudah di tangan Salwa!


Dan pemenangnya adalaaaaah... Jeng jeng jeng!! 




Kebaca kan tulisannya? Oke... Kalau tidak terbaca, mari saya perjelas lagi...




Jelas kan? Kan? Kan? Kalau masih tidak jelas juga... Jangan salahkan saya dong kalau fotonya jelek. Saya kan tidak bisa foto-foto... *halah* Ya sudah deh. Saya kasih tahu langsung saja ya. Jadi, yang menang namanya Takodok alias Desti Utami! Selamat kepada Desti. Kalau rejeki mah memang tidak akan kemana ya? Dapat lagi deh keripik pisangnya. Kali ini mau yang rasa apa, Desti? :P

So, pemenang untuk kuis Sabtu kali ini sudah kita dapat. Sampai jumpa di kuis Sabtu berikutnya! Kapan-kapan ya diadakan lagi. :r